Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 99


__ADS_3

[Assalamualaikum, Dan? Ada apa?]


Mayang mengangkat telpon dari adik iparnya, Daniel.


[Walaikumsalam. Mba, Mara balik ke rumah sakit lagi apa? Aku ke kantor nya ga ada. Mana ada meeting pula]


[Mara? Ngga tuh. Tadi ngga jadi di antar kamu, dia di antar sama Frans kan?]


Justru Mayang bertanya balik.


[Makanya mba, aku pikir Mara balik ke rumah sakit. Udah siang begini, belum sampe kantor juga. Mana di telpon ga di angkat-angkat lagi!]


Mayang mulai gusar. Feeling nya mengatakan jika adik ipar sedang tidak baik-baik saja. Apalagi Amara pergi bersama Frans.


[Eum, coba telpon Alby, Dan. Mungkin dia tahu Mara di mana?]


[Iya mba, coba aku tanya Alby dulu kalo begitu]


[Iya. Nanti kabarin mba ya Dan!]


[Iya mba. Assalamualaikum]


[Walaikumsalam]


Mayang memasukan ponselnya ke dalam saku gamis.


"Ada apa May?",tanya Mami.


"Ini Mi, Daniel cariin Mara. Katanya di kantor ngga ada. Padahal ada meeting penting katanya. Daniel pikir Mara balik ke sini lagi. Mara susah di hubungi",jelas Mayang apa adanya.


"Masa sih belom ada sampe? Kan pergi tadi pagi di antar sama Frans?",tanya papi.


"Di antar Frans?",tanya mami. Mayang dan papi mengangguk.


"Iya, tadi orang tua Frans juga ke sini Mi. Rencananya, mau melamar Amara. Papi senang sekali Mi. Akhirnya.. Amara mau menerima Frans!",kata papi dengan senyuman yang mengembang.


"Beneran? Puji Tuhan, akhirnya hati Amara luluh juga ya Pi!",kata mami sambil mengusap lengan suami nya.


Astaghfirullah! Batin Mayang.


Mami dan papi begitu percaya pada Frans ya Allah.


"Mi, Pi. Amara ngga tahu di mana sekarang. Kenapa sepertinya mami dan papi tenang-tenang saja?",tanya Mayang pada kedua mertuanya.


"Kan perginya sama Frans. Memang apa yang harus kamu khawatirkan May?",tanya papi pada menantu perempuan nya itu.


Mayang hanya menghela nafas. Tak mungkin bukan dia mengatakan jika menurut pandangan nya, Frans bukan orang baik? Apalagi,kedua mertuanya sangat menyukainya.


"Udah siang, beli makan dulu deh May!",ujar mami.


"Iya Mi."


Mayang pun meninggalkan ruangan mertua nya menuju ke kantin rumah sakit.


.


.

__ADS_1


.


Alby


"Mas Alby!",panggil Bianca.


Aku menengok ke belakang. Menjumpai Bianca yang terlihat bahagia karena senyum nya tak pudar sama sekali.


"Ada apa? Sepertinya saya tidak ada janji meeting dengan perusahaan anda!",kataku bersikap formal pada gadis centil itu.


"Aku memang tidak sedang membicarakan pekerjaan mas. Cuma mau ngajak kamu makan siang! Belum makan kan?",tanya Bianca.


"Maaf saya tidak bisa!",kataku sambil melangkahkan kaki ku meninggalkannya.


"Tunggu mas!",Bianca menarik pergelangan tangan ku.


Kenapa dia seberani ini sih???


"Lepas!",kataku dengan pelan. Perlahan ia pun melepaskan pergelangan tangan ku.


"Apa salahnya sih, cuma makan siang Mas!",rengek Bianca.


"Saya sudah bilang tidak bisa, ya tidak bisa!", bentakku.


"Papa!", tiba-tiba Nabil memanggil ku. Aku tidak mau Nabil melihat ku bersikap kasar, terlebih pada seorang wanita. Tapi Bianca benar-benar sudah menambah emosi ku yang dari tadi memang sudah emosi.


"Iya, Bil!",sahutku berusaha menekan suaraku. Azmi menghirup nafas dalam-dalam. Mungkin dia lelah menggendong Nabil dari tadi.


"Hai Nabil!",sapa Bianca pada Nabil.


Wah, cari kesempatan nih bocah! Batin Azmi.


"Papa!",Nabil berpindah gendong padaku.


"Kenapa nak?"


"Laper. Makan bareng yuk pa!",kata Nabil cadel.


Hati Bianca bersorak. Kesempatan buat pedekate dengan pria idaman nya sekaligus anaknya heheheh


"Tuh kan mas, Nabil lapar. Makan sama teteh yuk, ke restoran nya teteh!",kata Bianca heboh.


Aku dan Azmi melebarkan mataku. Mata kami beradu pandang.


"Gila nih bocah, ga ada capeknya ngejar Lo!", bisik Azmi padaku.


"Tahu nih, geli gue tahu ngga. Nih bocah agresif banget. Nabil juga herannya kok nempel aja sama si ulet keket!", balas ku lagi berbisik juga.


"Ayo pa, ke resto teteh!",Nabil menarik-narik celanaku. Aku dan Azmi kembali berpandangan. Mau tak mau akhirnya aku pun mengiyakannya.


"Iya Bil!", sahutku. Bianca dan Nabil bertepuk tangan. Terlihat betapa Bianca sangat bahagia.


"Lo yang bawa mobil Mi!",kataku pada Azmi.


"Heum, ya bos!",sahutnya.


Bianca menggandeng tangan Nabil sampai ke depan. Keduanya terlihat sangat akrab.

__ADS_1


Pemandangan itu menyita perhatian orang-orang. Aku hanya bisa beristighfar dalam hati.


Azmi melajukan mobilnya dengan pelan. Aku duduk di samping Azmi. Sedang Nabil, Bianca dan teh ani di bangku belakang.


Seperti biasa, Nabil berceloteh riang. mendadak aku ingat Amara. Berniat untuk mengajak nya makan siang juga.


Aku pun menghubungi Amara. Sekali dua kali sambung telepon ku tak ada respon.


Pikiran ku jadi macam-macam. Aku belum mendapatkan kabar sejak tadi pagi dari nya.


Baru saja ku letakkan ponselku, ada panggilan dari kak Daniel.


[Assalamualaikum kak ?]


[Walaikumsalam. By, Amara sama kamu?]


[Hah? Ngga kak? Justru aku mau ngajak Mara makan siang. Tapi dari tadi aku telpon ga di angkat kak!]


[Astaghfirullah! Kemana anak itu]


[Ngga di kantor Kak?]


[Justru aku di kantor nya. Nada bilang Amara ngga ke kantor dari pagi. Padahal tadi pagi jelas-jelas dia keluar dari kamar papi. Mau ke kantor katanya. Aku mau mengantar Mara, tapi papi minta Frans yang nganterin]


[Amara pergi sama Frans?]


Aku cukup terkejut sekaligus khawatir dengan keselamatan Amara. Bagaimana jika Frans berbuat macam-macam pada Amara.


[Jangan bikin aku tambah panik By. Biar aku kerahin anak buah ku buat cari Amara. Kalo ada kabar dari Amara, kamu kasih tahu aku ya By. Begitu juga aku kalo ada kabar, aku kasih tahu kamu!]


[Iya kak]


[Ya udah. Assalamualaikum]


[Walaikumsalam]


Aku memijat pelipisku.


"Ada apa By?",tanya Azmi padaku.


"Amara ngga tahu di mana. Tadi pagi Frans bilang mau antar Amara ke kantor. Tapi sampai sekarang dia ga ke sana. Kak Daniel juga katanya mau ngerahin anak buah nya buat cari Amara"


Azmi mengangguk. Aku pernah bercerita tentang Frans pada Azmi. Jadi, aku rasa dia paham kecemasan ku pada Amara.


"Coba cek lokasi ponsel Amara!",kata Azmi.


"Hp gue ga bisa Mi!",kata ku. Azmi mendengus. Lalu ia mengutak-utik ponselnya yang sebenarnya tak lebih canggih dari ku.


"Dia ada di sekitar tol dalam kota. Mungkin dia dari luar kota"


"Hah? Luar kota?"


"Mungkin! Ponsel nya ada di sekitar tol!",jawab Azmi.


Aku langsung menghubungi Kak Daniel. Setelah mendapatkan info, kak Daniel pun mengerahkan anak buahnya menuju ke lokasi yang Azmi katakan tadi.


Aku berharap Amara baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2