Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 110


__ADS_3

Alby


Minggu siang kami kembali ke Jakarta. Nabil sebenarnya masih betah tinggal dikampung ku. Tapi kami memutuskan untuk kembali siang hari karena harus mengantarkan Putri ke pondok pesantren di Bogor.


Menjelang magrib, kami sampai ke ponpes Putri. Usai berpamitan pada kyai pemimpin pondok, kami pun langsung melaju ke ibukota.


Sejak pagi aku tak berkabar dengan Amara. Apa kabar nya hari ini?


Aku mengirimkan chat padanya. Hanya ceklis satu. Bertanya pada kak Daniel rasanya tak enak saja.


Hingga akhirnya hampir jam sembilan malam mobil kami benar-benar mendarat di halaman rumah.


"Gue langsung balik ya!",pamit Azmi.


"Huum. Makasih!", sahutku. Setelah Azmi pulang, aku menggendong Nabil dan membawa nya ke kamar.


"Mak langsung istirahat ya?!"


"Iya Jang!",jawab Mak. Karena merasa haus, aku pun mengambil minum ke dapur. Di dapur aku bertemu dengan mang Sapto.


"Oh ya jang, ada titipan!",kata mang Sapto.


"Titipan apa? Dari siapa?",tanyaku.


"Siapa ya namanya? Bule gitu Jang. Ga tahu isinya apa!", jawab mang Sapto.


Aku pun menerima bungkusan itu. Kalo mang Sapto bilangnya bule, apa jangan-jangan si Frans ya? Gila! Dia bisa tahu aku tinggal di mana!


Aku berjalan ke ruang tengah. Duduk sambil menjulurkan kaki ku yang pegal. Perlahan aku membuka bungkusan tipis itu.


Ternyata bungkusan itu berisi foto-foto Amara dan Frans yang saling bertukar cincin. Aku menggeleng tak percaya! Bagaimana bisa Amara setuju untuk bertunangan dengan Frans? Bukan kah dia bilang kalo dia mau menunggu ku?


Ponsel Amara sama sekali tak bisa di hubungi sejak pagi, apa karena ini????


Aku teringat nomor art yang tersimpan di story panggilan ku. Ku lihat sudah hampir jam sepuluh malam.

__ADS_1


Aku terpaksa menghubungi art Amara.


[Hallo , assalamualaikum]


[Walaikumsalam. Eh, temennya non Mara ya?]


[Iya bik. Amara ada? Saya ngga bisa hubungi dia]


[Oh, non Amara tadi pamit mau kembali ke apartemen. Tadi pagi ponselnya jatuh mas. Kayanya rusak parah deh]


[Kok bisa?]


[Eum, ngga tahu mas. Mungkin berantem sama tunangannya. Kan tunangannya mau balik ke negara asalnya, jadi ya mungkin saja mereka bertengkar]


Aku mengusap kasar wajahku.


[Makasih infonya ya bik. Assalamualaikum]


[Walaikumsalam]


Bibik meletakkan ponsel nya di meja.


"Ya gimana atuh pak. Ibu ngga sengaja dengar mereka emang berantem kok!"


"Lain kali ngga usah campurin urusan majikan kita ya bu. Kecuali memang di butuhkan",kata suaminya menasehati bibik.


"Iya pak"


Kembali ke Alby ...


Aku mengambil kunci mobilku. Lalu berjalan ke ruang belakang.


"Teh, nitip Nabil ya. Aku ada urusan mendadak!",kataku.


"Kemana Jang, udah malam lho!",kata teh Mila.

__ADS_1


"Pokoknya penting teh. Assalamualaikum",pamitku.


"Walaikumsalam!",jawab teh Mila. Aku pun melesat menuju ke apartemen Amara. Apa yang sudah terjadi sebenarnya? Kenapa Amara tak mengatakan hal ini padaku???


****


Amara


Siang hari....


"Kamu mau apa lagi?", tanyaku pada Frans yang sudah berada di rumah ku siang ini.


"Aku ingin memanfaatkan waktu berdua dengan mu sebelum aku berangkat ke London baby!",katanya.


Saat ini kami berada di tepi kolam. Mami dan papi ku sedang di ajak jalan-jalan ke taman oleh mba Mayang dan kak Nathan. Jadi, hanya ada aku, Frans dan bibik di rumah ini.


Aku berdiri di tepi kolam. Memunggungi pria bule yang sempat membuat ku terpesona. Frans mendekati ku, memeluk ku dari belakang. Aku sedikit tersentak saat ia melakukannya.


"Aku pasti akan sangat merindukan mu baby!",bisiknya tepat di cerukan leher ku. Beruntung aku sudah memakai bergo minimal menghalangi Frans untuk mengecup leher ku.


Aku berusaha melepaskan pelukannya itu. Tapi justru ia semakin erat memelukku.


"Biarlah seperti ini dulu baby! Aku pasti akan merindukan tubuhmu ini! Sebenarnya aku sudah tidak sabar sayang, tapi ada hal lain yang harus aku kerjakan! Itu juga... karena ulah teman-teman kamu!", katanya sambil menggigit kecil daun telinga ku yang tertutup itu.


Mataku membulat tak percaya. Apa benar Frans mengetahui semuanya? Dia mengecup pipiku sambil tersenyum.


"Kamu terkejut?",tanyanya tanpa melepaskan pelukannya dari ku.


"Maksudnya apa?",tanyaku. Frans terkekeh pelan. Lalu memutar badanku untuk berhadapan dengannya.


"Apa yang sudah teman-teman instansi mu lakukan pada lab ku di pinggiran kota? Oke, mungkin bukan army tapi itu police. It's not you! Tapi...siapa yang memberi informasi itu pada polisi? Kamu baby?",dia mengusap pipiku dengan telunjuknya. Aku memejamkan mataku.


Apa itu artinya...dia tak tahu jika semua itu ada hubungannya dengan Febri dkk?


******

__ADS_1


To be continue


Makasih ✌️✌️🙏🤭


__ADS_2