
"Kirain wes tidur Nduk!", Febri menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang.
"Alby tumben telpon, ada apa mas?", tanya Bia kepo. Febri tersenyum tipis lalu merengkuh bahu kecil Bia.
"Besok malam, dia mengundang kita ke acaranya sama Amara."
Bia mendongak tepat di bawah dagu suaminya.
"Acara apa?", tanya Bia. Mata Febri dan Bia saling berpandangan.
"Eum...awalnya sih mau lamaran, tapi entah kenapa rencananya berubah mau bikin kejutan buat Amara, mereka menikah sekalian."
Bia mengangguk pelan dengan mulut berbentuk 'O'.
"Boleh mas tanya sesuatu?", tanya Febri.
"Ndang tanya'o!", sahut Bia singkat.
"Kamu ikhlas Alby menikah lagi?", tanya Febri. Bia menyipitkan matanya.
"Kok nanya nya gitu? Emang kenapa aku harus ngga ikhlas?", tanya Bia tanpa membalas tatapan mata suaminya. Bahkan dia memilih menenggelamkan wajahnya di dada bidang Febri.
Cemburu? Ya, sekarang hati Febri sedang di landa cemburu. Istri nya bukan tipe perempuan yang pandai menutupi perasaan. Dan Febri tahu, dalam hati Bia, perempuan itu sedang terlintas 'tentang Alby' meski tak mau ia tunjukkan.
Tapi Febri juga tidak bisa memaksakan agar istrinya tak lagi memikirkan mantan suaminya. Yang dia rasakan, istrinya sangat mencintai dirinya sekarang dan pasti suatu saat nanti perasaan pada mantan suaminya akan hilang dengan sendirinya. Febri yakin itu!
Lalu, untuk apa dia bertanya tentang keikhlasan Bia??
"Kalau memang kamu ngga mau datang ke acara mereka, ngga apa-apa sayang. Nanti mas bilang ke mereka, kalau kita ada acara lain."
Bia kembali mendongakkan kepalanya.
"Insyaallah kita datang Mas. Hormati orang yang mengundang kita secara langsung seperti ini!", kata Bia tersenyum. Febri pun membalas senyuman istrinya. Dia mengecup singkat bibir mungilnya.
"Ya udah, kita istirahat ya. Atau ...mau ronde ke dua?",bisik Febri.
"Isssh...itu mah maunya kamu mas! Udah lah, yok tidur!", Bia merebahkan dirinya sambil memeluk perut Febri.
Selang beberapa menit kemudian, terdengar Bia sudah mendengkur halus. Febri sampai terheran-heran. Dia pikir, Bia akan mendrama tak bisa tidur karena mantan suaminya akan menikah lagi. Ngga tahunya malah sudah ke alam mimpi. Febri pun mengikuti jejak istrinya untuk larut dalam tidurnya.
Setengah jam berlalu, sang suami sudah tertidur pulas. Bia membuka matanya.
Bayangan di mana Alby mengucapkan ijab qobul saat menikahi Silvy saat ia masih berstatus menjadi istri Alby melintas begitu saja.
__ADS_1
Masa lalu menyakitkan itu seolah selalu menjadi mimpi buruk untuknya. Mungkin bukan perasaan cemburu, hanya saja...sisa rasa sakitnya masih terlalu dalam dan belum bisa terlupakan.
Tanpa Bia sadari, ia meneteskan air matanya.
'Semoga ini pernikahan terakhir kamu A. Jangan pernah sakiti Amara seperti kamu yang menyakiti aku dan Silvy!', batin Bia.
.
.
Setelah sembuh dari sakitnya, Nur kembali bekerja di restoran Xxx. Pagi itu, ia terburu-buru berangkat ke tempat ia bekerja. Tanpa di sengaja, ia berpapasan dengan Azmi yang baru turun dari kamarnya di lantai tiga.
Kedua pasang mata mereka saling bertemu, tapi bibir mereka tak ada satupun yang saling menyapa.
Azmi melewati Nur begitu saja. Dan ya ...Nur pun tampaknya cuek, gak peduli lagi. Toh, ia sudah membayar tagihan rumah sakitnya pada Azmi. Meskipun harus menguras habis tabungannya. Hanya sisa berapa ratus ribu saja. Untung dia sudah membayar kost nya.
Azmi membuka pintu mobilnya bersamaan dengan Nur yang lewat. Otomatis, pintu mobil Azmi menghalangi jalan Nur. Lagi-lagi keduanya saling berpandangan.
"Mau kerja?", tanya Azmi.
"Iyalah, masa mau nyinden!", jawab Nur.
"Oh...!", sahut Azmi. Setelah itu, Azmi pun masuk ke dalam mobil lalu menutup pintunya. Nur sedikit tercengang. Dia pikir, saat Azmi bertanya apakah dirinya akan bekerja, Azmi akan menawarkan tumpangan. Ternyata.....
"Masuk! Aku anterin!", katanya.
"Ngga usah!", jawab Nur sok jaim.
"Masuk! Sebelum aku berubah pikiran!", titah Azmi. Sok-sokan nolak, tapi Nur pun akhirnya ikut masuk ke dalam mobil Azmi. Ada senyum kecil menghiasi sudut bibir Azmi yang bahkan nyaris tak terlihat.
"Kamu bekerja di mana?", tanya Azmi tanpa menatap Nur.
"Restoran Xxx!", jawab Nur singkat. Azmi menautkan alisnya.
"Restoran pak Bram, suamiku Bu Naura?", tanya Azmi. Nur pun menoleh cepat.
"Kok tahu?", tanya Nur balik.
"Tahu lah, Bu Naura partner bisnis pak Alby!", jawab Azmi. Nur hanya mengangguk singkat. Tak ada obrolan lagi setelah pertanyaan singkat itu hingga mobil Azmi terparkir di halaman restoran.
"Eum... makasih ya A, udah nganterin. Tapi gratis kan? Ngga bayar? Tabungan ku habis buat bayar utang ke man...eh ...eh .. maksud A Azmi!",ralat Nur yang hampir menyebutkan 'maneh' lagi pada Azmi. Terlebih, Azmi melotot tajam padanya.
"Ngga", jawab Azmi singkat.
__ADS_1
"Ya udah kalo gitu, aku turun ya ...A. Makasih!"
"Ngga bayar bukan berarti gratis Nur!", kata Azmi. Nur melotot.
"Maksudnya?"
"Kamu pulang jam berapa?", tanya Azmi. Nur mendadak oleng.
"Pulang? Eum, jam empat A."
"Nanti aku jemput. Tapi...malamnya, kamu ikut aku!"
"Ikut? Kemana?"
"Nikahan Alby!"
"Mas Alby teh mau nikah, lagi???", pekik Nur. Ya, dia tahu lah kalo Alby menikah sudah dua kali. Dari siapa lagi kalau bukan dari istri pak dokter Sakti.
"Biasa aja kagetnya!"
"Heum, ah...iya deh."
"Bisa kan, nanti aku jemput!"
"Insyaallah A."
"Ya udah sana turun! Kenapa masih di sini?", sindir Azmi.
"Ngga baik lama-lama berduaan sama yang belom mahram!", lanjut Azmi. Nur membeku sebentar, sebagai seorang perempuan yang dari kecil sudah di cekoki hal-hal berbau agama, Nur cukup mencerna ucapan Azmi.
"Geura turun atuh!", pinta Azmi lagi.
Ya salam, nih orang...tadi bikin baper sekarang bikin kesel!!! Batin Nur. Dengan sedikit terburu-buru, nur turun dari mobil Azmi.
"Makasih A Azmi buat tumpangan gratis nya!", kata Nur sedikit kesal. Tapi Azmi justru tersenyum tipis tapi tak ia tunjukkan pada Nur. Setelah itu, barulah ia melesat ke kediaman Hartama. Meskipun weekend, kali ini dia tetap bekerja karena sebagai sekretaris, Aspri sekaligus sahabat Alby, dia salah satu orang yang sangat berkontribusi hingga Alby dan Amara berada di titik ini.
Lalu, kenapa dia mengajak Nur coba???? Katanya ngga mau dekat-dekat sama yang belum mahram? Ya...gitu deh...!!!
*****
Kok bahas orang lain sih???? hehehe maap, habis ini fokus ke AlMara kok heheheh 😁✌️
makasih 🙏🤗🙏
__ADS_1