Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 189


__ADS_3

Azmi merebaknya diri di pembaringannya. Kasur lantai dengan sprei berwarna abu muda. Tak lupa ia menyalakan AC lebih dulu sebelum ia benar-benar terlelap. Saat akan mengambil remot AC, tak sengaja tangannya menyenggol sebuah pigura dan hampir terjatuh. Spontan Azmi pun bangun untuk menahan agar benda itu tak benar-benar jatuh.


Dipandanginya pigura berborder hitam dengan list berwarna silver. Pigura yang berisi foto dirinya dan juga istri serta anaknya.


Jemari Azmi mengusap foto istrinya yang tak memakai niqob karena ia sendiri yang mencetak foto itu.


Istrinya sangat cantik dengan hidung mbangir dan bibir mungil. Dan...putri mewarisi wajah sang istri.


Azmi memejamkan matanya. Sebagai seorang lelaki normal, wajar jika dia merindukan menyentuh lawan jenis. Dan sejak istrinya tiada, Azmi benar-benar tak pernah melakukannya. Jangan kan sejak istrinya meninggal. Bahkan jauh sebelum uminya Putri pergi untuk selamanya, Azmi sudah tak pernah melakukannya.


Demi menjaga kewarasannya, Azmi pun masuk ke kamar mandi untuk mendinginkan tubuhnya. Tak lupa ia mengambil air wudhu agar tak memikirkan hal yang menjurus ke arah sana. Dia sadar, dia lelaki normal dan masih produktif. Wajar jika ia menginginkan hal semacam itu. Hanya saja....dia tak ingin berimajinasi yang tidak-tidak. Membayangkannya saja sudah membuat ia ngeri sendiri. Azmi memilih solat sunah untuk meredam gejolak dalam batinnya sebelum semua semakin menjadi.


Setelah puas bermunajat, ia pun kembali ke kasurnya. Lelaki itu berusaha memejamkan matanya. Badannya lelah tapi entah kenapa matanya tak bisa di ajak berkompromi.


Jika tadi ia teringat pada almarhumah istrinya, sekarang justru bayangan Nur menguasai pikirannya.


Gadis cantik yang terpaut usia lebih dari delapan tahun darinya pun seolah berada di depan matanya.

__ADS_1


Nur, gadis yang suka bicara ceplas-ceplos tapi juga suka malu-malu dan salting membuat Azmi menyunggingkan senyuman meski ia memejamkan matanya.


Azmi sampai tak habis pikir seolah takdir sedang mempermainkan hidupnya. Nayla, anak sulung si Abah yang di jodohkan dengannya memilih menikahi lelaki yang menghamilinya. Salsabila, siapapun akan terpesona pada Ustadzah muda dan cantik itu . Termasuk Azmi yang beberapa kali mengobrol dengan ustadzah yang memang mengajar Putri di pesantren.


Dan sekarang...anak bungsu Abah Mirza. Nur, gadis paling kecil diantara dua tetehnya ya h sukses membuat hidup nya seolah kembali berwarna. Ya, keduanya memang tak terlalu banyak berinteraksi. Tapi... mungkin jika sudah berbicara takdir, mungkin pertemuan nya dengan Nur beberapa bulan ini adalah jalan takdir yang harus ia lalui. Akhirnya, lelaki tampan yang berstatus duda itu pun mulai terlelap dan masuk ke dalam mimpinya.


Ia akan menyongsong hari barunya esok pagi. Dengan segala kejutan dan misteri yang tak pernah ia duga.


.


.


"Terimakasih sayang?", sahut Azmi. Keduanya sudah berpakaian rapi untuk bersiap ke kantor.


"Oh ya A, besok papi dan mami berangkat ke Jogja. Dua hari lagi kan puasa!", kata Amara.


"Nanti malam kita ke rumah papi aja!", kata Alby.

__ADS_1


"Oh, oke. Emang aa ngga sibuk?", perempuan itu duduk di samping Alby.


"Insyaallah ngga sih. Kalo lusa emang iya, apalagi ada rapat bulanan."


Amara menoleh padanya. Memindai wajahnya sesaat.


"Ada Bia dong?", tanya Amara. Alby yang sedang menyesap tehnya pun menoleh lalu kembali meletakkan tehnya.


"Kenapa heum?", tanya Alby pelan.


"Ngga apa-apa!"


"Kamu cemburu?", tanya Alby. Amara menatap mata jernih suaminya.


"Ya...wajar kan kalo aku cemburu! Bia cantik! Bia....!"


"Iya, Bia memang cantik! Tapi dia istri Febri, bukan istri ku lagi. Dan sekarang, buatku istri ku ini yang paling cantik. Ngga ada yang lain?!"

__ADS_1


"Gombal!", Amara mencebikkan bibirnya.


"Tuh, di rayu bilangnya gombal kan?", kata Alby. Keduanya pun sama-sama tertawa. Lalu mereka pun bersiap ke kantor. Tapi sebelumnya, mereka mampir ke rumah Mak dulu untuk berpamitan pada Nabil dan Mak nya.


__ADS_2