Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 79


__ADS_3

Alby dan Amara sudah sampai di restoran Xxx. Mereka langsung memesan tempat VIP untuk membicarakan hal yang cukup rahasia.


Setelah sampai di sebuah meja VIP, Alby dan Amara memesan minuman lebih dulu sambil menunggu Kak Daniel dan dokter Sakti.


Hari sudah hampir gelap, menjelang magrib.


"Ra, aku tinggal solat dulu ga apa-apa?", tanya Alby.


"Ga apa-apa. Aku lagi libur solat soalnya."


Alby pun berpamitan pada Amara, setelah itu ia pun menuju ke tempat yang di sediakan untuk solat.


Amara memeriksa ponselnya, menunggu kehadiran sang kakak. Tapi siapa sangka, seseorang yang tak lain adalah Frans, menghampiri gadis itu.


"Selamat sore sayang?",sapa Frans tiba-tiba langsung mengecup puncak kepala Amara. Amara langsung berdiri dari kursinya.


Terkejut? Tentu saja iya. Bagaimana bisa orang yang sedang ia hindari justru ada di sini?


"Frans...kamu...kamu di sini?",tanya Amara dengan suara bergetar. Dia bukan takut di apa-apakan oleh Frans. Tapi takut jika Frans tahu rencananya dengan yang lain.


Kondisi resto belum cukup ramai. Apalagi ini kelas VIP, jarak antar meja tentu cukup lumayan.


"Kenapa kamu begitu terkejut sayang?",Frans mengusap pipi Amara. Tapi Amara menepisnya.


"Kenapa kamu bisa disini?", ulang Amara.


"Karena aku tahu di mana pun keberadaan mu!",bisiknya pelan di dekat telinga. Jika ada yang melihat, pasti di sangka sedang berciuman.

__ADS_1


"Kamu mengikuti ku?",tanya Amara.


Frans tersenyum devil. Memasukan kedua tangannya di kantong celana bahannya. Lalu berdiri di belakang Amara.


"Aku tak perlu mengikuti mu, karena ke manapun kamu melangkah ku pasti kan aku akan menemukan mu, baby!", bisik Frans lagi.


Dari arah luar, dokter Sakti dan Daniel masuk ke dalam restoran yang langsung menangkap keberadaan Amara dan Frans.


"Dok, Frans bersama Amara? Alby nya mana?",tanya Daniel.


"Mungkinkah solat magrib mas!",ujar sakti.


Keduanya tak langsung menghampiri Amara. Mereka berdua mencari bangku yang bisa di gunakan untuk memantau Amara dan Frans.


Dari belakang, muncul lah sosok Alby yang di tarik oleh Sakti agar duduk bersamanya.


"Mau ngapain Lo?",tanya Sakti.


"Lo ga liat tuh si Frans kaya gitu sama Amara? Kak??!", tanya Alby pada Sakti dan Daniel bersama-sama.


"Udah, ngga usah cemburu. Amara ga bakal macem-macem selain sama kamu!", celetuk Daniel.


Sakti menatap bingung pada Alby dan Daniel. Wajah Alby pun tampak memerah usai Daniel mengatakan hal itu.


Daniel mengajak Alby duduk.


"Tapi Amara, kak....!", lagi-lagi kalimat Alby menggantung saat Daniel mengangkat tangan nya untuk meminta Alby diam.

__ADS_1


"Kalo kamu ke sana, Frans justru tahu kita ada rencana bertemu!", ujar Sakti. Akhirnya Alby pun menuruti perintah Sakti untuk duduk bersama nya dan juga Daniel.


"Kamu cemburu?",tanya Daniel pada Alby. Sakti pun menoleh pada Alby. Alby yang menjadi pusat perhatian Sakti dan Daniel pun mendadak salting.


"Udah ngga usah jawab! Gue harap sih iya. Itu artinya Lo udah move on dari Bia, kaya gue!", ujar Sakti. Sekarang mata Daniel beralih pada Sakti. Duda beranak satu itu tidak paham dengan ucapan Sakti.


"Ngga usah bahas itu Sak!",ujar Alby. Kini mereka bertiga kembali mengawasi Amara dan Frans.


Kembali pada Amara....


Frans sudah duduk di hadapan Amara. Pria bule yang tampan itu nampak memperhatikan gadis cantik khas Indonesia itu.


"Apa kamu yang meminta kak Mayang agar mencegah ku mendekati papi?", tanya Frans.


"Tidak!",jawab Amara singkat. Mana mungkin dia akan membahayakan keluarga nya yang lain.


Frans tersenyum sinis. Mungkin tahu jika aku berbohong. Dia mencondongkan tubuhnya di atas meja mendekati Amara.


"Aku bisa melakukannya tanpa menyentuh papi mu! Percaya lah, saat itu tiba kamu akan merasakan sakit dan penyesalan yang teramat Amara. Jadi, sebelum semuanya terlambat... kembali lah padaku sayang!"


Dada Amara bergemuruh menatap mata elang berwarna hazel itu.


"Jangan sakiti papi ku!", tuding Mara di depan wajah Frans. Bukan menanggapi dengan emosi, justru Frans tersenyum meledek.


"Jangan kan pada papi mu, bahkan pada mami nya Alby pun aku bisa melakukannya! Jadi... silahkan pikirkan baik-baik sayang! Kembali bersama ku atau membiarkan mereka menikmati apa yang ku beri!"


Suara Frans memang pelan, tapi sungguh menakutkan bagi Amara. Amara tak pernah takut dengan apapun, tapi kenapa baginya sekarang Frans lebih menakutkan di banding perang seperti dulu?????

__ADS_1


__ADS_2