Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 209


__ADS_3

"Aa!", bisik Amara lirih. Tapi yang di panggil tak menggubrisnya mungkin karena terlalu nyenyak.


Tangan Amara terulur mengusap kepala Alby yang dekat dengan punggung tangannya. Merasa ada yang mengusap kepalanya, Alby pun sedikit terusik. Dia mengangkat kepalanya.


Matanya terbuka lebar saat tahu jika istrinya telah siuman. Setelah subuh tadi, Alby kembali terlelap di samping Amara.


"Sayang, kamu sudah siuman?", Alby tersenyum sambil mengusap kepala istrinya. Andai tak sedang puasa, sudah pasti dia akan mengecup bibir istrinya. Alhamdulillah, dia masih bisa menahan diri. Amara tersenyum tipis.


"Minum!", bisik Amara. Alby mengambil air mineral untuk di minum Amara. Terlihat jika perut bagian Amara masih sangat sakit. Alby bisa mendengar desisan dari bibir istrinya.


Tiba-tiba mata Amara berkaca-kaca menatap Alby.


"Hei, kenapa sayang? Ada aa disini. Semua baik-baik saja. Terimakasih sudah bertahan sayang!", kata Alby sambil terus mengusap pipi Amara.


Amara menggeleng pelan. Tapi justru setelah itu Amara menangis tanpa suara.


"Aa panggil dokter ya! Ini pasti sakit sekali!", Alby siap-siap berdiri tapi Amara mencegahnya. Perempuan itu menggeleng lemah. Alby pun kembali duduk.


"Sakit sekali ya sayang?", tanya Alby dengan wajah yang sendu.


"Maaf!", kata Amara lirih.


"Maaf buat apa sayang? Harusnya Aa yang minta maaf tidak bisa menjaga kam.....kalian!", kata Alby pada akhirnya. Mata semakin meneteskan air matanya.


"Shhhh... sudah, tidak apa-apa sayang! Sudah! Kita ikhlas kan semuanya. Ya?", Alby mencoba menenangkan. Meski sebenarnya dia juga merasa kehilangan calon janin mereka.


"Awalnya aku ingin memberi kejutan untuk mu A. Tapi....hiks....hiks....! Ssshhhh....!"


"Sudah Sayang...sudah!", pinta Alby. Dia mengusap bahu istrinya yang menangis. Guncangan di bahunya pasti akan menarik sisa jahitan di perutnya.


Perlahan, tangis Amara pun mereda. Dia sudah mulai bisa mengendalikan dirinya. Matanya menerawang ke atas langit-langit ruangan. Mimpi yang ia alami seolah nyata.

__ADS_1


Silvy, almarhumah istri Alby terlihat begitu nyata di hadapannya. Wajah cantik dan muda. Nabila, gadis cantik yang mungil memiliki perpaduan wajah antara Bia dan Alby. Dan bayi laki-laki kecil berusia balita.


"Ada apa?", tanya Alby. Amara membuka matanya setelah tadi sempat memejamkan matanya.


"Terimakasih sudah memberi kesempatan buat ku A. Aku...bisa memiliki hati Aa!", kata Amara lirih. Alby tersenyum lalu mengecup punggung tangan Amara.


"Aa yang harusnya berterima kasih. Karena kamu sudah hadir dalam kehidupan Aa setelah kepahitan selama ini yang sudah aa alami!", kata Alby. Amara pun tersenyum.


Keduanya sama-sama saling beruntung mendapatkan pasangan seperti itu.


"Eum, Febri, Dimas dan Seto di rawat di sini Sayang!", kata Alby.


"Heuh? Kenapa?",tanya Amara cemas.


"Mereka mengalami kecelakaan parah sehari sebelum puasa Ramadhan."


"Innalilahi, kok bisa mereka kecelakaan bersamaan seperti itu?", meski pelan dan lemah, tapi amara masih kepo.


"Frans?", gumam Amara. Menyebut nama lelaki itu, Amara jadi teringat tentang peristiwa berdarah kemarin.


"Sayang!", Alby kembali mengusap tangan Amara yang bengong.


"Heum?"


"Frans...sudah tewas karena ia tertembak beberapa kali saat berusaha melukai kamu sayang!", kata Alby.


"Te-was?", Amara membeo. Bukan, bukan terkejut karena dia masih mencintai lelaki itu. Tapi...dia justru merasa bersalah pada Frans.


Karena diri nya yang tak bisa lagi menerima kenyataan jika Amara sudah menikah. Andai...andai waktu bisa di putar kembali. Febri tak di tembak dan bukan Frans yang membantunya. Mungkin tidak akan seperti ini akhirnya.


Lelaki yang sudah berkali-kali di khianati dan patah hati itu harus berakhir dengan cintanya tak tergapai.

__ADS_1


Air mata Amara kembali meleleh.


"Sayang! Sudah, tidak apa-apa. Ini bukan salah kamu! Heum?!", Alby masih mencoba menenangkan Amara.


"Tapi... seandainya dia tidak terobsesi pada ku, dia tidak harus meregangkan nyawanya sia-sia A!"


"Astaghfirullah! Sudah sayang!", Alby mengelus bahu Amara.


Di saat Alby mencoba menenangkan istrinya, pintu ruangan di ketuk. Alby pun mempersilahkan masuk. Muncul lah sosok Nabil dan Mak Titin.


"Mama!", Nabil menghambur ke dalam pelukan Amara.


"Pelan sayang, perut mama sakit habis di jahit!", Alby memperingatkan Nabil. Nabil pun menuruti ucapan papanya.


"Nak!", Mak Titin mendekati Amara. Amara pun tersenyum tipis.


"Mama, Nabil kangen sama mama!", kata Nabil.


"Mama juga!"


Tak lama berselang, ada yang masuk ke ruangan tersebut dengan kursi roda dan di dorong oleh seseorang.


"Assalamualaikum??"


"Walaikumsalam!"


*******


Makasih, 🙏🤗🙏


Insya Allah otewe the end yak ✌️✌️✌️

__ADS_1


__ADS_2