Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 175


__ADS_3

Alby memperhatikan istrinya yang sedang memakai pakaian. Bukan karena ia sedang bernapsyu lagi, tapi ...


"Neng!"


"Heum?", Amara menoleh karena ia memunggungi suaminya.


"Kenapa atuh pakai pembalut? Kan kamu teh ngga lagi datang bulan?"


Setelah selesai berpakaian, Amara mendekati suaminya.


"Ngga datang bulan sih A, cuma meminimalisir gesekan saat beraktivitas. Nyeri plus perih A."


Alby menatap iba pada istrinya. Ternyata keganasannya semalam dan tadi pagi menyisakan rasa yang tak nyaman pada sang istri.


"Aa minta maaf kalo gitu!", ia memeluk Amara dan mengecup pelipisnya.


"Kok minta maaf? Aku malah seneng. Aa udah memberikan pengalaman terbaik buat aku. Sama-sama saling memberi kepuasan kan? Kenapa harus minta maaf?"


"Karena sudah menyakiti mu seperti itu!", Alby mengarahkan pandangannya ke bawah.


"Ishhh...jangan di liatin begitu! Malu!", rengek Amara.


Heum ... Amara tak tahu saja ujian setelah menikah sudah menanti di depan sana. Nikmati rasa manisnya lebih dulu ya nyonya Amara!


''Hehehe!", Alby terkekeh pelan.


"Aa kalo ketawa kaya gini gantengnya berkali-kali lipat. Beda banget sama awal kita ketemu, kamu juteknya minta ampun!"


"Udah setelan pabriknya begitu sih neng. Masa iya aa harus senyam-senyum sama semua orang?"


"Ya ngga lah. Tapi senyum ganteng ini cuma buat aku ya?!", pinta Amara manja.


"Heum, iya sayang! Udah yuk ke bawah. Isi amunisi dulu. Udah terkuras habis tenaganya kan?"


"Aa mah bahas itu Mulu!", cebik Amara. Padahal dia mah mau aja kali kalo di ajakin lagi hihihihihi


Sepasang suami istri itu turun ke lantai bawah. Benar kata Alby, mungkin saat sang istri memakai pembalutnya seperti itu membuatnya nyaman saat berjalan meski menuruni tangga. Bahkan Amara terlihat biasa saja, entah kalau dia sedikit menahan nyeri sebenarnya.


"Pagi menjelang siang semuanya!", sapa Amara pada orang tua dan kakak-kakaknya.


"Pagi kamu bilang Ra? Jam sembilan ini!", sindir Daniel. Amara memilih cuek, sedang Alby justru tersenyum kaku, salting sendiri.


Pandangan Nathan dan Daniel beradu saat melihat sosok Alby yang kini duduk di hadapan mereka.


Kedua kakak Amara itu hanya menggeleng heran meskipun mereka berusaha untuk memakluminya.


Amara-Amara! Bisa-bisanya?!!!!! Batin kedua kakak Amara melihat jejak yang Amara tinggalkan pada Alby.


Halal mah halal, tapi kesannya norak sekali??? Batin Daniel, yang sampai sekarang masih menjadi duda juga heheheh


Ngiri apa nganan nih sebenarnya????


"Kalian sarapan aja dulu! Nanti baru gabung di sini!", pinta mami.


"Huum, iya mi! Ayok a, kita sarapan dulu!", ajak Amara pada suaminya.

__ADS_1


"Iya!", jawab Alby.


"Mami, papi, kak...kami sarapan dulu!", pamit Alby.


"Silahkan?!", sahut mereka kompak. Sepeninggal sepasang pengantin baru, Nathan dan Daniel kembali berpandangan.


"Kenapa Dan? Pengen juga digituin kaya si Alby?", ledek Nathan yang bahkan usianya mendekati empat puluh tahun.


"Dih, apaan sih? Gak! Norak!", sahut Daniel. Mami papi dan Mayang hanya tersenyum mendengar sahutan Daniel.


"Apa perlu papi carikan jodoh? Atau...Mayang punya kandidat santriwati di pondoknya Abah?", lanjut papi yang juga ingin mengerjai anak keduanya.


Mayang tersenyum di balik cadarnya.


"Apaan sih papi! Daniel bukan ngga laku ya, cuma belum mau aja!'', kata Daniel langsung berdiri meninggalkan ruang keluarga.


"Tuh kan, papi sama kakak sih ngeledek mulu. Jadi ngambek tuh anaknya!", ujar Mami.


"Biarin lah Mi, udah lama sendiri kan si Daniel tuh!", sahut Nathan.


.


.


.


Alby, Amara dan Nabil sudah ada di mobil menuju ke kediaman keluarga Hartama.


"A, abis antar Nabil kita balik ke apartemen?", tanya amara. Nabil duduk di pangkuan Amara, jika dilihat-lihat Amara sekilas mirip dengan Nabil. Bahkan tak terlihat jika mereka hanyalah anak dan ibu sambung.


"Ngga neng. Rumah kita sekarang, dekat sama rumah Mak."


"Rumah kita?", tanya Amara.


"Iya, maaf kalo aa ngga diskusi dulu sama kamu. Nanti kita bahas habis anterin Nabil ya?", Alby mengulas senyum. Tapi ada perasaan sedikit tak nyaman di hati Amara.


Ternyata kejutan menikah dadakan tak selamanya memberi efek bahagia. Buktinya sekarang? Masalah tempat tinggal saja, Alby tak pernah sekalipun mengatakan apapun.


"Assalamualaikum!", Alby dan keluarga kecilnya memasuki rumah Mak.


"Walaikumsalam! Nabil! Cucu nenek yang paling kasep!", Mak hanya berjongkok karena dia sudah tidak kuat menggendong Nabil.


"Mak!", Alby dan Amara menyalami punggung tangan Mak. Perempuan setengah baya itu tersenyum ramah.


"Selamat datang menantu cantik Mak!", sapa Mak Titin.


"Mak bisa aja mujinya!", kata Amara malu-malu. Dia tidak mungkin menunjukkan wajah masamnya pada ibu mertuanya. Apalagi mereka baru menikah semalam. Masa iya udah terlihat tidak akur perkara tempat tinggal???


"Belum pada makan siang kan? Makan dulu yuk?", tanya Titin. Titin menggandeng tangan Nabil menuju ke meja makan.


Alby dan Amara ingin menolak ajakan Mak, tapi tidak enak jika mereka menolaknya. Padahal mereka sarapan saja sudah jam sepuluh siang.


Mereka berempat duduk di bangku masing-masing. Mak antusias sekali mengambilkan nasi dan lauk ke piring Nabil. Baru semalam tak ada Nabil di rumahnya, suasananya sudah sepi. Bagaimana jika Nabil ikut dengan Alby???


Tapi, apa hak Titin menahan Nabil ???

__ADS_1


Mereka makan dengan tenang, sesekali celoteh Nabil menimbulkan tawa. Nabil memang lucu dan menggemaskan.


"Oh ya jang, teh Mila sama mang Sapto udah beresin rumahnya. Kalian tinggal masuk, bawa diri doang ceunah!", kata Mak Titin.


"Eum? Gitu ya Mak. Iya, nanti aku bilang makasih sama mereka deh!", sahut Alby. Dia menangkap gelagat istrinya yang sepertinya belum menerima keadaan yang sebenarnya.


"Nabil, papa mau ke rumah kita yang ngga jauh dari sini, Nabil mau ikut?", tanya Alby.


"Ngga ah. Nabil mau bobok sama nenek. Tapi nanti papa sama mama balik ke sini lagi kan?", tanya Nabil.


"Nanti papa jemput Nabil!"


"Emangnya Nabil ngga bobo di sini lagi?"


"Nabil boleh lah nginep di sini, tapi kan nanti kita udah punya rumah sendiri. Ngga jauh kok sayang dari sini!"


Sepertinya bocah itu paham, apalagi ia cukup menjadi pendengar saat kedua orang tuanya mengobrol tadi.


Usai berpamitan dengan Nabil dan Mak, Mara dan Alby menuju ke rumah yang akan mereka tinggali.


Rumah kecil bergaya minimalis bercat putih hitam akan menjadi tempat tinggal mereka.


"Ayok!", ajak Alby pada Amara. Amara pun mengikuti jejak suaminya yang memasuki rumah.


Mereka mengucapkan salam saat melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.


Dari ruang tamu, ruang makan, kamar, dapur dan kamar mandi serta taman kecil yang berfungsi untuk menjemur pakaian sudah mereka berdua lihat.


Alby mengajak Amara ke kamar mereka. Rumah itu hanya ada dua kamar. Jika blok kediaman Hartama di kawasan mewah, blok Alby cukup lumayan untuk kelas menengah sepertinya.


"Bagus ngga penataan kamarnya? Kalo ada yang kurang sesuai, kamu bisa merubahnya sayang!", kata Alby sambil memeluk Amara dari belakang. Tapi Amara melepaskan pelukan suaminya.


"Kenapa kita tinggal di sini A? Aku ada apartemen kan?", tanya Amara.


Alby menghela nafas berat. Dia sudah memprediksi jika istrinya pasti akan bertanya demikian.


"Karena tidak mungkin aku mengajak kamu tinggal di kedua Hartama meskipun Nabil berhak atas rumah itu sayang."


"Tapi kita bisa tinggal di apartemen kan? Ngga harus di sini?"


"Memangnya kenapa kalau di sini? Apa tempat nya kurang mewah? Tidak seperti apartemen kamu atau rumah papi kamu?"


Percikan api mulai menyala wkwkwkw....


"Bukan itu masalahnya! Kenapa kamu ngga diskusiin dulu sama aku sih?"


"Kamu kan bilang mau ikut apa pun keputusan ku selama itu baik, kenapa sekarang malah protes begini?", Alby masih berusaha menahan emosinya agar tak membentak Amara.


"Tapi kan ngga gini juga A. Rumah ini sewa kan? Karena kamu pernah bilang kalo kamu sama Azmi ambil KPR tapi tidak di perumahan ini!"


"Kamu ngga mau kalau aku cuma menyewanya?", tanya Alby pelan. Tapi ada hawa-hawa tersinggung dalam dadanya.


"Bukan begitu maksudnya A. Dari pada buat sewa rumah ini, kita bisa tinggal di apartemen kan? Toh milik ku juga milik kamu juga sekarang A!", Amara mencoba melunak.


"Tapi aku juga memikirkan Nabil, Mara. Rumah ini dekat sama rumah Mak. Kalau kita kerja, Nabil bisa ditinggal di rumah Mak. Bukan Aa ngga mampu bayar babysitter, tapi alangkah baiknya kalau Nabil tetap di awasi Mak."

__ADS_1


Amara tak membalas ucapan Alby lagi, ia memilih keluar dari kamar mereka berdua. Jika ia masih terus di dalam justru takut nanti akan semakin panjang.


Ayolah...ini baru hari kedua menjadi pasangan suami istri! Masa iya harus di warnai dengan pertengkaran sepele seperti ini....????


__ADS_2