
Daniel memasuki gedung perkantoran HS grup. Dia tahu ini masih terlalu pagi. Tapi jika tidak sekarang, mungkin dia akan sangat di sibukkan dengan pekerjaannya nanti. Daniel memilih untuk tinggal bersama mami dan papi nya lagi sejak beberapa hari yang lalu. Selama di rumahnya sendiri, ia akan terus terbayang-bayang almarhumah istrinya. Lagi pula, jika di rumah mami dan papi, Dhea lebih di perhatikan selama dia sibuk di kantor nya sendiri.
"Selamat pagi!", kata Daniel.
"Selamat pagi pak, ada yang bisa kami bantu?",tanya resepsionis.
"Saya ingin bertemu dengan pak Alby. Memang belum ada janji sebelumnya. Tapi saya ada kepentingan mendesak!"
"Tapi maaf, pak Alby nya belum datang pak. Maaf jika boleh tahu, dengan bapak siapa?",tanya resepsionis. Daniel mengeluarkan kartu namanya.
Resepsionis menerima kartu nama tersebut lalu membaca nya sekilas. Dia mengangguk lalu tersenyum.
"Jika bapak akan menunggu, silahkan pak. Nanti kalau pak Alby datang, saya beri tahu anda."
"Terimakasih mba, saya tunggu di sana!", kata Daniel duduk di bangku yang ada di lobby. Beberapa saat kemudian, bukan Alby yang datang melainkan Azmi.
"Pak Azmi!", panggil resepsionis.
"Ya?",tanya Azmi.
"Maaf pak, ada yang ingin bertemu dengan pak Alby. Beliau di sana, ini kartu namanya pak!",kata resepsionis memberikan kartu nama itu pada Azmi.
Azmi membaca kartu nama tersebut. RM Daniel Rahardi Putra. Kok kaya ngga asing? Gumam Azmi.
"Terimakasih!",kata Azmi pada resepsionis. Azmi pun meninggalkan resepsionis.
"Coba ya pak Alby ramah kaya pak Azmi, nilainya makin nambah tuh!",kata rekan resepsionis satu lagi.
"Jutek aja masih ada aja yang carmuk buat deketin! Sayangnya gagal mulu, ya kali belom ada yang bisa nyaingin kecantikan mendiang istri nya mungkin!", kata rekannya.
"Ya kali...!", sahutnya.
Azmi menghampiri Daniel yang duduk di bangku lobby.
"Selamat pagi!",sapa Azmi.
Daniel yang sedang memainkan ponselnya pun mendongakkan kepalanya menatap pria tampan yang ada di hadapannya.
"Maaf pak Daniel, saya Azmi. Aspri pak Alby. Beliau belum datang. Apa ada yang bisa saya bantu?",tanya Azmi. Daniel tersenyum tipis menanggapi sikap ramah aspri Alby.
"Iya, pak Azmi! Salam kenal!", Daniel mengulurkan tangannya bersalaman dengan Azmi. Azmi pun menyambut nya dengan ramah.
"Maaf sebelumnya pak Daniel, sepertinya perusahaan kami tidak ada kerja sama dengan perusahaan anda."
"Ya, memang benar. Tapi ada hal pribadi yang harus saya diskusikan dengan Alby di luar urusan bisnis."
"Owh... begitu!",kata Azmi.
"Kalau anda memang mau menunggu silahkan pak, menunggu pak Alby di ruangan saya. Sepertinya tidak etis jika membicarakan hal pribadi di sini!", kata Azmi. Daniel pun mengiyakan kata Azmi.
"Mari, silahkan!",Azmi mempersilahkan Daniel ikut ia ke lift khususnya petinggi perusahaan.
Di dalam lift, keduanya tidak saling mengobrol sampai berada di lantai dimana ruangan Azmi dan Alby berada.
"Silahkan pak Daniel!", kata Azmi.
Daniel pun duduk di ruangan Azmi.
"Mau minum apa pak?", tanya Azmi sopan.
"Tidak, terima kasih!", kata Daniel. Azmi hanya mengangguk lalu ikut duduk di hadapan Daniel.
"Kamu, aspri nya Alby? Berati...cukup dekat bukan?",tanya Daniel. Azmi mengangguk.
__ADS_1
"Iya, kami bersahabat di luar pekerjaan."
"Jadi, kamu juga kenal sama Amara kan? Adik saya?", tanya Daniel. Azmi sedikit terkejut dan iya kembali mengangguk.
Mampus Lo, By! Abangnya ke sini! Pasti mau ngomong soal....
"Kamu tahu juga dong, sejak kapan mereka saling mengenal?"
"Eum, hampir setahun ini mungkin pak!",jawab Azmi.
"Berati...tahu juga hubungan mereka seperti apa?", tembak Daniel.
"Hum? Ya... seperti itu... sejauh ini yang saya tahu mereka hanya berteman. Apalagi mereka baru bertemu lagi sejak nona Amara keluar dari instansinya."
"Kamu tahu semua hal tentang mereka?",tanya Daniel lagi.
"Tidak semua pak. Mereka pasti punya privasi juga yang tidak saya tahu."
"Benarkah?"
Azmi mengangguk.
"Tapi soal Alby dan Amara di apartemen, jangan bilang kamu tidak tahu!"
Uhuk-uhuk-uhuk Azmi tersedak liurnya sendiri. Dia bingung menjawab apa.
"Tidak mungkin bukan Alby merahasiakan hal itu terhadap aspri sekaligus sahabatnya? Saya memang belum pernah bertemu dengan Alby secara langsung. Tapi saya rasa, anda lebih dewasa di bandingkan dengan nya."
Ya Allah, apa gue setua itu??? Batin duda anak satu itu. Azmi kembali meneguk ludahnya. Kali ini tak tersedak ya.
"Saya tidak sengaja melihat perbuatan mereka dari cctv yang kebetulan sedang saya cek."
Uhuk-uhuk-uhuk sekarang Azmi benar-benar tersedak parah.
Gila ini! Bener-bener the end nih Alby! Jangan bilang Abang nya mau nuntut tanggungjawab Alby !
Azmi memandang Daniel beberapa saat. Setelah itu, Daniel tersenyum.
"Saya juga mualaf, jauh sebelum Amara!"
Azmi mengangguk pelan.
Alby baru saja tiba di lantai ruangan nya. Dia mendengar Azmi terbatuk-batuk dari tadi, dia memutuskan untuk langsung masuk ke dalam ruangan Azmi.
"Assalamualaikum, Mi Lo kenapa!? Beng....ngek?", tanya Alby putus-putus karena dia tak menyangka ada tamu di ruangan aspri nya.
Daniel menatap Alby dengan pandangan tajam. Alby yang tidak mengenal Daniel pun masuk ke dalam ruangan Azmi.
"Maaf, saya tidak tahu kalo ada tamu. Silahkan Mi, lanjutin aja!", kata Alby tanpa beban.
"Pak Alby, pak Daniel ingin bicara dengan anda. Bukan dengan saya!",kata Azmi dengan suaranya yang sedikit serak karena terbatuk tadi.
"Hah? Dengan saya ?",tanya Alby. Daniel mendekati Alby yang sudah berada di samping Azmi. Azmi menggeser tubuhnya dari mereka berdua. Duda beranak satu itu menyingkir dari kedua pria itu.
Wait??? Mereka bertiga duda kan gaes??? π€
Daniel mencengkram kerah kemeja Alby. Mata mereka saling bertemu.
"Jadi, kamu laki-laki yang bernama Alby? Yang sudah melecehkan adik perempuan ku?",tanya Daniel dengan penuh penekanan. Alby menengok ke arah Azmi yang dia sendiri juga sepertinya tak bisa banyak membantu.
"Maksudnya apa?",tanya Alby pura-pura bodoh.
"Kamu tanya maksudnya apa?? Kamu pikir saya tidak tahu apa yang terjadi di apartemen Amara? Hah?", suara Daniel begitu galak terdengar di telinga.
__ADS_1
"Maaf...kak Daniel? Kakak Amara?",tanya Alby takut-takut.
"Iya!",jawab Daniel tanpa melepaskan tangan nya dari kerah Alby.
"Maaf pak Daniel, bisa kan tidak usah pakai kekerasan?",Azmi mencoba melerai mereka berdua. Tepatnya meminta Daniel melepaskan bos sekaligus sahabatnya.
Dengan perlahan, Daniel melepaskan kerah pakaian Alby.
"Maaf kak Daniel!", ucap Alby lirih.
"Maaf katamu???"
Alby dan Azmi tersentak mendengar bentakan Daniel. Bisa saja Azmi pergi dari ruangan itu. Tapi dia hanya takut jika bos nya kenapa-kenapa.
"Setelah apa yang kamu lakukan pada Amara, kamu cuma bilang maaf?"
"Kak ,aku ..aku sudah ingin bertanggung jawab pada Amara. Tapi ...dia menolak niatku kak."
"Apa?",tanya Daniel.
"Iya kak, bahkan Amara meminta ku untuk melupakan hal itu."
"hah!! Astaghfirullahaladzim!", Daniel mengusap wajah nya kasar.
"Kalian bisa melakukan hal seperti itu, sejauh apa hubungan kalian? Kalian sudah sama-sama dewasa. Bukan saat nya lagi untuk pacar-pacaran!"
"Kami...kami...belum ada komitmen apa pun Kak!", kata Alby.
"Tidak ada komitmen tapi kenapa kalian bisa melakukan hal sejauh itu...?", Daniel kembali mencengkram kerah Alby.
Azmi tak bisa mencegahnya. Sejauh ini dia hanya cukup memantau nya saja agar tidak sampai ada kekerasan.
Alby menceritakan kronologi kejadian di mana akhirnya peristiwa itu bisa terjadi. Daniel pun mendengarkan semua yang Alby ceritakan.
"Kak, aku...aku mau bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan pada Amara kak. Tolong bujuk Amara?!", kata Alby.
Daniel duduk kembali di sofanya. Dia memijat pelipisnya yang kian berdenyut nyeri. Mungkin benar, Amara beruntung. Alby tak sampai benar-benar merusak Amara. Tapi bagaimana pun juga itu hal yang memalukan.
Dan sepertinya, Amara memang memiliki perasaan terhadap Alby. Tapi entah apa yang membuat seorang Amara ragu. Jika itu karena kehadiran Frans, tapi juga Amara saja tidak ingin kembali pada Frans.
"Bagaimana cara ku membujuk Amara, dia saja tak mau memberi tahu alasannya kenapa dia tak ingin kamu mempertanggung jawabkan hal itu. Atau.... jangan-jangan kamu tidak memiliki perasaan sama sekali terhadap adikku? Begitu?"
Alby bergeming.
Kan....makin panjang urusannya! Azmi jadi pusing sendiri.
"Apa masih ada perempuan lain di hati kamu, iya?",tanya Daniel. Alby masih terdiam.
"Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku hanya ingin adik ku satu-satunya bahagia. Itu saja! Terserah kamu! Kalo kamu mau memperjuangkan Amara, aku mendukungmu. Tapi ....!"
Alby mendongakkan kepalanya.
"Tapi ... sepertinya kamu sedikit terlambat. Frans lebih dulu menyampaikan niat baiknya pada mami dan papi ku. Beliau berdua, merestui niat Frans yang jauh-jauh dari negaranya untuk mendapatkan Amara lagi."
Alby menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Bagaimana ini???? Aku harus apa??? Batin Alby.
*****
Ada yang nunggu ga sih? π₯Ίπ₯Ίπ₯Ίπ€π€π€
Anggap aja POV othor ya π€π€π€π€
__ADS_1
Masih bingung kan?? Sama! Mamak juga!
Makasih ππππ