Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 60


__ADS_3

Amara


Pagi sudah menyapa. Suara azan subuh sudah terdengar sejak setengah jam yang lalu. Gadis cantik berambut sebahu itu sedang berdiri di balkon menatap matahari yang sudah akan menunjukkan dirinya di antara semburat berwarna oranye.


Dia bahkan tak tidur semalaman. Memikirkan 'lamaran' Frans. Bukan lamaran sebenarnya, tapi...intinya seperti itu.


Tok...tok...


"Masuk!",kataku. Kak Daniel yang masuk ke dalam kamar ku. Dia langsung menghampiri ku di balkon.


"Mikirin apa?",tanya kak Daniel.


Aku meletakkan kedua tangan ku di pinggiran balkon.


"Banyak!", jawab ku singkat.


"Sudah melakukan istikharah?",tanya kak Daniel. Aku menoleh padanya.


"Belum kak! Bahkan semalaman aku ngga tidur."


"Sholat istikharah bukan sholat tahajud yang mengharuskan tidur lebih dulu!",kata kak Daniel.


(Maap kalo salah, mamak kalo niat tahajud emang tidur dulu ✌️✌️. Mungkin ada dalil yang lebih jelas dan reader's lebih paham 🙏🙏🙏🙏)


"Huum? Begitu ya?", tanyaku. Kak Daniel sekarang yang menatap langit berwarna oranye itu.


"Sebenarnya... keputusan ada di kamu Ra. Apa kamu akan memberikan kesempatan kepada Frans untuk memperbaiki kesalahannya atau kamu punya pilihan lain, Alby misalnya!"


"Alby bilang, dia yang akan menikahi ku kak!",aku menundukkan kepalaku.


"Bagus dong?! Dia jadi memenuhi tanggung jawabnya seperti apa yang sudah dia lakukan padamu!",kata kak Daniel.


"Tanggung jawab untuk hal apa yang harus Alby lakukan Amara?", tiba-tiba Mami masuk ke kamar ku.


"Mami!",aku dan kak Daniel menolehkan ke arah mami.


Mami melangkah mendekat pada kami yang masih di balkon. Mata mami menatap ku tajam.


"Mayang selalu bilang sama mami, jangan berpikir buruk sama anak bungsu mami. Tapi apa yang barusan mami dengar?", suara lembut mami terdengar begitu kecewa.


"Mami, ini...ngga seperti yang mami pikirkan!",kata Daniel mengusap bahu maminya.


"Bahkan kamu tahu Kak, apa yang adikmu lakukan sampe kamu belain dia?",tanya mami pada kak Daniel.


Daniel menghela nafas berat.


"Pokoknya Amara tidak melakukan seperti apa yang mami pikirkan. Percaya sama kakak, Mi!", Daniel meraih bahu Mami lalu mengajak mami nya keluar dari kamar Amara.


Mana mungkin aku menjabarkan kejadian di apartemen saat itu. Itu terlalu memalukan untuk ku sendiri apalagi Alby!


Aku memutuskan untuk turun dari kamar ku menuju ke taman depan. Suasana pagi begitu menyegarkan.


Aku memejamkan mataku sambil sesekali tarik dan buang nafas.


"Permisi non?!", panggil pak Ujang.


"Iya pak Ujang?"


"Ini semalam ada yang nitip hp non Mara."


Pak Ujang memberi kan ponsel itu pada ku.


"Siapa yang anter pak?"

__ADS_1


"Cowok, ganteng banget deh non!"


Pasti Alby yang mengambil nya. Tapi bukannya dia bilang kalo dia akan menjemput ku? Kenapa dia mengembalikan ponsel nya semalam?


"Udah saya cas non. Kebetulan charger nya mas Nathan ketinggalan di pos. Kan ngga sama charger nya kaya hp kentang saya heheheh"


"Makasih pak Ujang!",kataku tersenyum.


"Sama-sama non! Kalo gitu permisi Non."


"Iya pak Ujang, terima kasih."


Aku membuka ponsel ku yang dari semalam samasekali tak tersentuh.


Ada beberapa chat dan email dari klien. Ponsel ku pakai nada senyap. Wajar kalo pak Ujang tak tahu banyak pesan masuk di dalamnya.


Kalau Alby memberikan ponsel ku semalam, pagi ini dia tak jadi menjemput ku? Lantas, apa arti nya dia tak melanjutkan niatnya?


Aku mengirimkan pesan untuk Alby. Terserah dia mau menganggap ku terlalu mengharapkan nya atau tidak. Yang jelas, aku lelah dalam posisi seperti ini!


[Kamu ngga jadi jemput aku? Itu artinya tidak ada lagi yang pengen kamu katakan? Jika iya, percuma aku mempercayai ucapan mu!!!!]


Usai mengirim pesan itu, aku langsung mandi dan bersiap ke kantor.


Setelah siap dengan stelan kantor, aku pun sarapan bersama keluarga ku. Mami masih memasang wajah tak nyaman nya padaku. Semengecewakan itu aku di mata mami dan papi ku?


"Frans bilang ke papi, dia meminta mu kembali jadi kekasih nya? Maksudnya... meminta mu jadi istrinya?Apa jawaban kamu ,Ra??",tanya papi setelah kami selesai sarapan.


Aku menghela nafas,lalu meletakkan sendok dan garpu ku disisi piring. Kak Daniel menatapku sesaat. Setelah itu ia melanjutkan sarapannya.


"Mara belum beri jawaban apapun!"


"Kenapa?",tanya papi. Sedang mami hanya memainkan sendok nya di atas piring.


"Karena CEO HS grup itu?",tanya papi. Mami langsung menoleh pada papi.


Aku terdiam. Tak mengiyakan juga tak menggeleng.


"Apa kamu mau dengan laki-laki yang pernah gagal berumah tangga karena poligami?",tanya papi.


Aku yakin bukan hal sulit untuk papi untuk mengetahui latar belakang Alby.


"Awalnya papi sama sekali tak keberatan jika dia itu menantu Tuan Hartama yang di tinggal mati istrinya lalu dia meneruskan perusahaan mereka. Papi sama sekali tak keberatan! Tapi...ternyata dia menikah dengan almarhumah istri nya di saat dia masih memiliki istri. Bahkan sampai menceraikan istrinya! Papi tahu, dia bukan pria materialistis. Tapi papi rasa dia bukan lelaki yang tepat buat anak bungsu papi!"


Aku meremas kedua tangan ku di atas meja.


"Bagaimana bisa papi percaya dengan laki-laki yang sudah pernah menyakiti istri pertamanya itu sampai ada perceraian di antara mereka? Kamu pikir, papi rela melepaskan anak papi untuk laki-laki semacam itu?"


"Alby tak seburuk yang papi pikirkan, Pi!",kataku.


"Kamu masih membela laki-laki itu Amara?",papi semakin menyudutkan ku.


"Tapi Alby punya alasan kenapa hal itu bisa terjadi. Semua diluar kendali Alby, Pi!",kataku.


"Benarkah? Lelah mengejar Febri kamu jatuh hati pada laki-laki seperti itu?Apa yang sudah Alby lakukan padamu Amara sampai kamu begitu membelanya?", tanya mami.


"Mami....!?", kata ku sedikit merengek.


"Katakan sama Mami, apa yang sudah dilakukan Alby sama kamu?!"


"Stop menghakimi Alby Mi, Pi! Asal mami dan papi tahu, istri Febri yang sekarang itu mantan istrinya Alby! Bahkan aku pun sekarang berteman baik dengan mantan istri Alby. Karena apa? Karena aku tahu mereka semua orang baik. Tidak seperti yang mami dan papi tuduhkan!", aku tak bisa menahan emosi ku. Dari pada aku meluapkan amarah ku pada kedua orang tuaku, aku memilih untuk berangkat ke kantor.


Mami dan papi terdiam. Kak Daniel hanya menatap ku tanpa mengomentari apa pun obrolan kami tadi.

__ADS_1


Aku meraih kunci mobil ku, tapi saat aku keluar dari pintu utama, pak Ujang menghampiri ku.


"Den Alby di depan non, udah dari setengah jam yang lalu. Saya sudah nyuruh masuk ga mau. Mau panggilin Non Mara, ga di bolehin. Ya udah, dia nunggu di depan dari tadi", pak Ujang menjelaskan panjang lebar.


Dia...ke sini? Apa karena chat ku tadi?


Aku yang berniat membawa mobil pun akhirnya keluar setelah menyerahkan kunci itu pada pak Ujang.


Alby duduk di kap mobil sambil melipat kedua tangannya di perut. Mata kami saling bertemu.


Dia pindah posisi menghampiri ku.


"Maaf!",ujarnya lirih.


"Apa lagi?",tanyaku.


Tanpa bicara, dia meraih tanganku lalu membukakan pintu mobil untuk ku di bangku penumpang.


Aku pun langsung masuk tanpa bertanya lebih dulu. Di dalam mobil, awalnya hanya ada keheningan. Sampai akhirnya ia buka suara.


"Apa yang Frans obrolkan dengan orang tua mu?",tanya Alby dengan wajah datarnya.


"Sepenting apa jawaban ku?",aku menoleh padanya. Dia pun melakukan hal yang sama.


"Jawaban mu, menjadi penentu apa yang akan aku lakukan!",sahut duda tampan itu.


"Frans melamar ku!",kataku sambil menatap arah lain.


Alby mencengkram erat kemudi nya. Kira-kira apa yang Alby rasakan? Kecewa? Cemburu atau apa?


"Kamu menerima nya?"


"Menurut mu bagaimana baiknya?"


Alby mengeratkan rahangnya.


"Kenapa malah kamu bertanya balik padaku?"


Aku tersenyum sinis.


Bia bilang, dia itu bukan lelaki yang peka. Jadi percuma kalau di suruh menerka-nerka!


"Kalo aku menerima nya kenapa? Kalo tidak pun kenapa? Ada pengaruh nya buat kamu? Ngga kan?"


''Mara!", Alby terdengar sedikit membentak. Aku langsung menoleh padanya.


"Apa? Aku harus bagaimana? Menunggu mu? Begitu?", tanyaku.


"Memang apa yang aku lakukan kemarin tak cukup menunjukkan seperti apa perasaan ku, Amara?", tanya Alby dengan suara bergetar.


Perlakuan yang mana? Dia yang menc*** ku di kantor?


"Perasaan kamu bilang?",aku tersenyum sinis.


Alby kembali fokus dengan kemudinya.


"Aku ingin kita menikah Amara. Aku bukan ABG yang mengajak seorang gadis untuk berpacaran!"


"Benarkah? Bukan karena habis mendengar ceramah Bia atau Febri semalam saat mengambil ponsel ku?"


Alby menepikan mobilnya ke tempat yang sedikit lengang arah ke kantor ku tentunya.


"Aku bingung tahu sama kamu Ra! Mau kamu gimana? Kamu mengakui punya perasaan sama aku. Giliran aku ingin menghalalkan hubungan, kamu seolah menjauh. Aku harus apa? Apa aku harus mengatakan pada semua orang kalau aku mencintaimu begitu? Apa kamu percaya setelah aku mengatakan itu?"

__ADS_1


__ADS_2