Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 164


__ADS_3

Alby menekan bel beberapa kali, tapi Amara tak membuka pintu. Akhirnya Alby pun masuk ke unit Amara sendiri karena ia memang punya akses masuk ke dalam sana.


Suasana masih gelap saat lelaki tampan itu memasuki ruang tamu. Lalu ia pun menyalakan lampunya. Terlihat sepatu Amara tergeletak tak di tempatnya. Dengan cekatan Alby memindahkan sepatu Amara ke rak yang tak jauh dari pintu masuk.


"Mara...?", panggil Alby. Tak ada sahutan. Ia mencoba mengetuk pintu kamar Amara.


Tok...tok...


"Amara???", Alby masih memanggil nama gadis itu. Mungkin terlihat tidak sopan, tapi Alby masuk ke dalam kamar gadis itu. Ia terlalu mencemaskan kekasihnya. Kejadian yang menimpa Amara karena ulah Frans beberapa waktu lalu membuat ia merasa trauma. Ia takut jika terjadi sesuatu pada kekasihnya.


Ceklek.... pintu kamar Amara terbuka. Mata Alby langsung tertuju pada sosok gadis cantik yang tertidur miring mendekap bantal guling. Amara masih memakai kemeja formalnya.


Ada rasa lega dalam dada Alby saat melihat kekasihnya baik-baik saja. Dia pun mendekati sang kekasih yang sepertinya sangat lelah hingga tak mendengar suara bel berdenting. Bahkan di panggil namanya saja dia tak dengar.


Tangan Alby terulur mengusap kepala kekasihnya.


Cantik! Amara memang cantik alami khas Indonesia. Hanya saja postur tubuhnya memang lebih tinggi dibanding standar perempuan Indonesia.


Melihat Amara masih tertidur pulas, Alby pun memutuskan untuk pulang saja. Padahal rencananya ia akan membahas soal persiapan lamaran mereka. Tapi mungkin tidak bisa hari ini.


Alby pun keluar dari kamar Amara. Ia memilih untuk memesan makanan lebih dulu, agar saat Amara bangun nanti, sudah ada makanan.


Menunggu sekitar dua puluh menit, pesanan makanan nya pun datang. Alby makan sendirian di meja makan.


Usai makan dalam kesendiriannya, tak lupa Alby membuat pesan di dekat makanan yang memang ia beli untuk Amara. Setelah itu, barulah ia pulang ke rumah Nabil menggunakan taksi.


Jam setengah sepuluh malam, Amara terbangun. Ia mengucek matanya beberapa kali. Gadis itu cukup terkejut melihat jam digital yang ada di atas nakas.


Ia buru-buru bangun masuk ke kamar mandi untuk sekedar cuci muka.


'Ya Allah, aku tidur dari sore bangun jam segini?', monolog Amara. Tapi saat ia keluar dari kamar mandi, ia baru menyadari jika lampu kamarnya sudah menyala. Seingatnya, ia masuk ke kamar masih sore, jadi dia lupa menyalakannya. Tapi setelah ia bangun kenapa sudah dalam posisi menyala???


Amara pun keluar dari kamarnya. Hal serupa juga terjadi. Lampu ruang tamu juga sudah menyala. Tak lupa, sepatu yang tadi ia tinggalkan di dekat sofa juga sudah berada di rak nya. Mara menggaruk pelipisnya.


Bingung dengan apa yang terjadi, Mara memutuskan untuk ke dapur untuk mengambil minum apalagi perutnya sudah berteriak minta di isi.


Setelah menenggak air dingin dari lemari es, matanya beralih ke meja makan. Ada kotak makanan dari restoran cepat saji yang biasa dia pesan.


Gadis itu pun membaca memo yang ada di samping kotak makanan tersebut.


Kayanya capek banget ya neng? Jangan lupa di makan ya!


Amara tersenyum, ia tahu pasti jika kotak makanan itu berasal dari mana. Mara menikmati makan malamnya. Saat ia menengok ke tempat sampah, ternyata ada bekas makanan Alby di sana. Lagi-lagi Amara tersenyum.

__ADS_1


Mungkin niat kamu mau makan bareng aku ya By? Tapi aku malah tidur udah kaya kebo. Ngga denger apa-apa. Gimana besok kalo aku jadi istri kamu By???? Batin Amara.


Setelah makan malam sendirian, Amara pun bergegas mandi dan mendirikan empat rakaat nya. Ashar dan Magrib nya sudah terlewat karena ketiduran.


Amara mengirim pesan pada calon suaminya, mengucapkan terima kasih tentunya. Tapi sampai sepuluh menit berlalu tak ada balasan. Mungkin saja Alby memang sudah tidur saat ini.


.


.


Lain di mulut, lain di di tindakkan. Saat ini Azmi sudah ada di ruangan Nur. Ustadzah Salsa dan suaminya sudah pulang karena mereka tidak bisa meninggalkan santri mereka terlalu lama.


Nur pun merasa dirinya sudah jauh lebih baik jadi tak perlu di tunggu karena sudah ada perawat yang menemaninya.


Saat Azmi akan memasuki ruangan Nur, tak sengaja ia bertemu dengan dokter Sakti. Seingatnya, dokter Sakti tidak praktek di rumah sakit Sehat Selalu. Tapi kenapa dia ada di sini?


Keduanya saling berpapasan.


"Dokter Sakti!", sapa Azmi. Sakti yang tidak terlalu mengenal Azmi, hanya tahu jika dia Aspri Alby pun menyapa seadanya.


"Eh, iya. Eum...Aspri nya Alby ya?", tanya Sakti. Azmi pun tersenyum.


"Iya dok. Dokter...pindah praktek di sini?", tanya Azmi.


"Sahabatnya?", tanya Azmi. Sakti pun mengangguk. Niatnya dia akan menjawab telepon, tapi tidak jadi karena sudah berhenti sendiri dering nya.


"Mau jenguk siapa ya eum...?"


"Saya Azmi, dok!", kata Azmi.


"Oh iya, Azmi!", kata Sakti.


"Itu ... teman satu kostan."


"Di ruangan mana?", tanya Sakti.


"Di dalam sini!", jawab Azmi. Sakti menautkan kedua alisnya. Di dalam hanya ada Nur dan satu lagi kakek-kakek berusia lanjut yang di temani pasangannya juga.


"Yakin, ngga salah ruangan?", tanya Sakti. Azmi pun mengangguk. Sakti pun masuk kedalam ruangan Nur diikuti oleh Azmi.


"Assalamualaikum!", sapa Azmi.


"Walaikumsalam!", jawab Nur dan Bina. Sakti pun menoleh pada Azmi.

__ADS_1


"Kamu satu kost dengan Nur?", tanya Sakti dengan nada curiga. Sekarang Bina yang memandangi sahabatnya dengan tatapan yang penuh tanya.


"Maksudnya...kami tinggal di gedung kost yang sama dengan kamar yang berbeda tentunya dok!", jawab Azmi. Bina masih memandangi sahabatnya itu, Nur pun mengangguk.


"Kamu diam-diam pacaran sama mas itu Nur?", tanya Bina.


"Nggak!", jawab Nur dan Azmi kompak. Sakti dan Bina saling berpandangan lalu tertawa pelan.


"Kompak bener???",ledek sepasang suami istri itu. Nur dan Azmi sama-sama terdiam.


"Jadi, Azmi ini asprinya Alby sayang!", kata Sakti merangkul bahu Bina.


"Owh...gitu!", kata Bina mengangguk pelan.


Lumayan juga selera si Nur, ngga beda jauh gantengnya sama Si Alby hihihi, batin Bina.


"Berhubung udah ada yang nemenin Lo, gue balik ya Nur. Kasian Sasa di rumah sama si mbak mulu. Cepet sehat ya!", kata Bina.


"Padahal gue masih kangen sama Lo Bin!'', rengek Nur.


"Gampang besok kita ketemu lagi kalo Lo udah sembuh!", jawab Bina. Lalu ia cipika-cipiki dengan Nur.


Sepasang suami istri itu pun berpamitan.


"Nitip Nur ya mas Azmi. Dia ga pernah deket sama cowok, jadi kalo ngajak ngobrol sama dia agak jauhan, takut Tremor!", bisik Bina pelan pada Azmi saat ia melewati pria tampan itu.


Azmi hanya tersenyum kikuk karena memang dia tak tahu harus menjawab apa. Di ruangan itu ada empat orang, jadi Nur atau pun Azmi tidak secanggung sebelumnya.


"Kok A azmi ke sini lagi?",tanya Nur.


"Teteh kamu tadi chat katanya udah balik ke Bogor. Maneh euweh baturna!", jawab Azmi sambil meletakkan sekotak brownis dan milkshake di atas nakas. Nur melirik batang bawaan Azmi.


"Mau di makan sekarang?", tanya Azmi.


"Itu...buat aku A?", tanya Nur. Azmi menghela nafas pelan.


''Bukan! Buat tetangga kost!", jawab Azmi asal. Nur pun mencebikkan bibirnya.


"Ya buat kamu lah. Geura di daang. Ulah gering we, maneh boga hutang ka urang!", kata Azmi ketus.


"Astaghfirullah, katanya mantan anak santri gitu amat sih!", kata Nur tapi ia meraih milkshake dan browniesnya.


"Ini...di hitung utang juga lin?", lanjut Nur.

__ADS_1


"Ngga, ini free!", jawab Azmi santai. Nur pun cengengesan sambil menikmati apa yang Azmi bawa. Tanpa Azmi sadari, ia melengkungkan tipis bibirnya. Ada senyum yang tersembunyi....🤭🤭🤭


__ADS_2