
Please....!!! Under 21+ jangan merapat! Ingat hanya untuk kaum dewasa wkwkwkwk 🤣🤣🤣 udah mamak ingetin lho ya! Awas jangan salah kan daku!
******
Alby menyalami para tamunya. Tapi ia tak nampak mantan istrinya sejak tadi.
Kemana Bia? Batin Alby. Tentu saja ia tak bisa mengatakan rasa penasarannya di sebelah sang istri. Alby harus bisa menjaga perasaan Amara bukan?
"A!", Amara menyenggol bahu Alby.
"Iya sayang, kenapa?"
"Bia...ke sini ngga sih? Aku kok ngga liat?",tanya amara.
"Tadi sebelum ijab, dia di sini. Ngga tahu lagi habis itu neng?!", jawab Alby. Amara mengangguk tipis.
Apa Bia benar-benar ikhlas jika aku bersama Alby? Benarkan Alby sudah move on dari mantan istrinya yang selama ini masih ia cintai?
Ingin sekali seorang Amara percaya pada suaminya, tapi entah kenapa perasaannya belum bisa sepenuhnya percaya jika cinta Suaminya hanya untuk Amara seorang.
Tak lama kemudian, perempuan yang tadi ada di dalam pikiran sepasang mempelai pun menunjukan diri. Sepertinya dia baru saja dari kamar mandi. Febri pun senantiasa mendampingi Bia.
__ADS_1
Febri dan Bia menghampiri Alby dan Amara.
"Selamat ya Bro!", kata Febri.
"Makasih ya Feb!"
"Selamat ya Amara. Semoga bahagia selalu!", kata Bia dengan senyum yang khas tapi wajahnya sedikit pucat.
"Makasih Bi. Kamu ...pucat banget Bi, kamu sakit?", tanya Amara cemas. Alby sendiri hanya bisa memandangi wajah mantan istrinya tanpa bisa menyentuhnya lagi.
Jika biasanya Febri lah yang berhak atas Bia, sekarang Amara lah berhak atas diri Alby. Keduanya sudah tidak bisa lagi saling memiliki hak.
"Ngga apa-apa mas. Mungkin bawaan bayi, makanya jadi begini!", jawab Bia. Mungkin Alby dan Amara lupa kalau Bia saat ini tengah hamil karena perut Bia masih belum terlihat menggendut.
"Ya udah kita langsung pulang aja ya?", tawar Febri. Bia pun mengangguk. Mata Bia dan Alby saling berpandangan beberapa saat. Febri cukup paham jika mungkin saja istrinya ingin mengatakan sesuatu pada mantan suaminya. Tapi...entah dengan Amara. Apakah Amara akan memakluminya???
"Selamat ya A Alby. Semoga kalian selalu bahagia dan menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Jangan pernah sakiti Amara. Satu hal yang harus Aa ambil sebagai pelajaran hidup. Bicarakan apapun pada pasangan mu. Bagaimana pun, pasangan mu adalah partner hidup mu. Jangan memutuskan segala sesuatunya sendiri. Aku harap....Amara lah yang akan menjadi perempuan terakhir dalam hidupmu."
Usai mengatakan demikian, Bia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Alby. Alby hanya memandangi tangan mungil yang berkulit putih itu dengan pandangan yang entahlah....
Tangan mungil yang pernah ia genggam bertahun-tahun lamanya. Kini sudah di genggam laki-laki lain.
__ADS_1
Karena tangan Bia dari tadi menggantung, perlahan Bia pun menurunkannya. Tapi belum sempat tangan itu turun, Alby merengkuh tubuh Bia.
Lelaki yang sudah meninggalkan status dudanya beberapa menit yang lalu memeluk tubuh istri pak Kapten.
Sekuat apa pun Bia menahan diri, nyatanya air mata itu tetap lah tumpah. Bukan hanya Bia, Alby pun sama.
Mereka terpisah karena keadaan yang memaksa untuk membuat mereka menentukan sikap. Bertahan dengan kesakitan, atau Lepaskan dengan masa depan yang mungkin masih menjadi sebuah misteri.
Tapi setidaknya, belenggu yang pernah menjadi penghalang keduanya kini sus sirna. Keduanya akan menjalani kehidupan mereka masing-masing.
"Maaf!", ujar Alby lirih. Jika Febri membiarkan istri nya di peluk Alby, Amara justru meremas kedua tangannya. Apakah dia sedang cemburu????
Wajar!
Tapi buka itu, Amara bisa melihat jika kedua masih memiliki keterikatan batin meskipun mereka berdua berusaha meyakinkan pada semua jika perasaan itu sudah lah sirna. Sayangnya....
******
Hehehe segini dulu! Belum yang anu-anu ah....era....🙈🙈🙈🙈🙈
Makasih.......🙏
__ADS_1