
Amara
Frans mendekap ku begitu erat. Ia menenggelamkan kepalanya di dadaku. Entah kenapa tanganku reflek mengusap kepalanya. Ternyata, ada hal menyakitkan yang dia alami sehingga membuat ia seperti seorang psikopat saat ini. Aku cukup prihatin mendengar kisah cinta nya yang mungkin jauh lebih menyakitkan di banding kisah ku yang selalu bertepuk tangan pada sosoknya Febri.
Frans semakin mengeratkan pelukannya. Jika saat mode begini...aku seperti melihat Frans saat awal kami bertemu dulu.
"Please, don't ever leave me Amara!",katanya pelan. Nyaris seperti bisikan. Sosok menyeramkan tadi kini berubah menjadi seseorang yang terlihat rapuh dan putus asa.
Aku tak mampu menjawab apapun. Hanya tangan ku yang sibuk mengusap kepalanya. Padahal aku sendiri duduk di atas pangkuannya.
Aku mendongakkan kepala ku ke atap sana. Mungkin...para reader's jijik padaku. Pagi tadi aku mencumbu mesra seorang Alby, aku yang memulainya. Tapi baru saja, aku membiarkan Frans melakukannya padaku.
Seorang kupu-kupu malam mungkin jauh lebih bermartabat dari pada aku! Aku menarik nafas dalam-dalam dan memejamkan mataku masih dengan mendongak.
"Baby!", Frans perlahan mengendurkan pelukannya. Hanya wajah kami yang begitu dekat.
"Marry me, please!",ujar Frans lagi dengan tatapan yang amat sangat lembut. Bukan menakutkan seperti tadi.
Ia mengusap bibirku dengan jarinya. Mengusap pipiku dengan punggung tangannya.
"Aku janji akan berubah untuk mu baby. Aku tidak akan menyakiti siapapun, demi kamu! Asal kamu bersama ku!"
Frans menakupkan kedua tangannya ke pipiku. Lalu wajahnya semakin mendekat, aku tak bisa berbuat banyak. Hanya bisa memejamkan mataku.
Ku pikir, Frans akan kembali memaksa ku untuk berciu***. Tapi ternyata, dia memadukan dahi kami. Perlahan, aku membuka mataku. Ku lihat Frans yang terpejam menikmati kening kami yang masih beradu.
Aku harus apa ya Allah???
Tiba-tiba mata Frans terbuka. Ia kembali mengusap bibirku.
"Jika aku mau, aku bisa memaksa mu untuk melakukan hal kotor itu. Tapi aku tak sanggup memaksa mu! Karena aku mencintai mu baby. Saat kamu bilang pernah melakukan nya dengan Alby, aku tak percaya! Karena aku yakin, kamu bukan gadis seperti itu!"
"Tapi kami pernah...", belum selesai aku berbicara, Frans menutup bibir ku dengan telunjuknya.
"Kalian tak pernah memiliki hubungan apa pun!",katanya memotong ucapan ku.
"Frans...!"
"Aku yakin, perlahan kamu akan kembali jatuh cinta lagi padaku Amara. Jauhi Alby! Maka...semua akan baik-baik saja! Oke??", kata nya dengan memegang kedua pipiku. Memaksa ku untuk menatap matanya.
Aku memilih jalur aman dengan cara diam. Tak langsung mengiyakan atau menolak Frans. Aku harus memikirkan semuanya. Karena ini tidak hanya tentang masa depan ku, tapi juga orang-orang di sekitarku.
"Kita kembali ke kota. Oke?",katanya pelan. Sungguh, dia berubah menjadi Frans yang ku kenal dulu. Bukan seperti Frans yang baru saja menculik ku ke gedung ini.
__ADS_1
Aku mengangguk. Dia pun membantu ku bangkit dari pahanya. Lalu menggamit pinggang ku dan keluar bersama dari lab.
Sesekali ia mengecup pelipisku sepanjang jalan menuju ke mobil. Aku menatap bingung padanya. Setelah itu, ia pun membawa ku keluar dari daerah yang menakutkan itu. Ponsel ku berdering beberapa kali. Tapi karena berada di jok belakang, aku tak bisa mengambilnya.
"Biarkan saja baby! Yang penting kamu aman bersama ku!",Frans mengusap kepala ku lagi.
"Kita makan dulu ya setelah keluar dari area ini. Ada restoran, setidaknya kamu harus makan siang!"
Aku tak mengiyakannya.
"Pikirkan baby! Aku benar-benar mencintai mu. Dan aku janji akan berubah setelah kamu menjadi milik ku. Kamu bisa pegang janjiku!",Frans mengecup punggung tangan ku.
Benarkah kisah ku harus selesai sampai di sini? Aku kembali pada Frans? Lalu bagaimana perasaan ku pada Alby???
.
.
Alby
Rapat pemegang saham sudah selesai. Klien ku pun satu persatu keluar dari ruangan rapat ini. Tersisa aku, Bia dan Azmi.
"Pulang sama siapa Neng?",tanyaku.
"Aa antar ya?",tawarku. Bia menatap ku dengan mengerutkan keningnya. Sedang Azmi tampak kembali memberi kode.
"Moal ah. Hatur nuhun!",tolak Bia.
Apa Bia benar-benar sudah menjaga jarak dengan ku? Dia sudah melupakan ku sama sekali?
"Kan Nabil eta di harep!",sindir Azmi. Aku langsung menatap tajam.
"Muhun A. Bener yang A Azmi bilang",ujar Bia lagi. Azmi tersenyum menang karena Bia menolak ajakan ku.
"Ya nggeus atuh!", sahutku lemah. Kami bertiga keluar dari ruangan rapat. Nabil sudah menunggu ku di lorong.
"Papa!",Nabil langsung meminta gendong padaku. Ku lihat sorot mata Bia sedikit berubah. Mungkin kah dia masih sakit hati karena kehadiran Nabil?
Nabil menoleh pada Bia.
"Mama Bia!", panggil Nabil.
Azmi berdehem pelan menyikut lengan ku. Aku menggeleng.
__ADS_1
"Gue ga ngajarin Nabil manggil Bia begitu, demi Allah!",kataku meyakinkan Azmi sekaligus Bia.
Meski Bia mendengar ucapan ku tadi, sepertinya dia tak menghiraukannya.
"Kenapa Bil?",tanya Bia sambil tersenyum. Dan.... senyum tulus itu yang selama ini ku rindukan. Eh, ya Allah! Ingat By, dia istri Febri. Bukan istri mu lagi!!!! Aku mengingatkan batin ku agar tak mengungkit perasaan dan masa lalu dengan perempuan di depan ku ini.
"Nabil boleh main sama Fesha Ribi?",tanyanya dengan bahasa cadel. Bia nampak melirik ku sekilas.
"Boleh Bil. Lain kali main ke rumah Fesha ya!",katanya.
"Papa, kapan kita main ke sana? Besok?",tanya Nabil padaku.
"Kan besok kita mau ke kampung Abah!",kataku. Raut wajah Bia kembali berubah. Aku memandangi wajahnya, tapi dia berpaling.
"Kalo begitu aku permisi ya!", ujar Bia berpamitan padaku dan yang lain. Aku memindahkan Nabil pada Azmi.
"Nabil sama Mang Ami dulu ya, papa ada perlu sama Mama Bia!",kataku sedikit berlari menyusul Bia.
"Bisa ae Lo bos! Mama Bia segala!",kata Azmi sewot.
"Mama Bia cantik ya mang!",kata Nabil pada Azmi.
"Eh, bayi ganteng! Tahu dari mana kamu orang cantik heum?",tanya Azmi memencet hidung batita itu. Nabil tertawa cekikikan. Teh Ani hanya mengekor di belakang mereka.
Aku berhasil menyusul Bia yang baru akan masuk lift. Aku pun ikut ke dalam lift yang sama.
"Neng?", panggil ku setelah kami sama-sama berada di dalam lift.
Bia akan menekan angka satu, tapi ku halangi. Justru ku tekan nomor paling atas gedung ini.
"Apa-apaan ini A?",tanyanya kesal.
"Aa mau bicara, tolong dengarkan!"
Bia menyandarkan punggungnya ke dinding lift. Dia melipat kedua tangannya di dada. Apa dia marah saat ia mendengar ku membahas tentang kampung halaman ku dulu? Apa dia teringat masa-masa menyakitkan bersama ku dulu??
"Bicara lah!"
Ting!
Lift ini membawa kami ke roof top.
****
__ADS_1
Si Aa mau ngomong apa ya kira2???? 🤔🤔🤔🤔