Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 98


__ADS_3

Alby


Bia keluar lebih dulu dari lift, lalu keluar menuju ke pelataran gedung paling atas. Cuaca cukup mendung dan angin lebih kencang di atas gedung ini.


"Mau bicara soal apa?",tanya Bia. Dia berdiri di pinggiran gedung sambil berpegangan pembatas. Matanya menatap ke arah bawah dimana hamparan gedung dan bangunan lainnya mendominasi pemandangan di cuaca mendung ini.


Aku menarik nafas dalam-dalam untuk bisa mengatakan suatu hal.


"Aa...ingin menikahi Amara!",kataku pelan.


Bia tertunduk lalu tersenyum tipis tanpa menoleh padaku.


"Tinggal menikah saja!",jawabnya santai.


"Aa ingin mendengar pendapat kamu neng. Aa tahu, Mara pasti banyak curhat sama Neng!"


Bia terkekeh pelan.


"Sepenting apa pendapat ku?",tanyanya sambil menoleh padaku.


Cantik! Bia semakin cantik sekarang. Pipinya sedikit lebih berisi dan tidak terlalu kurus seperti saat bersama ku. Febri sukses membuat Bia bahagia.


"Aa hanya...."


"Memang aku siapa?", tanya nya padaku. Aku menatap matanya yang ku rasa sedikit mengembun.


Apa aku menyakiti nya lagi dengan aku mengatakan akan menikahi Amara?


"Neng...?"


"Apa pengaruh nya buat mu pendapat ku ini? Jika ingin menikahi Amara, menikah lah! Aku bukan siapa-siapa mu, lagi. Kamu menikah dengan Silvy saja tanpa persetujuan ku kok, yang jelas-jelas saat itu masih istri sah mu! Lalu, untuk apa sekarang seolah kamu minta ijin padaku untuk menikahi Amara? Aku bukan siapa-siapa kamu!"


Nyes!!!! Nyeri plus nyesek!


"Neng, Aa mint....!"


"Minta maaf! Aku sudah memaafkannya sejak lama."


Bia memotong kalimat yang memang akan ku katakan sama persis seperti yang ia katakan.


Aku memegang kedua bahunya untuk berhadapan dengan ku.

__ADS_1


"Apa neng masih memiliki perasaan sama Aa?",tanyaku penuh percaya diri.


Perlahan, Bia melepaskan tangan ku dari bahunya.


"Kita bukan mahram. Jangan sentuh-sentuh aku sembarangan! Dan...jaga sikap mu. Saat ini kita memang berdua, tapi kita juga punya kewajiban untuk menjaga perasaan orang lain. Aku menjaga perasaan suamiku, begitu juga kamu!"


Hatiku mencelos. Bia ku sudah perlahan berubah.


"Apa alasan mu menikah dengan Amara? Jika memang kamu mencintai nya, lanjutkan! Tapi jika tidak, jangan pernah lakukan. Meski aku tahu, tanpa cinta pun kamu bisa menikahi Silvy."


Lagi-lagi Bia tersenyum tipis.


"Aku...memang benar-benar ingin menikahi Amara, mungkin dengan begitu...aku bisa melupakan mu Neng!"


Bia tertunduk lalu kembali menatap hamparan gedung di bawah sana. Dia menoleh padaku.


"Sudah cukup aku dan almarhumah Silvy yang kamu sakiti. Jangan ada Bia atau Silvy berikutnya!",ujarnya.


"Aa tahu neng, kesalahan Aa teramat besar. Mungkin benar neng sudah memaafkan Aa. Tapi aa tahu, sampai kapan pun luka yang Aa beri akan terus membekas."


"Aku tidak tahu hubungan apa yang kalian jalani. Itu bukan urusan ku. Tapi...aku berharap....!",ucapan Bia terjeda.


"Aku harap, jangan pernah sakiti Amara seperti kamu menyakiti ku!",katanya pelan. Tapi setelah itu ia tersenyum.


"Ada, tapi sama Febri!",jawabku. Bia menautkan kedua alisnya.


"Ada perlu apa? Kamu mau minta pendapat juga padanya karena Amara pernah menyukai suami ku?",tanya Bia.


Kata 'suami' ku yang keluar dari bibirnya cukup membuat ku perih....


"Aku ingin meminta bantuannya. Saat ini ... Amara dalam posisi yang sulit. Dan Amara bilang...dia ingin minta bantuan sama Febri."


"Posisi sulit seperti apa?"


"Kapan dia ada waktu, aku ingin bicara padanya?"


"Jam lima sore mas Febri sudah di rumah!", jawab Bia.


Aku mengangguk.


"Mungkin nanti sore aku kesana. Besok pagi...aku ke kampung. Sejak kita berpisah...aku belum pernah pulang!",kataku.

__ADS_1


"Oh...!",hanya itu sahutan darinya.


"Sudah kan? Aku mau pulang, kasian anak-anak ku!",katanya sambil berlalu menuju ke lift.


"Neng!", panggil ku lagi. Bia pun berhenti.


"Maaf, bisakah panggilan kita jadi aku kamu saja? Jangan lagi neng atau...Aa?",tanya Bia.


"Kenapa?Kamu mau bilang, ada hati yang harus kita jaga?",tanyaku yang sekarang berdiri di samping nya.


"Mungkin kamu lupa neng. Saat masih jadi istri ku saja, Febri masih memanggil mu nduk, sampai sekarang kan? Lalu, apa bedanya?",tanyaku balik. Hal itu membuat nya terdiam. Selanjutnya ia menekan tombol lift. Kami berdua pun masuk ke dalam lift lalu meluncur ke lantai bawah.


Di dalam lift tak ada obrolan apa pun antara kami berdua. Mungkin Bia marah karena ucapan ku barusan. Tapi...dengan apa aku bisa melupakan Bia? Bahkan saat ini dia ada di hadapan ku! Aku akui, nama Amara sudah mulai menguasai hatiku tapi aku juga belum bisa sepenuhnya menghapus nama Bia dalam hatiku.


Ting! Lift berhenti di lantai dasar. Bia pun meninggalkan lift tanpa berpamitan padaku. Dengan sedikit terburu-buru aku menarik tangan nya. Sontak kami berdua menjadi pusat perhatian orang-orang di lantai itu.


Aku yang notabene terkenal jutek dan galak, berdua dengan seorang perempuan. Dan aku yang memegang tangannya.


"Neng, Aa minta maaf!", kata ku. Bia melepaskan tangan ku dari pergelangannya.


Bia hanya menarik nafas dalam-dalam.


"Lamun kos kieu kumaha maneh arek poho jeng perasaan maneh ka urang?",tanya Bia.(Kalo begini, gimana kamu mau lupa sama perasaan mu ke aku?)


Aku tahu dia berbicara seperti itu karena banyak orang di sana. Dia memilih untuk memakai bahasa daerah yang mungkin tidak orang-orang pahami.


"Hampura atuh neng!",kataku lagi.


Bia meninggalkan ku begitu saja. Aku merasa ia sangat malu jadi pusat perhatian seperti tadi saat bersama ku.


"Apa kalian di bayar untuk melihat saya berdiri di sini?!", teriakku pada orang-orang yang tak lain karyawan gedung ini.


Mereka pun membubarkan diri dengan teratur. Baru saja akan melangkahkan kakiku, suara yang cukup mengganggu pendengaran ku terdengar nyaring.


"Mas Alby!!!"


Aku menyugar rambut ku kasar! Siapa lagi kalo bukan gadis centil itu!!! Apa aku akan menjadi tontonan lagi oleh karyawan ku sendiri????


*****


Lanjut besok lagi ya ?? 🙏🙏🤗

__ADS_1


Makasih 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2