Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 156


__ADS_3

Alby mengantar Amara ke apartemennya. Ia melihat kekasihnya menyunggingkan senyumnya sepanjang jalan keluar dari komplek perumahan rumah Alby.


"Kenapa neng?", tanya Alby.


"Apa nya yang kenapa?",tanya Amara balik.


"Itu, senyum-senyum mulu!", kata Alby tanpa menghilangkan fokusnya dari kemudi. Amara menggelendot manja di lengan Alby. Dia menoleh sebentar. Lalu turut tersenyum.


Tangan kirinya mengusap kepala Amara yang terlihat sangat bahagia.


"Aku senang banget A. Respon Mak baik juga! Makasih ya, kamu udah niat mau serius buat nemuin papi ku sama Mak."


Alby tersenyum tipis.


"Iya sayang."


Amara mengeratkan pelukannya di lengan kiri Alby. Gadis itu bersyukur karena akhirnya, ia bisa menemukan tambatan hatinya setelah melewati banyak cobaan dalam percintaan.


Meskipun, jujur...ada rasa yang kurang dalam hatinya saat ia melihat keromantisan Febri dan Bia. Mungkin kah Alby juga merasakan hal yang sama sepertinya? Karena mereka berdua terlibat masa lalu dengan dua orang yang sama???


Alby menghentikan mobilnya di depan gedung apartemen Amara.


"Aa ngga mau ikut turun?", tanya Amara basa basi.


"Ngga sayang. Lain kali. Udah mau tengah malam ini."


Alby mengusap puncak kepala Amara.


"Heum, oke! Ya udah, aku turun deh A."


Amara mengulurkan tangannya pada Alby untuk menyalami nya.


"Nanti kalo udah sampai kabarin ya A!"


"Iya!", sahut Alby sambil tersenyum lalu mengusap pipi Amara. Gadis itu pun turun dari mobil. Setelah Amara benar-benar masuk ke gedung, Alby pun melanjutkan perjalanan menuju ke rumah lagi.


Karena jalanan ibu kota sudah sepi menjelang tengah malam, Alby tak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah.


Alby membuka pintu gerbang lebih dulu karena pasti Mang Sapto sudah tidur. Setelah mobil terparkir, baru lah Alby mengunci gerbangnya lagi.

__ADS_1


Ia tak melewati ruang tamu, melainkan langsung masuk ke garasi yang terhubung dengan dapur dan kamar mang sapto. Bekas kamarnya juga saat awal jadi supir dulu! Ya, berawal dari supir dan berakhir di posisi sekarang!


Ia melintasi dapur. Terlihat Mak nya sedang menikmati secangkir teh.


"Lho, can sare Mak teh?", tanya Alby langsung mendudukkan diri di bangku depan Mak nya.


"Ngga bisa tidur Jang!", jawab Mak mendesah pelan. Alby menghela nafas beberapa saat.


''Mak mikirin apa?",tanya Alby. Mak pun menatap Alby dengan mata berkaca-kaca.


"Maafin Mak Jang...maaf!", kata Mak Titin lirih.


"Mak kenapa? Minta maaf untuk apa?", tanya Alby bingung.


"Gara-gara Mak ,kamu harus berpisah dengan Bia. Maafin Mak Jang, maaf....!"


"Astaghfirullah Mak. Udah Mak. Mak ngga perlu minta maaf seperti itu."


"Tapi Mak tahu dan lihat sendiri kalau...kalau sebenarnya kalian masing saling menyayangi satu sama lain. Gara-gara Mak kalian terpaksa berpisah. Sampai kapan pun Mak tetap akan merasa bersalah Jang!"


"Mak lihat aku sama Bia di dapur tadi?", tanya Alby pelan. Mak Titin pun mengangguk.


"Bia memang sudah bahagia dengan Febri. Tapi Mak kenal sekali Bia seperti apa. Dia tidak pintar berpura-pura Jang. Mak tahu itu!"


"Mak, semua sudah terjadi. Kehidupan kami sudah berbeda, Bia bahagia dengan Febri. Dan insya Allah, Alby juga akan bahagia bersama Amara nanti."


Mak Titin menatap anak tirinya atau... tepatnya menantunya. Entah lah, mana yang masih berlaku sebutannya. Yang jelas, Alby adalah ayah dari cucu kandungnya.


"Kamu sudah melupakan Bia?"


"Belum sepenuhnya Mak. Bagaimana pun, Bia pernah begitu berarti buat Alby. Maaf, bukan maksud Alby tidak menghargai Silvy, anak kandung Mak. Tapi...Mak pasti paham seperti apa dulu antara Alby dan Bia."


"Entah sampai kapan perasaan bersalah ini berakhir jang. Mak tetap merasa bersalah pada kalian, pada Silvy!"


"Insyaallah Alby sama Bia sudah sama-sama berusaha saling mengikhlaskan Mak."


Mak Titin pun mengangguk pelan. Bagaimana pun juga, dia salah satu pemicu perpisahan Alby dan Bia. Karena dirinya, Alby harus merasakan seperti apa poligami yang tidak ia inginkan sama sekali.


"Sekarang, Mak istirahat. Udah mau pagi?!", kata Alby. Mak Titin pun menurut. Dia meninggalkan dapur menuju ke kamarnya.

__ADS_1


Alby pun menuju ke kamarnya. Dilihatnya sang anak sedang duduk memunggungi pintu di atas ranjang.


''Bil?", panggil Alby. Nabil pun menoleh.


"Papa udah pulang?", tanya nya balik.


"Heem. Kok Nabil udah bangun? Ini masih malam sayang!"


"Iya, tadi Nabil kebelet pipis."


Wow, anak tiga tahun semandiri itu????


"Oh, emang ga pakai diaper tadi ya?", Alby duduk di samping sang putra. Nabil menggeleng.


"Kan Nabil udah besar!", katanya penuh percaya diri.


"Iya, anak papa udah besar. Kenapa tadi ngga langsung bobo lagi?", tanya Alby. Nabil tersenyum tipis.


"Ngga apa-apa. Kata kak Nabila, kakak seneng papa sama mama Bia bahagia."


Tiba-tiba bulu kuduk Alby meremang. Benarkah anaknya tidak sedang berhalusinasi????


"Oh, begitu?", Alby mencoba menggali informasi dari Nabil. Apakah anaknya benar-benar menghalu karena tak memiliki teman bicara atau karena....


"Kak Nabila bilang, papa ngga boleh sedih-sedih lagi. Soalnya mama Bia juga udah bahagia sama ayah Febri!", jelas Nabil.


(Maafkan kehaluan daku yang sudah terlanjur akut ✌️✌️✌️✌️✌️😌😌😌😌)


Alby terhenyak lagi. Dia tak tahu lagi harus menanggapi Nabil seperti apa.


"Ya udah, sekarang Nabil bobo lagi."


Nabil pun mengangguk dan merebahkan diri.


"Kata kak Nabila, kakak sayang papa sama mama Bia."


Alby sudah mulai menguasai perasaan nya yang sempat menegang karena ocehan Nabil.


"Papa juga sayang kalian!", kata Alby. Nabil pun tersenyum.

__ADS_1


"Kata kak Nabila, terima kasih papa!", sahut Nabil lagi.


Alby sudah kehabisan kata-kata, ia pun ikut membaringkan tubuhnya di samping Alby tanpa membersihkan diri lebih dulu.


__ADS_2