
"Tolong jangan halangi saya. Saya ada urusan penting dengan Amara!"
"Maaf pak. Tapi saya hanya menjalankan perintah Mr. Frans!",kata Mario tegas.
Alby berkacak pinggang. Saat ini dirinya benar-benar ingin menemui Amara untuk meluruskan kesalahpahaman yang dia ciptakan sendiri. Dia sudah menuduh Amara yang buruk. Padahal dirinya juga tak jauh lebih baik dari Amara. Justru Amara yang banyak berkorban selama ini.
Alby melihat Nada yang berjalan ke arahnya.
"Nada!", panggil Alby pada sekertaris Amara. Nada yang merasa di panggil namanya pun mendekati CEO HS grup yang terkenal jutek itu.
"Pak...Alby!",Nada sedikit gugup di panggil oleh pria tampan yang terkenal dengan kejudesannya itu.
"Nad, aku mau bertemu dengan Amara. Tapi dia menghalangi ku. Amara di dalam kan?",tanya Alby pada Nada.
"Eum...ada pak. Nona Amara ada di ruangannya!", jawab Nada gugup.
"Bilang sama Amara, aku ingin bertemu dengannya. Penting Nad!"
Nada yang sudah di beri tahu tentang Mario oleh Amara pun menatap takut pada bodyguard itu.
"Sa...saya sampaikan ke nona Amara dulu ya, pak Alby!",kata Amara mencoba menghubungi nona nya.
Tapi Mario merebut ponsel Nada. Matanya menatap tajam pada gadis itu. Otomatis nyali Nada menciut.
"Kembalikan ponsel Nada!",kata Amara tiba-tiba ada disana. Semua mata tertuju pada gadis tinggi semampai itu.
Mario pun menyerahkan kembali ponsel Nada. Lalu ia beralih menatap calon istri bosnya.
"Maaf nona, Mr. Frans sudah memperingatkan saya bahwa anda di larang bertemu dengan pak Alby!",kata Mario dengan nada sangar.
Amara mendekati Mario yang tinggi tegap itu. Lalu berdiri di depannya.
Wajah keduanya hampir tak berjarak, sontak Mario memundurkan tubuhnya. Bagaimana bisa calon istri bos nya berpose seperti itu?
Alby dan Nada juga membeliakkan matanya. Menatap tak percaya jika wajah Amara dan Mario hampir saling bersentuhan.
Tanpa Mario sadari, ada seseorang yang memfoto pose itu. Lalu ia memberikan hasil bidikannya pada Amara.
Mario melebarkan matanya.
"Bagaimana jika bos mu tahu, kamu hampir saja menyentuh ku?",Amara mendongakan wajahnya sambil memainkan ponselnya.
"Anda....!"
"Mario! Dengarkan aku!",Amara mendekati Mario yang berjalan mundur.
__ADS_1
"Terserah kamu mau bekerja untuk Frans atau untuk siapa pun itu! Tapi asal kamu tahu, jangan pernah coba-coba menindas ku. Aku sudah muak jadi boneka bos gila mu itu!",Amara mendorong dada Mario dengan telunjuknya.
"Maaf, nona! Saya hanya menjalankan tugas!",kata Mario lagi.
"Katakan pada bos mu, kamu sudah menjalankan tugas mu!",kata Amara berbalik badan. Tapi beberapa langkah, dia kembali menghadap Mario.
"Tidak ada yang berhak membatasi ku ingin bertemu dengan siapa! Termasuk kamu!",kata Amara.
Selang beberapa saat kemudian, beberapa pria berseragam hitam menghampiri Mario.
Mereka bukan anak buah Frans, melainkan orang-orang yang Amara jadikan bodyguard. Kesannya... seperti cerita-cerita di novel sebelah ya? Pake bodyguard segala 🤭🤭🤭
"Kamu tidak perlu menjadi pengawal ku, karena sekarang mereka yang akan menggantikan posisi kamu. Mereka bekerja untuk ku!",kata Amara tegas.
Orang-orang Amara pun membuat Mario terpukul mundur. Mau tak mau ia harus melapor pada bosnya. Orang nya kalah banyak jika di bandingkan dengan anak buah Amara. Mungkin dia akan meminta saran agar bisa memantau tunangan bos nya itu.
Mario dan anak buahnya pun meninggalkan kantor Rhd.co. Sekarang Amara beralih pada Alby yang masih termangu di depannya.
"Ra, aku ingin bicara!",kata Alby padanya. Amara hanya menghela nafas pelan.
"Kita bicara di ruangan ku!",kata Amara. Jika semalam Alby melihat perempuan yang menguasai hatinya seperti orang yang lemah, tidak saat ini. Amara benar-benar berbeda. Dia menunjukan diri nya wanita yang kuat di depan orang-orang. Tapi saat dirinya bersama Alby, dia seperti perempuan pada umumnya. Ingin di lindungi.
Keduanya kini sudah berada di dalam lift menuju ke ruangan Amara.
"Ra!", panggil Alby. Amara mengangkat salah satu tangannya. Meminta Alby untuk diam.
"Ada apa?",tanya Amara pada Alby. Sebenarnya Amara tahu, Dimas sudah menghubunginya tadi. Dia mengatakan bahwa Alby ke kantornya. Dimas menebak,pasti Alby akan menemuinya.
Tebakan Dimas benar kan??? Dan soal bodyguard bayaran, itu pun atas ide Febri. Walaupun Amara bisa menjaga diri, tapi setidaknya sekarang dia sedang membutuhkan perlindungan dari orang-orang yang bisa saja berbuat buruk padanya.
Alby berjongkok di depan Amara. Amara sedikit terkejut tapi pura-pura biasa saja.
"Ra, aku minta maaf!",kata Alby menggenggam tangan Amara. Matanya beralih pada cincin yang Mara pakai.
Amara melepaskan genggaman tangan Alby. Wajahnya melengos ke arah lain. Kesal? Tentu saja kesal! Siapa yang tak kesal dituduh dengan hal yang tidak ia lakukan!
"Aku tahu aku salah Ra, aku minta maaf!",kata Alby lirih sambil menatap Amara dari bawah.
"Bukankah aku murahan? Aku terlalu menjijikan bagi kamu By?", sekarang Amara menatap wajah tampan yang masih berjongkok di hadapannya.
''Jangan bicara seperti itu Ra. Aku ngga ada pikiran seperti itu!", jawab Alby sambil mencoba menarik tangan Amara lagi.
"Lalu apa yang ada di pikiran kamu semalam?",tanya Amara. Alby tak menjawab apa pun.
"Diam kan? Ngga bisa jawab kan?",tanya Amara.
__ADS_1
"Iya, aku akui aku salah Ra. Aku mohon maafin aku! Aku...!"
"Sudah lah By! Percuma minta maaf! Aku sudah terlanjur di cap menjijikkan di mata kamu!"
Amara menepis tangan Alby dari pangkuannya lalu berdiri. Alby pun ikut berdiri.
"Ra, please. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahan ku! Aku percaya sama kamu!"
"Apa aku masih layak buat kamu By? Kamu lihat sendiri seperti apa aku mencium Frans? Kamu ngga jijik sama aku?"
Amara menantang Alby dengan sorot matanya yang tajam. Tanpa aba-aba, Alby meraih tengkuk Amara. Yah... gitu lah, reader tahu apa yang mereka lakukan. Skip aja 😌!
Jika biasanya Amara membalasnya, tidak kali ini. Dia memilih diam!
Kegiatan itu berlangsung cukup lama. Alby terlalu agresif kali ini. Ia hanya memberi jeda beberapa saat, lalu begitu lagi dan lagi. Sampai dia lelah sendiri.
Alby menyatukan keningnya dengan kening Amara. Amara hanya memejamkan matanya. Gadis itu tidak bisa berpikir apa pun.
Keberaniannya melawan Mario tadi, seolah luntur jika di hadapkan dengan sosok tampan yang ia puja selama ini. Dia selalu luluh dengan pesona duda yang satu ini.
Alby mengusap bibir gadis cantik itu dengan jemarinya.
"Tidak ada istilah jijik Amara, tidak ada! Kalo kamu merasa hal itu melekat padamu, aku yang akan menghapus noda itu!",bisik Alby pelan tepat di depan bibir Amara.
Mata Amara terbuka. Ia melihat kejujuran lelaki tampan itu. Alby menakupkan kedua tangannya di pipi Amara.
"Menikahlah dengan ku Amara, aku ingin selalu melindungi mu dari Frans atau dari siapapun. Aku ingin memiliki mu seutuhnya!",kata Alby dengan sungguh-sungguh. Amara mengerjapkan matanya.
"Please! Menikah lah dengan ku!",ulang Alby.
Mata Amara berkaca-kaca. Ia tak percaya kali ini Alby sungguh-sungguh menyatakan keinginannya itu.
"Tapi... Frans...?",Amara menggantung kalimatnya.
"Kita akan hadapi Frans sama-sama!",kata Alby dengan penuh keyakinan. Tak terasa air mata Amara meleleh membasahi pipinya.
Alby menghapus bulir bening yang menghiasi wajah sang pujaan hatinya.
Keduanya saling berpelukan. Mencurahkan segala rasa yang ada di hati mereka. Antara bahagia, cemas, takut dan segala rasa yang melebur jadi satu.
Tidak tahu saja mereka, di depan sana Mak othor sudah menyiapkan kejutan untuk keduanya 😁😁😁
*****
Makasih....✌️✌️✌️
__ADS_1
Kejutan apa kira2 ya???? 🤔🤔🤔🤔🤔
To be continue deh hehehe 🤭