Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 55


__ADS_3

Alby


Usai mengantar Amara pada Nada, aku dan Azmi kembali ke lantai ruangan ku. Tumben nih anak diem.


"Pinjem hp Lo, Mi?!",kataku.


"Buat apa?",tanya Azmi tapi tetap memberikan ponselnya pada ku.


Aku mencatat nomor Amara di ponsel Azmi. Aku meminta Amara untuk membuka blokirannya agar aku bisa menghubunginya lagi. Alhamdulillah, Amara membuka blokiran nomor ku.


"Nih, makasih!", kataku sambil mengembalikan ponsel Azmi. Saat ini aku berdua saja dengan Azmi di dalam lift. Kami berdua sudah sampai di lantai ruangan ku.


"Gue mau sholat dulu!",kata Azmi.


"Bareng aja, abis itu makan siang di kantin. Lo ga bawa bekel kan?",tanyaku.


Azmi justru menatap ku dari atas sampai ke bawah. Lalu menggeleng pelan.


"Apa sih? Liatin gue kaya gitu?",tanyaku curiga.


"Yakin Lo ga apa-apain Amara tadi?", tanya nya yang sekarang justru curiga.


"Ya...ya ngga lah, Mi!", jawab ku.


"Yakin? Ga percaya gue!"


''Ckkk...apaan sih, Mi!"


"Noh, kemeja Lo di pinggang berantakan! Lo yang berantakin apa karena Amara?",tanya Azmi.


Aku meraba dan memperhatikan kemeja ku di pinggang. Benar, sebagian kusut dan sedikit keluar-keluar mungkin karena Amara yang tadi melampiaskan perasaannya di pinggang ku.


''Ouh, ini..."


''Ngga usah di jelasin!", kata Azmi.


''Kan tadi lo nanya Azmi!", kataku kesal.


''Gue mau sholat di bawah aja sekalian cari makan!",kata Azmi.


''Kan gue bilang bareng Azmi!",kataku.


"Emang ngga mau keramas dulu gitu??",tanya Azmi.


''Astgahfirullah Azmi!"


"Apa yang salah sama pertanyaan gue coba?"


"Gue ga sampe kaya gituan Azmi ya Allah. Ga perlu mandi wajib juga!"


Azmi memasang wajah datarnya, mode serius nih pak ustadz.


"Oke, iya gue...gue cium Amara tadi, penuh kesadaran bukan karena pengaruh obat kaya kemarin."


Azmi tersenyum tipis.

__ADS_1


"Gimana Lo aja lah! Udah gue mau sholat. Terserah Lo mau bareng gue apa keramas dulu deh!"


"Mi, gue ga sebejat itu kali. Lo gitu banget!",aku menahannya. Azmi itu bukan hanya sekedar aspri, sahabat tapi juga sebagai sosok kakak yang selalu menasehati ku.


Dia berdiri di depan ku. Menarik nafas nya dalam-dalam.


"Gue bukan sok alim By. Gue juga masih banyak kekurangan. Tapi sebagai sesama muslim, gue sebisa mungkin ngingetin Lo!", kata Azmi. Aku mendengar ia menghela nafasnya.


"Dalam QS Al Ankabut ayat 45. Ahli tafsir, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa solat itu membawa hikmah, yaitu mencegah perbuatan keji dan mungkar."


Ya...mode santri pondok nya Azmi....


"Gue emang bukan siapa-siapa Lo. Gue juga bukan alim ulama. Cuma....gue pengen ngajak Lo kedalam kebaikan. Tapi kalo ternyata gue belum berhasil, mungkin ga sepenuhnya salah gue. Tergantung dari diri Lo juga. Ngga ada istilah 'percuma' solat tapi masih aja ngelakuin hal-hal yang buruk. Itu semua, tergantung Lo."


Aku menelan salivaku kasar. Azmi benar!


"Kalo Lo emang udah ga bisa nahan diri, udah buruan halalin Amara. Kalo ternyata dia belum mau, mending Lo banyakin puasa!", kata Azmi meninggalkan ku begitu saja.


Ya salam....dia lagi nasehatin aku??? Astaghfirullah! Tapi kok omongan nya bener sih???


Azmi sudah lebih dulu menuju ke mushola lantai bawah. Karena dia sudah lebih dulu turun, aku memilih sholat di mushola lantai ruangan ku.


Sejam berlalu, Azmi datang membawa dua kotak makanan. Dia mengantarkan makanan lalu meletakkan di atas mejaku. Aku menatapnya sekilas.


"Tiga puluh ribu!", katanya.


"Nih, gue ganti!",ku serahkan selembar uang berwarna biru. Dia menerimanya.


"Makasih ya Mi. Gue pikir Lo marah sama gue, ternyata Lo masih peduli sama gue."


"Heum!"


"Apahhh?", tanyanya sambil menoleh karena dia mau keluar dari ruangan ku.


Dasar aspri luknut! Ga ada sopan- sopan nya sama bos!


"Temenin gue ke rumah Amara ntar malam!"


Azmi menghentikan langkahnya. Lalu ia berbalik.


"Lo ada jadwal kuliah ntar malem. Jangan kebanyakan bolos. Ga lulus-lulus ntar!",sahutnya.


Tuh kan, Azmi bener lagi??!!! Tahu banget sih tuh anak!


"Ya... sekali ini doang Mi!"


"Lo mau lamar Amara gitu? Kalo iya, Lo bawa Mak juga. Ngapain sama gue doang. Ga ada persiapan lagi?!"


"Ckkk...kan sekarang mah baru mau ngomongin dulu Mi."


"Lo ngebet nikahin Mara, semata-mata karena tanggung jawab atas apa yang udah Lo lakuin, karena napsyu Lo, apa karena emang Lo udah ada perasaan sama dia?!!"


Subhanallah, kenapa engkau hadirkan sosok Azmi dalam hidup ku Ya Allah!


"Kok Lo nanya nya begitu sih Mi?"

__ADS_1


"Emang salahnya di mana pertanyaan gue? Lo udah pernah gagal berumah tangga By. Ya walaupun gue juga belum sukses juga sih. Tapi kita beda cerita."


"Ya gimana? Lo nanya nya banyak. Gue sampe bingung sendiri kan!"


"Belajar sama pengalaman. Jangan nikahin anak orang sembarangan. Kasian kalo ujung-ujungnya Lo cuma nyakitin Amara!"


"Ya Allah, Mi....!"


"Udah ah, gue banyak kerjaan!",kata Azmi keluar begitu saja.


Nah, kan tuh anak emang!


.


.


.


Amara


"Aku.... pengen cerita Bi."


"Heum, cerita aja Ra. Aku dengerin!",kata Bia sambil meletakkan Ribi di kasur.


Setelah Fesha dan Ribi di tidurkan di kasurnya, aku dan Bia duduk di karpet dekat kasur.


"Eh, bentar. Aku buatin minum dulu ya? Titip anak-anak sebentar. Kasian kamu dari tadi belum di suguhin apa-apa!"


Aku mengangguk.


Tak lama kemudian, Bia membawakan minuman dingin dan beberapa cemilan.


"Minum dulu Ra!",kata Bia mempersilahkan. Aku pun meminum nya sedikit.


"Dah, aku siap dengar cerita kamu."


Bia duduk bersila berhadapan dengan ku.


"Eum, gue bingung mulai cerita nya dari mana!"


"Kok gitu?"


Aku mengangguk pelan. Tentu saja aku bingung mau cerita tentang siapa dulu!


"Heum, kalo aku cerita soal Alby, keberatan ga? Aku...aku cuma ngga mau kalo....!"


"Iya, aku akan jadi pendengar dulu. Kalo kira-kira kamu butuh komentar mu, aku komentarin. Tapi kalo ngga, ya udah. Yang penting aku sudah mendengarkannya."


Usia mendengar jawaban Bia, aku pun tersenyum. Dan, ya... cerita ku mengalir begitu saja. Dari awal berkenalan dengan Alby serta kejadian barusan di kantor. Termasuk juga soal Frans yang sudah membohongi ku. Frans yang sudah meminta ijin juga pada kedua orang tua ku untuk melanjutkan hubungan ku dengan nya.


Bia benar-benar mendengarkan curhat ku. Setelah ceritaku selesai, baru lah dia menghela nafasnya.


Apa yang Bia pikirkan? Aku murahan kah? Apa dia cemburu karena aku mencintai Alby? Atau....ya Allah, aku masih menunggu komen dan reaksi Bia.


*****

__ADS_1


Segini dulu ya! 🙏🙏✌️


Makasih


__ADS_2