Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 39


__ADS_3

Amara


Aku tak menyangka jika aku dan Alby akan bertemu di panti asuhan. Apalagi, dia sedang merayakan ulang tahun putranya. Ya, putranya dengan istri yang katanya terpaksa dia nikahi!


Jujur, aku bahagia bisa melihat wajahnya sedekat tadi. Memang selama ini aku berusaha dan berjuang melupakan lelaki itu, tapi aku munafik. Masih saja ku pandangi satu foto nya yang pernah ku ambil diam-diam beberapa bulan yang lalu.


Beberapa bulan yang lalu saat aku sedang jatuh hati pada sosok tampan dan ketus itu. Tapi entah kenapa aku menyukainya, saat itu! Mungkin sudah jadi seleraku, menyukai sosok dingin seperti hal Febri dulu.


Lalu saat ini?


Aku tak tahu dengan perasaan ku. Apakah aku benar-benar mulai melupakan duda ganteng itu? Entah!


Bodohnya aku! Kenapa aku masih saja terpesona dengan wajah tampan itu. Pria tampan banyak, tapi kenapa hanya Alby dan Alby saja yang membayangi pelupuk mataku. Apa istimewanya seorang Alby???


Dia dua dua kali! Dua kali gagal berumah tangga lho!!! Oke, dia ditinggal mati oleh istri keduanya. Tapi yang tidak masuk akal dalam pemikiran ku adalah dia menikahi perempuan lain di depan istri sahnya. Perempuan mana yang tak sakit! Aku saja yang tak mengalami nya turut merasakan kesedihan Bia! Padahal saat itu aku sama sekali tak mengenal Bia atau pun Alby.


Jika ku pikir-pikir, sebenarnya apa yang ku takutkan? Takut dengan perasaan ku yang sebenarnya pada Alby. Tau takut salah memilih keputusan?


Tok...tok...


"Masuk!"


Nada masuk ke dalam ruangan ku.


"Ada apa Nada?"


"Ada pria asing ingin bertemu dengan anda Nona."


"Pria asing? Maksudnya bagaimana?"


"Ya asing Nona. Bukan orang pribumi",jawab Nada lagi.


"Bule maksudnya?"


Nada mengangguk.


"Siapa? Seperti nya saya ngga punya janji dengan investor dari luar negeri."


"Seperti nya bukan investor deh, Non."


"Oh ya? Lalu siapa? Ngga di tanya namanya dulu? Ada urusan apa?"


"Dia tak menyebutkan namanya, dia hanya bilang kalo ada hal penting yang harus dia bicarakan dengan nona Amara."


"Siapa sih?"


"Benar orang asing kan? Bukan Alby?",tanyaku. Nada mengernyitkan alisnya.


Lha? Kok Alby? Apa aku berharap dia menemui ku di kantor ku sendiri????


"Tuan Alby yang tampan dan jutek dari HS grup itu Nona? Bukan, serius bule!", kata Nada meyakinkan ku.


Aku tersenyum masam. Benar kan? Seorang Nada saja mengakui ketampanan makhluk yang bernama Alby itu.


"Baiklah, ijinkan dia masuk."


"Iya Nona, saya permisi!"


Aku mengangguk, Nada pun keluar dari ruangan ku.


Beberapa saat kemudian, Nada kembali dengan seseorang yang ku kenal. Aku melebarkan mataku melihat sosok yang bersama Nada.


"Frans??",aku berdiri dari kursi kebesaran ku.


(Anggap aja bahasa Inggris ya? Heheheh basa Inggris mamak amat sangat buruk ✌️😆)


"Saya permisi nona!", kata Nada. Mataku terpaku melihat pria asing blesteran Inggris dan Singapura itu.


"Amara?!",sapanya mendekati meja kerja ku.


"Kamu...kenapa kamu bisa ada di sini Frans?"


"Karena aku mencarimu. Aku bahkan sudah mencari tahu di instansi kamu sebelum nya",jawab Frans.


"Untuk apa kamu mencari ku?",tanyaku bersikap setenang mungkin.


"Karena aku mencintaimu Amara!"


Aku tertawa sinis. Cinta katanya? Setelah kebohongan yang dia ciptakan?!


"Berhenti mengumbar kata cinta padaku. Belum cukup kamu menyakiti hati istri dan anakmu???"

__ADS_1


"Mereka sudah meninggal Amara!"


Aku mengerjapkan mataku. Meninggal? Hah! Dia saja bisa berbohong padaku dengan wajah 'goodboy' nya yang mengatakan dirinya single. Padahal dia seorang suami dan calon ayah saat itu! Bagaimana bisa aku percaya jika saat ini dia sedang berbicara jujur????


"Jika memang mereka sudah meninggal, lalu apa hubungannya dengan ku?", aku melipat kedua tanganku di dadaku.


Biar lah aku terkesan sombong! Aku tak peduli.


"Karena aku ingin, kamu kembali padaku. Makanya, jauh-jauh aku datang dari negara ku untuk menemui mu. Memintamu untuk bersama ku lagi."


Aku tersenyum sinis. Mudah sekali dia bicara 'kembali' setelah apa yang dia lakukan padaku???


Aku yang harus berada di posisi sebagai pelakor padahal aku tak tahu menahu status Frans yang ternyata membohongi ku.


"Kamu pikir aku mau?"


''Kenapa tidak? Aku tahu sampai saat ini kamu masih sendiri!"


Apa dia menyelidiki ku?


Dia mendekat padaku. Bahkan tubuh jangkung itu berada tepat di hadapan ku.


"Jika kamu memintaku untuk mengikuti keyakinan mu yang sekarang, aku tak masalah. Yang penting aku bisa bersama mu. Dan aku, akan bekerja di salah satu rumah sakit kota ini. Bukan hal sulit untuk ku."


Aku mendorong dadanya yang kian mendekat padaku. Dia mundur selangkah.


"Kamu sudah melupakan ku?"


"Ya!", sahutku singkat. Aku memang pernah jatuh cinta karena aku melihat dia sosok yang baik. Tapi setelah tahu jika dia membuat kebohongan besar, aku benar-benar sudah melupakan sosok pria indo ini. Aku membenci nya!


Tapi ternyata dia kian mendekat padaku.


"Sayangnya tidak bisa!", dia mendekatkan wajah nya padaku. Bahkan aku merasakan hembusan nafasnya yang menyapu permukaan wajahku.


Aku berusaha kembali mendorong nya sekuat tenaga ku. Aku bisa bela diri, aku bukan perempuan lemah!


Tapi karena posisi ku yang tak menguntungkan, dia justru mendorong ku ke dinding belakang mejaku. Mengunci tubuhku.


"Aku sudah bilang Amara, aku mencintaimu! Sampai ke ujung dunia pun, aku akan mencarimu! Dan mendapatkan mu lagi!"


Dia mendekatkan bibirnya padaku, tapi aku menghindar. Dia menyeringai tipis.


Dia semakin menekan kuncian tangannya di punggung ku dan membuatku mendongakan kepala.


Mataku dan mata Frans saling menatap. Jika dia menatapku penuh kerinduan, aku sebaliknya. Aku sangat membencinya.


"Lepas!", pintaku. Seandainya saja dia tak mengunci pergerakan kakiku, aku akan melawannya dengan kaki. Sayangnya, dia memang juga pandai bela diri.


"Lepas ku bilang!",bentakku lagi.


Perlahan dia melepaskan ku. Tapi pandangnya masih belum teralihkan dari ku.


"Ku mohon, kembali lah padaku Amara!"


"Aku memang pernah mencintaimu mu Frans, tapi itu dulu!"


"Dan aku harap kamu akan jatuh cinta lagi padaku!"


Dia masih betah berdiri di hadapan ku.


"Silahkan berharap, tapi itu tidak akan pernah terjadi!",kataku penuh penekanan.


"Benarkah?"


"Ya! Aku memang belum menikah tapi bukan berarti aku tidak memiliki kekasih!"


"Begitu? Lalu... bagaimana jika kekasih mu tahu, kamu yang sekarang sudah berubah menjadi sosok muslimah tapi memilik masa lalu yang buruk, bersama ku?", katanya berbisik di telinga ku.


"Apa maksud mu?"


"One Night Stand?", tanyanya.


"Itu tidak pernah terjadi di antara kita!"


Frans tersenyum tipis. Menyentuh pipiku, tapi ku tepis kasar.


"Tapi jika kekasih mu tahu, kamu pernah tidur bersama ku, bagaimana?"


"Tidur bersama mu? Mimpi!!", aku mendorong nya kasar.


"Ya...memang benar, kita tak sampai melakukan hal itu Amara. Tapi hal lain?", tanyanya.

__ADS_1


"Apa maksud mu sebenarnya Frans?"


"Bagaimana jika orang tuamu tahu, kekasih yang kamu bilang itu juga tahu, bahkan publik tahu. Jika seorang Amara pernah menghabiskan waktu bersama dengan seorang pria asing di negara konflik. Padahal dirinya sedang tugas negara. Apa tanggapan mereka?"


"Aku tidak takut ancaman mu. Karena kita tidak pernah melakukan apapun."


"Tidak pernah melakukan apapun katamu? Lalu apa yang kita lakukan di ruangan ku?", dia mengangkat daguku.


Tidak! Aku tidak melakukan hal lain selain berpelukan dan berciuman dengannya. Hanya itu! Apa dia mau mengancam ku dengan hal itu?


"Aku tidak takut dengan ancaman mu Frans. Dan kamu tidak bisa memaksa mu untuk kembali pada laki-laki pembohong seperti mu!"


"Tapi aku mencintaimu Amara!", katanya melebarkan matanya bahkan dia sekarang kembali mendorong ku merapat ke dinding, lagi! Matanya memerah menandakan betapa ia begitu emosi. Apa karena penolakan ku atau karena ancamannya tak membuat ku gentar?


"Lepaskan aku Frans!", kataku pelan tapi penuh penekanan.


"Kamu pikir, aku akan berhenti sampai di sini? Tidak Amara, aku tidak akan pernah berhenti sampai kamu kembali padaku dan mencintai ku lagi!"


Dia meraih bibirku, ********** dengan begitu brutal. Bukannya menikmati, aku langsung mendorong tubuh nya sekuat tenaga ku.


Plakkkk! Aku menampar sosok dokter yang pernah mengisi hari-hari ku di negara nan jauh di sana.


Frans mengusap bekas tamparan ku. Tapi dia tak ada niat membalas tamparan ku. Justru dia tersenyum.


"Semakin kamu berusaha menjauh dari ku Amara, aku akan semakin ingin kembali memiliki mu. Dan setelah aku tahu, siapa pria yang kamu bilang sebagai kekasih mu, tunggu saja! Apa yang akan ku lakukan padanya!", Frans mengancam ku.


Apa ini? Tidak! Dia hanya mengancammu Amara!!! Batinku.


"Frans!"


"Aku mencintaimu Amara. Apa pun akan ku lakukan untuk bisa memiliki mu lagi. Sekali pun aku harus berpindah kewarganegaraan bahkan keyakinan sekalipun!", kata nya dengan telunjuknya terulur di depan mataku.


Aku meremas kedua tanganku. Frans mengecup puncak kepalaku sebelum dia benar-benar pergi dari ruangan ku.


Apa ini Amara????!!! Aku mengusap kasar bekas ciuman Frans tadi!


Aku meninju udara di hadapanku.


Argggghhhh! Aku menumpu kedua tanganku di atas meja. Nafas ku naik turun menghadapi perasaan emosi karena kehadiran Frans yang tiba-tiba.


Jika dia saja bisa mudah menemukan ku di sini, bagaimana jika dia juga mencari tahu tentang Alby???


Astaghfirullah! Aku meraup wajahku dan terduduk di bangkuku.


Aku ingin hijrah! Aku ingin jadi muslimah yang baik. Tapi kenapa harus ada peristiwa seperti ini!!!! Aku menghapus bibirku dengan tisu yang ada di meja. Menggosok-gosokkan tisu dengan kasar. Tak perduli jika nantinya akan menimbulkan luka.


Aku tertunduk di meja. Kenapa perjalan cintaku harus serumit ini ya Allah!!!


Ting! Ponsel ku berdenting. Ada pesan masuk.


Febri? Gumamku.


[Assalamualaikum Amara. Hari ini, kami mau mengadakan aqiqah putri-putri kami. Semoga kamu ada waktu buat datang ke acara kami nanti ba'da magrib.]


Aku pun langsung membalas chat dari Febri.


[Iya mas. Insyaallah aku datang]


Aku menghela nafas. Febri sudah bahagia dengan keluarga kecilnya sekarang. Lalu kenapa aku masih begini-begini saja????


Aku memanggil Nada untuk ke ruangan ku.


"Anda memanggil saya, nona Amara? Lho, nona Amara kenapa?", dia menatap bibirku yang mungkin sedikit mengelupas karena ku gosok kasar. Untung tisu hanya berantai di bawah mejaku.


"Ngga apa-apa Nada. Oh iya, kamu lagi ngga sibuk banget kan?"


"Tidak nona!"


"Nada, saya minta tolong belikan hadiah ya. Teman saya baru saja memiliki bayi kembar perempuan. Kamu bisa membelikan hadiah yang cocok mungkin?"


"Kembar ya? Eum, bagaimana kalau babystroler yang buat bayi kembar Nona?", tanya nada.


"Boleh juga tuh ide kamu Nada. Tolong belikan ya? Nanti langsung kirim ke alamat rumahnya saja. Saya chat ke kamu alamat mereka."


"Baik nona. Akan segera saya belikan. Permisi!", pamit Nada. Setelah nada keluar, aku kembali memikirkan Frans yang tiba-tiba saja mengusik kehidupan ku. Pekerjaan ku sama sekali belum tersentuh gara-gara bule itu.


Astaghfirullahaladzim!!!! Aku mengusap wajah ku. Dari pada aku tak tenang seperti ini. Lebih baik aku bersimpuh pada sang kuasa meski belum saatnya solat Dhuhur.


******


Makasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2