
Alby
"Siapa?",tanya Azmi yang sekarang sudah duduk di hadapan ku dengan menyerahkan beberapa berkas yang harus ku tandatangani.
"dokter Frans!"
''Iya, gue tahu namanya dokter Frans. Gue tanya, siapanya Lo? Kayanya gue baru tahu, Lo gaul sama bule? Kalo investor asing, gue kenal. Tapi dia dokter? Kan Lo selalu ngadepin mereka sama gue!"
"Dia ngaku pacar nya Amara waktu di luar negeri." Azmi mengangguk tipis sambil ber'oh' ria.
"Katanya...dia juga udah ketemu Amara, cuma Amara bilang ke dia. Kalo dia lagi menjalin hubungan sama orang lain. Frans cari tahu sendiri, kalo yang dekat sama Amara cuma gue. Sayangnya, gue terlanjur bilang kalo gue ngga ada hubungan apa-apa sama Mara."
"Hei??? Lo ngomong kaya gitu? Sama aja Lo udah jatuhin harga diri Amara bos Alby!",Azmi menggeleng.
"Gue mana tahu Mara bakal ngomong gitu ke Frans buat alasan nolak Frans yang ngajak balikan. Kalo dari awal Mara bilang begitu, mungkin gue bisa bantu!"
"Bantu apa? Bantu boong sama Frans, atau bantu mewujudkan keinginan dan cerita Amara ke Frans, kalo Lo kekasihnya?"
Aku menatap jengah aspri sekaligus sekretaris ku ini. Kenapa sih dia kalo nebak suka bener!
"Ga bisa jawab kan Lo? Nolak cewek centil aja Lo bisa tegas, judes, jutek! Giliran jujur sama perasaan sendiri aja kaga bisa. Apa coba kaya gitu?"
''Lo ngomong apaan sih?", aku menarik berkas yang Azmi bawa. Ku buka-buka asal sambil menandatangani halaman yang membutuhkan tanda tangan ku.
"Gue tahu Lo masih takut!",kata Azmi.
''Takut apa?", tanyaku tanpa mengalihkan pandangan ku dari berkas.
"Takut menyakiti orang lain tapi kenyataannya dengan Lo begini juga Lo tetap nyakitin dia!", Azmi berbicara lirih dan dengan nada serius.
Aku meletakkan pulpen ku sedikit keras di atas meja. Ku tatap aspri ku yang lebih mirip babysitter dan penasehat ku.
"Terus gue kudu gimana?"
"Lo tanya sama diri Lo sendiri lah!", Azmi menyadarkan punggungnya.
"Ckkk...ga usah berbelit. Sok atuh kalo emang mau ngasih wejangan. Kagak usah belibet ngasih tahunya!"
__ADS_1
"Ngga usah emosi kenapa? Dikit-dikit marah, dikit-dikit ngomel. Kaya bapak-bapak kehabisan rokok aja." Azmi justru semakin memancing emosi ku. Aku memejamkan mataku lalu menghirup oksigen dalam-dalam.
"Makin kesini Lo menyebalkan tahu ngga, Mi!"
"Bukan gue yang menyebalkan. Tapi Lo nya aja yang jadi laki kagak tegas. Lo ga belajar dari pengalaman Lo yang udah-udah?"
"Maksud Lo apa sih???", tanyaku heran.
"Bos ku yang ganteng dan budiman. Lo itu udah pernah menyesal dengan keputusan yang udah Lo ambil, sekarang Lo mau mengulang lagi?"
''Maksud Lo apa sih Azmi??? Gue kagak paham! Apa susahnya ngomong yang jelas!"
Azmi menyugar rambutnya serta memutar bola matanya malas.
"Beneran deh, gue ga habis pikir sama Lo! Pantes aja Bia lebih milih Febri timbang Lo. Lo nya aja menya menye begitu! Jadi laki yang tegas kenapa sih! Jangan cuma menang di muka doang!"
"Eta biwir!!!", aku melempar pulpen ke wajah Azmi. Tapi dengan sigap dia menangkap nya.
(Itu bibir)
"Gue rasa Lo udah mulai move on dari Bia!", celetuk Azmi.
"Masa sih?", justru aku yang bertanya.
"Tapi ga tahu juga sih! Lo sendiri yang rasain kok!"
"Emang udah seharusnya gue lupain Bia. Tapi susah, Mi!"
"Terserah Lo ! Yang penting sekarang Lo pikirin tuh. Amara bener-bener ga berarti apa-apa di dalam hati Lo? Kalo iya, Lo bakal biarin Frans balik sama Amara. Tapi kalo Lo emang merasa Amara perlu lo perjuangin, ya silahkan!"
"Perjuangin ya kaya gimana Azmi? Lo mau gue pacarin Amara gitu? Kan Lo bilang ga boleh pacaran, gimana sih!"
"Emang siapa yang nyuruh Lo pacaran sama Amara? Emang dia juga mau gitu pacaran sama Lo?"
"Pusing gue ngomong sama Lo, Mi!"
"Ya udah kalo gitu ga usah ngomong sama gue! Bye!!! Orang ganteng mau Jumatan!", kata Azmi melenggang pergi tanpa memberi penjelasan tentang yang dia omongin barusan. Bener-bener kelewatan tuh orang!
__ADS_1
"Gue ikut!", akhirnya aku pun ikut duda beranak satu itu untuk jumatan. Tak lupa aku mengganti sepatu ku dengan sendal jepit yang ada di kolong meja ku.
Meski tadi kami sempat ngobrol tak jelas, saat kami keluar dari ruangan kerja, kami kembali pada mode cool lagi.
Azmi memang cool tapi dia tak sejutek aku, menurut penilaian karyawan ku sih.
"Pak Alby!", panggil seseorang. Sepertinya aku pernah melihat sosok itu. Tapi siapa?
"Ya?"
"Hai, lupa? Aku Naura, istrinya mas Bram."
Oh iya aku ingat Naura yang saat itu hamil ingin mengusap pipiku.
"Iya, mba Naura. Kok ada di kantor saya?",tanyaku.
"Iya, ada urusan sama bagian marketing. Kan perusahaan mas Alby kerja sama dengan perusahaan papa mertua ku, PT Sentra Timur."
"Oh, jadi PT Sentra Timur itu, milik orang tua mas Bram?"
Naura mengangguk cepat.
"Tapi kan mas Alby tahu sendiri, mas Bram lebih suka bisnis kuliner nya. Jadi, perusahaan papa nya sekarang di pegang Bianca. Dulu ... Bianca magang di sini kan? Sekarang dia yang pegang perusahaan!", kata Naura.
Azmi menahan tawanya. Tebet saja dia ingat saat Alby memaki Bianca karena getol mendekati Alby, eh.... ternyata sekarang dia harus bekerja sama dengan makhluk centil itu. Terlebih, dia partner bisnis nya bukan lagi anak magang di perusahaan nya.
"Em, maaf mba Naura. Kami mau sholat Jumat dulu. Permisi!"
Aku dan Azmi pun meninggalkan Naura. Naura hanya mengangguk pelan dan tipis.
"Kayanya.... setelah dia bukan anak magang di kantor ini, Bianca bakal lebih getol deketin Lo deh, By!"
"Bodo amat lah, kali aja malah dia deketin Lo!",kataku berjalan meninggalkan Azmi.
"Heh? Ga lah!"
Kami berdua pun menuju masjid yang ada dekat dengan gedung kantor kami.
__ADS_1