
Amara mengirim chat pada Alby jika ia menjemput mami papinya di Padang. Sudah lebih dari sebulan sejak pertunangan nya dengan Frans kedua orang tuanya di kota itu.
Sedikit keberatan sebenarnya, tapi Alby bisa apa? Toh memang itu urusan pribadi Amara. Alby sendiri masih orang asing di keluarga itu.
"Bos, meeting mulai jam sepuluh!",kata Azmi.
"Iya!",jawab Alby singkat.
"Lesu banget, kenapa?",tanya Azmi sambil mengecek laporan nya untuk presentasi di rapat pemegang saham nanti.
"Huum. Amara ke Padang. Jemput mami papi nya."
"Ya bagus dong ,kalo mereka pulang tinggal temui mereka. Minta doa restu sama minta anak gadisnya buat jadi calon ibu sambung Nabil!", celetuk Azmi santai.
"Ga semudah itu Azmi!"
"Ckkk, acan di cobi. Sok atuh di cobi heula!",cebik Azmi.
"Sieun urang teh",kata Alby.(Takut aku tuh)
"Ya udah, itu artinya kalian bakal bikin maksiat mulu. Coba kalo nikah, kan yang ada dapat pahala."
"Pinter Lo nasehatin orang, kenapa ga Lo aja yang nikah duluan!",sahut Alby.
"Heum, gue belum move on dari uminya Putri."
Alby cukup paham jika Azmi masih sangat mencintai almarhumah istrinya. Tidak seperti dirinya, yang bahkan mungkin melupakan Silvy begitu saja.
"Ya udah, siap-siap gih!",ujar Azmi mengajak Alby turun ke lantai di mana ruang meeting berada.
"Eh, hape gue mana ya?",tanya Alby pada Azmi.
__ADS_1
"Ngga tahu. Ketinggalan di mobil kali!", celetuk Azmi.
"Iya kali ya. Ya udah gue ke mobil dulu deh. Lo ke ruang meeting duluan."
"Iya bos!",sahut Azmi. Keduanya menuju ke lift. Azmi lebih dulu keluar dari lift karena ia turun di lantai lima. Sedang Alby menuju ke lantai dasar.
.
.
"Nanti pulang jam berapa nduk?",tanya Febri yang mengantarkan Bia sampai di loby.
"Ga tau mas. Gampang nanti aku bisa naik taksi kok."
"Kalo kira-kira lama, pulang aja ya. Kasian si kembar. Lagian, harus banget gitu kamu rutin datang ke acara begini!?",keluh Febri.
"Jadi, ngga boleh nih?",tanya Bia.
"Boleh kok sayang!",ujar Febri sambil tersenyum tipis. Bia pun mencium punggung tangan suaminya sebelum Febri bertolak ke kantor nya lagi.
Dengan sedikit gamang Alby menghampiri mantan istrinya yang akan menuju ke lift.
"Neng!",panggil Alby. Bia pun berhenti seketika.
"Eh, iya A."
Tampaknya Bia sudah biasa saja seolah dia dan Alby tak pernah memiliki hubungan apa pun.
"Sendiri?",basa basi Alby. Padahal dengan jelas ia melihat Febri yang berlalu tadi.
"Ngga, tadi di antar mas Febri." Alby pun mengangguk.
__ADS_1
"Langsung ke atas?",tanya Alby pada Bia.
"Iya deh. Semoga meeting nya ga lama ya. Kasian anak-anak di rumah !",kata Bia sambil melangkah ke lift. Alby pun melakukan hal yang sama, mengikuti langkah Bia. Sesekali para penghuni kantor menyapa Alby.
Tapi tetap saja, image nya langsung terbentuk jutek jika sedang berada di lingkungan yang hanya kebanyakan menatap fisiknya.
Lift umum terlihat antre. Tapi tidak untuk lift para petinggi perusahaan. Alby dan Bia pun masuk ke dalam lift tersebut, berdua. De Javu! Untuk ke sekian kalinya mereka berada di lift yang sama hanya berdua. Mungkin memang mereka tak melakukan apapun, tapi perasaan keduanya sebenarnya masih canggung. Hanya saja , sekarang Bia lebih bisa menutupi perasaan tersebut. Meski pada akhirnya, isi hati hanya si pemilik hati yang tahu.
Baru beberapa detik mereka masuk, tiba-tiba lift berhenti dan....Petttt!
"Astaghfirullahaladzim!",pekik Bia.
Lift berhenti dengan tiba-tiba dan lampu nya pun otomatis mati. Ada lampu emergency yang menyala, tapi tak seberapa.
"Ngga apa-apa neng?",tanya Alby cemas. Karena Alby masih ingat, mantan istrinya itu takut gelap.
"Iya, aku ngga apa-apa A!",jawab Bia dengan suara gemetar. Tapi Alby tahu jika mantan istrinya sedang tak baik-baik saja. Bia menyandarkan tubuhnya ke dinding lift sebelah kiri sedang Alby di sebelah kanan.
Ingin sekali Alby menenangkan Bia, tapi ada batas yang sudah tak bisa ia tembus untuk sekedar menenangkan sang mantan istri.
Beruntung, lift langsung kembali menyala. Alby melihat Bia yang berkeringat dingin di pojok kiri.
"Neng, kamu teh beneran ngga apa-apa?",tanya Alby cemas.
Pintu lift terbuka di lantai ruang meeting. Tanpa menjawab pertanyaan Alby, Bia pun keluar dari lift tersebut di susul Alby.
Tapi siapa yang menyangka jika di depan lift ada beberapa orang yang menatap heran pada keduanya.
"Mas Alby satu lift berdua dengan mantan istri? Waw!!!!",sindir seseorang yang tak lain Bianca. Semua mata tertuju pada gadis itu.
Kenapa gadis itu bisa seenaknya keluar masuk kantor perusahaan ini sih?
__ADS_1
Bia mendadak diam menatap gadis yang baru saja menyindir dirinya dengan Alby. Tapi setelah itu, dia pun memilih meninggalkan begitu saja lalu masuk ke dalam ruangan.
Alby pun turut abai seperti yang mantan istrinya lakukan. Meladeni gadis tak tahu malu seperti Bianca tidak akan ada habisnya.