
Sidang berlangsung alot karena Frans tidak jelas dalam memberikan keterangan. Tidak terkendala bahasa, melainkan Frans seperti seseorang yang depresi berat. Hingga akhirnya hakim memutuskan untuk menunda sidang minggu depan lagi.
Frans seperti tak menyadari jika ada Amara di sana. Lelaki itu menatap kosong ke arah depan. Petugas yang ada di kanan kirinya saja membiarkan dia berjalan pelan.
Alby datang sedikit terlambat ke persidangan. Memang, dia tidak terlibat di sini. Tapi awal nya, ia memang ingin mendampingi Amara. Sayangnya di perjalanan menuju kemari, jalanan cukup padat merayap.
"Kak Nathan, kak Daniel!",sapa Alby pada keduanya. Kedua kakak Amara hanya menjawab sapaan Alby dengan mengangguk tipis, tanpa senyuman.
Mereka berempat menuju ke mobil. Mata Amara mengarah ke Frans yang digiring masuk ke dalam mobil khusus tahanan.
Entah kenapa ia tiba-tiba merasa kasian pada lelaki itu. Bukan cinta? Bukan! Hanya kasian kenapa harus berakhir di dalam jeruji besi.
Sosok Frans yang ramah dan baik hati serta penyayang berubah drastis. Mungkin benar, rasa sakit hati di khianati oleh orang terdekat nya membuat nya berpikir pendek. Sedang hubungannya dengan Frans harus berakhir karena Amara, tidak terima jika dirinya di posisi sebagai pelakor. Tidak elit sekali bukan???
Sedang mencoba serius menjalani hubungan, ngga tahu nya suami orang???
"Neng, kenapa?",tanya Alby. Dia sedang membiasakan diri memanggil kekasih nya seperti itu. Dan jika bertemu Bia nanti, dia akan memanggil nama saja. Insya Allah, ngga janji?!
"Heum?",Amara seperti tersadar dari lamunannya. Kedua kakaknya pun menyadari hal itu.
"Ngga apa-apa By, eh...A!", sahut Amara.
"Udah ada Alby, kakak langsung balik ke kantor ya Ra! Antar kakak ke kantor Dan!",pinta Nathan pada Daniel.
"Iya kak. Aku juga langsung ke kantor kok! By, nitip Amara kalo gitu!",pesan Daniel pada Alby.
"Iya kak Daniel, kak Nathan!",jawab Alby. Setelah kedua kakak Amara masuk ke mobil mereka, Alby mengajak Amara masuk ke mobilnya.
"Baru jam tiga, mau langsung pulang ke apartemen atau ke mana dulu?",tanya Alby. Tapi kekasihnya seperti masih belum sepenuhnya tersadar dari lamunannya. Bahkan Amara tak merespon saat Alby memasang seat belt untuknya. Alby mendesah pelan melihat kekasihnya seperti merasakan beban yang berat.
"Sayang?", Alby mengusap puncak kepala Amara. Seketika itu Amara pun menoleh karena tersadar dari lamunannya tentang masa lalu yang tiba-tiba melintas.
"Eh, maaf A!",kata Amara. Alby belum menjalankan mobilnya.
"Ada apa? Cerita sama Aa?", Alby mengusap pipi Amara. Amara menggeleng dan tersenyum tipis lalu meraih tangan Alby dan di kecup punggung tangan nya.
"Ngga ada apa-apa A. Beneran!",kata Amara mencoba tersenyum.
Alby tak bisa memaksa Amara untuk menceritakan apa yang sedang ia alami. Biarlah, nanti jika sudah saatnya ia ingin bercerita, Alby tinggal menjadi pendengar yang baik.
"Oke deh. Terus, mau ke mana sekarang?",tanya Alby lagi.
"Pulang ke apartemen aja A. Pengen istirahat!",jawab Amara. Alby pun mengangguk lalu menjalankan mobilnya menuju ke apartemen Amara. Bodyguard nya mengikuti mereka di belakang mobil.
Satu jam berlalu tanpa obrolan berarti di antara keduanya. Alby tak begitu paham kenapa kekasihnya bersikap demikian. Bahkan setelah sampai ke dalam unitnya pun, Amara masih diam.
Usai memasuki ruang tamu, Amara melepaskan pasmina nya sambil berjalan ke arah balkon. Entah apa yang akan dia lakukan.
Alby mengambilkan minuman mineral di dalam kulkas untuk kekasihnya. Dia menyusul Amara ke balkon kamarnya. Amara menatap langit yang sudah mulai berwarna biru menuju ke orens.
"Minum?", Alby menyerahkan botol itu pada Amara. Amara pun tersenyum dan menerima uluran tangan Alby.
Setelah merasa kerongkongannya cukup basah, Amara menghentikan meneguk minumannya. Botol itu pun di raih kembali oleh Alby. Dia yang menghabiskan sisa air mineral tersebut.
Alby meletakkan botol tersebut di bawah kakinya, sementara.
"Boleh peluk?",tanya Amara pada Alby. Alby pun menengok ke arah kekasihnya. Alby sudah melepaskan jas nya, tinggallah pakaian berturtle neck tersebut.
Tanpa meminta persetujuan dari kekasihnya, Amara menenggelamkan wajahnya ke dada Alby.
__ADS_1
Gadis itu memejamkan matanya menikmati pelukan Alby yang akhir-akhir ini terasa begitu nyaman. Tangan Alby pun reflek mengusap kepala Amara, sesekali mengecup puncak kepalanya.
Alby membiarkan Amara nyaman dalam dekapannya. Lelaki tampan itu sebenarnya ingin sekali bertanya tentang apa yang sedang di alami kekasihnya itu. Tapi dia menahan diri untuk tidak kepo, membiarkan Amara menenangkan diri sampai dia mau bercerita padanya.
Beberapa menit berlalu, pelukan Amara mengendur tanpa melepaskan tubuh mereka. Semilir angin menggerakkan sebagian rambut Mara. Alby menyingkirkan beberapa helai rambut yang menempel di wajah Amara.
"Udah sore, solat ashar dulu ya?",pinta Alby. Amara menolak.
"Aku libur A!",jawab Amara masih dengan memegang pinggang Alby.
Oh, keur pere ceunah! Pantes atuh ti peuting meuni beda, hoyong keneh cium-cium we! Batin Alby. Ga usah di translate lah 🤣
"Oh, gitu. Ya udah, Aa solat dulu bentar ya. Nanti aa temenin lagi!"
Amara pun melepaskan tangannya dari pinggang sang kekasih hati.
"Iya A!",jawab Amara. Alby pun berlalu meninggalkan Amara menuju ke kamar mandi untuk berwudhu.
Hampir sepuluh menit berlalu, kegiatan ibadah Alby pun usai. Ia kembali menghampiri Amara yang masih berdiri menatap jalanan ibu kota.
Alby berinisiatif memeluk Amara dari belakang. Gadis itu sedikit tersentak karena tiba-tiba Alby memeluk nya dari belakang. Tapi setelah itu, justru Amara merasa begitu nyaman.
"Apa Frans yang membuat kamu jadi pendiam begini Neng?",tanya Alby sambil meletakkan dagunya di atas bahu Amara. Amara menoleh sekilas jadi pipi mereka saling bertemu.
"Heum, entah lah A!",jawab Amara ambigu. Alby melepaskan pelukannya dari belakang, lalu memutar tubuh Amara hingga menghadap pada nya.
"Kamu tidak tega melihat dia seperti tadi?",tebak Alby menatap mata lentik Amara. Bola mata Amara bergerak-gerak dan sesekali berkedip. Kekasihnya tahu apa yang sedang ia pikirkan.
"Apa aku egois?",tanya Amara. Alby tak tahu makna egois dari pertanyaan Amara.
"Egois karena kamu memilih bersama ku, atau egois karena kamu membiarkan dia berurusan dengan pihak berwajib?",tanya Alby menatap Amara yang seolah-olah bimbang.
Gadis itu tak sanggup menatap mata Alby, dia memalingkan wajahnya tapi Alby meraih dagu gadis itu hingga keduanya saling menatap kembali.
"Ngga, kamu ngga salah A! Aku yang membuat semua jadi rumit. Andai dulu aku tak pernah berhubungan dengan nya, pasti semua tidak akan seperti ini!",sesal Amara.
"Kenapa harus menyesali yang sudah terjadi? Kamu mengenal Frans sebagai laki-laki yang baik, bahkan dia yang membantu mu melupakan Febri lebih dulu di bandingkan aku!", Alby mengusap pelipis Amara.
"Bukan tentang itu A!", kata Amara.
"Lalu apa?"
Amara tak bisa menjawabnya. Alby mendesah pelan. Lalu ia kembali menatap mata lentik itu.
"Kamu tidak tega melihat Frans dengan tampilan seperti tadi? Dia jauh berbeda dari yang selama ini kamu lihat?",tanya Alby. Amara mengangguk. Akhirnya Alby tahu alasan kenapa dari tadi kekasihnya murung.
"Benar tidak tega atau karena masih ada sisa rasa di sini!",Alby menunjuk dada Amara dengan telunjuknya. Eh??? Meuni teu sopan telunjuknya si Aa teh!!!
Amara menggeleng cepat. Dia tak mau Alby salah sangka. Amara benar-benar hanya iba pada mantan kekasihnya itu. Bukan karena ia masih memiliki rasa pada Frans.
"Ngga sayang, bukan begitu!",kata Amara. Alby menghela nafas.
"Udah mau jam lima, sebaiknya aku pulang. Kamu juga istirahat ya!",kata Alby. Ia mencoba melepaskan tangan Amara dari pinggangnya.
Alby tak ingin gegabah untuk meluapkan emosinya. Dia belajar dari yang sudah-sudah, emosi tak menyelesaikan masalah justru menambah masalah. Jadi, dia membiarkan Amara tenang lebih dulu.
Alby sadar, jika dia siap menghadapi masa depan maka dia juga harus siap berdamai dengan masa lalu. Karena apa? Karena semua punya masa lalu masing-masing yang tak bisa di ubah. Tak ingin sombong, Alby juga tak jauh lebih baik dari Frans.
"Kamu marah ya sayang?",tanya Amara dengan mata berkaca-kaca. Alby tak mengiyakan juga tak menggeleng. Tangan Amara masih betah memeluk pinggangnya.
__ADS_1
''Ngga! Udah sore, aku pulang dulu."
"Bukan karena aku sedang begini? Temani aku A, aku lagi butuh kamu banget!",kata Amara tak sanggup lagi menahan bulir hangat dari pelupuk matanya.
Tiba-tiba Amara menenggelamkan wajahnya lagi ke dada Alby. Akhirnya mau tak mau, Alby pun membalas pelukannya.
.
.
.
Jam berlalu cepat, sudah jam delapan malam. Alby masih menemani Amara di apartemennya. Sebenarnya ia ingin pulang, pasti Nabil menunggu nya. Tapi meninggalkan Amara seperti sekarang, juga bukan waktu yang tepat.
Mood Amara sudah mulai membaik, gak seperti tadi. Mungkin bawaan datang bulan juga, makanya mood Amara naik turun.
Keduanya selesai makan malam pesan lewat aplikasi tentunya. Amara masih nyaman bersama di bahu Alby.
"Lusa ke acara nikahan Dimas ya A?"
"Iya ,kita ke sana sama-sama."
"Heum!",Amara menoleh ke arah kekasihnya.
"Kenapa kamu pakai baju begini? Cuaca sedang panas sejak pagi.
Alby menghela nafasnya pelan.
"Digigit serangga kata Nabil mah!",jawab Alby. Amara mengerutkan keningnya.
"Serangga apa?",tanya Amara lalu menarik sedikit kerah Alby. Mulutnya ternganga melihat apa yang Alby tutupi.
"Apa ini karena aku A?",tanya Amara. Alby mengedikan bahunya. Amara mencebikkan bibirnya lalu bangun dari bahu Alby.
"Bukan, kata Nabil di gigit serangga. Pinter lagi serangganya pilih-pilih tempat buat di gigit!", sindir Alby. Amara semakin memanyunkan bibirnya. Justru di mata Alby, wajah Amara semakin lucu. Lelaki tampan itu tak tahan untuk tidak terkekeh.
"Dan ini serangga cantik nya!",kata Alby mencubit hidung Amara. Amara mendengus masih sambil mencebikkan bibirnya.
"Ngga usah manyun begitu, nanti di gigit baru tahu rasa!",ancam Alby. Tapi justru senyuman yang terbit di wajah Amara.
"Mau...?!!!", rengek Amara. Alby memundurkan kepalanya.
"Ngga! Libur dulu! Yang baca udah pada puasa. Nanti malam lagi!", Alby menyentil kening Amara. Amara justru tertawa lebar. Alby cukup puas melihat kekasihnya bisa tertawa lagi.
"Aku udah boleh pulang kan?",tanya Alby. Amara mengangguk.
"Iya, karena kamu ngga cuma punya aku. Tapi punya Nabil juga!",jawab Amara sambil tersenyum.
Alby mengecup singkat bibir kekasihnya itu. Lalu mengecup kening dan kedua mata Amara.
"Ya sudah aku pulang. Kamu istirahat ya!?",Alby mengacak rambut Amara. Amara mengangguk setuju.
"Iya, hati-hati. Sampai rumah kabarin ya A!"
"Heum!", sahut Alby. Dia pun bangkit dari sofa, Amara mengantarkan Alby sampai di depan pintu.
"Aku pulang. Kamu istirahat. Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam, iya A!",jawab amara sambil tersenyum. Melihat punggung kekasihnya menjauh, Amara kembali menutup pintu.
__ADS_1
Gadis itu kembali duduk di sofa.
Apa aku temui Frans saja ya? Monolog Amara.