
Amara
Aku membaca dengan seksama form untuk dapat kirim ke perbatasan. Semua keputusan yang akan ku ambil pasti akan menerima resiko.
Dan aku yakin, respon mami dan papi akan seperti yang aku pikirkan. Mereka pasti akan melarang ku. Terlebih, ini bukan SK yang turun secara langsung menunjuk namaku melainkan keinginan ku sendiri.
Tapi... mungkin Tuhan memang mentakdirkan aku sendiri. Usiaku sudah dua puluh delapan tahun. Karir ku bagus, secara visual aku juga kategori cantik. Banyak yang mengagumi 'kesempurnaanku' dari kacamata mereka.
Sedangkan teman-teman seusiaku banyak yang sudah punya anak lebih dari satu. Tapi aku? Bahkan hilalnya saja belum kelihatan. Tentang jodoh, tidak berpihak padaku atau lebih tepatnya belum berpihak padaku.
Kalau nantinya aku memang tak berhak mencintai laki-laki yang aku cintai, setidaknya suatu saat nanti akan ada laki-laki yang mencintai ku dengan segala kekurangan ku.
Akhirnya, aku menandatangani formulir itu. Aku akan segera menyerahkan formulir pendaftaran ku agar segera di tandatangani juga oleh Kapten Febri. Karena untuk saat ini, dia lah yang berwenang di atasku sebelum di serahkan ke pusat.
"Lettu Amara?", sapa rekan ku, Letda Agatha.
"Iya?", sahutku. Dia mendekati ku. Lalu membaca sekilas formulir tersebut.
"Lettu Amara yakin ingin ikut serta di misi sekarang ini? Bukankah Lettu Amara baru pulang beberapa bulan lalu dari negara konflik? Mau pergi lagi?", cerca Letda Agatha.
"Iya, saya rasa memang dinas lapangan lebih cocok buat saya Let!", sahutku.
"Apa Lettu ada masalah berat?",tanya Agatha. Ruangan itu terdapat beberapa meja. Ada beberapa rekan mereka yang duduk di meja masing-masing, tapi setelah itu hanya tersisa Amara dan Agatha.
Setelah memastikan kami hanya berdua, obrolan kami pun mulai santai.
"Apa masih belom bisa move on dari kapten? Karena...tadi liat istrinya ikut ke sini?", tanya Agatha yang kini duduk di hadapan ku.
Aku menghela nafas. Benar sih, ada hubungannya sama Bia. Tapi ini bukan salah Bia. Aku yang sudah terlanjur menjatuhkan hati pada laki-laki yang salah. Lagi ...dan... lagi!
"Gak kok."
"Yakin?", tanya Agatha memastikan. Kayanya hampir semua tahu kalo dulu aku suka pada atasanku sendiri.
"Aku udah ga ada rasa apa-apa kok sama kapten Febri. Bahkan aku malah suka liat dia begitu menyayangi istri nya."
Bahkan Alby pun masih mencintai nya! Miris kali hidup kau ini Amara!
"Syukur lah. Seandainya pun dulu kalian bersama, toh pada akhirnya akan berpisah karena perbedaan. Bukan begitu? Cari saja yang seiman Mara!"
Masalahnya, aku justru jatuh hati dengan laki-laki yang pasti berbeda keyakinan dengan ku.
Aku tersenyum tipis mendengar nasehat Agatha.
"Tapi jika Tuhan saja menurunkan perasaan cinta di hatiku untuk laki-laki yang tak seiman dengan ku, aku bisa apa?"
__ADS_1
"Jadi...kamu sedang dekat dengan laki-laki muslim?"
Aku tak mengangguk juga tak menggeleng.
"Tidak dekat. Hanya saja aku pernah mengatakan jika aku tertarik padanya. Itu juga... karena dia yang lebih dulu menembakku dengan pertanyaan 'Lo suka sama Gue' ? Seandainya dia ngga bilang kaya gitu, mungkin perasaan gue masih baik-baik saja sampai sekarang."
"Wait? Apa aku mengenal laki-laki itu?"
Aku menggeleng." Aku rasa tidak."
"Lalu, siapa laki-laki beruntung itu?", cerca Agatha.
"Bahkan dia tak mau ku dekati Tha. Apa nya yang beruntung?"
Agatha menautkan kedua alisnya.
"Maksudnya gimana?"
Akhirnya aku ceritakan ide Azmi, sampai pada titik di mana Alby baru saja menghubungi ku. Tapi tanpa mengatakan bahwa Alby itu mantan suaminya istri pak Kapten. Bisa heboh nantinya!
"Ya Tuhan!", Agatha menutup mulutnya.
"Ga punya harga diri ya aku ini?"
"Apa yang mau di jelasin Tha? Udah tahu kan kalo perasaan gue bertepuk sebelah tangan? Ini bukan pertama kalinya kok aku merasakan seperti ini!"
Memalukan memang ya? Perempuan mengejar laki-laki! Andai kalian tahu, ada hal yang lebih memalukan dari ini.
Menjadi kekasih suami orang, itu lebih memalukan! Padahal aku sendiri tidak tahu jika dia pria beristri! Ckkk...kalo ingat dokter Frans, hanya ada perasaan bersalah pada istrinya yang bahkan sedang mengandung anaknya dan harus di tinggal tugas oleh dokter Frans. Ah, ingat itu rasanya kepala ku mau pecah! Aku jadi merasa seolah-olah aku ini pelakor! Padahal aku tak tahu jika dia sudah beristri. Laki-laki bren**** memang!
"Amara, jangan ambil keputusan saat emosi seperti ini!", Agatha menasehati ku lagi. Aku menggeleng.
"Aku sudah pikirkan kok! Kalo gitu, aku mau anter ke ruangan kapten Febri dulu!", kataku berdiri meninggalkan Agatha.
Sesekali aku berpapasan dengan rekan ku yang lain saat menuju ke ruangan Febri, sampai akhirnya aku tak sengaja melihat sosok yang dari tadi ku pikirkan ada di ujung lorong sana yang sedang bertanya pada rekan ku. Apa yang dia lakukan di sini??
.
.
Alby
Belum saatnya jam makan siang, bahkan ini masih sekitar jam sepuluh. Tapi aku sudah keluar dari ruangan ku.
"Siang pak!", sapa karyawan ku. Aku hanya mengangguk kecil.
__ADS_1
"Permisi pak Alby!", sapa seseorang. Dan saat ku tengok, ternyata Bianca. Gadis ini selalu saja...!!!
"Ya?", sahutku. Sebenarnya aku sedang ingin buru-buru menemui Amara, tapi ada aja gangguan nya.
"Pak, nanti siang bisa ngga makan siang sama saya? Di restoran Mas Bram? Kebetulan, katanya nanti mas Sakti sama istrinya juga ke sana. Mau ya pak?"
Sebenarnya aku sudah lama tak bertemu Sakti, tapi mungkin tidak untuk saat ini. Aku harus meluruskan urusan ku dengan Amara.
"Saya tidak bisa!"
"Ayolah pak, sekali ini aja!", rengek Bianca. Rengekan Bianca mengingatkan ku pada almarhumah Silvy yang suka memaksa kehendaknya saat awal-awal aku dan dia bersama.
"Kamu bisa bahasa Indonesianya tidak? Saya sudah jawab tidak bisa kan???! Kamu magang di sini, untuk bekerja! Bukan untuk coba-coba mendekati saya! Kamu paham?", aku memang tidak membentaknya tapi aku rasa bahasa ku sudah cukup nyelekit kaya di cubit.
Bianca terdiam sambil menatap ku ragu-ragu. Meski aku mengenal kakaknya, bukan berarti dia bisa semau-maunya di sini.
"Maaf pak, saya kan cuma mau mengajak makan siang. Itu aja pak. Saya berharap bapak mau!", kata Bianca tanpa malu-malu lagi.
Gila nih bocah! Benar-benar ini copas nya Silvy!
"Kamu, masih paham bahasa manusia kan?", tanyaku pelan.
Mata Bianca melebar tak percaya aku bicara seperti itu. Mungkin juga karyawan ku yang lain juga berpikir seperti itu.
Setelah itu, mata Bianca berkaca-kaca dan detik berikutnya dia meninggalkan ku. Aku menengok ke sekeliling ku. Ternyata banyak yang sedang berada di sini.
"Kenapa kalian masih ada di sini? Tidak ada pekerjaan di meja kalian?", tanyaku pada mereka. Mereka pun meninggalkan ku satu per satu.
'Gila ya tu mulut duda. Makin judes aja tuh mulut!'
'Si bocah magang juga kelewat berani ya deketin kek gitu. Cari perkara. Bikin sakit hati sendiri itu namanya!'
'Tuh duda ga sadar diri kali ya? Dia bisa kaya gini juga karena mertua nya. Ga tahu diri, sombong banget!'
Kira-kira begitu lah gunjingan karyawan HS grup.
Aku pun keluar dari gedung. Di pos satpam, aku menghampiri satpam.
"Pak Alby!", sapa pak Satpam yang tadinya sedang duduk tiba-tiba berdiri.
"Pak, bawa motor kan? Boleh pinjam buat ke kantor sebelah!".
"Oh, silahkan pak!", katanya lalu memberikan kunci. Karena khusus motor satpam, di letakkan di belakang pos. Tidak di parkiran dalam.
Aku pun melesat menuju ke kantor Amara. Apa dia akan mendengarkan penjelasan dan alasan ku???
__ADS_1