
"Kerja sama dengan pak Leonardo, sukses kan?", tanya Azmi.
"Secara mekanis nya mah iya. Tapi...ckkk! Dia mencoba melakukan hal kotor. Yang benar aja, dia nyuruh gue meeting di kamar sama cewek yang pake bajunya aja kurang bahan!"
"Hahah , terus Lo mau?"
''Gila aja! Gak lah! Gue bilang aja, kalo masih mau kerja sama ama gue, ketemu gue di resto!"
''Widih, gitu dong!", kata Azmi.
"Tapi, ada yang bikin gue curiga. Sayangnya gue ga ada bukti!"
"Curiga kenapa?"
"Habis makan siang bareng dia, mendadak gue...pusing dan ya...gitu lah! Gue kaya pengen banget ngelakuin 21++!"
Azmi menautkan kedua alisnya.
"Apa tuh 21++ ?"
"Ga usah belaga ogeb, Azmi!"
"Serius gue nanya bos!"
"Kayanya ada yang naroh obat perangsang ke gue!"
"Innalilahi, terus... terus...Lo ga tidur sama cewek sembarangan kan By!"
"Njir, ya kagak lah!"
"Alhamdulillah kalo gitu mah!"
"Pas gue mau di bawa sama dua orang cowok kekar gitu, Amara bantuin gue. Jujur, gue malu. Udah dua kali dia nolong gue. Kaya lemah banget gue jadi cowok."
"Nolong yang gimana nih?", Azmi menatap ku curiga.
"Kok Lo liatnya begitu?",tuduhku.
''Gue nanya ,bos!"
"Ya, dia ngajak tuh preman gelud! Secara kan dia pinter bela diri!"
Azmi mengangguk paham sambil memainkan jarinya di kemudi. Setelah itu, dia menoleh.
"Hanya itu?",tanya nya menatap ku curiga. Apa iya dia segitu paham nya?
"Eum...ngga sih!"
"Udah gue duga!"
"Apa yang Lo pikirin ngga sama kaya yang terjadi, Azmi!"
"Emang Lo tahu gue mikir apa? Dia bawa Lo ke dokter mana?"
Aku menggaruk pelipisku.
"Ga ke dokter, Mi!"
Azmi menoleh cepat.
"Kalo ga ke dokter, ke mana dong?"
"Apartemennya!"
"Astaghfirullah! Lo berduaan sama Amara abis nganu?"
Aku bingung mau menjawab apa. Menjawab iya, aku tak sampai melakukan hal itu. Menjawab tidak, tapi aku bahkan sampai menuntaskannya di depan Amara.
"Jawab gue napa?"
"Eum, gue...gue cuma c*** Amara doang Mi. Ya...ya dia juga balas c***** gue!"
Azmi ternganga tak percaya. Dia menggeleng sambil menatapku.
"Tapi sumpah, gue ngga ngerusak dia Mi!", kataku sambil mengangkat kedua jariku membentuk huruf V.
"Tunggu! Lo bilang, Lo di kasih obat perangsang kan? Ga mungkin Lo cuma gitu doang sama Amara!", Azmi masih tidak percaya.
"Ya... emang gitu Mi. Gue...gue... puasin sendiri di depan Amara. Gue ga sampe ngerusak dia, sumpah demi Allah. Meskipun gue lagi ga sadar sepenuhnya, gue masih bisa mikir buat ga sampe berbuat sejauh itu sama Amara."
"Yakin Lo?"
"Sumpah, Azmi! Demi Allah!"
"Lo ga malu ngeluarin anu Lo di depan, Amara?"
"Ya gimana, gue hilang kendali Mi. Itu mending, gue ga sampe gituin dia!",kataku mendengus kesal.
__ADS_1
"Terus dia liatin gitu???", tanyanya sambil memicingkan matanya.
"Kok gue malu ya Lo nginterogasi gue kaya gitu?"
"Ya gimana, dia anak gadis. Di suguhin punya Lo!"
"Dia juga udah dewasa kali, Mi! Bukan ABG!"
"Sama aja! Judul nya belum menikah!"
"Ya...ya...apa kata Lo aja deh!", kataku pada akhirnya.
"Terus, lanjutannya gimana?"
"Ya ngga ada lanjutannya lah. Beres begitu, dia ninggalin gue di apart nya. Malah, gue di pinjemin baju segala. Yang lebih bikin gue ga habis pikir, dia malah minta gue lupain kejadian itu. Gila ga tuh!"
"Lupain? Yang bener aja. Lo udah gituin dia, justru dia yang minta Lo lupain?",tanya Azmi. Aku mengiyakan dengan anggukan.
"Ya, gue juga ketemu dia di rumah Febri semalam. Gue ajak dia bicara habis dari rumah Febri. Gue bilang, gue mau tanggung jawab atas apa yang udah gue lakuin ke dia. Tapi dia nolak, ga ada yang perlu di pertanggung jawabkan katanya."
"Ngke heula?", Azmi menoleh padaku dengan mata tajam.(Nanti dulu)
"Apa?"
"Tanggung jawab yang gimana ini maksudnya?",tanya Azmi penuh selidik.
"Ya... tanggung jawab...gitu...!"
"Lo mau nikahin dia gitu maksudnya?", cerca Azmi. Aku menggaruk pelipisku.
"Eum... mungkin!"
Azmi terkekeh pelan tapi setelah itu dia memasang wajah serius.
"Lo pikir, dia mau gitu tiba-tiba di nikahin sama cowok yang udah jelas-jelas nolak dia dari awal? Apalagi dia tahu, Lo belum move on dari Bia. Siapapun pasti bakal nolak, apalagi nikahnya cuma karena tanggung jawab semata."
Apa yang Azmi bilang, ada benarnya sih. Tapi kalo aku ngga tanggung jawab sama apa yang terjadi antara aku dan Amara, bukankah itu namanya pengecut?
"Baru gue tinggal sehari udah hampir ngerusak anak orang! Gimana seminggu!", sindir Azmi.
"Ga segitunya kali, Mi!",kataku kesal.
"Emang nyatanya kaya gitu!"
"Terus gue harus gimana Azmi Abdullah!!!!"
"Kenapa Lo? Patah hati di tolak ustadzah Salsabila?", tembakku. Dia langsung menoleh cepat.
"Kata siapa di tolak! Gue ga pernah nembak apalagi deketin dia."
Aku menaikkan salah satu alisku.
"Heum, kagak nembak sih. Tapi pedekate versi islami gaya Lo, sayang nya gagal! Ngaku ga Lo!"
Dia memanyunkan bibirnya.
"Iya, ustadzah Salsabila mau nikah. Dia di khitbah sama anak kyai ponpes situ juga!", kata Azmi lesu.
Aku menepuk bahunya, mencoba menguatkan.
"Sabar! Mungkin Allah masih minta Lo buat jadi duda, Mi!", aku menepuk bahunya lagi sedikit lebih kencang. Dia menoleh cepat padaku dengan wajahnya yang memerah. Mungkin menahan emosi karena ledekanku.
Di kira enak dari tadi di gituin, di balikin gitu esmosi jiwa toh??
"Terserah!", sahutnya. Aku jadi sedikit melupakan masalahku dengan Amara karena menertawakan nasib buruk Azmi. Eh, ngga buruk juga sih. Toh aku juga tak jauh lebih ajak sama nasibnya.
Mobil kami sudah berada di kantor. Kami turun bersama dan masuk ke dalam kantor. Karyawan kantor menunduk hormat dan menyapa kami berdua.
Ada yang bilang, sekilas kami mirip. Tapi entah lah. Terserah mereka memandang kami seperti apa. Jika Azmi terlihat lebih ramah di banding aku, tidak dengan ku. Setiap kali ku injakkan kaki ku ke kantor entah kenapa urat di pipiku untuk tersenyum itu susah.
Ada beberapa orang karyawati yang menurut ku berpakaian cukup seksi. Risih! Itu yang aku lihat. Tapi mungkin mereka nyaman-nyaman saja!
"Selamat pagi, pak Alby, pak Azmi!", sapa mereka. Aku dan Azmi mengangguk tipis.
"Pagi!"
Kondisi lift cukup ramai. Karena sebentar lagi jam kerja di mulai.
"Pak Alby!", panggil seorang karyawati. Aku menoleh sekilas. Aku tak lagi menatap perempuan itu. Bagiku, pakaiannya terlalu seksi untuk di gunakan bekerja di kantor.
"Itu pak Alby, laporan kegiatan lapangan di proyek XYZ sudah saya letakkan di meja pak Azmi."
Aku memicingkan mataku. Apa katanya???
"Terimakasih!", sahutku singkat. Perempuan itu masih menatap ku sambil senyam-senyum.
"Oh ya boleh saya bicara satu hal untuk kamu, siapa nama kamu?", tanyaku. Tidak salah kan tanya nama karyawan sendiri? Kalau petinggi kantor, tentu saja aku hafal nama-nama mereka.
__ADS_1
"Nova, pak Alby!", jawab nya dengan senyuman merekah.
"Saya tidak peduli apa pun keyakinan kamu. Tapi, saya mau karyawati yang bekerja di kantor ini. Khususnya yang sering terlibat pekerjaan dengan saya. Saya mau kamu dan kalian semua bisa memakai pakaian yang sopan!"
Nova dan rekannya yang memakai pakaian kantoran dengan rok yang beberapa senti di atas lutut itu pun meneguk ludahnya.
"Kalian kerja pakai otak dan tenaga kan? Bukan mau menonjolkan keseksian kalian?"
Buset nih bos, lagi galau sama Amara, anak-anak yang jadi pelampiasan marah nya. Batin Azmi.
"Maaf! Jika saya keterlaluan atau terlalu percaya diri. Dengan kalian berpakaian seperti itu, kalian pikir saya tertarik? Tidak! Jadi tolong jangan merendahkan harga diri kalian. Saya harap kalian mengerti dan tidak salah paham! Itu pun jika kalian masih ingin bekerja di sini. Silahkan mengatakan saya arogan, sok dan apa pun itu. Tapi satu hal yang harus kalian tahu, terutama kalian!"
Aku menunjuk Nova dan rekan-rekannya yang menurut ku terlalu seksi dalam berpakaian.
"Saya tahu kalian pintar. Jadi, gunakan kepintaran kalian di tempat yang tepat! Bukan memanfaatkan fisik kalian. Mengerti?!"
Nova dan rekannya mengangguk.
"Mengerti pak!"
Usai mengatakan hal itu, aku dan Azmi masuk ke dalam lift khusus kami.
"Gila Lo, mereka sampe kaya kepiting rebus tahu! Marah sama siapa yang jadi pelampiasan siapa!"
"Biarin!"
"Kebiasaan!", ujar Azmi.
"Lo ga tahu aja sih kelakuan mereka."
"Ya, asal Lo ga kepancing aja sih Bos. Biarin aja!", kata Azmi.
"Emang Lo ga kepancing?", tanyaku.
"Gak! Orang gue ga pasang umpan!", jawabnya santai.
"Lo tuh ya bener-bener!", aku menunjuk wajahnya.
"Lagian Lo, pekara baju karyawan aja di permasalahkan!"
"Ya gimana ngga, Marsha aja yang mantan sekretaris utama di sini selama ini pake bajunya sopan. Tanpa gue minta, Mi! Bahkan dari awal gue kenal sama dia, dia gak kaya mereka yang pake rok aja dua puluh senti di atas lutut!"
"Emang Lo ngukur beneran sampe dua puluh senti? Jangan jadiin Marsha standar pakaian mereka lah Bos. Lo ga liat muka mereka tadi!?"
"Bodo amat. Terserah itu kalo di divisi yang jarang gue temui, tapi kalo mereka yang sering berhubungan pekerjaan sama gue, gue ga mau!"
"Takut tergoda?"
"Menurut Lo...???", tanyaku balik.
Aku masuk ke dalam ruangan ku. Sedang Azmi duduk di mejanya. Baru saja duduk, telponnya berdering.
[Ya?]
[Selamat pagi pak, ada tamu yang ingin bertemu dengan pak Alby. Bisa ?]
[Siapa?]
[Namanya Mr. Frans]
[Mr.Frans?]
[Betul pak Azmi]
[Tunggu, saya tanya pak Alby sebentar]
Azmi mematikan sambungan telepon nya dengan resepsionis.
Tok...tok...
"Masuk!"
Azmi pun masuk ke dalam ruangan ku.
"Ada tamu."
"Siapa?"
"Mr. Frans."
"Frans?", tanyaku membeo. Azmi mengangguk.
"Mau ketemu, atau di tolak?", tanya Azmi. Aku diam beberapa saat. Untuk apa dia menemui ku? Dan bagaimana bisa ia tahu aku disini? Apa dia tahu kalau aku dekat dengan Amara?
"Gimana?", tanya Azmi.
"Oh, oke!"
__ADS_1
Azmi pun keluar untuk menghubungi resepsionis nya untuk mengijinkan Frans menemui ku.