Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 112


__ADS_3

Alby


Hampir jam sebelas malam aku sampai ke apartemen Amara. Kaki ku langsung ku langkahkan menuju unitnya.


Aku menekan bel berkali-kali. Ada kemungkinan dia sudah tidur atau mungkin juga ada Frans di dalam sana.


Tak lama kemudian, pintu terbuka. Aku masuk begitu saja saat Amara membuka pintu lebar-lebar.


"By!",panggil Amara dengan suaranya khas bangun tidur.


"Dimana tunangan kamu? Apa dia disini?"


Amara menggeleng sambil menatapku dengan pandangan seseorang yang merasa bersalah.


"By, aku bisa jelasin. Ini ngga seperti yang kamu pikirkan!",Mara menarik tangan ku karena aku memang langsung memeriksa setiap ruangan yang ada di unit nya ini.


"Alby!",dia membentakku. Aku pun menghentikan aksi geledahku.


"Kamu...kamu tega!", telunjuk ku mengacung di depan wajah Amara.


"Aku bisa jelasin By. Tolong dengarkan aku!"


"Apa yang mau kamu jelaskan heum? Kamu terpaksa? Begitu?"


"Iya, By. Tapi kenyataannya memang seperti itu!",jawabnya.


Aku melempar foto-foto pertunangan Amara dan Frans. Dan paling menyakitkan bagi ku adalah....saat Amara menc*** bule itu.


Amara memperhatikan foto-foto yang ada di tangannya.


"Ka...kamu dapat dari mana ini, By?",tanya Amara dengan tergagap.

__ADS_1


"Tentu saja dari tunangan kamu itu!",teriakku. Marah? Tentu saja aku marah!


"By...!",Amara akan meraih tangan ku, tapi aku mundur. Aku tak mau dia menyentuh ku. Bukan karena apa, tapi saat ini status nya adalah tunangan Frans. Meski itu kenyataan yang menyakitkan untuk ku. Jika Frans adalah tunangannya, aku sendiri siapa? Kami tak punya status apapun.


"By, tolong dengarkan aku!",kata Amara memohon.


"Aku memang pernah nyakitin kamu Ra. Aku tahu dan sadar itu! Tapi bukan berarti kamu harus balas seperti ini kan? Di saat hati ku sudah jelas-jelas ada kamu? Kenapa Ra?"


"By, ngga kaya gitu! Mana mungkin aku melakukan seperti itu. Aku masih cinta sama kamu, ngga berubah! Ini hanya...."


"Hanya apa? Hanya salah paham?",tanyaku lagi.


"Bisa dengarkan aku dulu kan By? Please!",Amara menakupkan kedua tangannya di dada. Setelah itu, ia mengajak ku duduk di sofa. Kami duduk berjauhan.


Tapi setelah itu, Amara justru duduk di karpet. Bersimpuh di depan ku yang masih mengatur nafas karena emosi.


"By! Aku tahu! Aku sadar apa yang sudah aku lakukan itu...salah! Aku murahan! Membiarkan Frans melakukan apa yang dia mau. Tapi... tolong percaya sama aku. Aku sama sekali tidak ada niat buat khianatin kamu By!"


Aku memandangi arah lain. Bagaimana bisa aku ikhlas begitu saja melihat gadis yang ku cintai menc*** pria asing!


"By, pertunangan itu memang benar tapi tak sepenuhnya benar. Pertunangan ini bagian dari rencana Febri dan Dimas."


"Apa ciuman itu juga bagian dari rencana mereka?",aku menatap Amara tajam. Aku melihat dengan jelas saat Amara menelan salivanya.


"Ak...aku...! Aku minta maaf untuk itu! Tapi..."


"Stop Amara! Semua terserah kamu! Aku memang bukan siapa-siapa buat kamu!",aku langsung berdiri dari sofa.


Tapi Amara meraih kakiku.


"Ngga by. Kamu sangat berarti buat hidupku By!", Amara memeluk ku dari belakang.

__ADS_1


"Tapi kami sudah menerima pinangan Frans! Dan dalam agama kita, haram hukumnya merebut perempuan yang sudah di khitbah Amara!",kataku mencoba menguatkan diri sendiri.


"Tapi ini baru tunangan By. Bisa membatalkan kapan saja karena belum ada ikatan yang sah! Atau....", perlahan Mara melepaskan pelukannya dari punggung ku.


"Atau...aku terlalu menjijikkan di mata kamu?",tanyanya lirih.


Sungguh, aku tak terpikirkan seperti itu. Aku langsung membalik badanku menghadap ke arahnya.


Amara menatapku sendu.


"Iya? Aku murahan? Menjijikkan? Begitu?",tanya Amara pelan. Tapi dadaku begitu sesak mendengarnya.


"Ra...!"


"Aku tahu aku salah By. Aku minta maaf!",Amara menakupkan kedua tangannya di dadanya.


Aku mengusap wajah ku kasar.


"Kamu bisa tanya pada Dimas dan Febri, By! Kalo kamu ngga percaya sama aku!"


"Ra....!"


"Pulang lah! Kalo kamu udah mendengar penjelasan mereka, kamu boleh datang padaku!",kata Amara mendorong ku ke arah pintu keluar.


"Ra, maksudku....!"


"Keluar!",bentak Amara dengan matanya berkilat penuh emosi. Apa aku yang sekarang menyakitinya? Lagi????


Aku tak mampu berkata apapun sampai Amara benar-benar mendorong ku keluar dari unitnya.


"Amara!!! Ra!!", sambil memukul pintu apartemennya.

__ADS_1


"Ra, maksudku ngga gitu Ra. Oke, aku minta maaf! Amara! Please, kasih kesempatan aku ngomong Ra!",kataku lagi. Tapi mungkin Amara tak akan mendengarnya.


Sudah jam dua belas malam, aku juga tidak mungkin menunggu Amara di sini. Lebih baik aku pulang, besok aku akan cari pada Dimas dan juga Febri.


__ADS_2