
Amara
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?'', tanyaku mencoba melepaskan tangan dari genggamannya.
"Bukan hal sulit buat ku baby!", bisiknya pelan di dekat telinga ku. Aku melebarkan mataku menatap sosok tampan yang pernah ku kagumi dulu.
"Jangan tanya bagaimana aku tahu? Kamu minta Sakti untuk menyelidikinya bukan? Hem...!",dia tersenyum tipis tapi tampak menyeramkan.
Benar tebakan ku, dia sudah tahu! Tapi bagaimana bisa?
"Heran ya? Jangan heran dong baby! Kekasih mu ini bukan orang bodoh!", katanya mengusap pipiku. Kali ini aku ngelag, membiarkannya mengusap pipi ku sesuka hatinya.
"Jangan sakiti Sakti atau siapapun!",kataku. Dia meraih pinggang ku agar menempel pada nya.
"Tentu saja baby, tapi kamu tahu syaratnya apa bukan? Kembali bersama ku dan menikahlah dengan ku. Aku pastikan semua akan baik-baik saja. Entah itu keluarga mu atau... keluarga Alby serta dokter Sakti sekali pun."
Aku menengadahkan kepala ku agar bisa sejajar dengan wajah bule Frans.
"Apa jaminannya? Bahkan aku sudah tak mengenal mu lagi Frans!"
"Kamu bisa pegang janji ku sayang! Percaya lah! Setelah kita menikah, aku pasti kan papi mu akan kembali seperti awal. Bagaimana?", tawarnya.
Dadaku terasa sesak mendengarnya.
"Kamu pikir, pernikahan itu sebuah kesepakatan?",tanyaku dengan berusaha menurunkan tangan nya dari pinggang ku. Demen banget nih bule narik pinggang!
"Right! Dalam agama mu pun, pernikahan memang kesepakatan bukan? Antara dua manusia serta Tuhan-nya?"
"Tapi aku tidak mencintai mu Frans! Kita berbeda keyakinan sekarang!",kataku menolaknya dengan memberikan alasan yang masuk akal.
"Keyakinan? Aku bisa mengikuti keyakinan mu!", jawab nya dengan ringan tanpa beban.
"Semudah itu?",tanyaku.
Dia mengedikan bahunya.
"Aku bukan orang bodoh, aku bisa mempelajari semua nya dalam waktu singkat!", jawab nya santai. Aku berhasil melepaskan tangan nya dari pinggang ku.
"Tapi aku sudah tak mencintai mu Frans! Dan asal kamu tahu, aku sudah pernah melakukannya dengan Alby! Jadi jangan mengharapkan ku lagi Frans!"
__ADS_1
Frans tertawa lepas. Seolah mentertawakan pengakuan ku barusan. Tapi tiba-tiba tawa nya terhenti lalu menarik daguku. Pandangan nya berubah, jujur aku mendadak takut.
"Kamu pikir aku percaya? Heum?", tanyanya tanpa melepaskan tangan nya di dagu ku.
"Kamu lupa seperti apa saat kamu meyakinkan orang tua mu untuk tak berpikir sepicik itu tentang mu?",dia menyeringai lagi.
Aku menelan salivaku.
"Sekalipun kamu pernah melakukan apapun dengan Alby, aku tak pernah mempermasalahkannya. Asal setelah menikah, aku lah satu-satunya yang bisa menyentuh mu!", katanya melepaskan daguku sedikit kasar.
Bule ini sungguh membuat ku takut. Bukan takut akan keselamatan ku sendiri, melainkan orang-orang yang ada di sekitar ku.
"Kita pulang baby? Mau ke rumah sakit atau ke apartemen....ku?", tawar nya memberikan dua pilihan.
Apa katanya? Apartemen nya? Gila!!!
"Aku mau bertemu papi!", jawabku tanpa menatap matanya. Tapi dia kembali menarik daguku.
Bahkan sekarang kami seolah tak berjarak sama sekali.
"Apa kamu takut pada ku baby?",tanya nya lirih tapi terdengar seram bagiku.
"Ya, kamu memang menakutkan sekarang Frans!", jawabku.
"Aku bisa saja menyentuh mu sekarang sayang! Melakukan apa yang pernah kita lakukan dulu di negara itu. Bahkan lebih! Tapi.... aku tak akan melakukannya sekarang! Sebelum kamu menyerahkan diri mu sendiri padaku dengan sukarela!", katanya lagi penuh dengan keyakinan.
Perlahan dia menjauhkan tubuhnya dariku. Ada sedikit kelegaan yang ku rasakan. Tapi...aku tidak bisa percaya begitu saja padanya. Dia saja bisa tega pada papi, bagaimana bisa aku bisa percaya ucapannya???
"Ke rumah sakit?", tawarnya. Aku pun mengangguk pelan.
Aku meraih ponselku yang ada di meja. Tanpa ku ketahui ternyata ponselku dalam keadaan mati.
Selain ponsel aku juga meraih tas ku. Buru-buru aku melangkahkan kaki ku untuk keluar dari ruangan ku. Tapi belum sampai pintu, Frans kembali bersikap menyebalkan. Dia kembali mengungkung ku di balik pintu.
Aku yakin dia akan menciumku lagi! Sebelum dia melakukannya, aku mencoba menghindar agar bibir ku tak bersentuhan dengan nya. Tapi ternyata aku salah! Targetnya memang bukan bibir ku, melainkan daguku bagian dalam yang sedikit tertutup hijab.
"Ahhh...!",aku mendes*** pelan. Bukan karena terbawa nafsyyu melainkan gigitan Frans yang cukup kencang di dagu bagian dalam dan rahang ku. Aku yakin, akan ada bekas di sana.
Entah apa tujuannya! Sekuat tenaga aku mendorongnya. Dan akhirnya, dia melepaskan gigitannya.
__ADS_1
"Kamu apa-apaan sih Frans!", nafasku memburu menahan emosi ku. Tapi dia justru tersenyum.
"Hanya ingin menunjukkan pada 'mereka' baby! Bahwa kamu milikku! Okay??", Frans menepuk-nepuk puncak kepala ku.
Kenapa aku begitu bodoh!!! Dengan cepat aku keluar dari ruangan ku. Frans mengikuti ku dari belakang. Jangan tanya seperti apa sepi nya kantor ku yang sudah hampir jam setengah sepuluh malam ini.
Bisa saja Frans memper**** ku disini karena memang tak ada siapapun. Hanya sekuriti yang akan berpatroli tapi tidak jam segini. Mereka masih ada di pos lantai bawah.
Aku dan Frans memasuki lift. Gayanya masih menyebalkan, seolah ingin melindungi ku!
"Kamu sudah makan sayang?",tanyanya penuh perhatian.
"Aku tak lapar apalagi sejak melihat mu di sini!", jawab ku ketus.
Dia kembali menarik pinggang ku tapi kali ini aku melawannya. Aku menampar pipi nya yang mulus bak pualam itu. Seperti opa-opa Korea mungkin. Karena wajah Frans campuran antara muka Asia dan Eropa.
Frans mengusap pipi nya. Bibirnya menyunggingkan senyum, bukannya marah padaku.
"Lakukan apapun yang kamu mau baby?! Menampar ku berkali-kali pun aku siap. Aku tak akan melawan, tapi...ada orang lain di sekitar kamu yang akan menerima konsekuensinya sayang!"
Aku meremas kedua tangan ku. Bukan dengan cara kasar aku melawan lelaki ini. Jangan-jangan...dia meretas nomor ponsel ku! Makanya dia tahu obrolan ku dengan Sakti atau siapapun itu! Bahkan dia tahu di mana pun aku berada.
Tidak! Aku tidak bisa seperti ini terus! Mendadak aku teringat pada Febri, Dimas dan Seto. Mereka terbiasa memiliki ide brilian dalam menghadapi perang. Jika melawan Frans dengan kasar, tentu akan merugikan banyak orang. Dan sosok lelaki model Frans harus di hadapi dengan cara halus. Ya, aku akan minta tolong pada mereka. Tapi aku tak bisa menggunakan ponsel ku. Mungkin benar, Frans meretas nomor ku!
Masih banyak cara untuk menghubungi mereka Amara! Dan kali ini, jangan libatkan orang terdekat mu dulu. Entah itu Alby atau keluarga mu! Batinku.
Kami sudah berada di lobby. Frans memarkirkan mobilnya di depan lobby. Dia memang seenak jidatnya melakukan apa yang dia inginkan.
Frans membukakan pintu mobil untuk ku. Mau tak mau aku pun masuk ke dalam mobilnya.
"Kami pulang ya pak!",sapa Frans ramah pada satpam.
Mereka semua pun mengangguk ramah pada Frans terlebih ada aku yang duduk di samping Frans.
Dia berkepribadian ganda mungkin!
****
Baiknya gimana?
__ADS_1
Sehari satu bab panjang, atau beberapa bap pendek2 ??? 🤔🤔🤔
makasih ✌️✌️🙏