
"Lo kenapa Mi? Cerita sama gue?!", Alby tak pernah melihat aspri sekaligus sahabatnya berwajah muram seperti itu.
"Ga papa. Oh iya, gimana rasanya punya istri lagi?", tanya Azmi. Dia mencoba untuk melupakan sejenak masalahnya. Karena dia tak ingin sahabat sekaligus atasannya itu turut memikirkan cara agar dirinya bisa mendapatkan jalan keluar atas masalah yang di alami.
"Gue yakin, Lo cuma sedang mengalihkan topik pembicaraan kita!"
"Tapi Lo kan sedang bahagia bos, kayanya gue ngga usah cerita dulu deh!", sahut Azmi lesu. Serius, bukan Azmi banget. Meskipun di awal dulu dia jaim, tapi tidak sekarang. Khususnya saat bersama Alby.
"Apa Lo ada masalah dengan Bina?", tanya Alby tiba-tiba dengan sorot mata yang berbeda. Otomatis Azmi menggeleng cepat.
"Ngga bos! Gue ngga ada masalah apapun sama istrinya dokter Sakti itu!", sahut Azmi.
"Lalu??? Kenapa dia tiba-tiba ada di sini? Ketemu sama Lo? Setahu gue, Lo kenal sakti juga karena gue. Jangan bilang kalo dulu Lo....!"
"Astaghfirullah bos. Su'uzon aja deh! Gue beneran baru kenal sama Bina Sabrina itu!", kata Azmi kekeh.
"Terus dia ke sini tuh ngapain?"
Azmi mengusap tengkuknya. Ia memang tak bercerita pada Alby soal ia yang mulai menaruh hati pada Nur dan berniat mengkhitbah nya.
"Heum...jadi gini...."
Azmi menceritakan tentang awal mula dia dan Nur yang ternyata sama-sama menaruh rasa tapi tidak bisa 'pacaran' seperti Alby dan Amara. Mereka yang memegang teguh prinsip bahwa tidak ada pacaran yang syar'i sebelum menikah.
Alby awalnya sampai tak percaya. Tapi karena dirinya sudah cukup mengenal seperti apa aspri nya yang tak pernah tergesa-gesa mengambil tindakan, dia pun percaya jika memang cinta hadir tanpa ia dan nur sadari.
Penolakan Abah nya Nur membuat Alby merasakan seperti de Javu atas apa yang pernah ia rasakan sebelumnya. Dia tahu rasanya seperti apa 'melawan restu'.
Tapi Alby bukan lah Azmi yang mampu membentengi diri dari segala godaan setan yang terkutuk. Dia mempunyai level di atas Alby dalam tingkat pengetahuan dan keimanannya.
__ADS_1
"Lo...udah hubungi Nur lagi?"
Azmi menggeleng lemah.
"Gue ngga enak sama Nur. Takut dia makin di marahi sama abahnya!", kata Azmi.
"Terus, maksudnya Bina ke sini tuh mau ngasih tahu kondisi Nur ke Lo, gitu?"
"Iya!", jawab Azmi singkat.
"Kalo dia bisa hubungi Bina, kenapa ngga hubungi Lo?"
"Gue ga tahu!", Azmi mengedikan bahu.
"Apa alasan abahnya Nur nolak Lo? Padahal ini baru kenalan doang? Mereka ngga mau kenalan dulu sama Lo? Bukan karena status Lo kan?", cerocos Alby.
Alby mengingat saat Azmi menceritakan masa lalunya.
"Iya, tahu gue. Lalu apa hubungannya penolakan abahnya Nur sama masa lalu Lo?"
"Jadi...abahnya Nur adalah orang yang sangat berjasa dalam hidup gue. Dia yang udah pungut gue sekaligus membiayai hidup gue dari kecil."
"Kok??? Bisa sih? Sempit sekali lapak mamak ini!?", celetuk Alby.
"Setelah lulus kuliah, gue...di minta nikahin anak sulungnya abah. Kakak nya Salsabil. Gue ga pernah tahu kalo Pak Mirza, abahnya Nur memiliki anak selain Nayla."
"Terus?"
"Gue bukan nolak By, tapi....Nayla sedang dalam kondisi hamil dan dia sangat berharap kekasihnya lah yang menjadi suaminya. Gue ngga mungkin maksa Nayla buat jadi istri gue kan. Percuma aja kalo gue berjuang sendiri kalo kenyataan Nayla mencintai orang lain."
__ADS_1
Alby mengusap wajahnya dengan satu tangan. Sebenarnya pekerjaan mereka menumpuk, tapi mungkin tak apalah sekali-kali ada sesi curhat antar sahabat begini.
"Dan... karena gue nolak pernikahan itu, pak Mirza sempat marah besar sama gue. Gue ga bermaksud untuk tidak tahu balas Budi, tapi kenyataannya memang apa yang terjadi tak seperti yang Abah mau."
"Ga ikhlas dong dia nolongin Lo sampe masukin Lo ke ponpes terus dia masih ngungkit biar balas Budi?"
"Ikhlas itu urusan hati bos. Terserah dia aja sih! cuma....yang bikin Abah nur kecewa itu ... karena Nayla lebih memilih ikut keyakinan pasangannya. Dan hal itu yang membuat Abah Nur menyalahkan gue karena penolakan perjodohan waktu itu."
"Ishhh....mana ada begitu!!!"
"Huum, mungkin memang ya...gue ga bisa sama-sama sama Nur. Apalagi...dia udah di bawa ke Bandung, udah gitu dia di suruh keluar dari pekerjaannya. Makin susah gue Bos!"
"Jangan patah semangat gitu dong! Biasanya Lo yang selalu support gue. Ini saatnya gue bantu Lo! Oke???"
"Lo mau apa? Abahnya Nur galak lho!"
"Ntar gue bantu mikir. Sekarang kita kerja lagi deh, bentar lagi istirahat makan siang lho!", kata Alby menata map nya.
"Ingat udah siang toh?", sindir Azmi.
"Hehehe , mlipir aing ke hotel sakedeng Mi!"
"Check in...????", tanya Azmi sedikit terkejut.
"Iya, harap maklum ya!", Alby menaik turunkan alisnya. Azmi hanya memutar bola matanya jengah. Dia tak mau mendengar urusan dalam negeri bos nya yang pasti akan balas dendam karena menduda lebih dari dua tahun.
****
Wes lah....ada saatnya Alby beraksi ✌️😌
__ADS_1