
Amara
Aku turun dari mobil Alby dengan perasan sedikit lega sekaligus kesal juga sih. Lega karena akhirnya aku tahu aku punya kesempatan untuk menjalani hubungan dengannya. Itu artinya aku tak lagi bertepuk sebelah tangan. Alhamdulillah....
Tapi aku juga kesal. Dia tak paham dengan apa yang ku tanyakan tadi! Kelanjutan hubungan kami seperti apa? Kami pacaran kah atau bagaimana...?
"Pagi Nona Amara!",sapa Nada yang sudah berdiri di samping ku yang sudah ada di depan lift.
"Pagi Nada!",kataku tersenyum.
"Sepertinya ada yang sedang bahagia!", sindir Nada. Aku tersenyum kecil.
"Tahu aja!",kataku.
"Apa pesona CEO jutek itu yang sudah membuat nona tersenyum manis seperti ini?",ledek Nada.
"Jangan meledekku Nada!", kataku lagi. Nada terkekeh kecil.
"Saya liat tadi lho Nona!", kata Nada setelah kami sama-sama di dalam lift.
"Liat apa?",aku menautkan alisku.
"Di mobil tadi heheheh...ngga sengaja!", katanya sambil tersenyum.
"Nada!", aku mendelik tapi justru Nada tertawa pelan. Hobi baru nya ya meledek ku sekarang!
Kami sudah sampai di lantai ruangan ku. Tapi ternyata di depan ruangan ku sudah menunggu sosok bule yang bersandar di dekat pintu ruangan ku.
Aku dan Nada cukup terkejut melihat keberadaan nya di sana.
"Siapa yang mengijinkan dia masuk ke sini?",tanyaku pada Nada.
"Tidak tahu Nona!",kata Nada.
Nada meminta ijin ke ruangan nya. Sedang aku menghampiri Frans yang tersenyum manis padaku. Ku akui, dia memang tampan khas bule nya. Di tambah lagi kaca mata minus nya mendukung bahwa dirinya sosok yang pintar dan berwibawa.
"Kenapa kamu ada di sini? Siapa yang mengijinkan mu masuk apalagi ini ruangan ku!?", tanyaku.
Dia membukakan pintu ruangan ku sebelum aku membukanya tanpa menjawab pertanyaan ku.
Aku tak menghiraukan nya, langsung duduk di kursi kebesaranku. Dia justru duduk di meja sambil menyilangkan kakinya menghadap padaku.
"Aku juga investor di Rhd.co. Papi juga mengijinkan ku mengunjungi perusahaan ini sewaktu-waktu. Kalau aku mau, aku juga bisa bekerja di sini. Sayangnya aku sudah terlanjur mengambil pekerjaan di Sentra Timur, dan tentu saja di rumah sakit!"
"Kenapa aku tidak tahu kalo kamu investor di perusahaan ku?", tanyaku dengan sedikit heran.
"Sayang, kamu tahu aku bisa melakukan apa pun! Kamu tahu itu?",dia mengusap pipiku. Tapi aku menepis nya.
"Aku mau bekerja, kamu bisa kan keluar dari sini? Aku tak mau dia ganggu!"
Dia memutar kursiku sampai berhadapan dengan nya. Aku cukup terkejut tapi tak ku tunjukkan keterkejutan ku padanya.
"Mara! Dengar kan aku! Aku akan melakukan apa pun agar kamu kembali padaku!", meski pelan tapi suaranya penuh penekanan.
"Aku tak lagi memiliki perasaan apa pun. Jadi tolong, jangan lagi berharap padaku!"
Frans justru terkekeh pelan. Dia menepuk pipiku pelan.
"Aku tak akan menyerah sebelum aku mendapatkan apa yang aku inginkan, termasuk kamu Mara."
"Kamu sudah membohongi ku Frans! Aku juga sudah melupakan bahwa aku pernah jatuh hati sama kamu! Jadi please...jangan ganggu aku lagi!"
"Aku memang pernah membohongi soal status ku saat itu Amara! Tapi soal perasaan ku, aku tidak bohong! Dan ya, aku memang pernah menikah dengan almarhumah istriku. Tapi aku tak pernah mencintainya!"
"Iya, karena kamu dan kehidupan bebas mu sudah terbiasa seperti itu!"
__ADS_1
Frans menatap ku begitu tajam. Dia meraih daguku agar aku menatapnya.
"Aku memang besar dan tinggal di negara bebas tapi jangan sama ratakan aku dengan mereka yang terbiasa dengan frees**! Aku bukan penganut itu! Istri yang kamu bilang, dia itu kekasih dan calon istri adikku yang meninggal."
Aku melemparkan pandangan ku ke arah lain.
"Aku menikahi nya karena aku merasa harus bertanggung jawab akan ulah adikku. Kamu boleh berpikir atau mengatakan di negara ku bahkan memiliki anak di luar nikah itu hal biasa! Tapi aku, aku masih mengikuti adat ketimuran Mommy ku! Aku tidak sejahat itu!"
Dari tadi aku menahan nafasku.
"Dan kamu, kamu gadis pertama yang pernah ku sentuh!", katanya.
"Kita tak pernah melakukan apa pun Frans. Jadi jangan mengatakan hal yang tidak-tidak yang justru menimbulkan spekulasi...!", aku menunjuk wajahnya dengan telunjukku. Kebiasaan buruk memang! Dia menurunkan jariku dengan tangannya.
"Karena aku mencintai mu Amara! Jika dengan mengatakan hal seperti itu, orang tua mu menyetujui hubungan kita aku akan melakukannya Amara. Bahkan mungkin tidak hanya dengan kata-kata, tapi aku akan merealisasikannya!"
Nafasku memburu menahan emosi yang meledak-ledak di dalam dadaku. Dia anggap aku ini apa???
"Cukup Frans! Aku tak ingin mendengar apa pun lagi! Anggap saja kita tak pernah saling mengenal dan perihal lamaran mu kemarin, aku tidak akan menerima nya!"
Frans menyeringai sinis padaku.
"Jadi kamu menolak ku Amara?", tanyanya menarik daguku lagi. Saat ku tepis justru ia semakin mencengkram erat daguku.
"Frans!!",suaraku tertahan karena cengkraman nya di daguku.
"Bagaimana jika aku mengorbankan mereka?", tanyanya.
"Apa maksud mu?", mataku melebar.
Dia mengedikan bahunya. Lalu tersenyum menyeramkan.
Ponsel ku berdering. Ada panggilan dari nomor rumah. Frans menyingkir dari hadapan ku. Dia melipat kedua tangannya di dada.
[Hallo?]
[....]
[....]
[Baiklah aku ke sana!]
Aku langsung menutup ponselku dan bangkit dari kursi ku. Sedang Frans justru tersenyum.
"Bagaimana Mara? Di mulai hari ini?",tanya Frans tersenyum.
Aku menghentikan langkahku.
"Apa maksud mu?", tanyaku heran. Apa dia tahu terjadi sesuatu pada papi ku?
Dia berjalan ke arahku, berdiri di belakang ku dan memeluk ku. Aku mencoba melepaskan pelukannya, tapi tak bisa. Justru dia berbisik.
"Ini baru papi mu, sayang! Mungkin sebentar lagi mami mu!", bisiknya sambil menciumi leher ku yang terhalang jilbab yang ku ikat di leher. Tapi aku seolah tak peduli justru aku fokus dengan ucapannya tadi.
"Apa yang kamu katakan Frans?", kataku.
Dia tersenyum di samping pipiku bahkan pelukannya semakin erat.
"Kembali lah padaku, maka papi dan mami mu akan baik-baik saja!", bisiknya mengecup pipiku. Aku melebarkan mataku. Sebisa mungkin aku melepaskan pelukannya. Dia seperti... psikopat saat tersenyum seperti itu.
"Apa yang kamu lakukan pada Papi ku?", aku berbalik badan mendorong tubuh nya. Dia membenarkan jas nya.
"Sedikit saja, tapi perlahan akan melumpuhkan syarafnya yang sudah mulai menua!", dia mengedikan bahunya.
Aku menatapnya tajam.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan Frans!",aku mencengkram kerah bajunya. Dia justru terkekeh lalu melepaskan tangan ku yang ada di kerahnya, di genggam dengan erat.
"Sedikit permainan kecil Mara. Tapi seandainya aku masih juga tak mendapatkan mu kembali, mungkin aku akan melakukan hal yang sama pada mami mu!"
"Frans!", aku membentaknya. Tapi dia menutup bibir ku dengan jarinya.
"Aku memang dokter Mara, tapi aku bukan sepenuhnya orang baik. Aku memang akan menolong siapa pun tanpa pandang bulu, tapi aku juga punya sisi buruk saat aku tidak bisa meraih apa yang aku inginkan!"
"Kamu menyalahgunakan kemampuan mu!",aku menatap tajam padanya. Dia mengangguk.
"Aku tidak menyalahkan kode etik kedokteran kok Mara. Tenang saja! Karena aku tidak melakukannya dengan tangan ku sendiri!"
"Frans!", aku membentakknya lagi bahkan dengan air mata yang tiba-tiba menetes karena terlalu emosi. Atau mungkin karena aku takut terjadi sesuatu pada papi ku karena kesalahan ku.
Frans mengusap pipiku dengan jarinya. Lalu dia tersenyum.
"Menikah lah dengan ku Mara, papi mu akan baik-baik saja!"
Aku menepis kasar tangannya, lalu aku keluar dari ruangan ku. Jika sampai terjadi apa-apa dengan papi ku, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri.
.
.
.
Beberapa saat sebelumnya....
"Kak, kamu tahu apa yang sudah Alby lakukan pada adikmu kan?", tanya mami pada Daniel.
"Mami, mereka tak melakukan apa pun apalagi seperti yang mami pikirkan!", jawab Daniel sambil memakan sarapannya.
"Tapi mami dengar sendiri kalo kalian bahas tentang tanggung jawab!"
Daniel menghela nafasnya.
''Mi, Mara sudah dewasa. Dia tahu mana yang baik dan yang buruk. Jangan menuduh Mara yang tidak-tidak. Kasian dia Mi!"
Mami hanya mendengus pelan. Ya, mami Kirana memang perempuan yang lembut bahkan mungkin dia tak bisa marah-marah dengan membentak.
"Daniel berangkat ya Mi!", Daniel mengecup pipi maminya.
Sepeninggal Daniel, mami menemani papi yang duduk di dekat kolam renang sambil membaca koran. Kebiasaannya setelah sarapan memang seperti itu.
"Mami!",kata papi saat menyadari sang istri di sampingnya.
"Pi, apa kita terlalu keras ya sama Mara?"
"Apa sih Mi? Kita kan sebagai orang tua pasti menginginkan yang terbaik buat anak kita!"
Mami diam lalu menengok piring berisi makanan tradisional yang ada di meja.
"Kapan papi beli ini?"
"Bibi kan tadi ke pasar Mi. Papi minta beliin lah!", jawab papi.
"Ya udah, mami ke kamar deh Pi!"
"Iya, Mi."
Papi pun melanjutkan membaca korannya sambil memakan makanan tradisional itu. Beberapa makanan sudah ia telan dan tampak fine-fine saja. Tapi satu jam berikutnya dia merasa ada rasa kebas di bagian tubuhnya. Bahkan jantung nya berdetak lebih cepat. Tiba-tiba badannya limbung dan terjatuh.
Bibik yang melewati tuannya terkapar di lantai pun berteriak memanggil mami.
Mereka langsung membawa papi ke rumah sakit. Bibi pun menghubungi Mara, Daniel dan Nathan.
__ADS_1
*****
🙄🙄🙄🙄 maafkan daku 🙏🙏🙏🙏