
"Sudah saya katakan, saya tidak ingin di temui siapa pun!"
"Tapi maaf Mr.Frans , beliau memaksa ingin bertemu dengan anda!", ujar petugas. Dengan kesal, akhirnya Frans keluar dari sel nya yang terpisah dengan napi lain. Kenapa??? Tentu saja mengantisipasi jika dirinya bisa saja mencelakai napi lain. Karena di mata semua orang, kini Frans benar-benar seperti laki-laki yang kurang waras.
Jika beberapa waktu lalu ia tampan seperti tokoh Legolas di film The Lord of the Ring, tidak dengan sekarang. Mungkin malah mirip kapten Jack Sparow 🙈. Lha? Malah cerita fil jadul!!!
Frans menemui seseorang yang sudah duduk di bangku tamu di ruang jenguk napi.
"Siapa?",tanya Frans saat ia mendudukkan dirinya di bangku yang berhadapan dengan sang tamu.
"Aku Laura!", jawabnya dengan bahasa Inggris juga. Karena wajah Laura yang bule juga, sama dengan Frans.
"Aku tidak mengenal mu, jadi sebaiknya kamu pergi!", Frans bangkit dari bangkunya tapi Laura menahannya.
"Aku mantan kekasih adik mu!", kata Laura sambil berdiri. Frans pun berbalik menghadap tamu yang menemuinya.
"Aku tidak peduli!", sahut Frans dengan wajah datarnya.
"Tapi aku peduli. Maaf! Mungkin aku terlambat datang!", kata Laura. Frans masih bergeming di posisinya berdiri. Laura memutari meja lalu berdiri di hadapannya.
"Duduklah, kita bisa bicara sebentar!"
"Aku tidak mengenal mu, jadi tidak ada yang perlu kita bicarakan!", kata Frans tegas.
"Tapi aku yang ingin bicara, tentang kita!", kata Laura. Frans menatap tajam perempuan cantik berambut cokelat itu.
"Duduklah!", pinta Laura. Mau tak mau Frans pun menuruti duduk di bangkunya kembali.
"Cepat, katakan apa yang ingin kamu katakan!"
"Aku ingin kamu kembali seperti dulu, tidak seperti ini!", kata Laura. Frans menautkan kedua alisnya. Lalu ia tersenyum sinis.
"Seperti dulu? Kamu tidak tahu apapun tentang ku karena kita tidak saling mengenal!"
"Mungkin kamu lupa aku pernah jadi teman semasa high school dulu. Adik kelas mu!", ucap Laura. Frans memicingkan matanya, lalu menggeleng.
"Aku tetap tak mengingat mu!"
"Ya, karena kamu memang terlalu dingin. Aku menyukai mu sejak dulu, tapi kamu sulit kudapatkan sampai akhirnya adik mu yang bersama ku."
Frans menatap Laura tanpa ekspresi.
"Sayangnya, aku harus tahu diri saat kamu lebih memilih Jassy. Mungkin benar, adikmu playboy. Tapi aku juga tidak menyangka jika dia mengkhianati ku sekaligus kamu Frans!"
"Tidak usah berbelit, katakan apa mau mu? Aku muak mengingat dua pengkhianat itu!", kata Frans mulai emosi.
"Tapi kita juga pengkhianat Frans!", ujar Laura.
"Apa maksud mu?"
"Kita pernah menghabiskan waktu bersama tanpa sengaja, mungkin kamu tak mengingatnya. Tapi...dari ketidaksengajaan itu, hadir sosok kecil di antara kita!", kata Laura sambil menaikkan kacamatanya.
"Apa maksud mu?"
"Jauh sebelum kita sama-sama tahu jika mereka berkhianat, kita sudah mengkhianati mereka tanpa sengaja."
"Aku tidak paham ucapan mu!"
"Kejadian tidak sengaja itu, membuat aku hamil dan melahirkan anakmu. Dan sekarang, anak mu sudah besar. Dia ada di depan."
"Ciiih...drama apa ini?!"
"Terserah jika kamu mau mengatakan ini sebuah drama. Mungkin kamu heran, kenapa tiba-tiba kami baru datang di saat kamu di posisi seperti sekarang?"
Frans terdiam.
"Awalnya, aku memang hanya ingin merawat anak ku sendiri. Tapi anakku juga ingin tahu seperti apa ayahnya. Aku tidak butuh pengakuan. Karena di negara kita, hal ini sudah biasa terjadi!"
Frans meremas kedua tangannya hingga memutih.
"Apa mau mu? Dan bagaimana bisa aku bisa memiliki anak dari perempuan yang tidak aku kenali sama sekali. Aku bukan penganut faham freesex. Aku bukan adikku!", tunjuk Frans di depan wajah Laura. Tapi Laura menurunkan telunjuknya.
"Aku yakin kamu akan berkata demikian. Tapi percaya lah, anak mu sama persis seperti mu!"
Laura menunjukkan foto anak laki-laki berusia sebelas tahun dari ponselnya. Foto itu sama persis seperti Frans, tidak ada yang di buang sedikit pun termasuk kacamata minusnya.
__ADS_1
"Usianya sebelas tahun. Aku... memberinya nama Nicholas."
"Apa tujuan mu kemari?", tanya Frans.
"Aku ingin, ayah dari anakku bisa sportif menerima hukuman karena kesalahan yang dia lakukan. Jangan lagi bertindak bodoh dengan mencoba bunuh diri!"
Frans menatap tajam pada Laura.
"Kamu tidak tahu seperti apa rasanya di khianati oleh orang yang kamu cinta berkali-kali!"
"Ya, memang aku tidak tahu. Tapi aku juga tidak bodoh!", kata Laura.
"Kamu ingin mengatakan aku bodoh?", Frans menatapnya emosi.
"Ya. Kamu memang bodoh Frans. Jika gadis Indonesia itu tidak lagi mencintai mu, buat apa kamu mengejarnya? Bukan rasa haru yang kamu dapat, tapi justru seperti sekarang. Kamu paham jika kamu bodoh seperti ini? Apalagi sampai ingin mengakhiri hidup mu!"
Frans tak lagi menyahut. Dia menggenggam tangannya sendiri.
"Saat di pengadilan nanti, sportif lah. Aku akan jadi pengacara mu. Dan setelah vonis di sini, aku akan meloby agar kamu bisa di pindahkan ke negara kita. Bukan karena apa, tapi demi Nicholas!", kata Laura sambil berdiri.
Frans terdiam di tempatnya hingga ia tak tahu jika Laura sudah tak bersamanya.
.
.
.
"Bagaimana? Kapan orang tua mu melamar putri saya?", ulang Papi.
"Insyaallah secepatnya saya akan mengatakan hal ini lebih dulu dengan Mak saya."
"Baiklah, saya tunggu kabar baiknya!", Rahadi berdiri sambil menepuk bahu Alby. Setelah itu ia pun meninggalkan Alby. Sepeninggal Rahadi, Azmi menghampiri bos nya.
"Gimana bos?", tanya Azmi yang langsung duduk di depannya.
"Papi nantangin gue kapan mau melamar Amara."
"Alhamdulillah!", kata Azmi mengelus dadanya.
"Tapi apa? Lo masih ragu?", tanya Azmi.
"Ga tahu lah Mi!", kata Alby lalu bangkit dari bangkunya. Azmi pun mengekor ke mana Alby berjalan.
Tanpa bicara apapun, keduanya langsung menuju ke mobil yang ada di parkiran depan. Azmi mengambil alih kemudi lalu melesat menuju kantor lagi karena hari sudah cukup siang. Mereka belum mendirikan empat rakaatnya.
Sesampainya di kantor, ternyata sang pujaan hati justru sudah ada di sana.
"Neng?", sapa Alby saat Amara menghampiri Alby dan Azmi yang baru tiba.
"Aa dari mana?", tanya Amara. Azmi mohon ijin untuk kembali ke ruangan nya lebih dulu.
"Tadi ada meeting di resto Xxx!", jawab Alby pelan. Dua sejoli itu menjadi perhatian orang-orang di sana. Bukan hanya karena visual keduanya yang sempura, tapi perlakuan Alby yang lembut pada Amara.
Mereka berdua ke lift menuju ke lantai ruangan Alby.
"Kamu tunggu di ruangan dulu ya neng, Aa mau sholat dhuhur."
Amara mengangguk.
"Kamu udah solat Dhuhur?", tanya Alby.
"Sudah tadi sebelum ke sini." Alby pun mengangguk.
Pintu lift terbuka, Alby keluar mengambil arah kiri sedang Amara ke arah kanan menuju ke ruangan Alby.
Ada beberapa staf perempuan yang berpapasan dengan Amara lalu memberi senyum. Mereka berbisik-bisik yang cukup terdengar oleh Amara. Tapi, Amara hanya mendengarkan saja. Toh memang kenyataannya seperti itu.
'Gatel banget sih tuh cewek, ngejar pak bos Mulu!'
'Ga sia-sia ya usahanya selama ini sampe dapetin bos ganteng'
'Kalo ga sama-sama ceo mana mau pak Alby sama dia, cantiknya aja standar kok. Beda sama mantan istri pertamanya dan almarhumah istrinya. Mungkin faktor keberuntungan'
'paling pak Alby cuma kasian sama dia yang ga ada capeknya ngejar dia dari dulu jamannya masih jadi anggota'
__ADS_1
Dan masih banyak omongan pedas yang harus ia dengar. Meskipun Amara berusaha tak menghiraukannya, tapi tetap saja otaknya kepikiran.
Ia melewati ruangan Azmi. Pria yang itu sibuk dengan beberapa berkas di mejanya. Mungkin hasil meeting tadi.
Amara masuk dan duduk di sofa. Sekitar lima menit berlalu setelah Amara duduk, Alby sudah sampai di ruangannya.
Keduanya saling melempar senyum. Alby pun duduk di samping kekasihnya.
"Kamu ngga bilang mau ke sini?", tanya Alby.
"Huum, aku habis meeting ngga jauh dari sini. Jadi mampir deh!", jawab Amara. Alby merangkul bahu Amara.
"Sayang!"
"Heum?", Amara menoleh pada Alby.
"Tadi aku ketemu papi di resto."
"Oh ya?", tanya Amara antusias.
"Iya, papi tanya kapan aku melamar kamu!", jawab Alby. Keduanya saling berhadapan.
"Lalu, kamu jawab apa?", tanya Amara tanpa mengalihkan wajahnya dari wajah Alby.
"Ya, aku bilang belum tahu. Kan aku juga harus diskusi sama Mak dulu!", jawab Alby. Jemari nya mengusap pelipis Amara yang sebagian tertutup jilbab khas wanita kantoran.
"Iya!", Amara menenggelamkan kepalanya di dada Alby. Ada rasa nyaman yang tak tergambarkan saat ia bisa mendekap tubuh lelaki tampan itu.
"A!"
"Heum?"
"Apa benar, Aa mau menerima ku karena kasian sama aku yang selama ini ngejar-ngejar kamu?", tanya Amara. Gara-gara ucapan karyawati Alby, gadis itu jadi kepikiran. Alby melonggarkan pelukannya lalu menatap wajah kekasihnya.
"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Aku cuma ingin tahu aja A, apa karena itu alasan kamu!", kata Amara. Alby meletakkan telunjuknya di bibir Amara.
"Kamu satu-satunya perempuan yang sudah membuka hati ku Amara. Mungkin kalau tidak ada kamu, aku akan berada di situasi begitu-begitu saja. Kenapa sekarang harus peduli apa kata orang, jika kenyataannya kamu lah pemenangnya!"
Amara menurunkan jari Alby dari bibirnya.
"Bukan karena aku gatal selalu mengejar mu? Tak tahu malu mengungkapkan perasaan ku? Atau kasian sama aku? Apalagi karena kejadian di apartemen waktu itu?", tanya Amara lagi.
Alby menghela nafas. Lalu ia pun mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Amara. Ia menyatukan keningnya dengan kening Amara. Amara memejamkan matanya.
"Aku mencintaimu mu Amara, bukan karena semua yang kamu katakan tadi. Tapi karena hati kamu!", kata Alby berbisik tepat di depan bibir kekasihnya. Amara pun membuka matanya. Belum sepenuhnya mata itu terbuka, Alby sudah skipppppp....puasa lho ya heheheh
Kegiatan itu berlangsung cukup lama. Jika bukan alby yang menghentikannya, mungkin akan berlanjut ke hal yang lain.
"Nanti malam aku ke rumah ya A!", kata Amara.
"Perlu aku jemput?", tanya Alby. Amara menggeleng.
"Ngga usah!", jawab Amara singkat. Dia juga ingin mendekatkan dirinya dengan calon anak sambungnya dan juga calon ibu mertuanya.
"Aa tunggu!", kata Alby. Amara mengangguk pelan.
"Apa aku terlihat sudah tak ada harga dirinya ya A, selalu mengunjungi kamu di kantor?", tanya Amara.
"Memang kenapa kalo calon istri ingin menemui calon suaminya?", tanya Alby. Sayangnya ia justru memasang wajah datar. Hidung Amara kembang kempis mendengar perkataan kekasihnya yang nampak santai mengatakan hal itu.
"Udah ah, aku pulang!", kata Amara berdiri. Alby pun menyusul berdiri. Ia menyempatkan memeluk tubuh kekasihnya lalu mengecup puncak kepala Amara.
"Hati-hati, maaf Aa ngga bisa nganterin!"
"Ngga apa-apa, nanti malam kan ketemu!", kata Amara.
"Ya udah aku balik ke kantor lagi kalo gitu A!", Amara meraih punggung tangan Alby untuk di cium.
"Iya."
"Assalamualaikum!", pamit Amara.
"Walaikumsalam!", jawab Alby. Alby pun kembali melanjutkan pekerjaannya setelah Amara keluar dari ruangannya.
__ADS_1
Amara sendiri mencoba abai dengan omongan karyawan Alby di sepanjang lorong menuju lift utama. Benar kata Alby, lebih baik tutup telinga tak usah mendengar apa kata mereka. Yang penting dirinya dan Alby memang saling mencintai.