
Mak membawa Bianca menjauh dari kamar Alby. Dia tidak ingin jika Alby semakin marah karena keberadaan Bianca di rumah ini.
"Ani, ajak Nabil ke kamar. Alby minta Nabil di bawa ke sana sekarang."
"Iya Bu!",sahut teh Ani pada Mak Titin.
Sekarang perhatian Mak beralih pada Bianca yang sepertinya masih terkejut dengan sikap Alby tadi.
Sebenarnya wajar jika Alby marah, bukan maksud membela Alby. Akan tetapi Bianca memang salah. Sudah tahu kalau Alby tak menyukai Bianca, dia masih saja berusia untuk mendekati duda ganteng itu.
Di tambah lagi kejadiannya di kamar. Selain malu karena merasa dirinya menjadi tontonan gratis, Alby juga kesal karena Bianca dengan lancangnya memasuki kamar pribadinya yang bahkan art nya saja tak bisa keluar masuk sesukanya.
"Maaf nak Bian, untuk sementara nak Bian lebih baik memang jangan ke sini dulu ya. Biarkan Alby sedikit menenangkan diri. Mungkin dia sedang lelah di tambah kejadian tadi, tentu dia malu kalo dia di lihat sama gadis seperti kamu tanpa berpakaian."
Bianca hanya mengangguk.
"Tapi Bu...bisa ngga ibu bantu saya, biar deketin saya sama mas Alby? Saya bener-bener suka sama Mas Alby, Bu!",bujuk Bianca.
"Maaf nak, kalo soal itu ibu ga bisa bantu! Alby yang akan menentukan masa depannya sendiri. Apa pun yang Alby putuskan, ibu akan menghormati keputusannya."
Dalam hati Bianca merasa dongkol. Padahal ekspektasi nya mah, Alby akan merasa senang saat Bianca dan Nabil terlihat akrab. Dan Alby akan mengantarkannya pulang ke rumah. Sayangnya, semua tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam angannya.
Boro-boro Alby merasa salut, yang ada Bianca kena semprot kasar seperti biasanya.
"Ibu tahu, kalo mas Alby dekat dengan perempuan?",tanya Bianca.
"Siapa?",tanya Mak.
"Amara Bu!",jawab Bianca.
"Amara? oh ya, ibu tahu. Yang mualaf itu kan? Kenapa memangnya?",tanya Mak lagi.
Bianca menyerahkan ponselnya. Ia menunjukkan beberapa gambar Amara dengan Frans yang terlihat intim.
"Memang nya ibu mau, kalo Mas Alby dekat dengan perempuan seperti itu? Ngga kan Bu?", Bianca mencoba memprovokasi Mak dengan foto dan video Frans dan Amara.
Mak sedikit terkejut. Tidak menyangka jika gadis yang satu tahun terakhir ini membuat anaknya galau justru seperti itu dengan laki-laki lain.
"Maaf nak Bian, sepertinya itu bukan urusan kita. Eum... maksud ibu, bukan urusan kamu. Kita tidak pernah tahu yang sebenarnya seperti apa. Jadi, nak Bian....!",Mak mengusap bahu gadis berusia dua puluh tiga tahun itu.
"Ada baiknya memang Nak Bian menjaga jarak lebih dulu dengan Alby dan Nabil. Bukannya ibu ngga suka sama kamu nak Bian, bukan! Mak hanya tidak ingin kamu semakin kecewa."
Bianca benar-benar merasa kecewa. Ibu nya saja tak mendukungnya. Hanya Nabil yang bisa di jadikan senjata. Tapi bagaimana bisa mau menggunakan Nabil jika dirinya saja tak bisa mendatangi Nabil sesuka hati seperti sekarang???
"Tapi ibu lihat sendiri kan, Nabil suka sama saya. Saya bisa kok jadi ibu sambung yang baik buat Nabil."
__ADS_1
Mak Titin menghela nafas pelan sambil memijat pelipisnya.
"Mungkin benar Nak Bian. Kamu sama Nabil memang dekat. Tapi ...itu semua terserah Alby."
Bianca tak bisa berkata-kata lagi. Kesal ,marah dan malu berbaur menjadi satu.
"Ya udah deh Bu. Saya pamit! Assalamualaikum!", pamit Bianca kesal.
"Walaikumsalam!",Mak hanya memandang punggung gadis cantik itu.
Bianca menghubungi sopirnya yang ternyata standby di blok sebelah. Harapannya pupus untuk di antar Alby. Nyatanya, dia datang dan pergi dengan sopir ya lagi.
[Pak, jemput!]
Bianca langsung mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban sang supir. Dua menit kemudian, sebuah mobil Pa**** berhenti di depan Bianca.
"Langsung pulang non?",tanya supir.
"Ke resto mas Bram aja!",sahut gadis itu. Bianca langsung membuka pastan nya saat sudah duduk di bangku penumpang. Pemandangan seperti itu sudah biasa bagi pak supir.
"Brengsek! Dasar Amara! Perawan tua! Jelek! Apa sih bagusnya tuh cewek! Cakepan juga gue kemana-mana! Bodinya? Body kaya tukang pukul juga! Apa lebihnya tuh cewek!!?? Argggghhhh!!!", Bianca memukul udara di sekitar nya.
Pak supir yang memang sudah paham dengan nonanya merasa tak heran jika majikannya itu seperti orang yang kesetanan. Bukan hal baru lah intinya!
Berbeda dengan Bianca yang sedang sewot sendiri, Alby sedang duduk berzikir setelah solat magrib.
Melihat Alby selesai, Nabil menyalami tangan papanya. Bocah itu memeluk tubuh papanya.
"Papa?"
''Iya sayang, kenapa?",tanya Alby sambil mengusap kepala bocah tampan itu.
"Papa marah sama teteh Bian ya? Jangan dong pa, Nabil yang salah udah ngajak main petak umpet!",jelas Nabil.
"Ngga kok sayang!",sahut Alby.
"Tapi tadi Nabil denger kok papa bentak-bentak teh Bian."
Alby menarik nafas dalam-dalam. Entah penjelasan seperti apa yang akan disampaikan ke putra semata wayangnya.
"Sayang, dengar kan papa!"
Nabil pun menghadap papanya dengan mata jernihnya.
"Papa bukannya ngga suka kamu dekat sama teh Bian. Tapi...teteh Bian ngga sebaik yang kamu lihat!"
__ADS_1
"Apa papa lagi susudon?",tanya Nabil. Alby menautkan alisnya.
"Su'uzon maksudnya? Berburuk sangka?",tanya Alby. Nabil mengangguk cepat. Setelah itu, Alby memeluk bocah kecil itu.
Alby mencoba mencari topik lain. Dia akan bertanya pada Nabil tentang rencananya yang akan menikah dengan Amara.
"Sayang, boleh papa tanya sesuatu?",tanya Alby.
"Apa?"
"Eum, kalo Nabil punya mama lagi, mau kan?",tanya Alby.
"Punya mama lagi? Mama Bia maksudnya? Mau lah Pa."
Alby tersedak ludahnya sendiri. Dia tak menyangka jika anaknya akan berbuat seperti itu. Andai itu benar mah....boleh aja! Asal othor nya bolehin! Ooopsss.... ralat! Alby sudah mati-matian menghapus nama Bia dalam hatinya dan menggantinya dengan Amara.
"Bukanlah sayang. Mama Bia kan istrinya Ayah Febri. Ngga boleh sama papa!",Alby mencoba memberikan pemahaman.
"Terus yang boleh sama papa siapa? Apa teteh Bian? Kata teteh Bian, teteh sayang sama Nabil. Katanya juga dia mau kok jadi mama baru buat Nabil!"
Benar dugaan Alby. Bianca pasti akan berbicara yang tidak-tidak. Lebih baik dia menjauhkan Nabil dari Bianca sebelum gadis itu benar-benar mencuci otaknya.
"Sayang dengarkan papa. Insyaallah kalo Nabil ngga keberatan, papa akan kenalin Nabil sama seseorang yang insyaallah akan jadi istri papa, mama baru Nabil?!"
Nabil nampak berpikir. Mungkin istilah istri adalah hal baru bagi Nabil.
"Istri itu apa?",tanya Nabil lugu.
"Eeum...istri itu, perempuan yang menikah dengan papa contohnya. Nanti kita akan tinggal sama-sama. Kaya....bunda itu, istri papa."
Entah lah, bocah yang usianya hampir tiga tahun itu paham atau tidak.
''Kaya mama Bia, dia menikah sama ayah Febri!",Alby mencoba menjelaskan lagi.
"Oh... begitu!",sahut Nabil.
"Mau kan kapan-kapan papa kenalin sama calon mama Nabil?",tanya Alby. Nabil nampak berpikir.
"Apa mama baru Nabil kaya mama Bia? Cantik?",tanya Nabil. Alby mengusap tengkuknya.
Kenapa standar 'mama' buat Nabil itu harus Bia? Gimana kalo Amara mendengarnya, sudah dipastikan gadis itu akan mengeluarkan taringnya.
"Ngga lah sayang. Namanya Tante Amara, Nabil pernah ketemu kok."
''Benarkah?"
__ADS_1
Alby mengangguk mengiyakannya.