
Alby
Aku menyusul Bia masuk ke dalam lift. Hanya ada kami berdua di dalam kotak besi itu. Bia seperti tak menganggap keberadaan ku.
Perempuan yang masih sangat ku cintai itu sudah menekan tombol lantai dasar. Kalo boleh aku berharap, lift nya mati mendadak. Dan aku terkurung bersamanya di lift ini.
Fyuh... sayangnya tidak mungkin. Bia seolah tak menganggap ku ada di kotak besi yang sama. Kami berdua seperti orang asing.
Aku menarik tubuh nya yang sekarang terlihat lebih berisi. Entah karena dia sedang hamil atau mungkin dia memang bahagia hidup bersama Febri saat ini.
"Aa!", bentaknya. Tapi aku mengunci pergerakan tangannya. Ku letakkan kedua tangannya di atas kepalanya.
"Apa-apaan ini? Lepas!", bentaknya.
"Ngga! Aa kangen sama neng!", kataku di depan wajahnya.
"Ngga usah gila! Aku sudah bukan istri mu lagi A. Kamu tahu itu!"
"Ya, tapi Aa ngga peduli neng! Aa masih cinta sama Neng!", kataku tak kalah berteriak. Dan sebelum Bia protes dengan segala ocehannya, aku membungkam bibirnya yang amat sangat ku rindukan. Sudah lama sekali aku tak merasakan bibir mungilnya itu.
Ting!!!!
Tiba-tiba lift terbuka, ternyata tadi hanya khayalan ku semata.
"Aku duluan A!", pamit Bia padaku.
"I...iya...!", jawabku tergagap.
Ah, gila! Ini gila sekali! Bagaimana bisa aku membayangkan yang tidak-tidak bersama Bia yang sudah menjadi milik orang lain!
Ini gila! Ini ga boleh terjadi. Aku pun ikut ke luar untuk memastikan bahwa Febri sudah menjemputnya. Dan ya... pemandangan itu terjadi di depan mataku. Bia menyalami punggung tangan Febri dengan takzim. Febri pun mengecup mesra kening Bia. Bahkan tangan Febri tak segan-segan mengusap perut Bia. Hal yang seharusnya aku lakukan saat itu!
__ADS_1
Setelah itu, mereka meninggalkan loby kantor ku. Aku hanya mampu menghela nafas ku.
"Sakit tapi tidak berdarah!", bisik Azmi tiba-tiba. Aku menatap tajam padanya. Dia hanya mengedikan bahunya.
"Masih jam setengah empat pak Alby! Pekerjaan sudah menunggu di meja anda!",kata Azmi mengatakan semua itu padaku.
"Sebenarnya yang bos nya itu aku apa kamu?",tanyaku. Karena saat ini kami berada di ruang terbuka. Tentu saja banyak pasang mata yang menatap kami. Ga ada istilah Lo Gue jika kami tak hanya berdua.
Azmi tersenyum simpul.
"Silahkan pak!", Azmi mempersilahkan ku untuk berjalan lebih dulu menuju ke lift.
"Pak Alby!", panggil seseorang. Aku pun menoleh.
"Iya?", tanyaku.
Dia mengulurkan tangannya padaku. Tapi aku mendiamkannya. Seperti pernah lihat, tapi siapa aku lupa. Perlahan dia menurunkan tangan nya dari hadapanku.
"Pak Alby lupa sama aku?", tanya gadis muda itu.
"Tidak."
Gadis itu menyunggingkan senyumnya dengan lebar.
"Saya bahkan tidak kenal kamu!" , kataku. Azmi mencoba menahan tawanya. Dan gadis itu malah cemberut.
"Maaf, saya sibuk. Kalau tidak ada kepentingan mendesak, saya akan melanjutkan pekerjaan saya."
"Aku Bianca pak Alby, adiknya mas Bram. Kita pernah bertemu di ruangan mas Bram waktu pak Alby numpang sholat di ruangannya waktu itu."
Aku mengingat-ingat sebentar. Dan, ya aku mengingat gadis yang saat itu marah-marah tak di jemput oleh Bram.
__ADS_1
"Sudah ingat?", tanya nya.
Oh, jadi dia adiknya si ibu hamil yang pengen di elus sama Alby dong? Batin Azmi.
"Lalu?", tanyaku. Bianca masih memanyunkan bibirnya.
"Pak...aku mau magang di sini, ada lowongan kan?", tanyanya dengan wajah berbinar. Aku menoleh pada Azmi. Azmi tak merespon apa pun, sialan emang tuh asisten.
"Saya tidak tahu. Coba saja kamu tanya di bagian resepsionis biar dia tanya ke pihak HRD apa ada lowongan buat anak magang!"
"Kenapa ngga pak Alby saja yang memutuskannya? Kan pak Alby yang mimpin perusahaan ini!", kata Bianca kekeh.
Wah, calon...ini mah...calon! Batin Azmi lagi tapi wajahnya tak kalah datar dari sang bos.
"Itu bukan kewajiban saya. Silahkan kamu tanya ke sana!", kataku. Aku dan Azmi meninggalkan gadis itu.
Setelah berada di dalam lift, Azmi tertawa lepas.
"Kenapa?"
"Kayanya ngebet banget pengen deketin kamu pak bos!"
"Isshhh...gue pecat Lo!", kataku. Tapi dia masih saja tertawa meski aku mengancam seperti itu. Ya iyalah...ya kali aku memecatanya begitu saja.
Kami berdua sudah mulai akrab. Dan hawa positif yang Azmi berikan cukup berimbas padaku. Jika dulu datang ke kantor aku langsung sibuk bekerja, sejak ada Azmi aku justru malah di 'wajib' kan sholat Dhuha lebih dulu.
Makanya, yang bosnya tuh dia apa aku????
*****
Semoga visual/cover nya di ACC kak Mimin ya 🥺🥺🥺🥺🥺
__ADS_1