Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 67


__ADS_3

Alby


Jam pulang kantor aku menghubungi nomor Amara tapi tak bisa. Akhirnya aku memutuskan untuk menghampiri nya ke gedung Rhd.co.


Sekitar jam empat sore, aku sudah sampe di parkiran gedung Rhd.co. Setelah memarkirkan mobilku, aku bertanya pada resepsionis.


"Selamat sore!",sapa ku pada resepsionis yang sepertinya sudah bersiap untuk pulang.


"Selamat sore...!",kata resepsionis menatapku dengan pandangan ya... begitu lah, sudah biasa!


"Bisa saya bertemu dengan Nona Amara?"


"Eum...maaf, sejak sebelum makan siang Nona Amara keluar."


"Keluar?"


Beberapa saat kemudian ku lihat Nada, sekertaris Amara. Dia pun melihat keberadaan ku.


"Pak Alby?",sapa nya.


"Nada, Amara kemana? Saya tidak bisa menghubungi nya dari siang?"


"Nona Amara di rumah sakit pak Alby!", jawab Amara.


"Di rumah sakit? Dia kenapa?"


"Nona Amara tidak apa-apa Pak Alby, tapi Tuan Rahadi yang masuk rumah sakit."


"Papinya Amara?"


"Iya pak, saya dengar tuan Rahadi terkena serangan jantung. Itu informasi yang saya dapat."


Aku mengangguk paham.


"Beliau di rawat di rumah sakit mana?"


"Rumah sakit Xxxx "


"Terimakasih infonya Nada. Permisi!"


"Nona Nada, tadi itu CEO HS grup kan? Ganteng banget deh!",kata resepsionis.


"Ga usah ngarep, udah ga bisa di ganggu gugat hak nya Bu Bos!",sahut Nada.


"Jadi, pak Alby kekasih nona Amara? Lho ... terus bule ganteng itu siapa?",tanya resepsionis lagi.


''Udah ga usah kepo sama urusan si bos! Mending pulang?!",ajak Nada. Mereka pun keluar kantor bersama.


Usai pamit pada Nada, aku bergegas menuju ke rumah sakit tersebut. Cukup macet di jam pulang kerja seperti ini.


Hampir magrib aku sampai ke rumah sakit. Bahkan saat aku turun dari mobil, azan magrib berkumandang.


Aku bergegas menuju ke mushola rumah sakit. Rumah sakit ini tempat di mana aku dan Silvy serta Bia di rawat. Itu artinya Sakti bekerja di rumah sakit ini. Kalau memang papi Mara terkena serangan jantung, besar kemungkinan jika Sakti yang menanganinya.


Setelah mendirikan tiga rakaat ku, aku menuju ke resepsionis untuk menanyakan kamar rawat Papi Amara.


Aku pun langsung menuju ke kamar tersebut, belum sampai ke kamar Papi Amara aku bertemu dengan Frans dan Sakti.


"Lho, Alby?", sapa Sakti.


"Sakti!",aku mengulurkan tangan ku untuk berjabat tangan dengan nya.

__ADS_1


"Kamu ngapain ke sini? Nabil sakit atau Mak?",tanya Sakti.


"Aku mau jenguk...papinya temenku!",kataku. Frans melirik ku sebentar sambil tersenyum tipis.


"Oh, gitu!",sahut Sakti.


"Hai Alby, bagaimana kabar mu hari ini?",tanya Frans. Entah dia meledek atau memang tulus menyapa ku.


"Alhamdulillah, baik!", jawab ku singkat.


"Lho, kalian saling kenal?",tanya Sakti menatapku dan Frans bergantian.


"Iya, aku baru mengenal nya beberapa hari yang lalu!",jawab Frans. Sakti hanya membulatkan mulut nya sambil mengangguk.


"Sepertinya papi Amara belum bisa di jenguk orang asing, Alby!",kata Frans.


Aku menautkan alisku. Sakti pun tak berbeda jauh menanggapi ucapan Frans barusan.


"Orang asing?", tanyaku. Frans mengangguk dan tersenyum tipis.


"Iya, kamu kan orang asing. Sedang aku... calon anggota keluarga Rahadi. Selain itu aku juga dokter yang bisa mengecek kesehatan papi."


Aku meremas kedua tangan ku. Sedang Sakti menatap bingung padaku.


"Benarkah? Memang Amara mau kembali padamu?",tanyaku.


Frans tersenyum meledek padaku.


"Tentu saja! Kamu bisa melihat nya nanti!", jawab Frans optimis.


"Eum, kondisi Tuan Rahadi cukup stabil By! Kamu bisa tanya dulu sama Lettu Amara, apakah kamu bisa menjenguknya atau tidak. Mereka ada di depan kamar rawat tuan Rahadi kok!", Sakti menepuk bahuku.


"Lo yang menangani Papi Amara?"


"Lo bisa nemenin gue kesana?", tanya ku pada sakti. Sakti mengernyitkan alisnya.


"Oh... baiklah, gue temenin. Bentar lagi gue balik. Kasian Bina sama Shasa di rumah cuma berdua." Aku pun mengiyakan dengan anggukan pelan.


"Dokter Sakti,teman Alby?",tanya Frans. Sakti mengangguk tipis sambil tersenyum.


"Iya, dia sahabat saya!", jawab Sakti. Aku tersenyum kecil mendengar Sakti mengatakan hal tersebut.


"Dokter Frans mau menjenguk Tuan Rahadi lagi?"


"Oh, tidak sekarang. Mungkin nanti malam, menemani Amara!", jawab nya singkat tanpa melepas senyumannya.


"Baiklah, kami tinggal dulu ya Dokter Frans!",kata Sakti. Frans tersenyum dan mengangguk. Aku tak menggubris Frans lagi. Boda amat lah!


Sekarang aku dan Sakti berjalan beriringan menuju kamar rawat papi nya Mara.


"By?"


"Gue ga ada hubungan apapun sama Amara, untuk saat ini! Entah kedepannya!"


Aku langsung mengatakan hal itu karena aku tahu dia pasti akan menanyakan hal yang sama.


"Oh ya? Tapi tadi ... dokter Frans mengatakan kalau Lettu em... maksud nya Amara itu kekasihnya. Bahkan aku sempat melihat kalo Frans mengecup kening Amara!?", kata Sakti.


Mengecup kening Amara?


Kenapa mendadak nyeri dadaku ini. Apa benar aku cemburu? Tidak! Ini tidak mungkin dinamakan cemburu!

__ADS_1


"Tapi ...dari gelagatnya, aku lihat Amara seperti...apa ya? Kaya orang tertekan gitu!",kata Sakti.


"Tertekan?",tanyaku.


"Entah, tapi yang ku lihat seperti itu. Atau mungkin juga dia cemas karena melihat kondisi papinya."


Aku mengangguk pelan.


"Tapi aku sempat terkejut saat Amara bertanya apakah papinya keracunan."


"Keracunan?",tanyaku sambil menghentikan langkah kaki ku.


"Iya, Amara bertanya seperti itu. Mungkin karena saking paniknya sampai bisa berpikir sejauh itu."


Kami berdua melanjutkan langkah menuju ke kamar Tuan Rahadi.


Aku jadi teringat ucapan Frans yang mengatakan jika dia akan melakukan apa pun untuk mendapatkan Amara kembali.


Astaghfirullah! Kenapa aku jadi suudzon seperti ini???


Aku dan Sakti sudah sampai di depan kamar Papi Amara. Disana ada seorang laki-laki dan perempuan bercadar.


"Assalamualaikum!",sapa aku dan Sakti pada keduanya.


"Walaikumsalam. Dokter Sakti!",sapa Nathan.


Dia juga tersenyum padaku.


"Maaf, ini saya menemani Alby, sahabat saya. Katanya ingin menjenguk tuan Rahadi."


"Oh, tapi maaf sepertinya saya baru melihat anda ya mas Alby?", tanya Nathan. Mayang hanya menunduk, tak ingin lama-lama menatap tamu papi mertuanya yang jika di lihat justru semakin banyak menambah dosa zinah mata.


"Eum, sebenarnya saya kenalan Amara mas ...!",kataku tiba-tiba tergagap. Ku lihat wajahnya mirip dengan kak Daniel.


"Nathan!", dia memperkenalkan dirinya.


Tak lama kemudian sosok Kak Daniel keluar dari ruang rawat papinya. Mata nya langsung menangkap sosok Alby.


"Alby?", tanya Daniel dengan nada sedikit terkejut.


"Kak Daniel!", sapa ku balik. Semua yang ada di situ hanya diam.


"Kamu...mau cari Amara?",tanya Daniel. Aku mengangguk tipis sambil tersenyum sebisa ku.


"Aku dengar Tuan Rahadi sakit, jadi aku mau menjenguk nya kak!",jawabku.


"Oh, begitu!", sahut Daniel.


"Apa dia laki-laki yang di maksud papi? Karena dia ,Mara menolak Frans?",tanya Nathan pada adiknya.


Mara menolak Frans???


********


Segini dulu ya, lanjut besok. Insyaallah kalo sempet. Lagi sibuk bantu tetangga di Pawon 🤭 sing lagi duwe hajat.


Sakjane mamak Iki baperan, tapi Alhamdulillah sudah kebal mental sih 😆


Kembae ah lamun aya anu nuduh mamak kos kieu kos Kitu, urang mah ngadenge wae 🤗🤭


Betewe makasih banyak yang udah mampir di tulisan othor receh ini. Jangan lupa like nya dong yang pada baca, apa lagi silent reader tuh.... sempetin tekan like Ojo gur di lewati heheheh

__ADS_1


makasih ✌️


__ADS_2