Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Eps 65


__ADS_3

Amara


Aku sudah berada di depan kamar rawat papi bersama Kak Daniel. Mami, kak Nathan dan mba Mayang lebih dulu masuk ke dalam.


Tiba-tiba kak Daniel menarik tangan ku untuk duduk di bangku tunggu.


"Kenapa tiba-tiba kamu bersama Frans? Bukan kah Alby yang mengantarkan mu tadi?",cerca kak Daniel.


Jadi, kak Daniel tahu Alby mengantarku?


"Itu kak, tadi Frans ke kantor."


"Dia sengaja menemui kamu?"


Aku mengangguk pasrah. Terserah apa tanggapan kak Daniel padaku yang seolah mudah berubah pikiran.


"Apa dia mengatakan sesuatu?", tanya kak Daniel menatapku curiga.


"Maksudnya apa kak?"


"Kenapa tiba-tiba kamu berasumsi jika papi keracunan? Apa Frans mengatakan sesuatu? Maksudnya...dia tahu papi keracunan?"


Aku tak menjawabnya karena memang bingung mengatakan apa. Jika aku mengatakan Frans 'melakukan' sesuatu pada papi, apa kak Daniel percaya???


"Frans kan dokter, barang kali dia tahu ciri-ciri nya penyebab papi kena serangan jantung. Padahal selama papi sakit kemarin, kakak lihat papi sudah mulai pulih?"


Aku menggeleng pelan. Kudengar kak Daniel mendesah berat. Tentu saja sebagai seorang anak pasti sangat mengkhawatirkan orang tuannya.

__ADS_1


Kak Daniel menyandarkan kepalanya ke dinding. Meski pun dokter Sakti mengatakan papi tak begitu parah, tapi entah kenapa perasaan ku berkata tidak. Bukan berharap yang tidak-tidak, hanya saja aku khawatir jika apa yang Frans katakan benar adanya.


Ada 'sesuatu' yang perlahan menggerogoti kesehatan papi. Tapi entah apa itu? Apa dokter luar sehebat itu?


Kak Nathan dan Mba Mayang keluar dari kamar papi. Mereka mempersilahkan aku masuk ke dalam kamar papi. Sedang mami sendiri duduk di samping papi.


"Mi...!",aku mengusap bahu mami. Netra tuanya menatap sendu ke arah papi yang masih belum sadarkan diri.


"Kalo papi memang kena serangan jantung, hal apa yang bikin dia seperti itu!? Ada berita buruk kah atau apa? Kenapa papi bisa tiba-tiba terkena serangan jantung?", Mami bertanya sendiri tanpa meminta jawaban apa-apa dari aku dan kak Daniel.


"Mami, insyaallah papi akan kembali sehat kok! Ya, Mi?",kataku.


Aku mendengar mami menghela nafasnya. Dia menoleh padaku.


"Kamu lihat kan sekarang kondisi papi begini? Bagaimana jika tak lama setelah ini mami yang akan akan seperti papi, terbaring lemah seperti ini?"


"Astaghfirullah, mami ngomong apa sih? Ngga lah, mami akan selalu sehat. Buat jaga dan rawat papi!", kataku mencoba tersenyum.


Aku paling malas membahas seperti ini sumpah! Siapa sih yang mau hidup sendiri tanpa pasangan? Aku bukan ngga mau, hanya saja belum tiba saatnya aku menikah. Pasangan saja aku belum ada kejelasan.


"Mami ngomong apa sih? Mami akan selalu sehat, panjang umur dan pasti melihat aku menikahi Mi. Aku nggak suka mami ngomong kayak begitu lagi!"


"Tapi kenyataannya apa? Bahkan Kamu sepertinya tidak menerima Frans lagi? Memang apa kurangnya Frans di mata kamu Amara?"


"Mami, kalau Mami tahu alasan sebenarnya, apa Mami percaya sama aku?"


Mami menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


''Katakan sama mami!"


"Asal Mami tahu! Frans sudah membohongi Mara Mi. Kami menjalin hubungan tapi ternyata dia sudah memiliki istri, bahkan saat itu istrinya sedang hamil Mami!"


Mami nampak tertegun.


"Soal dia yang mengatakan kami pernah menghabiskan waktu bersama itu bohong Mi! Mara tidak melakukan apapun yang seperti Mami dan Papi pikirkan! Mara masih cukup waras untuk melakukan hal sebodoh itu!"


Mami menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Tapi bukankah istrinya sekarang sudah meninggal, lalu kenapa masalahnya?", tanya mami. Aku dan kak Daniel saling berpandangan.


"Mi, siapa pun akan kecewa jika di bohongin seperti itu. Beruntung Mara masih kuat iman, coba kalo tidak Mi. Apa yang dunia katakan, seorang abdi negara yang sedang bertugas di negeri jauh justru jadi pelakor? Mami mau?"


"Tapi sekarang keadaan sudah berubah Kak, kalian ngga liat apa sedikit saja dari sudut pandang yang berbeda. Dia jauh-jauh ke negara ini untuk memperjuangkan cinta nya? Masih kurang kak, Dek?",tanya mami pada ku dan kak Daniel.


"Mami, kenapa mami sepertinya begitu menginginkan Frans jadi bagian dari keluarga kita?", tanya kak Daniel.


"Bukan masalah ingin atau tidak ingin kak! Tapi kami berharap jika adik kami ini mendapatkan lelaki yang sepadan. Kamu harusnya paham hal itu, kak, Ra?!"


"Jadi maunya mami tuh apa?",tanyaku pada Mami.


"Terima Frans lagi!",jawab mami singkat. Mami memang dari tadi berbicara halus dan pelan, karena Memang bawaannya seperti itu.


Aku menurunkan bahuku pelan. Apa Frans sudah mencuci otak mami dan papi ku agar selalu mendukung Frans???


****

__ADS_1


Ada yang nunggu ga sih? 😔😔 asli lagi sibuk pake banget pake pollll di real life.


Maafkeun kalo dikit terus banyak typo lagi. Semoga besok bisa bikin bab yang jauh lebih berbobot timbang ini. Makasih, 🙏🙏🙏


__ADS_2