Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 91


__ADS_3

Alby


Aku masih memeluk gadis berambut sebahu itu. Tangannya sudah reda tapi...dia masih betah diposisi seperti ini.


Setelah ia merasa bosan, ia melepaskan tubuh nya dari pelukan ku. Ku takupkan kedua tanganku di pipinya.


"Maafkan aku jika apa yang kamu alami juga karena aku!", kata ku tulus. Amara menggeleng perlahan.


"Ngga By! Aku sendiri yang salah. Andai aku tak mengenal nya sejak awal. Dan aku tak perlu merasa kecewa atas kebohongannya."


Aku mengusap puncak kepalanya. Dia membalas tatapan nya padaku.


"Apa yang harus aku lakukan By? Aku ngga mau jika harus kembali sama Frans. Tapi aku juga ngga orang lain menjadi korban kelicikan Frans."


"Aku akan mencoba memikirkan nanti. Sekarang, kamu tidur lagi aja. Masih jam tiga subuh. Ya?",aku menakupkan kedua tanganku di pipinya.


Amara pun mengangguk pelan.


"Kamu...mau pulang?",tanya nya.


"Mau kamu gimana?", tanya ku balik. Dia mengerucut kan bibirnya.


"Kamu selalu membalikkan pertanyaan dalam segala hal By!",sahut nya. Aku terkekeh pelan. Lalu ku dudukan dia di sofa.


"Aku temani kamu tidur, nanti subuh aku pulang!",ku usap lagi puncak kepalanya.


Sofa ini.... pernah menjadi saksi perbuatan bejat ku pada Amara saat itu. Dan aku berharap ini tidak akan lagi terulang.


Amara memeluk ku dari samping. Reflek tanganku mengusap kepalanya lagi. Hembusan nafasnya di leher ku sedikit mengganggu ku. Apalagi di jam 'rawan' seperti ini. Bagaimana jika adik kecil ku bangun???


Amara yang menyandarkan kepalanya di bahuku menghadap leherku tentu saja melihat seperti apa jakunku naik turun.


Tiba-tiba tangan Amara meraih pipiku. Entah seperti apa, tiba-tiba Amara sudah mengecup bibir ku.


Aku... terkejut saat Mara memulai hal itu. Padahal, sudah dua kali aku yang memulainya lebih dulu.

__ADS_1


Padahal aku sudah bertekad untuk tidak seperti ini lagi. Tapi....


Amara kembali meraih tengkukku. Mau tak mau aku pun membalas ciumannya. Cukup lama kegiatan itu berlangsung. Tapi aku mencoba menguasai diri. Aku tak ingin terjadi seperti yang sudah-sudah.


Perlahan aku memutuskan tautan ku. Ku hapus bibirnya yang basah.


"Menikah lah dengan ku Mara!",kataku sambil menatap matanya.


"Apa kamu sudah mencintai ku?",tanya Amara.


"Ya!",jawabku singkat.


"Sudah tidak ada Bia di hati kamu?",tanyanya lagi.


Aku menghela nafas perlahan. Lalu ku dekap Amara dengan erat.


"Yang aku rasakan Ra, aku takut terjadi apa-apa sama kamu. Apalagi kalo kamu bersama Frans. Aku...aku ngga rela jika Frans sampai menyentuh mu. Sampai seperti ini!",ku raba rahang nya yang sedikit nampak tanda cinta dari Frans.


"Aku juga tak ingin seperti ini By!",Mara menenggelamkan kepalanya di dadaku.


"Tapi bagaimana caranya? Bahkan Frans sudah meretas nomor ku By. Dia tahu siapa saja yang menghubungi ku, apa saja isi chat ku bahkan keberadaan ku!"


Aku menghela nafas.


"Aku sempat berpikir, minta tolong sama mas Febri dan teman-teman ku yang lain. Aku pengen menghubungi mereka. Tapi....aku juga takut mereka akan jadi sasaran Frans."


"Febri?", tanyaku. Apa aku sedang cemburu Amara menyebut nama pria lain? Terlebih pria itu yang kini sudah jadi suami Bia? Mantan istriku yang mungkin masih menempati tempat di sudut hatiku.


"Ya, Mas Febri itu pintar dan ahli menyusun tak tik perang. Makanya, di usianya sekarang, pangkat nya cukup tinggi",terang Amara.


Ya, Febri memang sesempurna itu. Wajar jika Bia bahkan Amara mengagumi sosok gagah itu.


"Kamu masih mengagumi nya?",tanya ku.


Bukan menjawab,Amara justru tersenyum. Dia mengusap pipiku.

__ADS_1


"Kamu cemburu By?",tanya nya. Dan hal itu cukup membuat ku merasa....ya begitulah.


"Ngga!",jawabku sambil menoleh ke arah lain.


"Aku sudah mengubur nama Febri dalam-dalam, setelah aku mengenal mu dan mencintai mu By!"


Mendadak hatiku menghangat. Kenapa seperti ini rasanya ya????


"Tadi rencananya kan kamu tidur, aku pulang. Kenapa kamu malah ngajak ngobrol mulu! Tidur ya? Kalo kamu udah tidur, aku pulang. Aku takut Nabil mencariku. Soalnya semalam aku juga sampai rumah,Nabil udah bobo."


Amara mengangguk.


"Ngga usah nunggu aku tidur. Kamu pulang aja sekarang ngga apa-apa. Insyaallah aku baik-baik saja. Kebetulan orang tua Frans tinggal di unit sebelah. Aku yakin Frans tidak akan berbuat macam-macam. Bahkan menurut ku....Frans sepertinya ga begitu suka kehadiran orang tuanya."


''Tapi seperti nya mereka menyukai mu!"


"Kamu juga sangat sopan menghadapi mereka berdua!", lanjut ku.


"Terus, aku harus ketus gitu sama orang yang lebih tua begitu?", tanya nya padaku.


"Barangkali...kamu akan berubah pikiran, karena kedua orang tua Frans bersikap baik padamu!"


Amara terkekeh pelan.


"Ngga By!",katanya.


"Ya udah, kalo gitu aku balik ya?", pamit ku.


"Ya udah, kamu hati-hati di jalan!",kata Mara.


Dia mengantar ku ke depan pintu. Sebelum aku keluar, ku sempatkan mengecup kening nya.


"Kamu juga hati-hati ya Ra. kalo ada apa-apa, hubungi aku!",kataku. Mara hanya mengangguk pelan dan tersenyum tipis.


Aku pun langsung pulang menuju kediaman keluarga Hartama lagi.

__ADS_1


__ADS_2