Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 205


__ADS_3

"Sakti!"


"Siapa yang masuk UGD By?", tanya Sakti.


"Amara!"


"Kenapa?", tanya Sakti. Alby menghela nafas berat.


"Frans yang melukainya!", jawab Alby lesu. Sakti menatap iba pada Alby yang pernah menjadi rivalnya dalam memperebutkan Bia jaman dulu.


Tiba-tiba tanpa di sangka seseorang menarik kerah kemeja Alby dan tanpa aba-aba memukul rahang Alby hingga tersungkur.


"Mas!", pekik Mayang, ya...Nathan yang memukul Alby.


"Kak Nathan!", panggil Alby lirih sambil mengusap luka di sudut bibirnya yang berdarah. Azmi membantu Alby bangkit.


"Sabar mas!", Mayang mengusap lengan Nathan.


"Bagaimana bisa kamu membiarkan istri kamu sendirian menghadapi psikopat seperti Frans??!", Nathan siap memukul Alby lagi tapi perempuan bercadar itu mampu menahan suaminya.


"Maaf kak!", cicit Alby. Nathan mengusap wajahnya frustasi.


"Kenapa bisa terjadi seperti ini?", tanya Nathan setelah mampu menguasai emosinya. Alby pun menceritakan kronologisnya berdasarkan cerita dari bodyguardnya.


"Amara memang keras kepala!", umpat Nathan. Dia tahu seperti apa adiknya itu. Pasti dirinya mampu menjaga diri sampai-sampai bodyguardnya tak perlu menemaninya ke unit apartemen.


Sakti yang dari tadi menjadi pendengar pun turut menghela nafas berat.


"Febri, Dimas dan Seto juga sedang kritis!", kata Sakti tiba-tiba. Alby dan Azmi menoleh seketika pada Sakti.


"Maksudnya?", tanya Alby terkejut.


"Tiga hari yang lalu setelah makan siang bersama, mereka kecelakaan parah. Ada seseorang yang sengaja mencelakai mereka. Setelah di selidiki...!", ucapan Sakti menggantung.


"Kenapa sak?", tanya Alby penasaran.


"Kecelakaan itu sudah di rencanakan. Mobil Febri di sabotase. Ada yang dengan sengaja membuat mobil Febri yang rem nya blong lalu ...ya ... begitu lah Dan ternyata setelah di selidiki... pelaku nya adalah Frans!",ungkap Sakti.


"Astaghfirullah!", Alby mengusap kasar wajahnya.


"Innalilahi!", ucap Azmi.


"Alhamdulillah, Dimas dan Seto sudah melewati masa kritisnya. Tinggal Febri!", kata Sakti lesu.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi istri-istri mereka Dokter Sakti? Bukankah... mereka semua sedang...hamil?", tanya Azmi.


"Kondisi Naya dan Anika sempat drop. Tapi ...Bia yang sekarang di rawat karena kehamilannya lemah!"


"Ya Allah!!!", gumam Alby yang masih di dengar oleh orang sekitarnya.


Kamu masih memikirkan Bia juga By???? Batin Azmi. Mungkin yang ada di sana juga berpikir demikian.


Alby terduduk lesu sambil menatap pintu UGD yang dari tadi belum terbuka. Kecemasannya semakin bertambah!


Dia tak ingin terjadi sesuatu dengan Amara dan juga ... Bia tentunya!


Alby menyandarkan kepala dan punggungnya ke bangku tunggu! Sebagai sahabat yang cukup dekat, Sakti turut duduk di samping Alby.


"Mara akan baik-baik saja! Dia pasti kuat! Karena dia memang perempuan tangguh!", kata Sakti.


Nathan sendiri memilih bersikap acuh dan berdiri saja. Padahal dalam hatinya ia merapalkan doa agar adik bungsunya selamat. Mayang duduk sambil memegang erat tangan suaminya.


"Aku hubungi mami papi ya mas!", kata Mayang lirih. Nathan menoleh ke bawah pada Mayang.


"Tapi sayang, aku takut kalau...!", ucapan Nathan di sela oleh Mayang.


"Mami dan papi berhak tahu mas!", pungkas Mayang. Mayang pun menjauh dari para lelaki tampan itu.


Beralih pada Azmi....


"Sebentar lagi buka puasa, gue beli dulu ke depan! Sekalian nunggu Nur, lagi di jemput!", kata Azmi. Alby mengangguk pelan.


"Permisi pak Nathan, dokter Sakti!", pamit Azmi meninggalkan mereka semua.


Saat akan menuju ke depan, tiba-tiba Azmi kebelet dan akhirnya ia memutuskan untuk buang hajat lebih dulu.


Setelah beberapa menit dari toilet, tanpa sengaja ia melihat Bia yang sedang duduk di kursi roda sambil menatap Febri di balik kaca.


Perasaan Azmi trenyuh melihat sosok perempuan yang sedang hamil itu. Bia ditemani oleh seorang perawat.


Hebat sekali persahabatan squad gendeng itu. Bia hamil, Anika dan Naya pun hamil! Mungkin nanti anak-anak mereka juga akan menjadi sahabat seperti para orang tuanya.


Azmi enggan menyapa Bia, tapi ternyata Bia menoleh ke arah Azmi.


"Mas Azmi!", panggil Bia. Mau tak mau Azmi pun menoleh pada Bia.


"Mba Bia!", sapa Azmi. Lalu mata Azmi menatap Febri yang masih memakai alat bantu hampir di seluruh tubuhnya.

__ADS_1


"Mba Bia sendiri? Maksudnya ngga ada keluarga yang menemani?", tanya Azmi.


"Ibu sama bibiku menjaga si kembar!", jawab Bia. Azmi hanya mengangguk.


"Mas Azmi jenguk siapa? Siapa yang sakit?", tanya Bia.


"Eum...Amara! Tadi ada insiden....!", Azmi pun menceritakan apa yang terjadi pada istri bosnya.


Bia membeku di kursi rodanya. Entah apa yang dipikirkan oleh perempuan itu.


"Dokter belum memberikan penjelasan apapun tentang Amara!", lanjut Azmi.


"Alby pasti terpukul dengan keadaan ini!", kata Bia lirih.


Mereka masih saling memikirkan satu sama lain???? Batin Azmi.


Bia menatap suaminya lagi yang terbaring lemah. Tanpa di duga, air mata Bia meleleh. Tapi dengan cepat ia mengusap air matanya.


"Insyaallah mas Febri akan segera pulih mba Bia! Begitu juga dengan Amara. Mereka orang-orang yang tangguh!", kata Azmi mencoba menghibur. Bia tak merespon.


Padahal Azmi sendiri tahu seperti apa rasanya melihat orang terkasih nya ada di ruang 'horor' tersebut.


"Kalau begitu, saya permisi mba Bia. Sepertinya istri saya sudah menunggu di depan!", pamit Azmi. Bia pun mengangguk pelan.


Azmi sampai ke loby bersamaan dengan Nur yang datang membawa beberapa kantong makanan.


"Assalamualaikum, A!", Nur meraih punggung tangan Azmi.


"Walaikumsalam sayang, kamu beli makanan di mana? Banyak sekali?", tanya Azmi.


"Di restoran pak Bram. Aku tahu, kalian semua panik tidak ada yang sempat memikirkan buka puasa kan?", tanya Nur. Azmi menghela nafas dan tersenyum lalu tangannya terulur mengusap kepala Nur.


"Terima kasih atas perhatian kamu. Maaf, Aa tadi malah mengabaikan mu di kantor!"


Nur menggeleng.


"Jangan merasa bersalah seperti itu A. Aku tahu aa ngga bermaksud begitu. Eum... gimana kondisi mba Mara?", tanya Nur sambil berjalan di samping Azmi. Kantong keresek itu sudah beralih di tangan Azmi.


"Belum tahu, kita ke sana saja!", ajak Azmi. Nur pun mengangguk mengikuti langkah suaminya.


******


Ada yang nunggu up ngga??? 😄😄😄

__ADS_1


percaya diri sekali Mak othor ini ya 🤣🤣


Makasih ✌️🤭🙏


__ADS_2