Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 61


__ADS_3

Alby


"Apa aku harus mengumumkan bahwa aku cinta sama kamu di depan semua orang Amara? Kamu akan percaya aku memiliki perasaan itu ke kamu? Begitu?"


Aku tak habis pikir dengan jalan pemikiran Amara ini. Aku sudah memikirkan semalaman agar aku bisa mengungkapkan semua nya sebelum Frans benar-benar kembali merebut hati Amara. Tapi apa? Dia yang menantang ku, tapi kenapa dia justru seolah ingin membuat ku mundur tanpa memulai nya lebih dulu?


Mara masih bergeming menatap jendela luar.


"Mungkin benar, aku belum sepenuhnya memiliki perasaan cinta sama kamu Ra. Tapi memang apa yang ada dalam pikiran mu saat aku melakukan itu kemarin? Apa hanya karena sebuah napsyu? Begitu?"


Amara tersenyum tipis mungkin lebih tepatnya,sinis!


"Hanya karena ci*** kamu bilang itu ungkapan perasaan mu? Lalu apa kabar Nabil? Kamu bilang cinta sama Bia, tapi kenapa dia hadir di rahim almarhumah Silvy? Apa kamu juga mau bilang itu ungkapan perasaan mu? Begitu? Itu artinya kamu juga bisa melakukan hal yang sama padaku. Tanpa rasa cinta!", amara menuding dadaku dengan telunjuknya.


Apa aku begitu ketakutan merasakan hal yang sama seperti Bia yang dikhianati atau seperti almarhumah Silvy yang tak mendapatkan cinta Alby sama sekali??? Batin Amara.


Aku meraih telunjuknya dalam genggamanku. Mata kami saling menatap. Tadi aku merasa sangat marah, sekarang aku justru perlahan mulai bisa menguasai emosi.


"Aku memang melakukannya dengan Silvy tanpa perasaan apa pun. Aku bisa melakukannya Mara! Kamu tahu kenapa? Aku tertekan saat itu! Aku berada dalam ancaman! Jika aku tak memberikan hakku pada nya, keselamatan Bia dan Mak akan terancam.Karena papa mertua ku bisa melakukan apa pun yang dia mau."


Amara menelan salivanya.


"Andai kamu tahu Mara, aku bahkan hampir pernah tak menginginkan Nabil karena bagiku kehadiran nya sudah menghancurkan harapan ku untuk kembali bersama Bia. Karena kehadiran nya aku harus kehilangan calon anakku dan Bia! Tapi aku sadar, aku yang bersalah dalam hal ini. Bukan Nabil!"


"Kalian semua bisa menghakimi ku sesuka hati kalian. Tapi tidak pernah ada yang mencoba memposisikan diri seperti aku! Aku yang di bilang tidak tegas. Aku yang terlalu sulit mengambil keputusan! Dan entah kalimat apa pun yang kalian sudutkan padaku, aku terima! Bukan aku tak sanggup menangkal nya, tapi aku sudah lelah dengan semua kenyataan yang harus aku lalui."


"Sekarang aku mengenal kamu. Keagresifan kamu, keceriaan kamu! Kamu membuat aku merasa jika masih ada sosok yang menginginkan ku dengan apa adanya aku. Tapi apa? Kamu menganggap aku mempermainkan kamu, padahal kamu sendiri yang menginginkan itu Amara!"


Amara sedikit tercubit dengan semua unek-unek yang dia katakan Alby.


Semenderita itu kah menjadi sosok Alby? Selalu di tempat kan di tempat yang salah! Batin Amara.

__ADS_1


Hening! Suasana di dalam mobil meski suara mobil di luar sana saling bersahutan.


"Terserah kamu Amara! Ini aku! Laki-laki yang memang pernah gagal menjalani pernikahan! Aku tidak akan lagi memaksa mu! Bukan aku tidak mau berusaha, tapi kamu sendiri yang tak menginginkan ku!", kataku. Lalu aku menjalankan lagi mobilku.


Amara tak berbicara apa pun. Aku tak tahu apa yang ada dalam pikiran nya sekarang. Aku yak bisa membaca pikiran gadis yang terbiasa bersikap tegas. Tapi entah kenapa dia justru tidak tegas dalam mengambil keputusan! Seperti aku, dulu....


Aku menyalakan radio untuk mencair kan suasana. Sayangnya bukan mencair kan, tapi sepertinya justru....


Lagu dari Mario G yang sedang viral.


'Tenang kan dirimu, kau terlalu jauh, sebenarnya aku tak seburuk itu'


Cukup mewakili apa yang ingin ku ungkapkan pada Amara.


Aku tak seburuk itu?!


Suasana masih hening sampai lagu itu benar-benar habis.


Dan tanpa terasa, perjalanan panjang menuju ke kantor Rhd.co pun berakhir. Jika biasa di tempuh selama tiga puluh lima menit, sekarang lebih dari satu jam.


Tapi sudah lebih dari semenit sejak mobil berhenti, Amara justru masih diam di jok penumpang.


"Mara?",aku menepuk pelan bahunya. Dia sedikit terkejut. Jadi, dari tadi dia melamun makanya tidak sadar sudah sampai kantor.


"Heuh?", gumamnya tergagap.


"Sudah sampai!",kataku. Dia menoleh padaku. Aku mendengar ia menghela nafas. Lalu setelah itu, tangannya terulur mengusap sebelah pipi kiriku.


"Maafkan aku yang sudah menghakimi mu!"


Aku menurunkan tangan nya dari pipiku.

__ADS_1


"Tak apa. Siapa pun akan berpikiran sama seperti mu."


Tiba-tiba saja Amara mengecup kening ku begitu lama.


Please ya Allah, kaya gini aja jangan lebih! Aku tak mau khilaf lagi ya Allah!


Setelah beberapa detik, Amara melepaskan kecupannya di kening ku.


"Apa kamu mau berjuang untuk bisa memberikan cinta mu itu buat aku, bukan buat Bia lagi?",tanya Amara pelan.


Aku tersenyum dan mengangguk tipis sambil meraih tangan nya yang tadi kembali mengusap rahang ku.


"Insyaallah", jawabku.


"Meski pun...misal mami dan papi tak menyetujui hal ini, kamu masih mau melanjutkan nya?",tanya Amara dengan wajah sendu.


Aku mengernyitkan alis ku. Mami papi nya???


Aku pun hanya mengangguk.


"Jadi...kita bagaimana?",tanya Amara.


"Bagaimana apa nya?",tanyaku bingung. Amara mencebikkan bibirnya.


"Sudah deh! Makasih udah anterin! Assalamualaikum!", pamit Amara sambil membuka pintu mobil.


"Walaikumsalam."


Pintu mobil langsung tertutup dari luar. Aku bingung sendiri. Apa maksud pertanyaan nya tadi? Jadi, kita gimana?


Huffft...sampe kantor bakal di ceramahin sama pak ustadz ini mah! Mana udah siang banget lagi.

__ADS_1


****


Gaje banget ga sih???? 🤔🤔🤔 butuh healing nih kayanya 🥺🥺🥺


__ADS_2