Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 43


__ADS_3

Alby


"Selamat ya Feb, neng!",kataku. Bia menunduk dan mengangguk tipis.


"Terimakasih ya By, Mak!", kata Febri.


Aku melihat ada pancaran kebahagiaan di wajah Febri dan Bia. Wajar jika aku iri bukan?


Pemandangan itu pernah jadi mimpi ku dan Bia. Punya dua anak kembar, merawat bersama-sama dan selalu bahagia. Itu mimpi ku dan Bia saat awal menikah dulu.


Tapi harapan itu pupus karena ulah ku sendiri. Aku menghancurkan mimpi ku sendiri. Dan sekarang, impian Bia sudah terwujud meski tak lagi bersama ku. Bahkan, Bia terlihat semakin bahagia sekali sejak bersama Febri. Febri benar-benar mengurus Bia dengan baik.


Aku tak bisa banyak bicara apa pun saat Mak mengobrol akrab dengan Bia. Bagaimana pun mereka pernah sangat dekat melebihi ibu dan anak kandung. Sayangnya saat ini keadaan sudah berubah. Keakraban itu sudah luntur seiring berjalannya waktu.


Andai...andai aku tak menyakiti Bia, mungkin aku sedang berbahagia seperti mereka. Nabil duduk di pangkuan Mak. Tangan nya terulur mengusap kaki anak Bia yang di tutup selimut.


"Nama Dede siapa ate?",tanya Nabil pada Bia.


"Yang ini Fesha, yang di gendong nenek Sri Dede Ribi",jelas Bia. Nabil hanya mengangguk. Entahlah, mungkin dia benar-benar paham atau hanya sekedar mengangguk.


Mataku teralihkan pada sosok di sebelah Bia yang dari tadi memilih diam, siapa lagi jika bukan Amara.


"Saya bawa Ribi ke kamar ya!", kata Bu Sri, ibunya Febri. Kami pun mempersilahkan. Selang beberapa menit, Amara minta ijin ke belakang. Dia benar-benar menghindari ku??


.


.


Amara


Aku melihat seperti apa cara Alby menatap Bia. Masih ada cinta yang begitu besar untuk seorang Bia. Lalu apa kabar perasaan ku?


Alby yang sekarang sedikit berbeda. Apa dia mulai mengejar ku? Aku tak ingin besar kepala atau terlalu percaya diri. Menyakitkan kalau nantinya apa yang ku harapkan dan ku pikirkan tak seusai ekspektasi.


Setelah keluar dari kamar mandi, aku memilih bergabung dengan Tante nya Bia dan juga ibu mertuanya.


"Sini nak!", kata Tante nya Bia.


"Iya tante!", kata ku sambil mendudukkan diri di kursi.


"Panggil saja Lek Dar. Saya orang kampung nak, malu di panggil Tante heheh!", kata Lek Dar.


"Hehehe iya, Lek Dar!", kataku.


"Nak Amara tahu kan siapa saya?",tanya bu Sri. Aku mengangguk dan tersenyum.


"Iya Bu!",jawabku.


"Jadi, nak Amara sudah mualaf?",tanya Bu Sri padaku. Lagi-lagi aku hanya mengangguk dan tersenyum.


"Tapi, nak Amara sudah ngga ada perasaan apa-apa sama anak saya kan?",tanya Bu Sri tiba-tiba.


Lek Dar mengernyitkan alisnya. Sedang aku sendiri, cukup terkejut dengan sikap bar-bar mertua Bia ini. Ya, meskipun aku sering mendengar beliau memang seperti itu. Tapi yang ku lihat, dia sayang pada Bia.


"Bu Sri!",lek Dar menggelengkan kepala sedikit. Mungkin sedang memberikan kode padanya.

__ADS_1


"Em, ngga Bu. Saya sudah menganggap mas Febri dan Bia sahabat saya kok."


"Oh, bagus lah kalo begitu. Gimana ya? Soalnya sebagai sesama perempuan, wajar lah ya kalo cemas. Apalagi nak Amara sudah cukup lama menaruh hati sama anak saya. Ya, bukan mau su'uzon, tapi ya namanya hati siapa tahu kan ya? Pelakor sekarang lebih canggih lho! Justru kebanyakan pelakor itu orang terdekat. Maaf ya Nak Amara, kalo saya terlalu jujur."


Aku meneguk ludah ku sendiri. Alhamdulillah, dia tidak jadi mertuaku. Semoga, sikapnya baik sama kamu ya Bia! Batin ku bermonolog.


Lek Dar memijat pelipisnya. Mungkin malu dengan apa yang besannya katakan. Aku berusaha tetap tersenyum.


"Ngga Bu, saya memang benar-benar hanya ingin bersahabat dengan Mas Febri dan Bia!", aku kembali menegaskannya.


"Alhamdulillah kalo begitu, tapi...kalo boleh tahu, kenapa nak Amara harus mengundurkan diri? Bukankah pangkat nak Amara sudah lumayan?",tanya Bu Sri lagi.


"Eum, itu Bu. Papi saya sudah ingin pensiun dari dunia bisnis. Dan saya harapan papi untuk meneruskan bisnis keluarga kami."


"Oh, begitu. Sayang sekali ya Nak Amara!",kata Bu Sri lagi. Aku hanya tersenyum.


Kenapa aku merasa sedang di interogasi begini sih??


Aku mendengar keluarga Alby berpamitan. Bu Sri dan lek Dar keluar untuk menemui Alby.


"Bu, lek saya ke kamar mandi dulu!",kataku. Tentu saja dua perempuan itu mengijinkannya.


Setelah memastikan Alby dan keluarganya pulang, aku baru keluar.


"Maaf , Bi. Tadi perut ku ngga enak!",kataku pada Bia. Tapi sepertinya Bia ingin mengatakan sesuatu padaku.


Dia membawa ku duduk di sofa, hanya berdua.


"Kamu sedang bertengkar sama Alby?", tanyanya. Aku menggeleng.


"Ngga Bi, aku baru ketemu dia lagi sejak kita bertemu di kantor mas Febri", jawabku bohong. Bia mengangguk, mungkin percaya pada ucapanku.


"Insyaallah Bi. Kamu juga kan, salah satu pemegang saham di Perusahaan Alby?"


"Iya, tapi aku kan memang ngga kerja disana. Itu juga aku di kasih cuma-cuma kok dari almarhum Om Tama."


"Kamu, cukup mengenal om Tama?", tanyaku padanya.


Dia pun menceritakan tentang kenapa om Tama memberikan hak nya di perusahaan tersebut. Aku sudah mulai paham sekarang.


"Udah malam Bi, kamu harus banyak istirahat. Aku pulang ya?",pamitku.


Setelah berpamitan pada para penghuni rumah itu, aku pun keluar dari sana. Kebetulan aku memarkirkan mobilku di jalan depan.


Saat akan membuka pintu mobil tiba-tiba seseorang menarikku dan membawa ku ke pintu samping.


"Alby???",tanyaku. Dia langsung mendorong ku duduk di bangku penumpang. Dia sendiri masuk kedalam mobil, lalu duduk di balik kemudi.


"Apa-apaan ini By?",tanyaku. Dia tak menjawab, justru melajukan mobil menjauh dari komplek perumahan Febri.


"Alby!", bentakku.


"Aku mau kita bicara!"


"Berhenti!"

__ADS_1


"Tidak, sebelum kita selesaikan urusan kita!", jawab Alby dengan kekeh.


"Kita tak punya urusan apa pun! Turun kan aku! Kalo kamu mau bawa mobil ku, silahkan! Aku bisa naik taksi."


"Kamu bilang apa? Tidak ada urusan kata mu?"


"Ya!", sahutku singkat. Alby melajukan kendaraan menuju ke arah yang berbeda. Tidak ke arah rumah ku atau rumah nya.


"Kita mau ke mana, By!? Aku bilang turunkan aku!"


"Aku mau kita selesaikan masalah kita."


"Stop memutar dan mengulang kata yang sama! Tidak ada lagi yang perlu di bahas di antara kita. Kita tidak punya hubungan apa pun dan tidak ada urusan apa pun. Kita tidak sedekat itu!"


"Setelah apa yang terjadi tadi siang, kamu bilang kita tidak ada apa-apa?", tanyanya sambil menoleh padaku.


"Aku bilang lupakan hal itu! Anggap tidak pernah terjadi!"


"Semudah itu?",tanya nya lagi.


"Iya. Lupakan!",kataku lagi.


"Setelah apa yang ku lakukan sama kamu, kamu masih bisa bilang lupakan?",tanya Alby dengan suara yang meninggi.


"Ya, lupakan Alby?! Lupakan! Itu semua di luar kendali kamu!"


"Benar. Itu di luar kendali ku!", dia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Jalanan sudah mulai sepi dan wajar saja jika Alby membawa mobil nya dengan cepat. Dan ternyata apa? Dia membawa ku ke apartemen lagi.


"Untuk apa kita ke apartemen ku By?"


"Untuk menyelesaikan apa yang harus kita selesaikan."


"Oke! Kalo kita memang harus bicara, kenapa tidak di sini saja! Untuk apa harus ke apartemen lagi?"


Alby tak menjawabnya, tapi ternyata mobil kami sudah ada di area gedung.


Alby mendahului ku masuk ke unitku. Kenapa seolah jadi dia yang punya sih???


Aku mengalah untuk masuk ke dalam ruangan ku sendiri. Ini sudah hampir tengah malam. Bukankah ini tidak baik bagi dua orang dewasa di dalam ruangan tertutup seperti ini? Terlebih tidak ada ikatan apapun di antara kita! Walau tetangga tak peduli, setidaknya aku masih ingat Tuhan yang mengawasi ku!


"Apa?", kataku mendudukkan diri di sofa yang bersebrangan dengan Alby.


"Aku akan bertanggung jawab atas semua yang ku lakukan padamu tadi, di sini!"


Aku ternganga tak percaya, apa katanya bertanggung jawab????


Aku tertawa sumbang, ku lihat jam tangan ku yang sudah menunjukkan hampir tengah malam.


"Pulang lah! Kalo mau bawa mobil ku, silahkan! Besok orang ku bisa ambil di kantor mu!"


Aku berdiri dari sofa, lalu bersiap melangkah menuju ke kamar ku. Tapi belum juga sampai ke pintu kamar, Alby menarik tanganku. Membuat ku terhuyung dan bertubrukan dengan dadanya. Matanya memancarkan kemarahan yang tak pernah aku lihat.


"Aku mau bertanggung jawab atas apa yang ku lakukan padamu Amara!", kata Alby dengan mata yang masih menatap ku tajam.


****

__ADS_1


Segini dulu yak ✌️✌️✌️🙏🙏🙏 kalo ada yang minta up, lanjut up hari ini juga. Kalo ga ya, besok lagi hehehhe


Makasih 🙏🙏🙏🙏🤗


__ADS_2