Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 118


__ADS_3

Amara kembali ke apartemennya. Jika kemarin dia di kawal oleh anak buah Frans. Sudah seperti film-film action ya? Di jaga bodyguard gagah. Padahal basic Amara sendiri adalah seorang mantan kowad. Ya...siapa yang akan tahu kedepannya kan???


Gadis berusia dua puluh delapan menjelang dua puluh sembilan tahun itu memilih untuk merebahkan diri di sofa ruang tamunya.


Tapi belum sempat ia memejamkan matanya untuk sekedar menghilangkan penat, alarm azan magrib berdering.


Ia pun bangkit dari rebahannya menuju ke kamarnya untuk mandi lalu menjalankan kewajibannya.


Sekitar setengah jam kemudian, dia sudah bersantai. Ia memesan makan dari aplikasi untuk makan malam.


Jemarinya berselancar di dunia maya. Kakak iparnya mengirimkan foto-foto kedua orang tuanya yang terlihat sangat bahagia berada di persawahan.


Amara tampak tersenyum melihat ekspresi kedua orang tuanya yang tak pernah menginjak sawah dan mereka seperti anak kecil yang belum pernah bermain di tempat seperti itu. Tapi memang kenyataannya kedua orang tuanya tak pernah merasakan kebahagiaan sederhana semacam itu.


Sayangnya perlahan senyum itu memudar. Ia teringat jika Frans bisa saja kembali meretas ponselnya.


Tak lama kemudian ada chat masuk dari dokter gila itu.


[Baby, kamu bisa saja lepas dari pantauan Mario. Tapi tidak dari ku. Dan sepertinya aku harus berterimakasih pada kakak iparmu. Aku pastikan, aku pasti akan segera menemukan kedua orang tuamu]


Amara menatap tak percaya. Apa yang dia takutkan benar-benar terjadi. Ancaman Frans belum berakhir.


Gadis cantik itu memijat pelipisnya karena terasa berdenyut. Baru saja ia merasakan kebahagiaan tadi siang karena ungkapan sayang Alby dan keseriusannya untuk segera menikah.


Apalagi ini ya Allah??? Thor... sesulit itukah aku bersama Alby??? Batin Amara.


Frans kembali mengirim chat pada Amara. Kali ini dia lebih parah.


[Kalau kemarin papa mu yang menjadi target ku, bagaimana kalau berikutnya Alby atau anggota keluarganya. Kamu mau baby???]


Chat Frans sungguh membuat Amara naik pitam. Dia langsung menghubungi tunangannya itu.


[Hallo baby?]


[Mau kamu apa ??]


[Slow baby, jangan marah seperti itu!]


Amara meremas rambutnya dengan kasar.


[Berhenti mengganggu hidup ku Frans. Biarkan aku tenang seperti sebelum kamu kembali ke kehidupan ku]


[Sayang, aku mencintaimu. Kamu tahu itu]


[Tapi aku ngga Frans. Rasa itu sudah hilang. Rasa itu sudah berubah menjadi benci saat kamu tak jujur pada ku]


[Tapi sekarang aku sudah jujur. Kamu tahu alasan ku melakukan itu semua]


[Cukup Frans, cukup!]


[No baby! Sebelum kamu benar-benar menjadi milikku seutuhnya. Dan siapa pun yang menghalangi ku untuk mendapatkan mu, itu artinya dia siap menyerahkan nyawanya padaku]


Amara kesal dan langsung mematikan sambungan teleponnya. Dia mondar-mandir di dalam unit apartemennya.


Sampai akhirnya ada suara bel yang mungkin paket makanan. Benar saja, saat ia membuka pintu, seseorang menyerahkan pesanannya. Tapi sebelumnya, dia di periksa oleh bodyguard yang berjaga di depan unitnya.


"Maaf nona, apa tidak sebaiknya kita periksa dulu makanannya. Saya takut kalau ternyata...",kata pengawal.


"Ngga usah pak. Insyaallah aman, aku udah langganan dari lama kok",tolak Mara. Pengawal itu pun tak berani komplain. Setelah itu, Amara pun menikmati makan malamnya.


Di rumah yang berbeda....


Tok...tok....


Mang Sapto mengetuk pintu kamar Alby. Alby yang sedang menepuk-nepuk punggung Nabil pun bangkit dengan perlahan.


Pria tampan itu membuka pintu kamarnya. Dia terkejut saat melihat yang berdiri di balik pintu ternyata Mang Sapto. Karena tumben ia mengetuk pintu kamarnya.


"Naon mang?",tanya Alby.


"Kamu mau ke luar lagi?",tanya Mang Sapto. Alby menengok ke arah Nabil. Memang, Alby akan ke kampusnya malam ini.

__ADS_1


"Iya mang, kenapa? Nanti mamang tidur aja. Ngga usah nunggu aku. Biar aku buka sendiri gerbangnya."


"Bukan jang!",kata Mang Sapto cepat.


"Lalu?"


"Mamang lihat di depan ada beberapa orang yang mencurigakan deh!"


"Hah? Mencurigakan gimana?"


"Itu Jang. Cowok-cowok kekar pake seragam hitam gitu. Mamang jadi curiga deh! Takut mereka punya niat jahat sama kamu. Soalnya mereka kayanya sengaja di depan rumah ini."


Alby pun penasaran dengan informasi yang Mang Sapto berikan.


"Ya udah, aku keluar dulu kalo gitu mang."


"Tapi Jang...?"


"Udah, mamang ngga usah khawatir gitu. Coba aku lihat dulu!",kata Alby sambil meraih kunci mobilnya. Tak lupa ia mengantongi ponsel dan dompetnya.


"Mamang ikut ya?",kata mang Sapto.


"Iya!",kata Alby. Kedua pria beda usia itu pun mengecek keadaan luar. Sepi! Itu yang ada di pandangan mereka berdua.


"Ngga ada siapa-siapa mang. Sekarang aku mau jalan, memang kunci gerbangnya. Kalo ada apa-apa telpon aku. Lagian, ngga mungkin ada yang mau macem-macem, pintu gerbang perumahan kan ada sekuriti!"


"Iya Jang!"


Alby pun mengeluarkan mobilnya. Setelah Alby benar-benar berada di luar, mang sapto mengunci gerbangnya dari dalam. Alby sendiri sudah memegang kunci gerbang.


Alby tak langsung melajukan kendaraannya tapi ia memantau sekitar kompleknya. Apakah kecurigaan Mang Sapto memang benar. Alby mencoba memancingnya dengan keluar dari mobilnya, jika memang ada yang ingin mencelakainya bukankah itu kesempatan besar???


Alby berpura-pura berjongkok memeriksa ban mobil belakangnya. Benar saja, ada beberapa orang pria berseragam hitam menghampirinya.


"Ada yang bisa kami bantu, Pak Alby?",sapa nya. Alby pun mendongak lalu bangkit dari jongkoknya.


"Kalian siapa?",tanya Alby.


"Azmi????"


"Betul pak Alby!"


Alby langsung merogoh saku celananya lalu menghubungi Azmi.


[Assalamualaikum bos!]


[Walaikumsalam. Mi, Lo ga bilang-bilang mau kirim orang. Gara-gara Lo nih, mang Sapto jadi was-was]


Para bodyguard hanya diam di belakang bos besarnya yang sedang mengomeli asprinya.


[Poho aing bos!]


(Lupa saya)


[Nya nggeus atuh! Kalo emang orang maneh mah! Assalamualaikum]


[Heheh hampura atuh bos. Walaikumsalam]


Setelah itu Alby beralih pada para bodyguardnya.


"Kalian berapa orang?",tanya Alby pada salah satunya.


"Kami ada banyak Pak Alby. Hanya menyebar. Karena pak Azmi bilang, kami harus memperketat penjagaan anda dan keluarga", jawabnya.


"Hah???",Alby sedikit terkejut.


"Benar pak Alby. Pak Azmi berpesan kepada kami. Sebagian dari kami, berjaga di komplek perumahan anda di depan dan di sekitar sini."


"Di komplek perumahan???", ulang Alby lagi.


"Benar pak. Dan saya, Billy serta Dino akan mengawal anda dari dekat. Tapi nanti ada anak buah kami yang lain, yang juga akan standby saat kami panggil!",Jawa seorang pria yang mengaku bernama Billy.

__ADS_1


Alby mendesah pelan. Baginya, apa yang Azmi lakukan sepertinya berlebihan sekali. Dirinya hanya lah orang kampung yang kebetulan menjaga amanah sebagai CEO HS grup. Bukan konglomerat yang berhasil apa lagi konglomerat turun temurun.


"Astaghfirullah, Azmi???!!!",batin Alby.


"Ya sudah, saya mau ke kampus. Tapi sebaiknya kalian jangan terlalu kentara ya. Kesannya saya di awasi. Saya bukan siapa-siapa!",kata Alby langsung masuk ke mobilnya dan duduk di belakang kemudi.


Billy dan Dino pun mengangguk. Setelah itu, mereka pun beranjak ke mobil mereka yang terparkir cukup jauh dari rumah Alby.


Alby sempat berpikir, Baga bisa pak Anto, satpam perumahan mengijinkan mereka masuk????


Alby pun menghampiri pos satpam sebelum mobilnya keluar.


"Eh, mas Alby? Malam mas!",sapa pak Anto.


"Malam pak Anto!"


"Maaf mas Alby, tadi pak Azmi kemari dan mengantar beberapa orang untuk menjaga rumah mas Alby!", kata pak Anto.


Belum di tanya, dia sudah memberikan informasi tersebut. Pasti ulah Azmi juga!


''Iya pak. Tapi...pak Anto tahu kan orang-orang nya Azmi? Maksudnya...",ucapan Alby terpotong.


"Maksudnya takut ada penyusup yang masuk ke kelompok bodyguard pak Azmi?",tanya pak Anto.


Pinter juga nih orang! Batin Alby.


Alby pun mengangguk pelan. Dia mendengar penjelasan dari pak Anto. Setelah puas mendapatkan jawaban dari pak Anto, Alby pun kembali melajukan kendaraannya menuju ke kampus.


Kenapa sekarang vibes nya seperti para CEO di dunia novel ya?? Bodyguard, orang kaya, ganteng???


Alby menekan-nekan pelipisnya yang berdenyut nyeri. Matanya fokus dengan jalanan ibukota yang masih ramai di jam setengah sembilan. Itu artinya, dia telat ke kampus karena Nabil menahannya pergi.


Mobil Alby sudah berhenti di parkiran kampus. Dari jauh, Alby melihat anak buah Billy yang mengikutinya dengan kendaraan roda dua. Setelah itu, Alby pun masuk ke kelas. Kebetulan sekali Yana yang akan memberi makul kali ini.


.


.


.


Pagi menyapa, Amara sudah selesai dengan rutinitas paginya. Dia bersiap untuk ke kantor. Saat ia keluar dari unit apartemennya, dia sudah melihat seseorang yang dia takuti semalam.


Ya, Frans sudah berada di hadapannya. Bukankah semalam dia masih berada di negaranya? Bagaimana bisa dia kemari?


Ternyata, anak buahnya sudah di lumpuhkan oleh dokter gila itu.


Lumpuh dalam arti yang sebenarnya lho ya. Bukan cuma klepek-klepek pingsan! Amara meneguk salivanya sambil berjalan mundur karena ketakutan yang teramat sangat.


"Good morning baby!",sapa Frans sambil menyeringai tipis. Dan bagi Amara, hal itu sangat menakutkan.


"Frans, kenapa kamu ada di sini?",tanya Amara gugup dengan langkahnya kembali mundur. Frans semakin mendekatinya. Suasana apartemen sangat sepi. Entah orang-orang masih tertidur atau memang tidak ada di sana.


"Kamu kaget baby?",tanya Frans setelah ia berada di hadapan Amara.


"Kamu apakan mereka?",tanya Amara.


"Itu tanggung jawab kamu. Kalo kamu mau mereka selamat, ikuti apa kataku! Jangan coba-coba mengkhianati ku! Bibir ini! Tubuh ini, hanya milikku! Hanya aku yang berhak padamu! Kamu paham?", mata Frans menatap tunangannya tajam.


"Kenapa kamu selalu melibatkan orang yang tak bersalah???",tanya Amara tergagap.


Frans merengkuh pinggang Amara sambil menatapnya penuh emosi.


"Kamu yang membuat ku melakukan itu. Kalo kamu menuruti ku sekarang juga aku akan mengembalikan mereka seperti sedia kala! Jangan kalian pikir, lab ku hancur lalu penemuan ku hancur??? Dan...siapa teman mu itu? Dimas? Dia memang bisa menjegal ku dengan dokumen-dokumen ku. Tapi... mungkin kalian lupa, aku bisa melakukan apapun! Apapun!", ulang Frans di samping telinga Amara.


*****


Bersambung.....


Makasih 😉😉😉😉


Jangan marah ✌️✌️✌️

__ADS_1


__ADS_2