Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 58


__ADS_3

Amara


Aku dan Frans mengikuti kak Daniel yang sudah lebih dulu masuk keruang tamu. Di dalam sana, tampak papi sedang membacakan majalah bisnisnya.


Senyum papi merekah melihat kehadiran Frans yang terlihat ramah.


"Selamat malam tuan Rahadi!",sapa Frans dengan bahasa Indonesia nya yang masih sedikit kaku.


"Selamat malam Frans!", papi berdiri lalu menyalami dokter tampan itu.


"Silahkan duduk Frans!", pinta papi. Kak Daniel juga sudah lebih dulu duduk disofanya. Aku memilih duduk di samping kak Daniel.


"Kalian dari mana, kok bisa pulang bersama?",tanya papi. Entah itu padaku, atau ke Frans. Aku reflek menggandeng lengan kak Daniel. Ngga tahu kenapa harus seperti itu!


"Kami bertemu di depan tadi tuan Rahadi!",jawab Frans tak lupa dengan senyumnya.


"Oh begitu!",sahut Papi. Papi beralih padaku. Tapi sepertinya papi melupakan sejenak jika beliau sedang marah padaku. Mungkin karena ada Frans.


"Kamu mandi dulu sana Ra!",titah kak Daniel. Dia tahu sekali aku tak nyaman di sini.


"Ada tamu masa di tinggal! Buatin minum dulu Ra!",kata Papi.


"Mara capek Pi, baru pulang. Biar dia bersihin badan dulu. Kan ga enak ada tamu! Ya kan Ra?",tanya kak Daniel. Aku langsung mengangguk cepat.


Papi tampak tak suka dengan ucapan kak Daniel.


"Biar bibik yang buatin minum. Daniel yang bilang sama bibik ntar!", kata kak Daniel sambil menggandeng ku. Aku pun menuruti saja.


Aku mendengar papi ngobrol dengan Frans setelah kami berdua beranjak dari sofa ruang tamu.


"Aku mandi ya kak!"


''Iya, jangan lama-lama. Habis ini kita bicara di depan!",sahut kak Daniel lalu menuju ke dapur untuk meminta bibik membuat kan minuman buat Frans.


Aku pun naik ke lantai atas di mana kamar ku berada. Setelah nya, aku benar-benar membersihkan diri.


Sekitar setengah jam, pintu kamar ku di ketuk.Aku yang masih memakai mukena pun membuka pintu.


"Udah belum?",tanya kak Daniel setelah pintu terbuka. Aku menghela nafas pelan.


"Kakak tahu kan aku tidak suka situasi ini?"

__ADS_1


"Iya, makanya kakak temenin kamu! Buru!",ajak kak Daniel.


Aku memakai jilbab instan ku lalu memakainya sweater untuk melapisi piyamaku yang berlengan pendek. Saat akan menuju ke tangga, kak Daniel menarik tangan ku.


"Apa kak?"


"Kakak bingung sama kamu, dek!", kata Daniel. Kalo dia sudah memanggil dengan sebutan 'dek' otomatis bahasannya pasti serius. Dari pengalaman yang sudah-sudah seperti itu. Begitu pula dengan kak Nathan.


"Maksudnya apa kak?"


"Kamu pulang sama Febri? Dari mana? Kalian ngga ada hubungan apa-apa kan? Alby dan Frans saja udah bikin kakak pusing mikirin kamu, jangan nambah lagi daftar cowok lain!"


"Astaghfirullah! Aku emang di antar sama Febri. Karena emang aku dari rumah nya kak!"


"Ya Allah, kamu nyamperin Febri ke rumah nya?", tanya Kak Daniel dengan suara meninggi.


"Ssst...kak, jangan salah paham dulu. Aku emang ke sana, ngobrol aja sama istri nya Febri. Main juga sama anak mereka. Dan yang nyuruh nganterin aku juga istri Febri kak!"


Kak Daniel ternganga tak percaya.


"Serius kak, ngapain aku bohong. Kalo emang kami ada apa-apa, kenapa ngga dari dulu coba! Astaghfirullah, aku ngga kaya yang kak Daniel pikir!",kataku sambil menuruni tangga. Beberapa detik kemudian, kak Daniel membuntuti ku.


Frans dan papi mengobrol begitu akrab. Sepertinya Frans benar-benar bisa mengambil hati Papi. Begitu pula dengan Mami yang juga antusias mendengarkan obrolan mereka.


"Udah mau jam delapan nih, makan malam yuk! Frans juga makan di sini ya?",ajak mami. Aku memutar bola mataku malas.


"Iya ,Mi. Terimakasih!",kata Frans. Aku langsung menoleh cepat pada Frans yang tersenyum penuh arti padaku.


Apa dia ikut memanggil mami????


"Ayo Ra! Daniel! Kita makan malam dulu?!",ajak Papi.


"Aku panggil Dhea dulu,Pi!", ujar kak Daniel beranjak dari sofa menuju ke kamar kak Daniel.


Papi dan mami berjalan lebih dulu ke ruang tamu. Aku dan Frans mengikuti dari belakang. Saat akan mengambil posisi duduk, ternyata Frans duduk di samping ku. Niat sekali?? Coba kalo kak Daniel tadi tak ke kamar, pasti aku duduk bersama nya atau minimal dengan Dhea.


"Lho, Dhea nya mana kak?",tanya mami pada kak Daniel.


"Bibik udah nyuapin Dhea tadi sore. Malah sekarang sudah bobo!", jawab kak Daniel. Dia yang biasa duduk di samping ku pun memilih duduk di samping mami berhadapan dengan Frans.


Kami memulai makan malam ini dengan tenang. Barulah setelah makan selesai, kami kembali mengobrol.

__ADS_1


"Jadi, kapan Frans mulai praktek di rumah sakit Xxxxx?",tanya papi memulai obrolan setelah makan.


"Lusa Pi. Tapi Frans tidak praktek tiap hari Pi. Jadi selama tidak praktek, Frans bekerja di salah satu perusahaan juga."


"Oh ya? Perusahaan apa Frans!?", tanya papi antusias. Bagaimana tidak? Bukan kah sebuah kebanggan jika memiliki menantu seperti Frans? Selain dokter, dia juga pekerja keras? Di tambah lagi wajahnya yang rupawan. Apa minusnya?


"PT Sentra Timur. Sebenarnya Frans awalnya hanya investasi di perusahaan itu, tapi ternyata ada lowongan pekerjaan yang sesuai dengan bidang dan kemampuan saya. Jadi ,apa salah nya kan ikut berpartisipasi dalam pekerjaan. Nantinya keuntungan juga saya dapatkan dari sana?!", Frans menjelaskan.


"Luar biasa sekali kamu Frans!", kata papi bangga. Dan entah kenapa aku justru malah merasa....


"Lalu soal kewarganegaraan kamu?", tanya papi.


Frans menoleh padaku sambil tersenyum manis.


"Frans akan pindah kewarganegaraan sebelum kami menikah! Bukan begitu Amara?", tanya Frans padaku. Belum sempat aku menjawab nya, papi sudah lebih dulu menyela.


"Oh, begitu. Berati kamu masih harus perpanjang visa ya?",tanya papi.


"Iya ,Pi!", jawab Frans.


Usai makan malam, Frans minta ijin pada papi dan mami ku untuk mengajak ku bicara berdua di gazebo samping. Dia tak ada niat pulang kali ya ? Padahal sudah jam sembilan malam.


"Ra!"


Aku masih menunduk, melipat kedua tanganku di dada.


"Apa kurang bukti keseriusan ku pada mu?",tanya Frans.


Emang keliatan sih dia serius? Tapi perasaan ku sendiri tak jelas begini!


"Alby bilang padaku, kalo kalian gak ada hubungan apapun. So...kenapa kita tidak coba kembali memperbaiki hubungan kita?", tanya Frans yang kini berada di hadapan ku.


Pria jangkung bertinggi lebih dari seratus delapan puluh senti itu berdiri di hadapan ku yang duduk di gazebo.


Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil, lalu berjongkok!


"Menikah lah dengan ku Mara. Aku sangat mencintai mu. Apa pun akan ku lakukan untuk kita bersama lagi."


Aku masih bergeming, menatap kotak kecil berisi cincin berlian yang mungil.


Benar kah Frans seserius ini??? Lalu apa kabar hatiku? Bagaimana perasaan ku sebenarnya pada Alby???

__ADS_1


"Aku tidak akan meminta mu menjawab sekarang Amara! Aku akan menunggu jawabanmu!",kaya Frans mengusap kepala ku dengan sedikit tersenyum.


__ADS_2