Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 44


__ADS_3

Amara


"Bertanggung jawab?",tanyaku membeo.


"Iya, karena aku sudah melecehkan mu!"


Aku tersenyum sinis.


"Tidak terjadi apa pun di antara kita. Hanya seperti itu!", kataku. Meski dalam hati ku, aku pun merasa malu luar biasa.


"Hanya kamu bilang?",ulang Alby. Aku memalingkan wajah ku. Posisi ku masih melekat di tubuh Alby.


"Iya! Bukankah ciuman hal yang wajar?",tanyaku. Semoga dia tak tahu jika suara ku bergetar.


Dia menatap ku begitu dalam, bahkan tangan nya sudah melingkar di pinggang ku. Matanya menatap ku begitu tajam.


"Wajar katamu? Aku hampir saja merusak masa depan mu, kamu bilang wajar!? Bahkan status kita saja tidak jelas!"


Aku menetralisir perasaan ku sendiri. Kenapa begini? Aku memalingkan wajah ku ke arah lain.


"Lihat aku Amara?"


"Semua hanya karena ketidaksengajaan Alby. Kamu dalam keadaan tidak sadar. Aku tidak meminta pertanggung jawaban apa pun dari kamu."


"Kamu melihat ku 'melakukan' di atas tubuh mu kamu bilang tidak sengaja?"


"Cukup By!'', aku mendorong nya tapi dia hanya mundur selangkah hingga tangannya yang tadi berada di pinggangku terlepas.


"Kamu sudah tak memiliki perasaan apa pun padaku?", tanyanya. Hah! Selalu saja begitu!!!


"Nggak!", jawabku lantang.


"Benarkah? Bahkan kamu membalas ci*** ku tadi, kamu bilang tidak memiliki perasaan padaku? Jawab Amara!"


"Kamu mau aku menjawab apa By? Apa???"


Alby bergeming, hanya nafasnya yang memburu dengan tatapan tajam nya padaku.


"Kamu mau, aku jawab jika aku masih mencintaimu, begitu?", air mataku tiba-tiba meleleh.


"Aku tahu, aku terlalu agresif mendekati seorang duda seperti kamu. Duda yang sombong! Duda yang dua kali menyakiti hati istri-istri nya! Lalu apa yang kamu harap kan dari ku hah?"


"Kamu pikir, aku tidak bisa melihat dari mata kamu betapa kamu masih mencintai Bia. Lalu untuk apa kamu tanya perasaan ku ke kamu! Apa pentingnya buat kamu?!," aku menunjuk dada Alby.


"Tidak ada Alby! Tidak perlu! Dan soal kejadian tadi siang, oke! Aku memang terlalu terbawa perasaan. Aku menikmati ci**** mu, bahkan membalasnya juga. Kamu tahu itu artinya apa? Aku bukan perempuan baik-baik yang hanya karena apa yang kamu lakukan tadi, membuat mu harus bertanggung jawab padaku. Aku pernah melakukan lebih dari itu!"


Brakkk!!


Alby memukul tembok yang ada di samping kepalaku.


"Aku tidak percaya Amara!"


"Terserah kamu mau percaya atau ngga! Itu bukan urusan ku. Yang jelas, tidak perlu ada yang harus kamu pertanggung jawabkan padaku. Aku mau istirahat! Pulang lah!", kataku.


Alby menatap ku.

__ADS_1


"Mungkin benar, aku masih mencintai Bia. Tidak semudah itu melupakan seseorang yang selama ini menemaniku kita. Tapi bukan berarti aku ...aku....!"


"Aku apa heum? Kamu mau bilang, kamu sudah ada rasa pada ku. Begitu???", sekarang aku yang menatap tajam padanya. Dia pun membalas tatapan ku.


"Amara...!"


"Stop Alby! Stop! Jangan pernah membuat ku baper hanya karena sikap mu yang berbeda padaku di pada perempuan yang lain. Aku sudah terbiasa diabaikan. Tapi aku juga punya perasaan. Tolong jangan bersikap seolah aku punya harapan dengan mu, By! Tolong!", ku takupkan kedua tanganku di depan dadaku.


"Kita jalani kehidupan kita seperti saat kita tak pernah saling mengenal. Kita hanya partner bisnis! Lupakan jika seorang Amara pernah jatuh hati pada laki-laki yang sebelumnya tidak pernah bisa move on dari istrinya yang sudah ia sakiti begitu dalam. Lupakan Alby! Lupakan!", suara ku melemah di barengi dengan air mata yang meleleh.


"Mara ...!", dia akan menghapus air mataku. Tapi aku mundur lalu menghalaunya.


"Cukup, By! Cukup!",aku mengangkat kedua tangan ku.


Tanpa menghiraukan Alby lagi, aku masuk ke dalam kamar ku.


Aku bersandar di balik pintu. Apa yang baru kami obrolkan tak memiliki titik temu sama sekali.


Badanku luruh di balik pintu. Ku tenggelamkan wajahku di lutut. Seharusnya hari ini tidak perlu terjadi. Aku masih berusaha melupakan perasaan aneh yang hadir dalam dadaku. Kenapa harus Alby? Kenapa aku harus ada pertengkaran di antara kami seolah kami sepasang kekasih? Padahal kami tak memiliki komitmen apa pun!!!


.


.


.


Alby


Jam dua pagi aku sampai di rumah. Kebetulan saat ku butuh kan, ada taksi yang melintas. Aku tak membawa mobil Amara meski ia mengijinkannya untuk ku bawa. Tapi, mungkin saat ini dia butuh waktu untuk sendiri agar bisa meredakan emosinya.


Aku bertanya tentang perasaannya padaku, tapi aku sendiri tak tahu perasaan ku terhadap Amara seperti apa. Benarkah aku juga memiliki perasaan yang sama pada nya?


Tapi aku masih merasa kan sesak saat Bia bahagia bersama Febri. Apa yang sebenarnya ku rasakan? Tidak mungkin aku melupakan Bia ku begitu saja. Tidak!


Bayangan Bia yang bahagia menceritakan kedua putri kembarnya tadi membuat ku merasa sesak. Andai aku tak menyakiti nya andai...andai... argggghhhh!


Tapi melihat Amara mengatakan semua unek-unek nya, membuat ku berpikir. Sepertinya memang ada yang salah. Aku yang salah di sini! Kalau aku memang tidak ingin membuka hati ku untuk Amara atau siapa pun itu. Lalu kenapa seolah aku sedang membuat peluang untuk Amara? Aku bilang akan bertanggung jawab padanya.


Pertanggung jawaban seperti apa Alby????!!! Menikahi nya begitu? Dia saja enggan, By! Atau dia takut merasakan apa yang Bia dan Silvy rasakan, seperti aku menyakiti mereka???


Nabil tidur bersama Mak malam ini. Mungkin besok pagi aku akan sedikit siang berangkat ke kantor.


Pagi menyapa, Nabil masuk ke dalam kamar ku di antar Mak. Tapi Mak hanya mengantar sampai depan pintu.


"Papa!", Nabil naik ke ranjang ku. Aku mengucek mataku. Saat ku lirik, ternyata matahari sudah nampak. Itu artinya aku tak solat subuh.


"Hei, sayang. Udah mandi aja!", Nabil duduk di atas pangkuan ku.


"Papa pulang jam berapa? Nabil nungguin papa tapi papa ngga pulang-pulang. Nabil bobo sama nenek!", adu Nabil dengan bahasa cadelnya. Meski baru dua tahunan, nyatanya Nabil memang pintar.


Ada perasaan menyesal dalam dadaku. Aku ingin meluruskan masalah ku dengan Amara, tapi justru aku mengabaikan Nabil mentang-mentang ada Mak.


"Maafin papa ya sayang?", aku mendekapnya lalu ku cium puncak kepala nya.


"Papa kerja lagi abis dari Dede Fesha?",tanya Nabil dengan lugunya. Aku pun mengangguk, terpaksa berbohong pada putraku. Andai kamu tahu nak, apa yang sudah papa lakukan.

__ADS_1


"Papa jangan kerja terus ya, Nabil mau sama papa!", kata Nabil. Ya, Allah! Anakku sudah bisa protes sekarang.


"Iya sayang, maafin papa ya." Nabil mengangguk dalam dekapan ku.


"Nabil laper, papa mandi ya?!"


"Iya sayang, papa mandi dulu. Nanti nyusul sarapan."


Nabil ku pun ku turun kan dari ranjang. Setengah jam kemudian, aku sudah rapi dengan pakaian ku lalu menuju ke meja makan.


"Pulang jam berapa Jang?",tanya Mak. Aku menatap netra tuanya yang masih menunjukan betapa ia sayang pada ku meski hanya anak tirinya, eh... menantu nya juga sih.


"Jam dua Mak!", jawabku. Mak tak lagi menanyakan apa pun.


"Jang, ada den Azmi di depan sama anaknya deh kayanya?", kata mang Sapto.


"Suruh masuk aja Mang!", kataku. Mang sapto pun memanggil Azmi dan putri.


"Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam!", jawab ku dan Mak. Nabil masih fokus dengan sarapan nya sejak tadi. Dia memang lama kalau makan.


"Salim dulu sama om Alby sama Nenek Titin, Put!", titah Azmi pada anak gadisnya yang berusia tujuh tahun.


Aku menyambut uluran tangan Putri, begitu juga Mak.


"Sarapan dulu Mi!", kataku.


"Kami sudah sarapan tadi,By!"


"Kamu mau bawa putri ke kantor? Dia kan lagi sakit?",tanyaku.


"Ya, paling ga kan bisa istirahat di ruangan By. Kasian kalo aku tinggal di kontrakan. Aku kan juga mau kerja, hari ini kerjaan kita banyak. Mana mungkin aku tega biarin kamu ngerjain kerjaan segitu banyak. Aku kan kemarin ga masuk."


Jika ada orang lain, aku dan Azmi tidak memakai kata Lo Gue, tapi aku kamu hehehe


"Putri di sini aja, sama Nenek sama Nabil, ya? Biar papanya kerja?!", kata Mak.


"Nah, bener tuh! Lagian putri kan abis sakit. Di ambil dari ponpes kan emang suruh istirahat, malah suruh ikut kerja bapak nya!"


Azmi menoleh pada Putri. Putri pun mengangguk dan tersenyum. Entah, Azmi sangat bersyukur memiliki putri yang begitu memahami kondisi orang tuanya.


"Iya, Abi. Putri sama dek Nabil sama Nenek aja ngga apa-apa", kata Putri.


"Tapi nanti merepotkan Mak...!", tolak Azmi.


"Repot apa sih? Ngga lah. Bentar lagi teh Ani dateng, dia juga bantuin Mak jaga Nabil kan. Lagian, kalo ada putri kan Nabil jadi ada temen main. Putri juga bisa istirahat di sini. Kasian kalo di kantor, nanti dikit-dikit kamu tinggal, yang ada ngga konsen kerja."


Azmi bingung di buatnya. Di satu sisi, dia tak enak pada bos nya. Di sisi lain, dia sebenarnya juga tidak tega jika mengajak Putri ke kantor. Terlebih habis sakit. Tapi, sepertinya sakit Putri karena kangen pada abinya.


"Putri beneran mau di sini? Ngga ikut Abi ke kantor?", tanya Azmi memastikan.


Putri mengangguk cepat.'' Iya, Abi!"


"Tuh, putri aja mau. Ngga usah khawatir, Putri juga bakal makan di sini. Ga bakal di telantarkan!", goda ku.

__ADS_1


"Ishhh...apaan sih!", sahut Azmi. Akhirnya kami berpamitan, kali ini aku tak membawa mobil. Biar lah, nebeng sama Azmi. Lagi pula ada hal yang ingin ku ceritakan padanya. Soal apa yang terjadi antara aku dan Amara. Mungkin, Azmi yang lebih bijak bisa memberikan ku pencerahan.


__ADS_2