Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 105


__ADS_3

Alby


Setelah subuh, kami semua bersiap. Teh Mila dan mang Sapto tidak ikut karena teh Mila sedang enak badan. Tapi teh Ani ikut, itu pun atas ijin suaminya.


Hari masih cukup gelap saat kami keluar dari ibu kota menuju tol. Azmi minta agar ia bisa menjemput Putri lebih dulu. Tentu atas ijin dari kyai dan ustadz ponpes nya.


Tepat setengah tujuh, kami benar-benar baru melaju ke kota kelahiran ku.


Beruntung Putri ikut, Nabil jadi merasa memiliki teman. Mereka berdua cukup akrab. Aku dan Azmi bergantian mengemudikan mobil. Sebenarnya aku atau Azmi mampu sendiri. Tapi kami memang sudah berencana untuk bergantian selama perjalanan.


"Jang, imah teh tos di bersihkeun?",tanya Mak pada ku. Aku menggeleng lemah.


"Ngga Mak. Kita tidak akan menginap di sana."


"Kenapa?",tanya Mak lagi.


"Tujuan kita kan ziarah ke makam ibu dan bapak."


"Tapi Jang, Mak teh kangen sama rumah. Memang sama sekali tidak ada yang kamu minta buat membersihkan rumah?",tanya Mak lagi.


"Mak, Alby aja ngga tahu. Apakah saudara-saudara kita masih menganggap kita ini keluarganya setelah apa yang Alby lakukan sama Bia? Mereka semua benci sama Alby Mak! Ini alasan kenapa selama ini Alby males balik ke kampung. Kalo ngga karena Nabil, sebenarnya Alby enggan Mak!"


Mak menghela nafas. Ia mengusap kepala Nabil yang ada di pangkuannya. Mata tuanya menerawang jauh. Mak Titin teringat saat-saat bahagia antara dia, Alby dan juga Bia. Karena dia, Bia menjadi korban. Secara tidak langsung, dirinya lah penyebab perpisahan antara Alby dan Bia.


Mak Titin menitikkan air matanya ketika mobil mulai memasuki gang ke arah kampung halaman Alby yang sudah bertahun-tahun ia tinggali.


Aku melirik spion, Mak menghapus air matanya yang meleleh. Aku paham perasaan bersalah Mak. Tapi mungkin penyesalan ku yang paling besar. Semua karena ketidakjujuran ku.


"Papa, udah di kampung?",tanya Nabil heboh. Dia melihat sekitar nya yang masih di tumbuhi pohon-pohon tinggi dan kebun-kebun warga.


Iya, aku memang orang kampung. Orang gunung! Mungkin aku beruntung bisa menjadi seperti sekarang, meski itu bukan keinginan ku.


"Iya sayang, bentar lagi sampe!",kataku. Azmi yang tadi tertidur pun langsung bangun karena terantuk-antuk gegara jalanan berbatu.


"Astaghfirullah, ini jalan apa sungai kering? Batu nya gede-gede amat!", sindir Azmi.


"Lo nyindir gue apa nyindir pemerintah?",tanyaku. Azmi mengedikan bahunya.


"Abi, apa kita juga mau ke makam umi?",tanya Putri, anak Azmi.


"Insyaallah kalo udah balik ke Jakarta lagi, kita ziarah ke makam umi!",jawab Azmi. Putri mengangguk senang.


Mobil pun perlahan memasuki halaman rumah ku. Apa yang ku pikirkan ternyata salah. Rumah yang ku tinggalkan bertahun-tahun ternyata dalam kondisi bersih dan rapi.


Aku pun turun dari mobil, diikuti yang lain. Termasuk Nabil yang langsung turun dan menatap heran rumah peninggalan bapakku.


Mungkin...Nabil heran, rumah peninggalan Abah nya dan kakeknya sangat berbeda. Rumah Abah terlalu sederhana untuk Nabil yang biasa tinggal di rumah mewah.


Nabil tersenyum menatap rumah itu. Aku pun berjalan perlahan menuju ke rumah ku. Rumah yang meninggalkan banyak kenangan. Kapan terakhir aku pulang? Entah! Aku rasa jauh sebelum Nabil lahir.


Rumah yang di kontrak Febri pun rapi. Tapi siapa kira-kira yang membersihkan rumah ini???


Tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri kami.


"Assalamualaikum!"


Kami semua menoleh dan menjawab salam.


"Walaikumsalam!",aku menengok ke arah orang itu.


"Alby lain?",tanya nya padaku. Aku pun mengangguk.

__ADS_1


"Teh Una lin?",sapaku. Dia mengangguk.


"Masya Allah, Karak nepi?"


"Muhun teh."


Teh Una memandangi emak seperti...ya begitu lah. Lalu dia tersenyum ramah pada Azmi dan Putri yang ada di hadapan Azmi. Sedang matanya beralih ke Nabil.


"Budak maneh By? Kasep pisan? Mirip maneh waktu kecil!"


"Iya teh. Nabil, kenalin. Tante Una!",kataku.


Nabil pun menyalami teh Una. Dia mengusap puncak kepala Nabil.


"Oh iya By. Selama ini, teteh yang bersihin rumah ini sama rumah wak Mus."


"Ya Allah teu, meuni ngerepotin atuh!",kataku. Entah kenapa Mak diam saja. Padahal selama kami tinggal di sini dulu, Mak sering di sapa ramah warga kampung ini.


"Teu atuh By. Ini ge atas permintaan neng Bia. Malah sampe sekarang teteh masih sok di transfer sama si neng. Yang penting mah rumah bersih, rapi. Meski ga tahu kapan yang punya balik. Eh, ngga tahunya kamu pulang juga kan By!",kata Teh Una panjang lebar.


"Bia?",tanyaku. Teh Una mengangguk. Sedang Nabil yang berada di bawah hanya memandangi wajah-wajah orang dewasa yang serius berbicara. Pendengarannya cukup baik untuk anak seusianya.


"Heem. Kurang apa neng Bia, By! Meuni tega maneh mah!",kata Teh Una. Tapi sepertinya aku tak perlu menjelaskan apa pun yang terjadi dengan rumah tangga ku dengan Bia dulu.


"Iya teh. Maaf, kami capek. Apa kami bisa masuk, maksud nya teteh ada kunci rumah?",tanyaku ke teh Una.


"Masih di tempat yang sama kaya biasanya!",kata teh Una. Aku pun mengangguk.


"Ya udah atuh. Teteh mau ke warung. Punten nya!",pamit teu Una.


"Muhun teh. Hatur nuhun!",kataku. Kami pun melangkah ke teras. Jika kunci masih di tempat biasa, itu artinya di bawah keset atau pot bunga. Benar saja, sekali menyingkap keset kunci pun ditemukan.


Aku membuka pintu ruang tamu. Kami masuk sambil mengucapkan salam.


Aku tak menghiraukan yang lain. Aku masuk ke kamar di mana aku dan Bia berbagi kasih berbagi keringat dan mencurahkan semua di ruangan ini.


Mataku tertuju pada dipan yang biasa kami tiduri. Ku duduki kasur itu. Meski tak memakai seprei, kasur itu dilapis plastik. Mungkin itu perintah Bia pada teh Una.


Kuusap tempat tidur ini. Semua bayangan kebersamaan kami terlintas. Bayangan kebahagiaan kami saat masih bersama dulu. Tiba-tiba aku menangis mengingat semua yang sudah ku lewati bersama Bia. Bukan hanya Bia yang tersakiti, aku pun sama sakitnya. Meski sekarang aku sudah bisa melihat senyum Bia. Dia bahagia bersama dengan Febri yang pasti akan sepenuhnya menjaga dan membahagiakan Bia. Tidak seperti aku!


Aku menoleh ke nakas. Di sana, ada cincin pernikahan yang selalu Bia pakai.


Aku meraih cincin itu dan tangis ku pun semakin menjadi. Penyesalan ku benar-benar tidak bisa ku jabarkan....


Kapan terakhir Bia di sini, selama itu pula cincin ini tergelak di meja itu. Ku genggam erat pengikat cinta ku dengan Bia saat itu. Ini lah yang ku takut kan! Aku belum bisa melupakan semua kenangan ku bersama Bia. Kebersamaan dengan nya terlalu manis untuk ku lupakan!


Aku mengusap kasar wajahku. Aku masih harus berusaha melupakan semuanya! Meski entah sampai kapan rasa itu benar-benar akan hilang.


Ponsel ku berdering. Aku pun mengambil nya dari saku kemejaku. Ada nama Amara yang memanggil.


Membaca nama yang tertera di ponselku, hatiku sedikit menghangat. Benar kah aku sudah jatuh hati pada mantan letnan ini???


[Assalamualaikum]


[Walaikumsalam, By? Dimana? Udah sampai?]


[Udah Ra. Kamu...ngga apa-apa telpon aku? Nanti kalo Frans...]


[Dimas sudah membereskannya sayang...eum...maaf!]


Aku tersenyum sendiri saat Amara terdengar meralat ucapannya.

__ADS_1


[Kelepasan?]


Aku menggoda nya kah??? Baru saja aku bernostalgia dengan perasaan ku pada Bia, tapi kenapa saat Amara mengatakan demikian hatiku berbunga-bunga?


[Heum, ngga juga sih. Kan emang sayang beneran!]


[Gombal! Yakin ini kamu ngga bakal dalam bahaya?]


[Ngga By. Dimas sudah menjalankan misi pertamanya. Tunggu rencana selanjutnya!]


Ucapan Amara memelan. Mungkinkah rencana nya sedikit berbahaya buat Amara atau Dimas?


[Rencana apa?]


Aku mulai kepo. Karena semalam Febri hanya menjelaskan garis besarnya saja. Selebihnya Dimas dan Febri yang mengatur.


[Belum tahu!]


Amara tak ingin mengatakan hal tersebut, takut ia mengecewakan Alby.


[Yakin? Ngga bahayain kamu sama Dimas kan?]


[Heum? Ng...ngga tahu By]


[Mara, jangan bohong! Aku pernah salah melangkah karena tidak ada keterbukaan antara pasangan. Jadi aku harap kamu ngga menutupi nya dari ku!]


[Pasangan?]


Amara membeo. Dan ya...aku terjebak dengan ucapan ku sendiri.


[Maksud ku...]


[Iya, tak perlu di jelaskan By. Kita bukan ABG yang harus ada status pacaran]


[Ra, jangan salah paham aku cu...]


[Ya udah By. Selamat beristirahat. Aku ada meeting nih. Dah ya, assalamualaikum]


[Waalaikumsalam]


Aku menarik nafas dalam-dalam. Bingung! Sungguh aku bingung!


Aku tak ingin ada istilah pacaran di antara kami. Tapi aku posesif. Aku takut Mara kenapa-kenapa. Aku....


Argggghhhh!!! Pusing!


Tok...tok...


"Papa!",panggil Nabil. Aku baru tersadar jika Nabil dan yang lain ada di luar. Terjebak masa lalu, membuat ku mengabaikan masa depan ku.


"Iya sayang, papa keluar!"


Aku pun keluar untuk berkumpul dengan yang lain.


******


Hah!


Ada yang ga suka kalo bahas masa lalu Albia ya?? 😁😁😁✌️✌️✌️


Selingan saetik heheh

__ADS_1


Bab selanjutnya....Amara & Frans yak ✌️


Makasih....


__ADS_2