Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 207


__ADS_3

"Dokter Stanley!", panggil Sakti.


"Ya Dokter Sakti, kenapa?", tanya Dokter Stanley.


"Keluarga pasien sudah menyetujui untuk pengangkatan rahim?", tanya Sakti. Dokter Stanley mengangguk.


"Iya dok!"


"Tunggu dok. Bisa kita coba usahakan dulu dengan pengobatan lain tanpa harus mengangkat rahim pasien?", tanya Sakti.


"Maaf dok, tapi jaringan sel di rahim pasien rusak. Sangat riskan jika di biarkan saja bisa menjalar ke organ lain!", kata Stanley.


"Maaf dok, pasien sahabat saya. Dulu, papi dari pasien juga pernah mengalami hal serupa. Bahkan di nyatakan koma dan lumpuh dok. Tapi, profesor Surya memberi penawar. Bisa kita coba dulu tidak dok? Please...saya mohon!", kata Sakti.


"Maaf dokter Sakti, tapi ini menyangkut nyawa pasien. Jangan menyalahkan kode etik kedokteran hanya karena pasien sahabat anda!", kata Dokter Stanley kesal. Bukan karena apa, Sakit bukan dokter spesialis sepertinya dirinya. Sakti spesialis jantung!


"Maaf dok! Maafkan saya. Saya tidak bermaksud untuk mengajari anda. Tapi...ini menyangkut masa depan sahabat saya dok! Maafkan saya!"


Stanley terdiam. Dia menimbang-nimbang ucapan Sakti.


"Baiklah, kita coba! Tapi jika resiko ini berimbas pada keselamatan nyawa pasien, anda harus bertanggung jawab dokter Sakti!", kata Stanley.


Sakti mengangguk cepat.


"Iya dok! Saya siap mempertaruhkan profesi saya! Demi sahabat saya!", kata Sakti penuh keyakinan.


Kedua dokter itu pun saling bekerja sama. Tak lupa Sakti menghubungi Profesor Surya yang dulu pernah menangani penemuan Frans sebelumnya.


.


.


"Sus, saya sudah membaik. Boleh pindah kamar di satu ruangan dengan suami saya?", tanya Bia.


"Baik Bu, kami akan segera menyiapkannya!", jawab perawat tersebut.


Sekitar setengah jam, Bia sudah berada di ruang yang sama dengan Febri.


Kondisi Febri jauh lebih baik di banding tadi saat baru sadarkan diri. Lelaki itu sudah tak lagi memakai selang oksigen. Luka di wajahnya cukup parah.


"Mas!", Bia mengusap lengan Febri yang tidak di infus.


"Anak-anak mana?", tanya Febri lirih.


"Sama lek Dar sama ibu!", jawab Bia. Febri mengangguk.


"Dimas Seto?", tanya Febri lagi.


"Ada di ruangan sebelah mas. Mereka sudah membaik. Naya juga sudah melahirkan bayi mereka. Mungkin karena shock saat kalian kecelakaan. Makanya... proses kelahirannya lebih cepat di banding prediksi."

__ADS_1


Febri mengangguk pelan.


"Aku sudah bangun, kenapa masih sedih?", tanya Febri. Bia meraih punggung tangan Febri lalu mengecupnya.


"Amara, mas!"


"Kenapa dengan Amara?", tanya lelaki gagah itu. Bia tak tahan untuk tidak menitikkan air matanya.


Ia pun menceritakan kondisi Amara yang sekarang tidak tahu kelanjutannya seperti apa. Belum ada informasi yang ia dapatkan lagi.


"Alby merasa jika dirinya mendapatkan karma karena perbuatannya pada ku dulu mas!Dia meminta maaf padaku berulang-ulang. Dia kira aku menaruh dendam padanya. Padahal... tidak sama sekali. Aku sudah memaafkannya. Memang, aku sering mengatakan sudah memaafkan tidak untuk melupakan rasa sakit hati itu mas!", kata Bia sambil terisak.


Tangan Febri yang lemah mengusap lembut pipi Bia.


"Alby hanya sedang kalut sayang. Dia tak bermaksud seperti itu sama kamu!", kata Febri bijak. Bia mengangguk pelan. Dia pun berpikir seperti itu.


"Kamu istirahat di sini sama mas! Mas rindu sama kalian!", kata Febri mengusap perut Bia yang terlihat mulai buncit. Bia mengangguk.


"Apa si kembar bisa di ajak ke sini? Mas kangen sama mereka!", kata Febri lirih.


"Heum, nanti Bia tanya ya mas. Takutnya... peraturan rumah sakit ini tidak mengijinkan mereka menjenguk orang sakit!", kata Bia.


"Iya!", jawab Febri.


.


.


"Bagaimana kondisi Amara?", tanya Papi panik.


"Belum pa, kita tunggu dokter dulu!", jawab Nathan.


"Dimana Alby?", tanya Rahadi. Ia menelisik di sekitar Nathan. Hanya ada Nathan, Mayang dan Nur yang tidak Rahadi kenal.


"Di mushola rumah Pi, berdua dengan Azmi. Dan itu, istri Azmi?!", kata Nathan.


Rahadi hanya mengangguk.


"Duduk, Mi, Pi!", Mayang mempersilahkan mertuanya untuk duduk. Sekitar jam sembilan malam, Alby dan Azmi kembali ke ruangan di mana Amara sedang di tangani.


"Papi!", sapa Alby. Lelaki tampan itu pasrah jika papi mertuanya akan menyalahkannya. Karena memang dirinya tak becus menjaga putri dari mertuanya tersebut.


Tapi tanpa di duga, Rahadi justru memeluk menantu bungsunya yang terlihat sembab. Mungkin karena terlalu banyak menangis.


"Kamu yang sabar! Apapun hasilnya nanti,kamu harus menerimanya. Amara butuh dukungan kamu. Jangan terlalu menyalahkan diri mu sendiri!", kata papi. Mata Alby berkaca-kaca mendengar petuah papi mertuanya.


"Maafkan Alby Pi, maaf tidak bisa menjaga Amara dengan baik!", kata Alby lirih.


"Sudah... sudah...lebih baik sekarang perbanyak doa. Di dalam sana dokter pasti sedang berjuang untuk kesembuhan Amara!", kata Rahadi bijak.

__ADS_1


Ruangan kembali hening. Mami bersandar di bahu Mayang. Perempuan sepuh itu sangat sedih saat mendengar putri bungsunya mengalami insiden seperti ini.


Pintu ruangan itu terbuka. Keluar sosok dokter Sakti dan dokter Stanley juga salah satu dokter muda yang turut membantu operasi tersebut.


"Sakti?", tanya Alby heran karena dia tidak tahu jika Sakti ikut dalam operasi besar tersebut.


"By!", kata Sakti.


"Dokter, bagaimana kondisi istri saya dok!?", tanya Alby dengan cemas. Stanley menoleh pada Sakti. Begitu pun Sakti.


"Puji Tuhan, operasi berjalan lancar dan....pasien tidak perlu proses pengangkatan rahim. Itu semua berkat usaha dokter Sakti juga yang meyakinkan saya!", ujar Stanley.


Mata Alby mengerjap pelan. Tiba-tiba air matanya luruh.


Lelaki tampan itu sujud syukur sebagai tanda betapa ia sangat bersyukur jika istrinya akan baik-baik saja.


"Terimakasih dok!", ucap Alby, Rahadi dan Nathan bersamaan.


"Tidak hanya saya yang berkontribusi. Tapi dokter Sakti juga sangat berperan dalam operasi ini. Berkat beliau, saya juga jadi punya pengalaman baru!", ucap Stanley merendah.


Kemudian para dokter berpamitan. Tinggallah Sakti.


"Makasih Sak! Makasih!", Alby memeluk mantan rivalnya tersebut.


"Sama-sama By, kalian sahabat ku juga! Sudah sepantasnya kita saling membantu selagi mampu! Kami siapkan kamar dulu, Amara akan segera di pindahkan ke kamar rawat inap. Hanya saja, proses pemulihan akan sedikit lama By. Karena...luka itu cukup dalam dan sudah menjalar ke beberapa bagian vital. Tapi dokter Stanley sudah menanganinya."


"Apa pun itu Sak. Terima kasih... terimakasih!", kata Alby. Sakti menepuk lengan Alby.


"Satu lagi!", kata Sakti.


"Iya?", tanya Alby.


"Minta maaflah pada Bia. Kamu menuduhnya masih dendam padamu, cukup membuat perempuan hamil itu merasa tak enak hati. Kamu tahu, perempuan hamil itu sensitif! Setidaknya, kamu bisa meyakinkan padanya kalau kamu tak bermaksud menyalahkan Bia."


Alby tertegun. Dia akui tadi dirinya sempat kalut dan berkata demikian hingga membuat Bia berpikir seperti itu.


"Iya, nanti aku temui dan minta maaf pada Bia."


"Iya. Dia di kamar Xxx. Febri, Dimas dan Seto berada di lorong yang sama di dampingi istri-istri mereka. Kecuali Seto, Naya baru saja melahirkan!", kata Sakti.


"Oke, nanti aku temui mereka setelah Amara berada di kamar rawat."


Sakti pun mengiyakan lalu berpamitan pada semua yang ada di sana. Azmi sendiri yang memilih kamar VVIP untuk Bu Bosnya agar keluarga pasien bisa menemui Amara lebih nyaman.


****


Maafkan daku kalo kehaluan ku benar-benar di luar nalar 😔😔😔😔✌️✌️✌️


Tapi ya...namanya juga orang awam. Meski gak tahu malu, masih mau terlihat bodoh dengan kehaluan yang bukan bidangnya 😁😁😁✌️✌️✌️

__ADS_1


Maap ya .... makasih yang udah ngikutin sampe sini 🤗🤗🤗🙏🙏🙏


__ADS_2