
Alby dan Azmi kembali sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan mereka mendirikan empat rakaatnya lewat waktu, menjelang ashar.
Bisa gitu???
Beberapa kali Amara menghubungi sang suami, tapi karena tidak di angkat bahkan di balas sama sekali, Amara jadi berpikir yang bukan-bukan.
Padahal...apa yang harus Amara khawatirkan coba? Mantan duda itu sudah menjadi miliknya!
"Nona, anda kenapa?", tanya Nada yang melihat Amara gelisah.
"Heum? Ngga apa-apa Nada!", jawab Amara. Mereka sedang makan siang di kantin. Seperti halnya dengan Alby dan Azmi, dua perempuan cantik itu terlambat makan siang.
"Tapi sepertinya ada yang nona cemaskan?", Nada masih ingin tahu.
"Huffft, Alby ngga angkat telpon ku. Ngga balas pesan ku!", kata Amara lesu sambil menopang dagunya dengan tangan kirinya. Tangan kanannya mengaduk-aduk makan siangnya yang baru ia makan beberapa suap.
"Hehehe kirain kenapa! Apa yang harus anda cemaskan nona, pak Alby sudah jadi suami anda! Nanti pulang kantor, kalian juga akan bertemu lagi."
"Astaghfirullah! Iya juga ya? Hehehe bisa lupa aku Nad!", Amara menepuk dahinya sendiri.
"Bisa gitu ya???", Nada menggeleng heran.
"Oh ya, jam berapa sidang putusan Frans besok?"
"Jam sembilan nona! Perlu saya dampingi?", tawar Nada.
"Heum? Kayanya kamu ngurusin kerjaan kantor aja Nad. Alby sama pengacara yang nemenin besok!"
"Owh, baiklah. Semoga semuanya di lancarkan ya Nona."
Amara tersenyum tipis. Dilancarkan dalam artian yang seperti apa?
Apa Amara akan tega mendengar vonis untuk Frans? Bagaimana pun, mereka pernah memiliki rasa yang sama. Bahkan...apa yang Frans lakukan karena obsesinya atau terlalu mencintai Amara.
Di sela lamunannya, ponsel Mara berdering. Kabar dari seseorang yang ia tunggu yaitu suaminya.
"Bentar Nad!", kata Mara. Nada pun hanya mengangguk.
[Assalamualaikum A?]
[Walaikumsalam, maaf neng. Aa sama Azmi sibuk banget. Maaf ya, ga angkat telpon kamu tadi]
[Ngga apa-apa A. Aku cuma cemas aja, kok kamu ngga balas chat aku. Tapi ya...udah gak apa-apa. Aku sendiri juga baru sempat makan nih sama Nada]
[Jangan telat makan dong sayang, kerjanya jangan terlalu di forsir]
[Iya, besok-besok ngga telat lagi!]
[Ngga boleh ada acara lembur lagi! Jam kerja selesai, udah lho!]
[Iya, A. Masyaallah kok jadi bawel sekali suamiku ini]
Amara yang menggoda suaminya, Nada yang cengengesan. Mungkin dia sedang membayangkan mantan duda ganteng itu berbicara panjang lebar pada Amara. Nada dan kebanyakan orang yang mengenal Alby pasti tahu, mantan duda itu agak susah di ajak bicara. Tapi....Amara sungguh luar biasa, bisa menaklukan seorang Alby.
[ya udah Neng. Gimana kalo nanti malam, kita makan malam di luar. Di restoran Xxx. Kamu pulang duluan, jemput Nabil. Nanti dari kantor, aku langsung meluncur ke sana]
[Kamu pulang malam A?]
[Ngga terlalu sih, pokoknya nanti kita ketemu di sana]
[Mak ikut kan?]
__ADS_1
[Kalau Mak mau mah hayo wae, tapi kalo ngga mah ya ngga usah maksain]
[Oke lah...]
[Ya udah, Aa mau lanjut kerja lagi. Assalamualaikum]
[Iya, walaikumsalam]
Amara kembali menaruh ponselnya. Wajah nya sudah sumringah tak di tekuk seperti tadi.
"Emang ya, aura orang jatuh cinta itu keliatan banget deh!", ledek Nada. Amara memicingkan matanya.
"Masa sih??? Sama dong kaya kamu yang baru official sama Billy??", Amara justru kembali meledek Nada. Wajah Nada bersemi merah. Bagaimana bisa atasannya tahu kalo dirinya sedang dekat dengan pemimpinnya bodyguard Amara????
"Ngga kok!", kata nada malu-malu.
"Ngga usah malu nada, Billy udah ijin kok sama aku!", kata Amara sambil menyuapkan nasinya dengan lahap. Mungkin karena moodnya udah balik normal.
"Hehehhe...!", nada hanya merenges merasa salting sendiri.
.
.
"Assalamualaikum!", Mara memasuki rumah Mak Titin.
"Walaikumsalam, mama?!", Nabil berlari menghampirinya.
"Duh, anak ganteng mama udah mandi ya? Wangi banget?", Amara menggendongnya Nabil sambil menciumi pipinya. Amara sudah pulang lebih dulu sebelum menjemput Nabil.
"Udah dong Ma. Lho, mama sendiri ?Papa mana?", Nabil celingukan.
"Papa belum pulang sayang. Oh ya, habis magrib Nabil, mama sama nenek makan malam di restoran ya? Papa yang minta!", kata Mara.
"Eh, udah pulang Mara?"
"Iya Mak!", Mara mencium punggung tangan mertuanya. Amara melihat sekilas penampilan ibu mertuanya.
"Mak , mau pergi?", tanya Mara.
"Iya, ada pengajian di komplek belakang. Biasa lah, majelis ta'lim yang ngadain pengajian rutin. Kebetulan kelompok Mak yang jadi pengisi acaranya."
"Heum gitu? Acaranya jam berapa Mak?",tanya Amara. Perempuan itu sudah duduk sambil memangku Nabil.
"Bada isya sih!", kata Mak.
"Yah, padahal Aa ngajak makan di luar Mak!", suara Amara sedikit lesu. Tapi Mak Titin justru tersenyum dan mengusap punggung tangan Amara yang ada di meja makan.
"Ngga usah sedih. Kalian pergi bertiga saja. Insyaallah lain kali, Mak teh ikut. Ya?", Mak mengusap pipi Amara. Nabil hanya sesekali menoleh mamanya dan neneknya.
Amara pun hanya mengangguk tipis dan tersenyum.
"Mama!"
"Iya sayang?"
"Itu...kunci mobil, mama bawa mobil sendiri?",tanya Nabil. Amara mengangguk.
"Iya, mama ke sini bawa mobil mama. Tapi, di depan udah di jemput sama Om Billy. Jadi, mobilnya di tinggal di sini. Soalnya tadi mama bawa mobil dari rumah kita."
"Owh...mobil mama di rumah opa nya Dhea banyak ya Ma?!", Nabil tersenyum riang. Mara mengiyakan dengan anggukan tak lupa dengan senyuman manisnya.
__ADS_1
"Eh, udah azan magrib tuh. Solat dulu gih, nanti tinggal berangkat!", pinta Mak Titin. Amara dan Nabil pun mengikuti perintah Mak Titin.
Amara dan Nabil mengambil wudhu di belakang. Mereka bertiga solat di ruangan yang sengaja di sulap menjadi mushola rumah.
Tiba-tiba dada Mak Titin merasa begitu sesak. Bayangan di mana ia sering berjamaah dengan Bia melintas di pelupuk matanya begitu saja.
Berjamaah dan tinggal bersama dengan Bia bukan hanya sehari dua hari, sekali dua kali tapi lebih dari dua tahun.
Penyesalan seperti apapun tidak akan bisa mengobati sakit hati Bia hanya karena Alby ingin menyelamatkan nyawa nya.
"Mak kenapa?", tanya Mara penuh perhatian setelah ia selesai berdoa. Mak Titin menghapus tetesan bening di pipinya yang mulai keriput.
"Ngga apa-apa nak. Mak bahagia aja, bisa berjamaah sama menantu cantik Mak!", Mak Titin mengusap pipi Amara. Tak mungkin ia mengatakan jika dirinya sedang merasa sedih akibat penyesalan yang tak berujung.
Setelah kembali merapikan jilbabnya, Amara dan Nabil pun bersiap untuk ke resto Xxx karena Billy sudah menunggunya.
Keduanya berpamitan pada Mak Titin, dan setelah itu Amara mengabari Alby jika mereka sudah dalam perjalanan.
Tak sampai satu jam, keduanya sampai di restoran Xxx dimana Alby membuat janji bertemu di sana.
"Billy, kamu bisa langsung pulang. Aku pulang dengan Alby nanti!", kata Amara pada Billy.
"Baik Nona. Tapi...anak buah saya standby di sekitar nona."
"Sebenarnya... mungkin tidak akan terjadi yang membahayakan lagi Bil. Frans sudah di sel."
"Tapi kejahatan dan niat buruk bisa saja di lakukan oleh siapapun, kami hanya mengantisipasi seperti perintah pak Alby dan tuan Rahadi."
"Oke...kalo papi sudah turun tangan, aku no komen!", kata Mara. Lalu ia pun menggandeng Nabil untuk masuk ke dalam restoran Xxx.
Seorang gadis yang tak lain Bianca menatap kesal pada Amara yang menggandeng Nabil dengan akrab bak ibu dan anak.
Dengan sedikit tergesa-gesa ia menghampiri Amara, sedang tangannya membawa minuman panas yang baru saja ia seduh.
Amara sedang bertanya pada pelayan apakah suaminya sudah booking tempat, dan ternyata Alby memang sudah memesan tempat di meja belakang yang dekat dengan taman karena sengaja ingin membuat Nabil nyaman.
Dengan pura-pura menabrak, kopi panas yang baru Bian seduh menyiram tangan Amara yang berusaha menutupi Nabil. Jika tidak, mungkin Nabil yang terkena kopi panas tersebut.
Prang....
"Awshh!", desis Mara.
"Mama!", pekik Nabil.
"Mama ngga apa-apa sayang!", kata Mara. Dia sempat ingin memarahi Bianca yang dengan jelas sengaja ingin berulah.
Tapi Amara memilih untuk mengajak Nabil ke wastafel. Tanpa rasa bersalah sama sekali, Bianca mengikuti Amara.
Para pelayan dan beberapa tamu tahu jika Bianca dengan sengaja melakukan itu semua.
"Nabil, sini sama teteh Bian!", ujar Bian mendekati Nabil. Tapi Nabil menggeleng. Ia memeluk erat pinggang Amara yang sedang berdiri di wastafel karena ia menyirami tangannya yang terkena kopi panas.
"Ngga mau. Nabil mau sama mama Mara!"
Bianca mendengus kesal karena Amara seolah hanya fokus dengan lukanya tak menanggapi Bianca.
Baru Bianca mangap ingin mengajak Amara berbicara, suara bariton yang sangat ia kenal memekakan telinga Bian, Amara dan Nabil.
"Bianca!!! Apa yang kamu lakukan????!!!", bentaknya.
***
__ADS_1
Maaf lamun loba typo ya ✌️🙏