
Alby
Jam tiga sore aku mengajak Nabil dan Mak ke makam ibu bapak ku yang cukup lumayan jaraknya jika di tempuh dengan jalan kaki. Karena tidak memungkinkan untuk mengendarai motor dengan jalan yang cukup terjal. Maklum, di gunung dan kampung tentunya.
Menghindari berpapasan dengan para tetangga yang pasti akan julid pada kami, kami memilih jalan yang sedikit jarang di lalui warga.
Hah! Berasa kaya penjahat yang takut kegep ngga sih???
"Papa, makam abah sama umi jauh ya?",tanya Nabil yang menggandeng tangan ku. Sedang Mak berjalan di belakang ku. Azmi, Putri dan Teh Ani ku minta di rumah saja.
"Bentar lagi sampe Bil!",jawabku. Nabil pun mengangguk. Matanya menatap ke sekeliling.
Entah kenapa aku melihat Nabil tersenyum saat kami akan masuk ke pintu gerbang makam.
"Nabil?", panggil ku. Nabil mendongak.
"Kenapa Pa?", tanyanya.
"Kenapa kamu tersenyum seperti itu?",tanyaku.
Nabil menggeleng. Lalu ia kembali tersenyum.
"Kak Nabila bilang, seneng ikut kita kesini! Jenguk Abah sama umi!", celetuknya. Mendadak aku merinding. Aku ingin mengajak Nabil ke psikiater belum sempat selama ini.
Mak pun mungkin sama herannya. Tak mau menanggapi ucapan Nabil, aku mengajak nya masuk ke area makam. FYI makam di kampung sini, jangan di samakan seperti di ibu kota. Yang kang baso aja bisa jualan di sekitarnya.
Pemakaman di sini jauh dari rumah penduduk dan masih banyak pohon serta tumbuhan perdu lainnya yang menambah kesan seram. Tapi ya...ngga usah di ambil pusing lah. Dimana-mana yang namanya makam yang begitu.
Aku menggendong Nabil menuju ke pusara bapak dan ibuku yang sebenarnya tak terlalu berdekatan. Ya, ibu kandung ku lebih dulu di panggil yang kuasa saat aku berusia sepuluh tahun. Dua tahun berikutnya, bapak menikah dengan Mak Titin.
"Assalamualaikum Bu!",sapaku di dekat batu nisan ibuku. Sungguh aku merasa jadi anak durhaka selama ini. Sudah berapa lama aku tak ziarah makam kedua orang tuaku.
Dulu, saat bersama Bia di kampung ini. Paling tidak tiap Jumat dia mengajakku ke mari. Ya, lagi-lagi Bia! Dia seperti penopang hidup ku yang selalu saja timpang. Dan saat ia meninggalkan ku, beginilah aku! Belum bisa berdiri di kaki ku sendiri karena terlalu terbiasa dan bergantung padanya pada setiap hal.
"Assalamualaikum Umi, ini Nabil!"
Ucapan Nabil menyadarkan ku dari lamunanku.
Anak lelaki ku berceloteh riang dan banyak hal random yabg yang ia ceritakan, tak jauh-jauh dari sosok yang dia panggil kakak Nabila.
Ocehan Nabil berhenti saat aku mengajaknya berdoa. Dia pun khusuk menengadahkan kedua tangannya, persis seperti orang dewasa. Berpindah ke makam bapak, Nabil pun melakukan hal yang sama.
Aku beruntung memiliki Nabil. Dia lah penyemangat hidupku saat ini.
Sekitar setengah lima, kami sudah sampai di rumah. Tapi ternyata sesampainya di rumah....
"Assalamualaikum!",kami bertiga memberikan salam.
"Walaikumsalam!",jawab Azmi dan....Wak Mus.
Aku dan Mak cukup terkejut melihat Wak Mus sudah ada di rumah ku.
"Wak...!",aku menghampiri beliau. Mencium punggung tangan beliau dengan takzim. Wak Mus pun tak menolaknya. Dia beralih ke Mak dengan mata tajam yang sepertinya menyimpan rasa benci pada Mak.
"Kang....!",Mak hendak menyalami, tapi di tepis Wak Mus. Mak pun mengurungkan niatnya. Dia paham, Wak Mus sangat membencinya.
"Papa, apa ini Abah Nabil juga?",tanya Nabil menarik-narik celanaku. Azmi memilih untuk ke dalam dari pada harus mendengarkan urusan pribadi bos nya lagi.
__ADS_1
Wak Mus memandangi Nabil yang menatapnya juga dengan wajah yang menggemaskan.
"Iya Bil, ini...Abah Mus, kakaknya Abah Igun!",kataku. Nabil tersenyum riang. Dia mengambil tangan Wak Mus untuk di salimi.
Jika dengan Mak, Wak Mus menolak, tapi tidak dengan Nabil.
"Assalamualaikum Abah. Namaku Nabil, anaknya papa Alby!",kata Nabil bersemangat memperkenalkan dirinya. Usia Nabil sudah lebih dari dua setengah tahun. Wajar jika dia pandai berbicara bukan?
"Walaikumsalam!",sahut Wak Mus. Lalu tangannya terulur mengusap puncak kepala Nabil. Lalu dia berjongkok di depan Nabil.
"Kamu mirip banget sama papa kamu waktu kecil!",kata Wak Mus. Matanya berkaca-kaca melihat Nabil di hadapannya. Nabil menghapus air di pelupuk netra tua itu.
"Kenapa Abah nangis? Apa Nabil nakal?",tanya bocah itu lugu. Wak Mus menggeleng.
"Kamu ngga nakal, papa kamu yang nakal!", ujar wak Mus sambil melirik ku. Aku tahu, dia pasti sangat marah perihal perceraian ku dengan Bia.
"Papa nakal? Minta maaf dong sama Abah!", pinta Nabil padaku. Aku pun mengangguk.
"Iya, papa minta maaf sama Abah. Sekarang, Nabil sama nenek ke dalam ya. Papa mau ngobrol dulu sama Abah!", perintah ku pada Nabil. Anak lelaki ku pun menuruti perintah ku.
"Masih ingat kampung kamu By?",tanya Wak Mus setelah Mak dan Nabil masuk. Rupanya, Wak Mus sudah dari tadi di sini. Terbukti minuman yang di buatkan untuk nya sudah berkurang.
"Hampura Wak!",kataku tertunduk. Aku mendengar ia menghela nafasnya
"Ya...mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Wak harap, kedepannya kamu ngga bikin masalah lagi. Cukup Bia yang menjadi korban kamu!",kata Wak Mus.
"Insyaallah Bia sudah bahagia sekarang Wak. Febri....menjaga Bia dengan baik!",kataku.
"Kalian masih berhubungan?", tanya Wak Mus. Aku mengangguk.
"Kami masih sering bertemu Wak. Dan.... Abi juga berteman baik dengan Febri. Alhamdulillah, hubungan kami sejauh ini membaik."
"Wak masih ngga habis pikir. Apa kurangnya Bia sampai kamu tega nyakitin dia!"
Wak...asal Wak tahu, aku sama sekali tidak ada niat atau keinginan menyakiti Bia!!! Tapi itu tidak perlu ku katakan pada Wak Mus. percuma!!
.
.
.
Amara
Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Mami papi ku sudah rapi dengan pakaian formal mereka. Ya, mereka sangat bahagia malam ini karena apa yang mereka impikan akan segera terwujud.
Mereka menginginkan putri bungsu nya untuk meninggalkan masa lajangnya sebentar lagi.
Mba Mayang sudah mengatakan bahwa Kak Nathan mengetahui soal Frans. Kak Nathan yang saat itu begitu mendukung ku dengan Frans sekarang berubah haluan. Tapi entah apa yang kak Nathan rencana kan bersama mba Mayang. Sejauh ini, mereka berdua membiarkan saja acara pertunangan ini.
Lalu bagaimana dengan kak Daniel? Dia sebenarnya ingin menggagalkan acara ini. Hanya saja, dia terpaksa harus melakukan pekerjaan di luar kota.
Aku sudah mematutkan diri di depan cermin. Sebuah kebaya berwarna Lilac melapisi tubuh yang tinggi semampai. Ini... pilihan mami, bukan aku!!!
Ponsel ku bergetar dan muncul lah nama Dimas di sana.
[Halo?]
__ADS_1
[Heum! Rencana Lo apa Dim? Kenapa gue harus tetap tunangan sama Frans?]
[Sabar ngapa Bu! Gue mau bilangin, anak buah Frans sudah di amankan. Jadi rencana selanjutnya, Lo tetap ikutin maunya. Jangan bikin dia curiga]
[Udah di amankan? Yang di lab ilegal itu?]
[Iya, Febri cs udah beresin!]
[Terus? Kenapa gue harus lanjutin tunangan yang sama sekali gue ga pengen ini Dim!]
[Ssst...jangan ngomel dulu! Ikuti aja rencana gue. Lo tinggal turutin aja maunya Frans]
[Maunya yang gimana ini? Gue takut sama dia *ego! Lo ga khawatir dia ngapa-ngapain gue?]
[Hahaha... ngapa-ngapain yang gimana nih?]
[Isssh....gue harap Anika mikir ulang buat jadiin Lo lakinya. Dan Jend Galang, bakal nyesel punya mantu kaya Lo?!]
[Weitssss...sadis amat sih Bu Letnan! Gini lho, kalo Lo mendadak berani sama Frans. Yang ada dia curiga. Biar lah seolah-olah Lo mau aja tunangan sama dia. Besok atau lusa, Lo bakal denger berita baiknya. Bismillah saja, semoga acara malam ini di lancarkan. Hahahah]
[Dimas.....!!!!]
Tut...Tut ..
Panggilan dari bocah rese itu berakhir. Dan...aku terpaksa mengikuti skenario Dimas dkk. Ya Allah, semoga apa yang mereka rencanakan berhasil.
Tok...tok..
"Mara, Frans dan keluarganya sudah datang. Ayo keluar Nak!",kata mami dari balik pintu.
Aku menarik nafas dalam-dalam. Lalu ku pejamkan mata sebentar.
"Iya Mi!",jawabku. Aku pun membuka pintu lalu bergabung dengan mami. Di lantai bawah, Papi yang duduk di kursi roda tampak sangat bahagia melihat ku memakai kebaya modern ini.
Frans pun tak kalah terpesona melihat ku...hyuuuuu....
"Kamu cantik sekali baby!",puji Frans di depan keluarga ku dan juga keluarga nya. Ku pikir Frans akan datang hanya dengan kedua orangtuanya. Tapi ternyata....
Ada Sakti dan juga istrinya. Untuk apa mereka di undang?
"Mas Sakti? Sabrina?",tanyaku. Sepasang suami istri itu tersenyum padaku.
"Aku yang meminta mereka ikut hadir baby. Biar mereka jadi pihak keluarga ku di sini!",kata Frans.
Apa ini? Bagaimana bisa? Sakti ini bagian dari rencana Febri dkk bukan sih????
*******
Jadi tunangan ngga nih???? 😁😁😁
Sabar ya....
Sambil nunggu si Aa apdet, selingan baca yang ini dulu boleh lah ya 🤗
Kalo di Albia, Bia milih lepas dari Alby. Kalo di situ, Diandra memilih bertahan sama Aziz.
__ADS_1
Jangan lupa mampir ya....sambil nunggu Almara hehehhe 😁😁😁🤭🤭🤭 Makasih 🙏🙏🙏🙏🙏✌️✌️✌️