Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 163


__ADS_3

Sidang ke dua kasus Frans berjalan diluar dugaan. Jika sidang pertama, Frans terkesan bungkam dan seperti orang yang depresi berbeda dengan kali ini. Frans kooperatif menjawab semua pertanyaan dari hakim.


Jika dulu banyak yang menghujat betapa jahatnya seorang Frans, kini sebagian memaklumi meskipun tak bisa memaafkan perbuatan Frans. Karena yang di bahas di kasus ini adalah kasus antara Frans dan Amara, bukan kasus pembunuhan adik dan istrinya.


Persidangan di hentikan saat istirahat makan siang, di lanjutkan lagi satu jam mendatang. Amara meminta pengacara nya untuk beristirahat. Dia sendiri pun memilih untuk menuju ke masjid yang ada di dalam gedung pengadilan tersebut.


Tanpa sengaja ia melihat seorang bule cantik dengan seorang anak laki-laki saat ia selesai sholat dhuhur. Posisi Amara memunggungi kedua orang asing itu. Tanpa sengaja, Amara mendengar percakapan keduanya.


"Mom, Daddy akan kembali ke Inggris bersama kita?"


"Iya."


"Apa Daddy akan di hukum juga di negara kita?"


"Tentu sayang. Semua orang akan bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan."


"Bagaimana jika aku tidak bisa lagi bertemu dengannya?"


Perempuan bule itu mengusap kepala anak lelaki itu.


"Daddy akan baik-baik saja, dan kita akan bertemu Daddy di sana. Ayo kita makan!", ajak perempuan itu. Lalu mereka berdua pun pergi. Amara yang tak sengaja menguping pembicaraan mereka pun bisa menebak siapa yang sedang mereka bahas.


Jadi karena mereka,Frans bersikap kooperatif? Kebohongan apa lagi yang Frans katakan padaku?? Ah, sudah lah! Sudah tak penting lagi bagiku sekarang. Mau dia jujur, mau di bohongi aku seperti apapun. Yang jelas, kami sudah tak ada hubungan apa pun lagi. Kehidupan kami akan tetap berlanjut seperti sebelum kami saling mengenal. Monolog Amara dalam hatinya.


Meskipun dalam sudut hatinya ia merasa sangat kecewa. Mantan kekasih ternyata....


Amara menggeleng cepat, lalu ia menghubungi pengacaranya karena sebentar lagi sidang akan di mulia kembali.


Di dalam ruang sidang, semua mata tertuju pada sosok Frans yang dengan santai nya mengatakan jika dia tak ada niat sedikit pun untuk menyakiti Amara. Tapi tetap saja, pasal ancaman dan percobaan pembunuhan pada papinya menjadi hal yang serius di perhatikan.


Penemuan ilmiahnya tak di gunakan sebagai mana mestinya. Sidang akan di lanjutkan dua Minggu lagi, itu artinya dalam waktu dekat dengan rencana pernikahan Amara dan Alby.


Satu per satu peserta sidang pun keluar dari ruangan itu. Frans menyempatkan melihat Amara.


Amara tahu, Frans memang benar-benar mencintainya. Hanya saja cara nya yang sudah terlanjur salah membuat ia hilang respek.

__ADS_1


Amara pun memandangi wajah sosok lelaki yang pernah mengisi hatinya. Persidangan sudah berlangsung dua kali, Amara yang memang tidak tegaan dan gampang iba sebenarnya pun tidak bisa mencabut laporannya karena prosesnya memang sudah berjalan. Biarlah hukum yang berlaku yang akan menentukan nasib Frans. Berapa lama hukuman yang akan dia terima di negara ini. Selanjutnya, dia akan melanjutkan kasus pembunuhan adik dan istrinya dinegara mereka.


"Perlu saya antar nona?",tanya pengacara Mara.


"Ngga usah pak, terimakasih! Anda langsung istirahat saja. Terimakasih untuk dampingan anda hari ini!"


"Sama-sama nona, sudah kewajiban saya. Kalo begitu, saya duluan nona. Permisi, selamat sore!"


"Selamat sore pak!", jawab Amara. Pengacaranya pun meninggalkan Amara yang masih ada di halaman parkir gedung pengadilan.


Ia meraih ponselnya, ingin mencari taksi online. Tapi ternyata ada chat dari kekasihnya.


Amara pun membalasnya dengan tak enak. Karena Alby mengirim pesan sejak siang. Sedang sekarang sudah jam tiga sore. Berati sudah hampir empat jam ia mengabaikan pesan Alby.


Amara mencoba menghubungi Alby, tapi sepertinya ia sedang sibuk hingga tak menjawab panggilannya. Akhirnya Amara akan mencari taksi online di aplikasi. Sayangnya belum sempat ia memesan, ada orang-orang berpakaian seragam hitam menghampirinya.


"Mari kami antar Nona!", kata lelaki itu. Amara pun mendongakan kepalanya. Ia kenal dengan wajah mereka.


"Kami akan mengantarkan nona!", ulangnya. Dan Amara ingat, mereka anak buah Billy yang selama ini mengawalnya.


"Ah, iya. Terimakasih!", kata Amara kikuk. Tangan lelaki itu pun mempersilahkan Amara untuk berjalan lebih dulu menuju mobil mereka.


"Maaf nona, saya antar anda ke mana?", tanyanya di balik kemudi.


"Eum, ke apartemen saja. Saya mau istirahat."


"Baik Nona."


Mobil pun melaju ke arah apartemen Amara. Di depan dan belakang mobil yang Amara tumpangi pun ada mobil lain.


Amara bahkan sampai lupa kalau dia masih menyewa jasa bodyguard.


Satu jam berlalu, Amara sudah berada di dalam apartemennya. Gadis cantik itu pun melemparkan dirinya di atas tempat tidur, lalu terlelap karena lelah.


Anak buah Billy melaporkan pada bosnya, baru lah setelah itu Billy melapor pada Azmi.

__ADS_1


Azmi pun akan menyampaikan pada Alby, tapi saat ia memasuki ruangan Alby, bos nya tampak begitu sibuk.


Mereka berharap segera menyelesaikan pekerjaan mereka agar di akhir pekan nanti tak ada pekerjaan yang terbengkalai. Apalagi bos nya berencana untuk melamar pujaan hatinya secara resmi.


Melihat bosnya sibuk, Azmi pun memilih untuk melanjutkan pekerjaannya. Jam kerja berakhir saat Alby dan Azmi memutuskan untuk sholat ashar sekalian pulang.


"Ngga lembur kan bos?", tanya Azmi.


"Lo mau buru-buru jenguk Nur?", ledek Alby. Azmi mengendus kesal. Pemandangan seperti itu sontak lagi-lagi menjadi perhatian penghuni gedung HS grup. Dua tampan itu seperti kembar tapi lahir dari orang berbeda. Sekilas mereka mirip tidak hanya dari segi wajah tapi juga kejutekan mereka. Hanya saja, Azmi sedikit lebih ramah di banding bos nya. Tapi mereka punya nilai plus meski dikenal dingin. Pesona mereka yang katanya 'rajin ibadah' membuat banyak yang menilai jika mereka memang tidak mudah di dekati.


Tak tahu saja, kelakuan absurb mereka pun kadang menggelikan. Mereka berdua tak seperti bayangan orang-orang selama ini.


"Gue juga mau ke apartemen Amara, kalo Lo mau jenguk nur ya sono. Kali aja ustadzah Salsa restuin Lo sama Nur!", ledek Alby lagi.


"Astaghfirullah nih anaknya Abah Gun, kalo ngomong mah sok kaya buang sampah, sembarangan!!!", kata Azmi kesal.


"Lho...lho ...Naha ngambek kitu???"


"Teuing ah!", sahut Azmi mendahului bosnya.


"Diiih... pundung maneh Mi! Azmi!", panggil Alby mengejar Azmi.


Kelakuan bapak-bapak beranak satu itu pun dipandang aneh. Ya aneh aja!


"Heum, saya pulang dulu bos!", kata Azmi pamit.


"Bareng aja kenapa? Lagi males nyetir!"


"Bilang aja biar besok pagi di jemput kan?!", sahut Azmi.


''Emang kenapa? Biasanya gitu kan? Ayolah ...atau...kamu mau begadang jagain Nur lagi?", tanya Alby.


"Tahu ah, bahas begitu Mulu!", Azmi pun masuk kedalam mobilnya di ikuti oleh Alby. Azmi mengantarkan Alby ke apartemen Amara.


"Pulang nya gimana? Kan ngga bawa mobil? Jangan bilang mau nginep!"

__ADS_1


"Astaghfirullah Mi, ya ngga lah. Kan bisa bawa mobil Amara atau naik taksi lah."


"Oh, ya nggeus atuh!", kata Azmi. Alby pun masuk ke dalam gedung Apartemen Amara.


__ADS_2