
Alby memasuki ruang kerjanya jam delapan lewat. Dia tak mendapati asprinya di depan ruangannya. Tapi beberapa saat kemudian, Azmi pun masuk dengan wajah segar dan rambut depan sedikit basah. Sudah bisa di tebak, pasti lelaki tampan itu selesai solat Dhuha.
"Ini jadwal hari ini bos!", Azmi menyerahkan daftar pekerjaan Alby hari ini. Alby membaca sekilas, ada meeting dengan sentra timur.
"Siapa yang datang dari sentra timur?",tanya Alby.
"Takut ya si biang keladi yang datang?",ledek Azmi.
"Ckkk...pake di tanya!"
"Heum, ya paling dia. Siapa lagi? Bu Naura? Ya, berharap aja sih Bu Naura yang datang."
"Heum, semoga aja!"
"Oh ya, gimana semalam? Tuan Rahadi merestui kalian?", tanya Azmi penasaran.
"Menurut Lo gimana?", tanya Alby balik.
"Heum, udah lah. Terserah! Gue lagi ga mau tebak-tebakan!",sahut Azmi.
"Ya Lo kira-kira aja, siapa sih yang bisa nolak pesona Alby Gunawan???!", kata Alby dengan penuh percaya diri serta menaik turunkan alisnya.
"Astaghfirullah, subhanallah....narsis beuttt!"
Alby terkekeh melihat wajah kesal asprinya. Heran! Dua laki-laki tampan itu selalu pasang wajah Jutek di depan orang lain. Tapi saat berdua seperti ini???? Mereka seperti orang yang berbeda.
"Kayanya ngga seneng amat gue di restuin?"
''Huh! Alhamdulillah, iya gue ikut seneng bos! Jadi, kapan mau mengesahkan hubungan kalian? Jangan kelamaan, nambahin dosa mulu di apartemen kan!!?", sindir Azmi.
Alby terbatuk-batuk mendengar sindiran yang sama dengan apa yang papi Amara katakan semalam. Jadi, ada berapa banyak mata-mata di antara mereka?????
"Lo mah, kalo nebak suka bener. Tapi kagak usah di tegesin juga lah!"
"Ya gimana, udah kebaca soalnya!", sahut Azmi sambil berdiri.
"Pelajari materinya sebentar bos, kalo udah selesai baru panggil saya. Kita berangkat!", kata Azmi.
"Yang bos nya gue apa Lo???", jargon andalan Alby pada Azmi. Azmi hanya memutar bola matanya jengah. Ia harus mendengar kalimat itu entah untuk yang ke berapa ratus kali.
Jika ada orang lain yang mendengarnya, pasti di kira Azmi bakal sakit hati. Tapi kenyataannya??? Mereka berdua ibarat upil dan Ipul. Boro-boro sakit hati, sekali nya Azmi berulah Alby yang bakal kelabakan.
__ADS_1
Satu jam berlalu, Alby sudah keluar dari ruangan nya dengan memakai jas. Begitu pula dengan Azmi. Siapa pun akan terpesona dengan dua tampan itu. Sayang nya, keduanya terlalu dingin untuk di jamah orang baru dalam hidupnya. Beruntungnya Amara yang bisa menaklukkan sosok tampan itu.
"Di restoran Xxx?",tanya Alby. Azmi mengangguk. Keduanya pun turun dari lantai ruangan mereka menggunakan lift khusus. Sesampainya di lantai bawah, selalu saja mereka berdua menjadi pusat perhatian. Sejak mendeklarasikan dirinya menjaga kekasih seorang Amara, Alby lebih memilih untuk tidak memakai masker. Heum... sudah merasa punya pawang mereunan.
Setengah jam berlalu, keduanya sudah sampai di restoran Xxx. Alby bersyukur ternyata Naura lah yang datang. Padahal dia sudah ketar ketir jika saja Bianca yang datang. Bukan apa-apa, dia hanya takut tidak profesional karena Bianca suka memancing emosi nya.Dan Alby suka lepas kontrol.
"Selamat siang bu Naura?",sapa Alby.
"Selamat siang pak Alby! silahkan!", Naura mempersilahkan mereka berdua duduk.
Baru saja keduanya duduk, suara seseorang yang mereka hindari sudah terdengar.
"Mas Alby!", panggil Bianca riang. Alby memejamkan matanya dan menghirup nafas dalam-dalam. Dia berusaha untuk tidak melakukan kebodohan dengan menanggapi ocehan Bianca. Sedang Naura sendiri menggigit bibir bawahnya sendiri, takut dan tak enak pada kliennya karena sikap adik iparnya selama ini.
Gadis itu mendudukkan dirinya di hadapan Alby.
"Lama banget ngga liat mas Alby! Kangen deh!", kata Bian sambil menopang dagunya di atas meja bari menatap Alby dengan leluasa.
Alby tak menanggapi ucapan Bianca. Dia justru mengajak bicara Naura tentang pekerjaan mereka.
Tapi dasar Bian si tebal muka. Dia justru menikmati wajah tampan duda beranak satu itu. Dalam hati, Alby sebenarnya kesal bukan main. Begitu pula dengan Azmi yang hanya mampu beristighfar dalam hatinya.
Sesekali Naura mengingatkan Bianca, sayangnya sudah terlanjur bebal! Urat malunya mungkin sudah putus karena terlalu mengagumi sosok tampan di hadapannya.
"Ngga bisa mas. Kamu kelewat tampan! Be** banget deh mantan istri kamu mas, lepasin kamu gitu aja! Walaupun suaminya sekarang juga ganteng sih. Tapi di mataku, tetap mas Alby yang paling ganteng", celetuk Bianca masih tetap menatap mata Alby.
"Bisa tidak, jangan ganggu saya dengan tatapan kamu seperti itu? Belum cukup saya mengingatkan selama ini?", kata Alby dengan suara pelan tapi penuh ketegasan. Naura mencolek lengan adik iparnya yang kelewat bikin ulah.
"Ngga bisa mas Alby, kamu ganteng banget soalnya. Pantes perawan tua itu ngejar-ngejar kamu ya mas!", kata Bianca lagi.
"Jaga bicaramu!", Alby bangkit dan menunjuk wajah Bian dengan jari telunjuknya.
"Kenapa sih? Emang kenyataannya Amara sudah tua kan di banding aku? Cantik juga aku mas! Buka dong mata kamu!", kata Bian tak kalah keras.
Alby meremas kedua tangannya menahan emosi. Dia tidak terima kekasihnya di hina seperti itu. Bianca mengingatkan pada sosok mendiang istrinya, Silvy! Sama-sama masih bocah dan keras kepala.
"Jangan pernah hina Amara!", kata Alby lagi. Sebenarnya dia tak suka membuat keributan di depan umum seperti ini, tapi Bianca sudah memancing emosinya.
"Ada apa ini???", suara bariton mengalihkan pertengkaran keduanya. Alby pun menoleh ke asal suara tersebut. Leher nya pun seketika menegang.
.
__ADS_1
.
.
.
"Jadi, Pak Rahadi sudah menyerahkan sepenuhnya perusahaan pada putri bungsu nya?",tanya Pradipta.
"Iya Pak Dipta! Saya sudah tua, jadi ya sudah lah. Siapa lagi yang akan meneruskan kalau bukan dia. Dua anak saya sudah sibuk dengan perusahaan mereka masing-masing."
"Heum, tapi bukannya putri anda itu anggota ya?"
"Iya, pak Dipta. Tapi sudah mengundurkan diri sekitar setahun lebih." Pradipta mengangguk paham.
Tiba-tiba saja di belakang meja yang tak jauh dari keduanya duduk, terjadi keributan. Rahadi pun ikut tertarik untuk mengetahui keributan itu.
Lelaki setengah baya itu pun bangkit dan mendekati ke arah tersebut.
"Anda mau ke mana?",tanya Pradipta.
"Ke sana!", kata Rahadi. Pradipta pun mengikutinya.
Ia mendengarkan pertengkaran calon menantunya.
"Ada apa ini?",tanya Pradipta yang melihat putri bungsunya di bentak oleh seorang laki-laki dewasa.
Alby seketika tertegun melihat sosok di samping si penanya.
"Alby!", kata papa pelan.
"Siapa kamu berani-beraninya membentak putri ku?", tanya Pradipta geram. Rahadi mengangkat tangannya di depan Pradipta.
"Kamu ikut Papi sebentar, Alby!", titah Rahadi.
Pradipta dan yang lain menganga. Rahadi menyebutkan dirinya 'papi' pada Alby.
"Iya...Pi!", kata Alby dengan suara bergetar.
Mampus Lo By! Batinnya!
****
__ADS_1
Kira-kira papi mau ngomong apa ya??? 🤔🤔🤔
Selamat berbuka puasa 🤗🤗