
Amara
Mobil yang Frans kendarai melaju dengan kecepatan sedang menuju ke rumah sakit. Dia tak banyak bicara kali ini, tak seperti saat di kantor tadi.
Aku meraih ponselku, ingin menghubungi kak Daniel atau kak Nathan yang mungkin masih di rumah sakit. Tapi ternyata ponselku dalam keadaan mati. Padahal tadi jelas-jelas aku sudah mengisi baterai nya saat mengecek pekerjaanku. Aku menoleh pada Frans.
"Kamu mematikan ponsel ku?"
Frans menoleh lalu mengangguk.
"Yes! Aku tidak ingin Alby mengganggu mu sayang!", jawabnya. Aku pun mengaktifkan ponsel ku. Ada chat dari kak Daniel agar aku pulang saja tak perlu ke rumah sakit. Kak Daniel dan kak Nathan yang menemani papi.
Rahangku mengeras. Aku menyesal pernah mencintai sosok menyebalkan ini. Bagaimana mungkin laki-laki yang ku kenal baik saat itu berubah menjadi sosok semenyeramkan ini sekarang???
"Lancang kamu Frans!",kataku kesal. Tapi tak ada sahutan apa pun dari mulutnya karena tiba-tiba ponsel Frans berdering.
[Hallo???]
[....]
[What???]
Usai mematikan panggilan telponnya, ia kembali menghubungi seseorang. Aku tak mau tahu apa yang dia bicarakan. Selama itu tak menyangkut papi atau orang terdekat ku. Yang ku dengar hanya tentang kebakaran laboratorium. Tapi aku juga tak begitu mendengarkan.
"Aku tak jadi mengantar mu ke rumah sakit. Mommy dan Daddy ku datang. Mereka tinggal di samping unit apartemen mu!",kata Frans. Tapi entah kenapa dia seolah sangat marah dan tak suka kedua orang tuanya datang ke sini. Apa ada hal yang ia takutkan???
"Huum!",jawabku singkat. Toh emang kak Daniel meminta ku untuk pulang saja.
Mobil Frans sudah parkir di basemen. Aku turun dari mobilnya. Baru saja aku turun, dia sudah mengunci ku dengan kedua tangannya.
Aku bersandar di pintu mobil yang baru saja tertutup. Matanya terlihat merah dan ya....aku takut!
"Katakan pada mereka jika kamu adalah calon istri ku."
Aku bergeming. Bagaimana bisa aku mengakuinya sebagai calon suamiku? Aku bahkan takut padanya.
"Dengar kan aku baby! Aku memang mencintai mu, tapi aku juga tak segan-segan menghabisi orang-orang di sekitarmu. Jadi, menurut lah padaku! Papi mu belum aman saat ini! Paham!!?"
Nafas ku memburu! Selain karena takut ancamannya, aku juga tak suka jika harus berbohong seperti itu.
Tak menjawab perintahnya, aku memberanikan diri untuk mendorong kedua tangan ku dari sisi kanan kiri ku.
Usai terlepas, aku berjalan mendahuluinya. Frans pun mengikuti ku dari belakang. Kami pun ke lift lalu menuju lantai unit ku yang hanya di lantai lima.
Keluar dari lift, pria itu menggamit pinggang ku. Entah kenapa, seolah pinggang ku adalah spot favoritnya.
"Lepas Frans!", bentakku meski lirih.
"Sebentar lagi orang tua ku keluar!", ujar Frans. Tak lama kemudian, keluar sepasang suami istri dari unit sebelah ku.
Frans menggandeng tangan ku menghampiri mereka berdua.
"Malam Dad, mom!", sapa Frans. Elizabeth memeluk putra sulungnya.
"Kamu tahu kami di sini?",tanya John, Daddy Frans.
"Tentu Dad! Bahkan kita bertetangga. Bukan begitu baby?", pertanyaan Frans beralih padaku. Aku sedikit terkejut karena nya.
"Ini Amara Dad, mom! Calon istri ku."
Frans meminta ku untuk bersalaman dengan kedua orang tuanya. Aku berusaha bersikap ramah pada kedua orang tuanya. Bukan karena ingin menarik perhatian sepasang suami istri itu. Tapi hanya sebagai batas penghormatan pada orang yang lebih tua.
"Kamu cantik!",kata mommy dalam bahasa Indonesia.
"Terimakasih Tante!", kataku. Sedikit banyak, Frans bercerita tentang ibunya yang orang Singapura. Makanya dia bisa berbahasa Melayu yang mirip dengan bahasa Indonesia.
"Maaf om, tante dan Frans. Aku masuk dulu ya. Permisi!", dengan sedikit buru-buru aku masuk ke unit ku. Takut jika Frans ikut masuk.
Aku menyandarkan tubuh ku di balik pintu. Berharap jika Frans segera pergi dari depan unit ku.
Aku langsung masuk ke dalam kamar ku untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Aku mengirimkan pesan pada Alby jika aku sudah pulang ke apartemen. Berharap dia tak mencemaskan ku. Tapi sepertinya ia sudah tidur karena sudah lebih dari sepuluh menit chat ku belum di baca.
Aku pun memutuskan untuk tidur karena badanku sungguh sangat lelah hari ini.
.
.
Alby
Hampir jam setengah satu dini hari aku berada di ruang kerja ku. Niatnya tadi langsung tidur. Tapi karena rencana pulang kampung yang akan ku lakukan beberapa hari lagi, akhirnya aku bangun lalu menyelesaikan pekerjaanku.
Aku keluar dari kamar ku masih terlihat Mak dan teh Mila yang sedang menonton tv. Aku pun menghampiri mereka.
__ADS_1
"Mak? Tos peting? Acan sare geningan?", tanyaku.(Sudah malam, kok belum tidur)
"Hehehe ngke Jang. Keur nonton drakor yeuh!", jawab Mak sambil tersenyum.
"Ari si teteh mah ngajarin nonton begituan!",kataku pada teh Mila.
"Heheh teu nanaon Jang. Pan butuh hiburan oge!",sahut teh Mila.
"Nonton apa sih?",aku pun mendekat.
"Pentos Jang!",jawab Mak dan teh Mila bersamaan. Udah kenceng salah lagi! Seterahhh lah!
"Mak, kalo udah ngantuk ngga usah di paksa, bisa di lanjutkan besok lagi. Takutnya Mak sakit ntar!"
"Iya jang! Satu episode lagi udah!", jawab Mak.
"Ya udah atuh!",aku pun berlalu menuju ke kamar ku yang pintunya masih terbuka. Nabil sudah berganti posisi. Tadi miring sekarang tengkurap. Memang bocah ini, kecil tapi ngabis-ngabisin tempat kalo tidur.
Aku mengecup kening Nabil. Dia tampak tersenyum dalam tidurnya. Apa yang sedang ia mimpi kan saat ini? Bertemu bundanya kah? Atau...kak Nabila seperti yang sering dia katakan?
Nabila...apa...dia anakku dan Bia? Tapi...apa mungkin? Bukankah anakku dan Bia saat itu keguguran?
Astaghfirullah!!! Tapi... sepertinya ini tak masuk akal! Aku mengusap wajah ku. Lagi-lagi aku melihat Nabil tersenyum dengan matanya yang masih terpejam.
Nabila dan Nabil! Silvy pernah bilang kalau dia sudah di tunggu Nabila. Silvy berpesan jika setelah anaknya lahir di beri nama Nabil!
Ya Allah, sebenarnya bagaimana ini???
Aku menarik nafas dalam-dalam lalu ku hembuskan perlahan. Memikirkan hal yang tak masuk akal sepertinya membuat ku semakin pusing.
Aku mengambil ponselku. Ada beberapa chat masuk. Aku mengabaikan nya, hanya chat dari Amara yang ku lihat.
[By, aku sudah ada di apartemen]
Aku lega membaca chat darinya yang ia kirim sekitar pukul sebelas malam. Itu artinya aku sudah kembali ke ruang kerja ku tadi.
Karena sudah membaca chat penting, akhirnya aku membuka beberapa chat dari klien-klien ku. Tapi ada nomor yang tak ku kenal. Ada beberapa foto yang dikirim dari nomor yang tak tercantum namanya mungkin.
Sedikit penasaran, aku pun membukanya. Serentetan foto Amara dengan Frans yang keluar dari mobil. Dari pakaian Amara, sepertinya foto itu di ambil hari kemarin. Tak terlalu menonjol apa perlakuan Frans pada Amara meski nampak wajah Amara sangat tak nyaman.
Berikutnya, foto Frans yang mengusung Amara bersandar di pintu mobil.
Entah kenapa tanganku mengepal seketika! Apa aku sedang cemburu?
Gambar berikutnya, menunjukkan Frans yang menggamit pinggang Amara dengan mesra. Lalu foto di mana Amara bersalaman dengan dua orang asing yang sepertinya... orang tua Frans.
Dan terakhir, sebuah video yang masih butuh proses untuk di download.
Sampai akhirnya aku mendengar suara Frans yang mengatakan jika Amara calon istrinya pada dua orang asing yang dia panggil mommy dan Daddy!
Amara pun tampak ramah menghadapi dua orang tua itu.
Mendadak dadaku sesak! Kenapa ia seperti itu?
Aku mengambil jaket yang ada di lemariku. Tak lupa dompet juga ponsel. Aku sudah memakai celana pendek selutut dan kaos oblong karena memang akan tidur. Tapi sekarang, tujuan ku adalah apartemen Amara.
Aku takut jika Frans bertindak macam-macam pada Amara.
"Jang, mau ke mana?",tanya Mak yang melihat ku sudah memakai jaket.
"Keluar Mak. Ada urusan!", jawabku.
Mak menengok jam klasik yang sudah menunjukkan pukul satu pagi lewat lima menit.
"Ini udah mau pagi Jang, mau ke mana?",tanya Mak cemas.
"Ngga usah nunggu Alby mak. Sekarang Mak istirahat. Nonton drakor nya besok lagi. Nitip Nabil ya Mak. Assalamualaikum!",kataku pamit.
"Walaikumsalam. Hati-hati Jang!",kata Mak.
Aku langsung menuju ke garasi mengambil mobil yang terparkir paling luar.
Setelah menutup gerbang lagi, aku pun melesat keluar dari komplek perumahan mewah ini.
Ku bunyikan klakson tanda menyapa satpam komplek. Mereka pun ber say hay ria pada ku sambil mengangkat tangan nya.
Jalanan ibu kota jam segini cukup sepi. Tak sampai setengah jam, mobil ku sampai di apartemen. Aku langsung menuju ke unit Amara karena aku memiliki aksesoris ke sana.
Suasana sangat lengang dini hari ini. Apa aku berlebihan jika aku cemas dengan keselamatan Amara? Terlebih aku tahu jika Amara pergi bersama Frans??? Tapi tunggu!!! Apa sebenarnya yang ku takutkan??? Frans dan Amara berbuat macam-macam?
Aku menekan bel pintu apartemen Amara. Mungkin aku mengganggu tidur Amara. Tapi bagaimana jika ternyata Frans ada di dalam sana?
Ku tekan bel berulang. Bisa saja aku masuk, tapi rasanya tak sopan. Apalagi jika Frans benar-benar ada di dalam sana....
__ADS_1
Astaghfirullah!!!!
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Muncul sosok gadis yang terkejut dengan muka bantalnya.
"Alby??",tanya nya dengan suara serak. Gadis berpakaian longgar dengan kaos kebesaran itu pun melebarkan pintu.
Aku menelisik ke dalam ruang tamu Amara. Takut jika Frans benar-benar ada di sana lalu berbuat yang tidak-tidak pada Amara....
Amara tampak kebingungan lalu menarikku ke dalam unitnya.
"Ada apa By? Kenapa kamu tiba-tiba di sini? Ini...jam dua pagi kan?",tanya Amara lagi.
Amara menutup kembali pintunya. Aku langsung melangkah kan kaki ku menuju ke dalam ruangan demi ruangan yang ada di apartemen Amara.
Setelah sekian menit, Amara mulai mengumpulkan nyawanya. Dia pun mengikuti kemana aku melangkah.
"Kamu nyari apa sih By?",tanya Amara menarik ku saat aku akan masuk ke dalam kamar nya.
"Apa laki-laki itu ke sini?",tanyaku. Amara menautkan kedua alisnya.
"Siapa?", tanyanya dengan nada masih bingung.
"Siapa lagi kalo bukan Frans!",kataku. Lalu ku tunjukkan foto-foto serta video yang di kirimkan ke ponsel ku.
Amara tampak terkejut.
"By..."
Aku menelisik wajah nya. Ada bekas keunguan yang ada di rahang Amara. Aku mengangkat dagunya. Di sana juga ada jejak yang sama.
Entah kenapa aku benar-benar merasa kesal. Bukankah aku sendiri yang memutuskan untuk tidak berpacaran dengan Amara? Lalu, apa hakku marah pada Amara???
Amara menurunkan tangan ku dari dagunya.
"Ini ngga seperti yang kamu pikirkan By ...aku ngga ngapa-ngapain!"
"Lalu ini apa?",tanyaku pelan menahan emosi.
Amara terdiam. Pasti bingung akan menjelaskan apa padaku!
Kenapa aku jadi merasa terkhianati seperti ini???
"Kalo kamu memang tidak suka dengan caraku untuk melanjutkan hubungan yang lebih serius, katakan Amara! Tapi jangan buat aku seperti ini!"
Amara menatapku dengan pandangan yang entah seperti apa.
"Kamu bilang sama aku, kamu tak ingin lagi berhubungan dan terlibat dengan Frans. Kamu takut dengan Frans! Lalu ini apa ??? Bahkan dia bisa menyentuh mu seperti ini!?! Maksud kamu apa Amara???",tanyaku kesal dengan nada yang cukup tinggi.
Plakkkk....
Amara mendaratkan telapak tangannya di pipiku membuat kepalaku menoleh ke samping. Tapi setelah itu, Amara memandangi tangannya bekas menampar ku tadi.
"Jadi, kamu berpikir aku semurah apa By?", tanyanya lirih. Tapi aku sakit mendengar pertanyaan itu.
Aku memalingkan wajah ku. Aku hanya takut tak bisa mengendalikan emosi ku.
"Jawab By!",dia menarik kerah jaket ku. Wajah kami begitu dekat bahkan aku bisa melihat kilatan emosi di mata Amara.
Aku kembali memalingkan wajah ku untuk menghindari tatapan mata itu. Amara mendorong ku hingga ke dinding. Masih dengan posisi yang sama, dia masih memegang kerah jaket ku.
"Kalo kamu mau tahu By! Setiap aku berdekatan dengan Frans, aku selalu merasa takut. Ya, aku memang bisa bela diri. Aku bisa melawan nya. Tapi aku memilih tidak melakukannya. Karena apa? Ada papi dan keluarga ku yang jadi sasaran amarah Frans. Ada ibu mu yang akan terancam keselamatannya karena memiliki penyakit yang sama seperti papi! Dan ada Sakti yang di pertaruhkan karirnya di sini! Lalu aku harus apa By? Apa???"
Kalimat demi kalimat itu keluar dari bibir gadis tinggi semampai itu.
"Frans meminta ku kembali padanya, aku ngga mau karena aku tak memiliki perasaan apa pun pada Frans selain rasa takut. Aku cuma cinta sama kamu Alby! Cuma kamu! Tapi aku takut! Mungkin jika hanya menyangkut keselamatan ku sendiri aku tak masalah. Tapi bagaimana dengan kalian? Orang-orang di sekitarku Alby! Katakan padaku, aku harus apa???"
Air mata Amara meleleh membasahi pipinya. Tanganku terulur mengusap kedua pipi nya. Hatiku sakit mendengar setiap kata yang keluar dari bibirnya. Amara begitu tertekan. Tapi apa yang ku lakukan? Bahkan aku menuduh nya seolah aku ini seorang yang paling berhak atas dirinya.
Amara meraih kedua tangan ku yang baru saja ku pakai mengusap pipinya. Dia mengecup kedua tangan ku.
"Aku harus apa By?", tanyanya menatapku sendu.
Tanpa mengatakan apapun, aku merengkuh tubuh gadis itu. Setelah itu, aku hanya mendengar isakan kecil darinya. Bahunya terguncang karena isakan dan tangis nya itu.
"Maaf!",hanya kata itu yang keluar dari mulut ku. Tanganku pun mengusap punggungnya perlahan. Mungkin... sedikit menenangkannya!
Apa karena dirinya juga Amara harus tertekan dan sakit seperti ini?? Apakah perempuan-perempuan yang bertahta di hatinya akan selalu tersakiti oleh nya, sengaja ataupun tidak. Tapi kenyataannya seperti ini!
Ini yang aku takutkan! Aku takut menyakiti perempuan lagi, termasuk Amara. Lalu apa yang harus aku lakukan untuk membebaskan Amara dari situasi ini? Apa aku harus melepaskan Amara untuk Frans meski hati Amara untuk ku???
*****
Segini dulu ya... hehehe
__ADS_1
Maafkeun kalo ga sesuai ekspektasi kalian para reader's. Boleh ngarep ngga sih, kalo ada yang nunggu tulisan receh ini up 😁😁😁😁
Makasih, matur nuwun, haturnuhun, tararengkyu ✌️🙏