
Amara
Aku memasuki halaman rumah kedua orang tua ku setelah pak Ujang membuka pintu gerbang. Ternyata dua kakak ku sedang berada di dalam. Aku tahu itu karena ada mobil mereka di halaman.
Huffft!!!
Aku yakin, Kak Daniel sudah mengatakannya pada mami dan papi mungkinkah juga pada kak Nathan.
"Assalamualaikum!",aku memberi salam karena aku melihat kakak-kakak ku serta kakak iparku yang bercadar duduk di sofa ruang tamu.
"Walaikumsalam!", jawab mereka. Tak lama kemudian, mami dan papi ku bergabung di sana.
Tatapan papi terlihat begitu tajam padaku. Aku mendadak salting di buatnya.
"Mi, Pi, Kak Daniel, kak Nathan, mba Mayang!", sapaku sambil mengangguk pelan. Kakak-kakak ku hanya mengangguk tipis.
"Kamu mau bebersih dulu, silahkan! Setelah itu, kita perlu bicara!", titah papi. Mami yang duduk di samping papi, mengusap lengan papi.
Aku hanya mengangguk sebentar, setelah itu aku benar-benar masuk ke kamar ku untuk membersihkan diri. Beruntung tadi aku sudah solat isya di kantor sebelum pulang.
Jika ada yang ingin tahu, hari ini aku bahkan sangat lelah. Lelah akan pekerjaan ku, lelah juga fisik dan batinku.
Kurang lebih, dua puluh menit aku kembali ke ruang tamu untuk menemui keluarga ku. Mereka masih setia menunggu kehadiran ku di antara mereka.
"Maaf, sudah menunggu Mara lama!", kata ku sambil duduk di sofa single. Kak Nathan belum memiliki anak, sedang Kak Daniel sudah memiliki Dhea. Istri dan calon anak keduanya meninggal beberapa waktu yang lalu. Dan juga salah satu alasan aku berada di sini sekarang.
"Tak apa!", kata Kak Nathan. Dia memang lembut dan tenang, tidak seperti kak Daniel.
"Sudah solat sekalian Dek?", tanya kak Nathan.
''Sudah di kantor tadi kak!", jawabku pelan. Sekarang tatapan mata Papi menyoroti ku. Apa yang ingin papi sampaikan?
"Mara?!"
"Iya, Pi!"
"Jadi, siapa laki-laki yang akan kamu jadikan pasangan kamu?",tanya papi tanpa basa-basi.
"Maksud papi?"
"Papi rasa kamu paham. Papi tidak perlu menegaskan pertanyaan papi!", kata papi. Aku melirik Kak Daniel, bagaimana pun juga dia tahu tentang kejadian antara aku dan Alby di apartemen ku.
Aku menghela nafas panjang. Lelah, sungguh aku lelah!
"Jawab Mara! Bagaimana mungkin putri papa menjalani hubungan dengan dua pria sekaligus!", kata papi tiba-tiba.
"Astaghfirullah, Mara ngga ngelakuin gitu Pi!"
"Kalo begitu, siapa yang kekasih mu! CEO HS grup atau dokter Frans?"
"Ngga Pi, Mara tidak berhubungan dengan siapa pun. Apalagi mereka berdua."
Papi menarik nafasnya perlahan. Aku siap mendengar apa yang akan papi katakan. Aku melirik kak Daniel. Dia tak bereaksi apapun. Ada kemungkinan jika kak Daniel belum bercerita apa-apa pada papi atau mami.
__ADS_1
"Jadi, itu artinya kamu tidak ada hubungan apa pun dengan Alby kan?", tanya papi. Aku mengangguk.
"Iya, Pi!"
"Kalau begitu, kamu bisa menjalin hubungan dengan dokter Frans lagi?"
"Ngga, Pi!"
''Kenapa tidak?", tanya papi.
"Karena...ya tidak bisa aja Pi!"
"Jangan bilang kamu masih mengharapkan mantan atasan kamu itu, kapten Febri ya?"
"Ya Allah, ngga Pi. Sama sekali ngga. Mara juga berhubungan baik dengan istri mas Febri kok."
"Lalu kenapa kamu ngga mau menerima lagi dokter Frans? Kalian pernah menjalin kasih di negeri sana, sekarang dia menyusul mu ke sini. Itu artinya dia serius sama kamu. Tidak ada alasan jarak yang menjadi alasan kalian berpisah!"
Frans mengatakan pada papi jika alasan kami berpisah karena jarak??? Wah, hebat sekali aktor itu.
"Amara, dengar mami!", sekarang mami yang berbicara. Aku mendongak menatap mami.
"Kamu sudah dewasa nak. Kamu juga liat mami dan papi kamu sudah setua ini. Wajar bukan kalo kami ingin melihat putri bungsu kami menikah?"
"Mi...!", rengekku.
"Apalagi...Frans bilang, kalian sudah menghabiskan waktu bersama selama di sana. Apa salah nya Nak, kamu menjalin hubungan lagi dengan nya."
"Mami tahu, kalian sudah sama-sama dewasa. Mami sebenarnya kecewa, tapi bagaimana pun juga apa yang kalian lakukan sudah menjadi tanggung jawab kalian sendiri"
"Tunggu? Maksudnya apa Mi?", tanya ku memastikan apa yang sedang mami atau mungkin papi pikirkan.
"Apalagi? Kamu dan Frans sudah sering menghabiskan waktu bersama di luar sana. Mungkin ya... sekarang kamu sudah bertaubat dan mendekatkan diri pada yang maha kuasa."
"Tunggu...tunggu! Jadi, kalian mengartikan 'menghabiskan waktu bersama' dengan makna yang konotasi begitu!?"
Mami dan papi tak menjawabnya. Tapi aku tahu, mereka pasti berpikir seperti itu. Ucapan Frans memang ambigu. Dia bisa memunculkan berbagai spekulasi. Terlebih kedua orang tua yang memang memberi kebebasan pada anak-anaknya selama ia bertanggung jawab atas pilihannya.
"Mi, Pi, kak! Kalian tahu seperti apa aku! Bagaimana mungkin kalian berpikir kalau...kalau...ashhh!",aku memijat pelipisku sendiri.
"Dek, mami dan papi ngga bermaksud menuduh seperti itu!", Mba Mayang mendekatiku. Ia mengusap bahuku dengan lembut. Kami memang tak begitu dekat, tapi aku tahu dia baik padaku.
Aku mengangguk tipis setelah itu aku bangkit dari sofa!
"Papi harap, Frans adalah pilihan yang tepat buat kamu Mara?!", kata papi tiba-tiba. Mba Mayang menatapku sekilas, lalu ia gantian menatap suaminya.
"Pi, jangan seperti itu!", kata kak Nathan.
"Than, adikmu ini sudah dewasa lho. Mau sampai kapan dia sendiri?", tanya papi pada kak Nathan.
Aku yang sudah terlanjur di kuasai emosi akhirnya memilih untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Frans di luar sana.
"Mi, Pi! Demi Allah demi Rasulullah. Amara tidak pernah melakukan hal di luar batas selama menjalani hubungan dengan Frans. Dan perlu mami papi tahu! Dia tidak sebaik yang papi bayangin. Dia....dia...."
__ADS_1
"Duda di tinggal mati istri nya?",tanya papi. Frans sudah mengatakan hal itu???
"Memang apa yang salah dengan status duda?"
"Pi, Frans itu...!"
"Dia rela pindah kewarganegaraan bahkan keyakinannya sekalipun demi bisa bersama mu lagi Amara!", kata papi dengan suara nya sedikit tegas.
"Papi! Maaf! Papi pernah janji sama Mara. Papi ngga akan egois pada pilihan hidup Mara. Papi hanya egois saat menginginkan ku menggantikan posisi Papi di perusahaan. Aku sudah menurut Pi. Bahkan aku meninggalkan dunia militer yang aku cintai. Demi siapa? Demi papi! Amara sudah mengalah Pi!", aku menakupkan kedua tanganku.
"Tapi Mara mohon Pi, urusan nanti Mara akan menikah dengan siapa. Mara mohon, Pi. Dengan sangat Mara mohon! Tolong, biar kan mara menentukan sendiri seperti apa masa depan mara!", kataku dengan mata berkaca-kaca.
Papi maju beberapa langkah ke depan ku dengan susah karena beliau memakai tongkat untuk menopang kakiny. Tiba-tiba papi melayangkan tamparan ke pipiku.
Plakkkk!
"Papi!", teriak mami dan juga kakak-kakak ku.
"Mara, dengar papi. Papi memang memberi kebebasan sama kamu. Tapi bukan berarti kamu bisa berkata seperti itu pada orangtua mu! Papa hanya ingin melihat kebahagiaan putri bungsu papi sebelum papi meninggal. Tapi kalo ternyata cara kamu memandang papi seperti itu.... silahkan! Silahkan lakukan apa pun yang menurut mu benar Amara. Anggap saja apa yang papi inginkan tak pernah papi katakan pada mu!"
Aku mengusap pipiku. Sakit memang, tapi pasti papi lebih sakit karena kecewa padaku.
"Pi, kita ke kamar!", ajak papi pada mami. Mami pun menuntun Papi ke kamar mereka.
"Dek, kamu juga istirahat saja di kamar!", kak Nathan mengusap bahuku. Lalu ia dan mba Mayang meninggalkan ruang tamu.
Tersisa aku dan kak Daniel. Dia meraih bahuku! Mengusap-usap nya sebentar! Dan setelah itu aku menenggelamkan kepala ku ke dadanya.
"Papi dan mami pasti kecewa sama aku kak!", kataku sambil terisak.
"Biar kan mereka tenang dulu, kamu tahu seperti apa papi kalo marah. Pasti ngga lama!", kata kak Daniel.
"Tapi kak, Frans...?"
"Kamu bisa bicara baik-baik pada Frans kalau kamu memang tidak bisa bersamanya. Mungkin... perasaan kamu condong ke Alby?", tebak Kak Daniel.
Aku menatap kak Daniel yang tersenyum tipis.
"Jangan ragu untuk menetapkan pilihan. Ikuti kata hati kamu. Kakak emang galak, ngga bisa lembut kaya kak Nathan. Tapi, kakak lebih mengenal kamu, di banding mami papi apalagi kak Nathan."
Aku mengangguk.
"Makasih Kak!"
"Heum, sekarang kamu istirahat saja. Capek kan?", tanya kak Daniel. Aku kembali mengangguk. Setelah itu aku pun pamit ke kamar.
Aku harus cari tahu sama Alby besok agar ada kejelasan di antara Amara dan dia! Batin Daniel sebelum ia ke kamarnya.
*****
Gimana iniihhhh... ????
Alby or Frans?? 🙄🙄🙄 nasib Amara di kejar duda mesakke tenan ðŸ¤
__ADS_1