
Mayang menghampiri suaminya yang sengaja makan siang di rumah orang tuanya karena dia lah yang menjemput sang papi dari rumah sakit.
"Papi sama mami istirahat aja di kamar ya! Biar fit buat acara nanti malam! Nanti bibik antar makanan aja ke kamar ya?",titah Nathan pada orang tuanya yang sudah berumur itu.
"Papi udah baik-baik aja Nath!",kata papi.
"Udah papi nurut aja sama kakak!",kata mami. Mau tak mau papi nya pun beristirahat di kamarnya di temani mami. Mami pun sepertinya kelelahan menjaga papi selama di rumah sakit. Beliau pun kurang tidur apalagi di rumah sakit tak nyaman untuk beristirahat karena tak terbiasa tentunya.
Nathan menghampiri istrinya yang berada di ruang makan.
"Assalamualaikum istriku!",kata Nathan melingkarkan tangan nya ke pinggang Mayang dari belakang.
"Walaikumsalam mas!",jawab Mayang sambil tersenyum di balik cadarnya.
"Minta tolong bibik deh buat siapin makan siang mami papi, bawa ke kamar!", pintanya.
"Aku aja yang siapin mas!",tawar Mayang.
"Bibik saja! Kamu kan nemenin mas makan!",sahut Nathan. Mayang pun menuruti perintah suaminya. Ia meminta bibik menyiapkan makan siang untuk orang tuanya.
"Mau lauk apa mas?",tanya Mayang.
"Apa pun yang kamu ambilin, mas makan!", jawabnya.
Mayang mencebik di balik cadar.
"Kalo aku kasih racun, mau makan juga?",ledek Mayang pada suaminya.
"Mau lah, racun cinta!", jawab Nathan.
"Ishhh...malu ah, udah tua!",kata Mayang. Nathan mendekatkan kursinya ke samping kursi yang Mayang duduki.
"Suapin!",kata Nathan manja.
"Mas, ini di rumah mami. Kalo di rumah kita sendiri mah ngga apa-apa!",tolak Mayang halus.
"Biarin! Emang kenapa? Malu gitu?",tanya Nathan. Mayang mengangguk pelan.
"Buruan suapin! Mas mau balik ke kantor lagi nih!", rengeknya lagi. Mayang hanya menghela nafasnya karena tingkah manja sang suami. Meski sudah sepuluh tahun berumah tangga, keduanya selalu romantis. Ya... ujian rumah tangga mereka adalah....hingga saat ini, Allah belum mempercayakan anak pada keduanya. Tapi mereka pun tetap berusaha dan menyerahkan semuanya pada yang di atas.
Beruntung nya, pihak keluarga Nathan dan Mayang pun tak pernah menuntut ini itu seperti kebanyakan keluarga lain.
Perlahan Mayang pun menyuapi suaminya yang tampak lahap menerima suapan darinya.
"Sudah?",tanya Mayang saat Nathan meminum air putih. Hanya anggukan pelan sebagai jawaban dari Nathan.
"Mas balik ke kantor ya?",pamit Nathan.
"Tunggu mas! Aku boleh minta waktu nya sebentar, kita ke kamar ya?",ajak Mayang.
"Heh? Maaf sayang, bukan mas nolak keindahan kamu. Tapi kamu tahu sendiri kalo mas udah mulai, mas susah berhentinya. Gak bisa sebentar! Mas ada meeting, nanti kam....",Mayang membungkam mulut suaminya.
"Apa sih mas? Mesum banget deh! Aku cuma mau bicara sebentar! Kenapa mikirnya ke arah sana sih!",Mayang bersungut-sungut. Nathan yang salah sangka hanya menahan tawanya karena malu sudah berprasangka bahwa istrinya sedang meminta haknya.
"Ya udah ayok, kita ke kamar!",Nathan menggandeng tangan istrinya menuju ke kamar yang biasa mereka pakai setiap pulang ke rumah orang tuanya ini.
__ADS_1
"Mau ngomong apa?",tanya Nathan setelah keduanya duduk di bibir ranjang.
"Mas setuju kalo dokter Frans menikah dengan Amara?",tanya Mayang. Nathan menakut kedua alisnya. Lalu setelah itu ekspresi wajahnya berubah.
"Kenapa kamu mendadak bertanya seperti itu? Acara nya akan di laksanakan nanti malam. Udah lah, kamu ngga usah nethink begitu. Insyaallah Frans akan jadi imam yang baik buat Mara! Buktinya dia mau kan ngejar Mara sampe sejauh ini? Bahkan dia mau jadi mualaf demi menikahi Amara!"
"Aku mau kasih unjuk sesuatu! Aku harap, kamu bisa memikirkan ulang mas!",kata Mayang lalu berdiri mengambil ponselnya yang ada di nakas.
Mayang memberikan ponselnya pada Nathan. Nathan yang bingung di sodori ponsel oleh istrinya pun hanya menerima benda pipih itu.
Dengan perlahan, Nathan membaca tulisan demi tulisan yang ada di ponsel istrinya. Meski dalam bahasa Inggris, Nathan paham setiap kata yang tersirat di dalamnya. Dia menggeleng tak percaya.
Transkrip percakapan antara Frans dan beberapa nama asing yang mengatakan tentang penemuan nya yang sudah ia gunakan untuk membunuh adik dan juga istri nya juga ia gunakan untuk melumpuhkan sang papi.
Dan masih banyak hal yang tertulis di sana. Nathan menggeleng tak percaya.
"Kamu dapat dari mana ini sayang?",tanya Nathan tak percaya.
"Dari Amara. Amara dapat dari temannya."
Nathan termangu tak percaya. Bagaimana bisa ia mempercayai sosok Frans yang terlihat baik di matanya juga di mata mami papinya.
"Berarti... Mara dalam bahaya?",tanya Nathan pada istrinya. Mayang mengangguk.
"Astaghfirullah!", Nathan mengusap kasar wajahnya.
"Mas, ngga cuma Mara yang dalam bahaya. Mami papi pun sama."
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Kenapa Mara menghadapi ini semua sendiri? Dia ngga bilang dari awal?"
Nathan menatap istrinya lekat. Apa yang Mayang katakan memang benar.
"Apa Daniel tahu soal ini?",tanya nya lirih. Daniel memang lebih dekat dengan Amara di banding dirinya.
"Iya, Daniel tahu dari awal. Dia juga sudah menyelidiki kenapa papi bisa seperti itu. Mara, Daniel dan dokter sakti sudah bekerja sama untuk menyelidiki kondisi papi. Dan hasilnya...ya seperti itu. Apa yang terjadi dengan papi karena ulah Frans."
Nathan berdiri dari duduknya. Dia berpikir keras bagaimana cara menyelesaikan dan menyelamatkan adik serta kedua orang tuanya.
"Apa kita akan tetap meneruskan pertunangan mereka?",tanya Mayang pada suaminya.
"Apa kamu pikir mami dan papi akan percaya dengan apa yang kita katakan? Mereka sudah terlanjur bahagia melihat Amara yang mau menikah dan move on dari Febri! Mas ngga tega mengecewakan mereka, mereka pasti akan sangat sedih! Mau tak mau, pertunangan ini tetap berlangsung!"
"Tapi Amara mencintai Alby, mas. Kamu tak tahu itu?",tanya Mayang.
Nathan menggaruk pelipisnya.
"Kalo kita mendadak menggagalkan pertunangan mereka, apa ada jaminan kalo papi dan Amara baik-baik saja setelahnya?",tanya Nathan balik.
"Tapi...bukan kah pertunangan ini sama saja di khitbah mas?",tanya Mayang pada suaminya. Nathan terdiam.
"Kamu tahu kan mas, perempuan yang sudah di khitbah itu...",Mayang menggantung kalimatnya.
"Tapi kalo suatu saat salah satunya memutuskan untuk membatalkan nya ngga apa-apa kan sayang? Sekarang, kita ikuti saja apa mau Frans. Aku akan membawa mami papi pergi dari sini, setelah acara itu selesai."
"Ke mana?",tanya Mayang. Nathan menatap lekat istrinya. Mungkin dia sedang berpikir.
__ADS_1
"Ke luar negeri? Alasan apa yang kita pakai untuk membawa mereka?",tanya Mayang yang tidak mau berbohong pada mertua nya.
"Kita bisa katakan nanti sayang. Pokoknya kamu tenang saja, mas pasti tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti keluarga kita!",kata Nathan menenangkan sang istri. Mayang mengangguk pelan.
Usai pembicaraan penting tadi, Nathan pun kembali ke kantornya.
Alby
Di kampung.....
Dua duda ganteng itu sudah sampai di depan warung Wak Euis.
"Ke sini doang naik motor By???",tanya Azmi lirih. Ini sedang tidak di kantor!
''Lo tahu alasan gue tadi nyong! Males gue di tanyain sama orang-orang julid!", sahutku.
Azmi menghela nafas lalu turun dari motor ku.
"Assalamualaikum! Punten...!",sapa Azmi.
"Walaikumsalam, eh...meser naon Jang?",tanya Wak Euis pada Azmi.
"Mi goreng enak sepuluh ya Wak!",sahut Azmi. Wak Euis pun menautkan kedua alisnya. Mungkin dia heran dengan lelaki tampan yang baru di lihat nya hari ini di kampung halamannya.
"Oh, Aya Jang! Sakedeng!",pinta Wak Euis. Tak lama kemudian, dia memberikan apa yang Azmi minta. Dia juga membeli beberapa bahan makanan lain. Kasian anak-anak hanya di beri makan mie instan doang!
Aku menunggu di atas motor. Berharap tak ada warga lain yang nantinya akan banyak bertanya padanya perihal perpisahan nya dengan Neng Bia. Tentu saja mereka pasti akan menyalahkan dirinya.
"Jang, Wak teh baru liat kamu. Kamu tinggal di mana?",tanya Wak Euis pada pria tampan itu.
"Oh, saya temannya Alby Wak. Kebetulan tadi pagi kami baru sampai di sini!", jawab Azmi jujur apa adanya.
"Oh, Alby pulang? Kirain mah udah jadi orang kaya, bakal lupa lupa punya kampung di sini!",sarkas Wak Euis. Karena dia baru ngeuh kalo aku yang duduk di motor.
Aku mendengar itu Wak.....!!!
"Kalo begitu, permisi ya Wak! Punten! Assalamualaikum!",pamit Azmi setelah membayar belanjaannya. Tanpa berpamitan, aku langsung melaju kan motor ku setelah Azmi nangkring di motor ku.
"Bener dugaan Lo By!", kata Azmi.
"Bia emang baik. Dia yang pendatang, tapi mereka semua menyukai Bia. Wajar kalo orang-orang benci gue karena udah nyakitin Bia!",kataku di sela perjalanan ke rumah.
Gak sampai tiga menit, motor ku sudah berada di halaman. Azmi langsung membawa mie instan itu untuk di masak.
Ku lihat Nabil dan putri sedang melihat foto-foto di album yang terletak di meja.
"Papa, ini...mama Bia kan? Banyak foto mama Bia sama papa? Tapi ngga ada foto papa sama bunda?",tanya Nabil padaku.
Aku bingung menjelaskan seperti apa padanya? Apa dia akan paham?
"Eum, iya. Foto bunda kan di rumah kakek. Ngga ada yang disini!", jawab ku.
"Mama Bia cantik ya pa!",kata Nabil sambil mengusap foto pernikahan ku dengan Bia yang sangat sederhana itu.
Putri yang mungkin sudah paham, berusaha mengalihkan perhatian Nabil dari foto-foto itu.
__ADS_1
"Kita main di belakang yuk Bil. Liat Abi ku nyalain api di tungku! Kan mau masak mie goreng!",ajak Putri sambil melirik ku. Ya Allah, apa gadis kecil ini paham kebingungan ku???