Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 129


__ADS_3

Jangan pernah membandingkan masa lalu mu dengan masa depan mu. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan dalam diri mereka. Intinya, saling melengkapi dan memahami adalah cara paling tepat untuk mempertahankan hubungan itu.


*****


Alby


Hari sudah menjelang malam. Aku pun sudah berada di rumah sebelum Maghrib. Niatnya, tadi sepulang dari kantor aku ingin ke apartemen Amara untuk menjemputnya sekalian. Tapi Amara malah menolak. Dia bilang, akan membawa mobil sendiri untuk ke acara grand opening rumah makan Bia. Toh sekarang, ada bodyguard yang melindunginya.


"Memang acaranya jam berapa Jang?",tanya Mak.


"Jam delapan Mak. Nanti abis isya baru kita berangkat."


Aku sedang menikmati teh hangat ditemani oleh Nabil yang bermain robot-robotan. Anak itu sekarang lebih pendiam sejak kemarin sore. Padahal, aku sudah menjelaskan pada nya bahwa aku tidak marah. Mungkin ini yang di namakan luka batin. Mungkin di dalam hatinya sudah tersemat perasaan di mana dirinya merasa 'tidak di sayang' lagi oleh ku karena aku sedikit menegurnya gara-gara kedekatannya dengan Bianca. Menurut ku, Bianca hanya membuat citra buruk Amara di mata Nabil yang notabene masih mudah dipengaruhi.


Usai solat isya, kami bertiga pun menuju ke rumah Bia. Nabil duduk di depan bersama ku, sedang Mak duduk di belakang.


"Jang?"


"Naon Mak?"


"Bagaimana hubungan kamu sama Neng Bia?", tanya Mak.


"Alhamdulillah sejauh ini baik-baik saja Mak."


Mak Titin mengangguk paham. Toh kenyataannya memang Bia perempuan yang baik. Mak sudah sangat mengenal perempuan itu.


"Kalau kamu sama Amara?", tanya Mak lagi. Aku pun menoleh ke belakang sebentar tapi langsung menghadap ke depan lagi. Sedang Nabil, biar kecil begitu dia sedang menyimak obrolan dua orang dewasa yang berada di dalam kendaraan roda empat itu.


"Insyaallah kami akan serius Mak."


"Dia mau menerima keberadaan Nabil di hidup kalian?", tanya Mak. Nabil kecil pun menoleh ke papanya.


"Insyaallah Mak. Makanya nanti aku mau kenalin Nabil sama Amara. Kalau sama Mak mungkin sudah kenal, tapi belum dekat bukan?"


"Iya, baiknya saja gimana!",kata Mak.


"Apa Tante Amara itu Tante tua yang kaya teteh Bian bilang?",tanya Nabil tanpa dosa.


"Jangan sebut Tante Tua, Nabil. Kan papa kemarin udah bilang. Ngga sopan! Jangan ikut-ikutan apa yang Tante Bianca bilang. Ngerti kan maksud papa? Papa lagi ngga marahin Nabil. Papa cuma lagi ngasih tahu Nabil, kalo bahasa Tante Tua itu ngga sopan. Paham kan maksud papa?"


Nabil mengangguk paham dan wajahnya sedikit pias.


"Iya papa. Maaf!",ujar Nabil lirih.


"Dengar ya sayang papa bilang seperti ini bukan karena papa marah sama Nabil. Papa cuma ngga mau orang-orang bilang kalo anak papa ngga sopan bahasanya. Kata-kata begitu ngga cuma di larang di katakan sama Tante Amara, tapi sama semua orang. Jangan di ulangi lagi ya!",ku usap puncak kepalanya.


"Iya papa. Nabil janji."


"Di rumah Fesha Ribi, Nabil ngga boleh nakal ya. Nurut sama papa, nenek atau...Tante Amara."

__ADS_1


"Siap Pa!",jawab Nabil tersenyum. Tanpa terasa, mobil kami sudah berada di jalan menuju komplek rumah Bia. Bisa di lihat, beberapa mobil terparkir panjang di sisi jalan. Kami bertiga pun turun. Nabil meminta gendong padaku. Sedang Mak berjalan di samping ku.


"Meuni rame kieu Jang?",mendadak Mak merasa tak nyaman dengan ramainya orang.


"Namanya juga pembukaan Mak." Berbeda dengan Nabil yang nyaman di gendongan papanya. Dia sudah excited karena Aken bertemu dia bayi kembar yang cantik.


Benar dugaan Mak, rumah makan Bia di kunjungi oleh banyak orang yang sebagian aku kenal. Ada keluarga Bia dan Febri tentunya, keluarga Malvin, keluarga Sakti, dan ada Bram juga bersama istri dan anaknya. Aku berharap jika Bianca tak ikut dengan Bram.


Sayangnya, harapan ku musnah saat tiba-tiba dari samping Bram muncul sosok gadis yang sudah mencuci otak Nabil.


"Nabil!",pekik Bianca riang saat ia melihat Nabil di dalam gendongan ku. Nabil langsung menoleh padaku. Mungkin dia masih ingat dengan pesan ku tadi. Bianca mendekati kamu, Nabil sendiri masih setia di gendongan ku.


"Hai sayang, teteh kangen deh!",kata Bianca hampir mencubit pipi Nabil tapi aku mundur selangkah jadi Bian tak bisa menyentuh Nabil ku. Wajah Bian pun langsung murung.


"Mak, apa kabar?",sapa Bian. Mak Titin tersenyum tipis."Alhamdulillah baik Bian!",jawab Mak.


"Mas Alby, biar Nabil sama aku aku!",kata Bianca.


"Tidak usah, terima kasih!"


Aku pun melangkahkan kaki ku mendekati keluarga Bia dan Febri serta yang lain. Baru beberapa langkah, suara yang sangat ku kenal memanggil namaku.


"Alby!"


Aku pun menoleh. Benar dugaan ku, pujaan hatiku sudah sampai di sini. Ku sambut kedatangannya dengan senyuman.


"Assalamualaikum, ibu!", Amara menyalami Mak dan menyambut nya dengan senyuman ramah. Nabil menatap sosok cantik yang ada di hadapan kami.


"Sendiri aja Bu",jawab Amara.


"Panggil Mak saja, kaya Alby. Jangan ibu, kagok dengar nya!",kata Mak Titin. Amara pun mengangguk dan tersenyum tipis.


"Iya Bu!", ujar Amara.


Mata Amara beralih pada kekasihnya dan juga putranya yang menatap Amara dari ujung kepala sampai ujung kaki, ngga sopan ya si Nabil 🤭


"By!",sapa Amara padaku.


"Oh ya sayang, kenalin ini Tante Amara",kata ku pada Nabil. Nabil pun reflek mengulurkan tangannya pada Amara. Amara yang memang ramah pun memasang senyuman di wajah cantiknya itu.


"Hai Nabil!",sapa Amara pada Nabil. Nabil tersenyum menunjukkan gigi putihnya.


"Tante...!", panggil Nabil pada Amara.


"Iya sayang, kenapa?",tanya Amara.


"Tante Amara cantik kok kaya mama Bia, kenapa teteh bilang Tante Tua?",tanya Nabil dengan polosnya. Aku dan Mak ternganga tak percaya jika Nabil Ki berkat demikian. Begitu pula dengan Bianca yang berdiri tak jauh dari kami.


Amara menautkan kedua alisnya lalu bertanya dengan memberikan kode padaku. Aku hanya mengedikkan bahu, pura-pura tak tahu.

__ADS_1


"Teteh siapa?",tanya Amara.


"Teh Bian, itu....!",Nabil menunjuk Bianca yang masih berdiri di sana. Gadis itu terlihat salah tingkah karena ucapan Nabil.


"Oh, gitu. Teteh itu yang bilang Tante ini tante tua?",tanya Amara pada Nabil. Mungkin ingin mendengar pendapat Nabil. Nabil mengangguk pelan.


Aku mulai ketar-ketir, bisa-bisa gagal kalo begini ceritanya. Padahal aku sudah memperingatkan Nabil agar tak berulah. Tapi ya.... sudah lah!


"Kirain Nabil Tante Amara itu tua kata nenek ngga tahu nya cantik kaya mama Bia, hehehhe!", celoteh Nabil.


Ya, Allah! Please...kenapa standar kecantikan di mata Nabil ku harus Bia sih??? Ku menangis....


"Heheheh masa sih? Emang iya Tante Amara cantik?",tanya Amara lagi pada Nabil.


"Iya, cantik kaya Bunda, kaya mama Bia juga!",sahut Nabil.


Hatiku mencelos. Bagaimana perasaan Amara di gituin sama bocil ku???


"Makasih anak ganteng!",Amara mencubit pipi gembul Nabil.


"Tante masih muda kan?",tanya Nabil. Lagi-lagi aku di kejutkan dengan pertanyaan Nabil yang cukup ya...tak perlu di jawab.


"Keliatannya gimana?",tanya Amara balik.


"Kata Nenek, nenek udah tua. Ngga kuat gendong Nabil. Kalo Tante Amara masih muda, kuat dong gendong Nabil?",tanya Nabil lagi.


Amara tertawa pelan mendengar tantangan bocil itu. Aku sendiri merasa tak enak pada kekasih ku ini.


"Oke! Siapa takut! Mau gendong sampai mana nih?", tantang Amara. Nabil langsung mengulurkan tangannya untuk berpindah pada Amara. Amara pun menyambut Nabil dalam dekapannya.


"Sampai acara ini selesai! Bisa ngga Tan?",tanya Nabil. Amara memundurkan kepalanya, lalu menautkan kedua alisnya.


"Bisa ngga ya??? Kalo bisa, Nabil mau kasih hadiah apa sama Tante heum?",Amara menoel pipi Nabil.


"Udah, kita ke Febri sama Bia dulu yuk!",ajakku.


Nabil diam-diam berpikir sambil berpegangan di bahu Amara lagi. Syukurlah jika Nabil menyambut baik perkenalkan dengan Amara. Kemungkinan besar, tak ada masalah jika nanti mereka jadi anak dan ibu sambung bukan?


"Tunggu pa!",panggil Nabil. Aku, Mak dan Amara pun berhenti.


"Apalagi sayang?", tanya ku.


"Mau tahu ngga hadiah buat Tante Amara apa?",tanya Nabil. Kami bertiga hanya menggeleng.


"Hadiahnya....papa!",Nabil tepuk tangan. Kami bertiga pun bingung mendengar ucapan Nabil.


"Maksudnya minta hadiah sama papa gitu Bil?",tanya Amara. Vibes nya kaya emak-emak lagi nanyain anaknya ke bapaknya sendiri.


"Ngga Tante. Kata papa, Tante Amara mau jadi mama baru nya Nabil!", celetuk Nabil. Sontak Amara tersedak ludahnya sendiri. Aku pun tak kalah terkejut.

__ADS_1


Anakku memang....


__ADS_2