
Alby
Siang ini aku bertemu klien di salah satu hotel yang terletak lumayan jauh dari kantor ku. Azmi tak mendampingi ku kali ini. Putri, anak semata wayang Azmi yang berada di salah satu ponpes kota Bogor sedang sakit.
Ustadzah yang mendampingi putri menghubungi Azmi tadi pagi. Sebagai seorang ayah, wajar jika merasa khawatir. Terlebih, Putri sudah tak memiliki ibu dan juga dia berada jauh dari Azmi, keluarga satu-satunya.
Mobil ku sudah berada di hotel di mana tempat kami akan meeting. Aku heran, untuk apa mereka jauh-jauh mengajak ku bertemu di sini. Jika hanya membicarakan soal proyek, bisa di resto bahkan ruang meeting perusahaan kami masing-masing kan?
"Selamat siang!", sapa pegawai hotel.
"Selamat siang ,saya ada janji bertemu dengan klien saya dari PT ABC. Beliau sudah booking tempat di sini?", tanyaku.
"Oh, iya sudah pak. Mari saya antar!", ujar petugas hotel tersebut.
Aku mengikuti langkah pegawai itu ke sebuah kamar.
"Tunggu mba!"
"Iya pak?",tanya petugas itu.
"Saya mau meeting dengan klien saya, kenapa saya justru di bawa ke kamar?", tanyaku heran.
"Tapi memang beliau memesan kamar ini untuk pertemuan dengan anda!",jawabnya.
Mendadak perasaan ku tidak enak. Aku menghubungi nomor klien ku. Belum juga di angkat, pintu kamar itu terbuka. Keluarlah sosok perempuan cantik yang berpakaian seksi. Bukan lagi seksi, bahkan nyaris telanjang. Aku tak berniat sedikit pun untuk menatap pemandangan di depan ku ini.
Dia tak berucap apa pun pada pegawai hotel, pegawai hotel itu langsung meninggalkan kami dengan sopan.
"Tuan Alby dari HS grup? Tuan Leonardo sudah menunggu di dalam!",kata perempuan seksi itu dengan suara di buat seseksi mungkin. Badannya meliuk-liuk seperti cacing kepanasan. Aku tahu tatapan laparnya padaku. Ini bukan untuk pertama kalinya bagiku. Terlalu sering! Tapi ternyata cara tuan Leonardo masih sama kampungannya dengan para pebisnis yang lain.
"Maaf, sampai kan pada beliau. Saya ingin meeting di ruangan terbuka, saya tunggu di restoran bawah! Itu pun jika tuan Leonardo masih ingin bekerja sama dengan perusahaan saya! Permisi!"
Perempuan seksi itu ternganga tak percaya. Pria tampan yang baru saja ia temui tadi menolak pesonanya. Gila! Pekiknya dalam hati.
Perempuan itu langsung menghubungi Leonardo, bos nya. Rencananya untuk mengajak check in pemimpin HS grup pun gagal. Benar apa yang dia dengar dari rumor yang beredar. Jika CEO HS grup memang tampan, tapi ketusnya luar biasa. Pandangan orang-orang akan semakin tertuju pada prasangka yang mengatakan jika dia 'belok'. Apalagi dirinya selalu berdua dengan aspri nya yang di ketahui sama-sama single parent.
Aku memilih duduk di sebuah table yang berada di dekat dengan jendela kaca yang tertuju pada pemandangan hiruk pikuk ibu kota.
"Selamat siang, Tuan Alby!", Leonardo menyapaku. Aku mempersilahkan klien ku untuk duduk.
"Selamat siang, tuan Leonardo!",sapa ku balik.
"Sudah lama menunggu?",tanya Leonardo padaku. Aku tersenyum tipis.
"Cukup lama, tuan!"
"Maaf atas sambutan yang kurang mengenakkan tadi, Tuan Alby!",kata Leonardo sambil menyandarkan punggungnya ke bangku.
"Seharusnya anda tahu Tuan Leonardo, saya tidak menyukai hal semacam itu. Dan ini bukan pertama kalinya. Saya pikir, anda sudah belajar dari rekan bisnis anda yang lain."
Leonardo tersenyum sinis padaku. Biarlah dia membatalkan kerjasama dengan perusahaan ku, eh... maksudku perusahaan Nabil.
"Iya, maaf! Saya hanya ingin membuktikannya sendiri. Dan ya... akhirnya saya yakin, mungkin karena rasa cinta anda pada mendiang istri anda, anda masih setia untuk sendiri hingga saat ini."
"Sepertinya hal itu tidak ada sangkut pautnya dengan kerja sama kita, tuan Leonardo! Bagaimana jika kita membahas pekerjaan kita saja?", ajakku. Aku malas jika ada orang yang berusaha mengulik urusan pribadi ku.
Akhirnya urusan kerja sama antara dua perusahaan sudah selesai dan kami sepakati.
"Urusan pekerjaan sudah selesai, bisa kita makan siang lebih dulu bukan?", tanya Leonardo.
Aku melirik jam tangan ku. Ya, masih ada waktu setengah jam lagi untuk sholat dhuhur.
__ADS_1
"Baiklah!", jawabku. Leonardo memesankan makan yang tadi ku pilih.
"Maaf tuan Alby, saya permisi ke toilet sebentar!", kata Leonardo.
"Silahkan!'',kataku.
Sambil menunggu makanan ku datang, aku memainkan ponsel ku. Ada chat dari Febri yang mengundang ku di acara aqiqah putri kembarnya.
Dadaku terasa getir. Febri mengirimkan foto dua putri cantiknya yang mirip dengan Bia. Apa maksud nya mengirimkan foto itu!?
Mau pamer padaku? Atau apa???!
Aku hanya membalas chat Febri dengan satu kata, Ya!
Tuan Leonardo sudah kembali dari toilet, tak lama kemudian makanan kami pun datang. Kami sesekali membahas hal random tapi tetap nyerempet sedikit tentang proyek kami.
Beberapa menit berlalu, makanan kami pun habis. Saat akan membayar makanan ku, tuan Leonardo melarangnya. Dia yang akan membayar tagihan makanan ku.
"Terimakasih atas kerjasama sama dan makan siangnya Tuan Leonardo!", kataku sambil bersalaman.
"Sama-sama Tuan Alby. Semoga untuk kedepannya, kerja sama kita akan semakin baik."
Aku mengangguk tipis dan berjalan meninggalkan meja ku tadi. Tapi baru beberapa langkah, kepala ku mendadak sangat pusing. Pandangan ku kabur. Aku memegangi kepala ku.
Leonardo menghampiri ku!
"Tuan Alby, anda kenapa?", tanyanya.
"Tidak apa-apa tuan Leonardo. Saya hanya sedikit pusing!", kataku masih dengan memegang kepala ku yang nyut-nyutan.
"Anda datang sendiri? tidak bersama aspri anda?",tanya Leonardo. Aku hanya mengangguk.
"Tidak, terimakasih. Saya masih mampu mengendarai mobil saya kok!", tolakku.
"Tapi ini terlalu berbahaya Tuan Alby!", kata Leonardo lagi. Aku jadi curiga, kenapa dia kekeh sekali agar aku berada di sini. Boleh kah aku berprasangka buruk pada nya?
Apa yang dia inginkan? Bukankah kerja sama kami juga sudah terjalin?
"Tidak apa-apa. Saya bisa kok! Permisi!", aku berjalan perlahan menuju ke tempat di mana mobilku terparkir.
Tak henti-hentinya aku beristighfar. Apa aku akan mati karena rasa sakit di kepala ku ini????
Aku terhuyung sampai bersandar di pintu mobilku. Aku mencoba menarik nafas ku pelan-pelan. Dari rasa pusing, kini ada rasa yang tak bisa ku gambarkan. Sesuatu dalam tubuh ku ingin ku keluarkan.
Ya Allah, aku kenapa??? Tubuhku merasa panas. Buru-buru aku membuka pintu mobilku. Tapi tak bisa-bisa. Aku kembali memegangi kepala ku. Aku kenapa???
Di sisi lain, Amara baru turun dari mobilnya. Dia tak sengaja melihat Alby yang sedang tidak baik-baik saja memegang kepalanya. Sisi peduli nya ingin menghampiri pria tampan itu, tapi....ada hal yang membuat ia enggan berurusan dengan Alby lagi.
Saat dia akan meninggalkan mobilnya. Ia melihat Alby yang berontak saat ada yang akan memapahnya. Dengan langkah cepat aku menghampiri Alby.
"Dia kenapa?", tanya Amara pada dua lelaki berperawakan tinggi besar.
"Maaf nona, ini bukan urusan anda!", kata salah satu lelaki itu.
Aku melihat keberadaan Amara. Kebetulan sekali aku bertemu dengan nya di sini.
"Mara, kepalaku sakit! Tubuhku panas!", aku mengadu pada Amara. Amara melihat ku sekilas.
"Kalian akan membawa nya kemana? Biar ku antar dia pulang ke rumah nya!", kata Amara.
"Maaf nona, anda tidak berhak ikut campur!", sahut salah satunya lagi.
__ADS_1
"Dia bilang, dia sakit. Jadi biarkan aku yang membawanya pulang!", kata Amara tegas.
"Kami sudah berbicara baik-baik pada anda Nona, tapi anda terlalu ikut campur yang bukan urusan anda!"
Salah satu dari pria itu hendak mendorongnya. Tapi dengan sigap Amara menghindar. Mereka tak tahu saja jika mantan prajurit ini ahli bela diri.
Karena emosi, pria itu pun menyerang Amara dengan brutal. Beruntung Amara bisa melawannya bahkan mengalahkan nya dengan sekejap. Melihat rekannya kalah dari seorang perempuan, pria itu pun turut menyerang Amara. Lagi-lagi pria itu pun kalah.
"Pergi! Katakan pada bos kalian, jangan main kotor jika ingin bisnisnya berjalan dengan lancar! Pergi sekarang, atau aku akan melaporkan kalian berdua?!", gertak Amara.
Aku sudah tak tahan lagi. Kepala atas bawahku berdenyut tak menentu.
"Amara!", desisku. Dia menghampiriku, lalu memasukkan ku ke dalam mobilku. Aku tak tahu dia menghubungi siapa. Tapi setelah itu, dia duduk di balik kemudi.
"Ku antar ke kantor mu atau rumah mu,By?", tanya Amara.
Aku menggeleng lemah sambil membuka jas dan kemeja ku rasakan semakin panas.
"Ckkk! Rumah mu terlalu jauh. Kantor mu apa lagi!", gumam Amara.
"Panas Amara!", keluhku. Aku sudah tak bisa lagi berpikir. Tubuhku benar-benar tak karuan.
Aku tak tahu ke mana Amara membawa ku.
Amara menghentikan mobilnya di sebuah gedung apartemen. Apartemen siapa???
"Aku bingung mau bawa kamu ke mana, cuma apartemen ku yang paling dekat dengan hotel tadi. Di sana kamu bisa mandi dan meredam rasa panas kamu!", Amara turun dari mobil. Tak lama kemudian, dia membawa dua orang sekuriti untuk memapahku ke dalam unitnya. Beruntung, unitnya hanya beberapa lantai dari loby.
Setelah memastikan ku berada di sofa, kedua sekuriti itu pun meninggalkan kami berdua.
Rasa panas dalam tubuh ku kian membara. Ke mana Amara??? Kepala ku semakin berdenyut. Sesekali aku memejamkan mataku sampai aku menyadari kehadiran Amara yang membawa sebuah kaleng minuman susu steril.
"Minumlah!", dia menyodorkan nya padaku. Aku pun menerima kaleng minuman itu, aku meminum nya hingga tandas.
"Setelah sedikit tenang, kamu bisa pakai kamar mandi untuk meredam rasa panas di tubuhmu!", Amara beranjak dari samping ku. Tapi entah kenapa aku justru menarik nya hingga ia kembali terduduk di samping ku. Aku langsung menindihnya.
"Alby!", pekiknya.
"Amara, tolong aku! Panas Amara!!!"
"Jangan seperti ini Alby!",teriaknya di depan wajahku. Tapi bukannya menyingkir, aku justru meraup bibirnya yang tipis itu.
Aku gila! Aku menciumi gadis yang bahkan status nya bukan apa-apa ku. Awalnya, Amara mencoba mendorong ku. Tapi, setelah beberapa saat akhirnya dia membalas nya. Aku lupa terakhir kalinya berci***. Mungkin saat aku memperkosa istri ku sendiri saat itu, Bia!
Tidak! Ini tidak benar Alby?! Ini salah! Umpatku dalam hati. Tapi reaksi tubuh ku tak sama dengan apa yang ada dalam pikiran ku. Bahkan entah bagaimana caranya aku sudah melepaskan resleting ku.
Bagaimana mungkin aku melakukannya pada Amara! Ini tidak boleh terjadi! Dia terlalu berharga Alby! Dia perempuan terhormat Alby!
Aku masih menci****nya. Tapi tangan ku bermain sendiri dengan milikku. Aku tak bisa berpikir jernih. Yang aku aku butuh saat ini adalah menuntaskan hasratku tanpa harus merusak Amara. Mungkin urat malu ku sudah putus. Sampai akhirnya aku mencapai puncak tanpa merusak Amara. Amara harus melihat apa yang tak seharusnya ia lihat. Karena kelelahan, aku pun terkulai lemas di atas tubuh Amara. Amara bergeming di di bawah Alby.
Gadis itu mengerjap tak percaya dengan apa yang tak seharusnya terjadi.
"By...!"
"Maaf!",kataku lirih. Aku bahkan masih nyaman di atas tubuh rampingnya.
****
Lanjutannya nanti ya 🙏🙏🙏✌️
Makasih,✌️🙏
__ADS_1