Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 64


__ADS_3

Amara


Aku tergesa-gesa menuju ke loby. Sebelumnya aku akan meminta satpam untuk menyiapkan mobil. Tapi belum juga ponsel ku terhubung, Frans sudah lebih dulu mengambil ponsel ku.


"Frans!"


"Aku yang akan mengantar mu!",kata Frans meraih bahuku. Aku melepaskan nya sedikit kasar.


"Aku bisa sendiri!"


"Terserah, kebetulan aku juga akan ke rumah sakit. Mungkin kamu lupa aku juga dokter. Dan ya... mungkin kondisi papi mu akan pulih setelah ku berikan penawarannya!", bisik Frans.


Mataku membola.


"Kamu meracuni papi ku???"


Frans tersenyum.


"Menurut mu? Tapi...aku tak gegabah Mara."


Dia kembali merangkul bahuku. Kali ini aku membiarkannya. Dia mengiringi ku sampai ke lobby.


Kenapa aku mendadak takut sendiri. Bagaimana kalo ternyata Frans itu seperti mafia yang sering ku baca di novel-novel begitu???


Dia membukakan pintu mobil untuk ku. Kami duduk berdampingan. Pikiran ku sudah menerawang jauh ke mana-mana. Aku berharap papi tidak apa-apa.


"Kamu jangan cemas sayang, selama kamu menuruti ku, papi akan baik-baik saja!", Frans mengusap kepala ku.


Aku menepisnya. Kenapa sejak jadi warga sipil aku jadi selemah ini!!!!


"Mau kamu apa sih Frans!?"


"Aku mau kamu Amara. Belum jelas? Aku sudah sejauh ini, kamu belom paham juga?",tanyanya sambil tersenyum.


"Kenapa kamu bisa sejahat itu Frans! Kamu dokter! Kamu selalu berhubungan dengan kemanusiaan, tapi kenapa kamu tega sama papi ku?!Aku seperti tidak pernah mengenal mu!"


"Sayang, dengar kan aku. Aku sudah bilang, apa pun akan aku lakukan asal kita bisa kembali bersama. Kita akan menikah, meski harus dengan keyakinan mu. Aku mau sayang! Bukan masalah untuk ku!"


"Frans!"


"Jangan berteriak di sini sayangku!", dia mencolek daguku.


"Nanti saat kita sudah menikah dan ya kita lakukan olahraga ranjang. Berteriak lah sesukamu!"


Aku meremas tanganku. Ingin ku layangkan bogeman ku ke pipinya. Tapi aku takut membahayakan nyawa orang lain jika sampe Frans tak bisa mengendalikan kendaraannya.

__ADS_1


Mobil Frans sudah masuk ke pelataran rumah sakit. Aku bergegas menuju ke IGD. Di sana sudah ada mami, kak Daniel dan juga kak Nathan bersama istrinya.


"Mi...kak!",aku menghampiri mereka. Frans memasang wajah prihatinnya.


"Papi kenapa Mi?",tanyaku khawatir.


"Mami ngga tahu, papi di temukan pingsan di teras belakang Ra!",kata mami tergugu. Mba Mayang memeluk mami untuk menguatkannya.


Aku langsung menoleh pada Frans. Dia bersikap seolah tidak melakukan apa-apa.


"Sabar Mami!",kata Frans. Mami hanya mengangguk pelan. Ingin sekali aku menghajar pria itu. Tapi aku tak punya bukti untuk menyudutkannya.


"Terimakasih sudah mengantar Amara, Frans!",kata Mami. Frans tersenyum tipis.


Tak lama kemudian, pintu ruang UGD terbuka. Keluar seorang dokter muda yang sepertinya tak asing bagiku.


"Dokter Sakti?",sapaku. Ya, aku pernah beberapa kali melihat putra sulung jenderal Galang, atasan ku selama di instansi pemerintah.


"Eum...anda...Lettu..."


"Amara, dok?!", sahut ku. Dia mengangguk pelan.


"Bagaimana kondisi papi saya dok?",tanyaku.


"Beliau terkena serangan jantung Lettu Amara."


Dokter Sakti hanya mengangguk pelan lalu beralih ke mami dan juga kakak-kakak ku serta Frans yang ada di samping ku.


"Dok, sebenarnya apa yang terjadi dengan papi? Apa penyebabnya? Bukan keracunan kan?", cerca ku.


"Dek!",kak Daniel menegur ku.


"Atas dasar apa kamu berpikir jika papi keracunan dek?",tanya kak Nathan.


"Sudah-sudah, dengar kan penjelasan dokter Sakti lebih dulu!", kata mami melerai anak-anaknya.


Sakti pun menjelaskan kondisi Rahadi sampai beliau bisa seperti itu. Tidak ada racun seperti yang aku kira karena ulah Frans. Frans sendiri tersenyum penuh arti padaku.


Kami semua merasa tenang setelah mendengarkan penjelasan dokter Sakti.


"Maaf dokter sakti, hari ini saya juga mulai bekerja di rumah sakit ini."


Frans mengulurkan tangannya pada sakti.


"Oh, anda juga bekerja di sini? Maaf saya tidak tahu!", kata Sakti ramah.

__ADS_1


"Pasien bisa dijenguk setelah beliau pindah ke kamar rawat ya!",ucap dokter sakti.


Kami semua pun mengiyakannya. Frans pamit pada mami dan kakak-kakak ku. Dia menepi bersama dokter sakti.


"Sebentar Lettu Amara!",panggil Sakti padaku.


"Em, maaf maksudnya Amara!", ulang sakti. Dia tersenyum kaku.


"Iya dok, kenapa?"


"Eh... ngga jadi deh. Maaf!", katanya urung melanjutkan pertanyaannya.


"Saya tahu kalo Dimas dekat dengan adik dokter Sakti, apa mereka sudah akan menikah?",tanyaku.


"Oh, ya? Eum...bulan depan, insyaallah!",jawab Sakti.


Aku mengangguk pelan. Sakti menoleh pada dokter Frans yang dari tadi mendengar obrolan kami.


"Dok, saya mulai jadwal siang. Bisa kita mengobrol dulu?",tanya Frans pada Sakti.


"Eum, boleh!", sahut Sakti.


"Sayang, aku pergi dulu dengan dokter Sakti ya!",pamit Frans padaku. Sakti hanya memperhatikan ku.


Frans menyempatkan mengecup puncak kepalaku. Sambil berbisik.


"Dokter mana pun akan mengatakan hal yang sama seperti yang Sakti katakan sayang. Tapi...selama kamu belum mau kembali padaku, aku pastikan perlahan papi mu akan...."


Dia tak melanjutkan ucapannya dan langsung menjauh dari telinga ku. Sakti menatap ku dengan pandangan yang aneh menurut ku.


"Kamu mau di sini atau kembali ke kantor?",tanya Frans setelah wajahnya menjauh dariku.


"Aku nemenin Papi!", sahutku cepat.


''Baiklah, aku ingin mengenal rumah sakit ini dulu. Kebetulan kamu sudah mengenal dokter sakti lebih dulu. Jadi, aku tak perlu mencari teman baru. Bukan begitu dokter Sakti?",tanya Frans.


Sakti mengangguk pelan sambil tersenyum.


"Saya permisi, Amara?", kata Sakti. Aku mengangguk dan mengiyakannya. Frans dan Sakti berjalan beriringan menjauh dari tempat ku berdiri.


Sebenarnya apa yang Frans berikan pada papi? kenapa dokter sakti tak bisa mendiagnosis lebih detil???


Aku sudah terlanjur pusing dengan ancaman Frans, harapan ku adalah papi akan baik-baik saja dan Frans tidak melakukan hal buruk pada papi atau orang-orang yang dekat dengan ku.


Ku lihat mami dan kakak-kakak ku berjalan mengikuti brankar yang membawa Papi menuju ke kamar rawatnya. Aku pun menyusul mereka di belakangnya.

__ADS_1


******


😌😌😌 maaf jika tak seperti yang kalian minta ✌️🙏


__ADS_2